LAMOTRIGIN

Indikasi: 

terapi tambahan atau monoterapi pada epilepsi parsial dan epilepsi total, termasuk serangan tonik-klonik dan serangan terkait sindroma Lennox-Gastaut, epilepsi pada anak (2-12 tahun) hanya untuk terapi tambahan, tidak direkomendasikan monoterapi, pencegahan episode mood pada pasien dengan gangguan bipolar, utamanya untuk mencegah gejala depresi.

Peringatan: 

penyesuaian dosis pada gangguan hati, gangguan ginjal, dan pertimbangkan untuk menghentikan obat bila terjadi ruam, kehamilan, menyusui, peningkatan risiko keinginan bunuh diri.

Interaksi: 

peningkatan risiko ruam pada penggunaan bersama dengan valproat, lihat lampiran 1 (lamotrigin).

Kontraindikasi: 

hipersensitif.

Efek Samping: 

sangat umum: ruam, sakit kepala, somnolens, ataksia, pusing, mual, muntah, diplopia, penglihatan kabur; umum: nyeri, nyeri punggung, artralgia, rasa letih, diare, nistagmus, tremor, insomnia, somnolence, pusing, agresif, iritabilitas; tidak umum: ataksia, diplopia, penglihatan kabur; jarang: sindrom Steven’s Johnson, nistagmus, konjungtivitis; sangat jarang: nekrolisis epidermal toksik, abnormalitas hematologik (neutropenia, leukopenia, anemia, trombositopenia, pansitopenia, anemia aplastik, agranulositosis), limpadenopati, reaksi hipersensitivitas (termasuk ruam kulit, demama, limpadenopati, udem wajah, abnormalitas hati, abnormalitas darah, disseminated intravascular coagulation (DIC), gagal multi organ), tics, halusinasi, rasa bingung, meningitis aseptik, agitasi, gangguan gerakan, unsteadiness, perburukan penyakit Parkinson, efek ekstrapiramidal, koreoatetosis, peningkatan frekuensi kejang, reaksi seperti lupus.

Dosis: 

epilepsi, monoterapi: dosis awal 25 mg sekali sehari selama 14 hari, kemudian 50 mg sekali sehari untuk 14 hari berikutnya. Setelah itu untuk mencapai dosis pemeliharaan, dosis dapat ditingkatkan dengan dosis maksimal 50-100 mg setiap 1-2 minggu hingga diperoleh respon optimal: dosis pemeliharaan sebagai monoterapi, 100-200 mg/hari dalam 1-2 dosis terbagi, beberapa pasien memerlukan 500 mg/hari, lansia tidak dianjurkan, terapi tambahan pada valproat dengan/tanpa antiepilepsi lain: dosis awal lamotrigin 25 mg, selang sehari selama 14 hari, kemudian 25 mg sekali hari untuk 14 hari berikutnya, setelah itu untuk mencapai dosis pemeliharaan, dosis harus ditingkatkan dengan dosis maksimal 25-50 mg setiap 1-2 minggu hingga diperoleh respons optimal, dosis pemeliharaan 100-200 mg/hari dalam 1-2 dosis terbagi. LANSIA tidak dianjurkan, terapi tambahan dengan anti epilepsi lain kecuali valproat: dosis awal 50 mg sekali sehari, untuk 14 hari, kemudian 50 mg 2 kali sehari untuk 14 hari berikutnya. Setelah itu, dosis ditingkatkan dengan dosis maksimal 100 mg setiap 1-2 minggu hingga diperoleh respons optimal, dosis pemeliharaan tanpa valproat: 200-400 mg/hari, dalam dosis terbagi dua, beberapa pasien memerlukan 700 mg/hari, lansia tidak dianjurkan.

Dosis pada anak kurang dari 12 tahun, monoterapi tidak dianjurkan, anak: 2-12 tahun, terapi tambahan pada valproat dengan/tanpa antiepilepsi lain: dosis awal 0,15 mg/kg bb sekali sehari untuk 14 hari, kemudian 0,3 mg/kg bb sekali sehari untuk 14 hari berikutnya, setelah itu untuk mencapai dosis pemeliharaan, dosis dapat ditingkatkan dengan dosis maksimal 0,3 mg/kg bb setiap 1-2 minggu hingga diperoleh respon optimal: dosis pemeliharaan, 1-5 mg/kg/hari dalam dosis terbagi dua, maksimum 200 mg/hari. Jika hasil perhitungan dosis valproat kurang dari 2,5 mg, maka dosis lamotrigin tidak boleh diberikan, terapi tambahan dengan anti epilepsi lain kecuali valproat: dosis awal 0,6 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi dua untuk 14 hari, kemudian 1,2 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi dua untuk 14 hari berikutnya. Setelah itu untuk mencapai dosis pemeliharaan, dosis dapat ditingkatkan dengan dosis maksimal 1,2 mg/kg bb setiap 1-2 minggu hingga diperoleh respon optimal: dosis pemeliharaan, 5-15 mg/kg/hari dalam dosis terbagi dua, maksimum 400 mg/hari, perhitungan dosis yang direkomendasikan tidak dapat dilakukan secara tepat pada anak dengan berat badan kurang dari 17 kg sehingga penggunaannya tidak disarankan; Gangguan bipolar, dewasa 18 tahun ke atas, eskalasi dosis perlu diperhatikan, sebagai terapi tambahan terhadap valproat atau obat lain yang menghambat glukuronidasi lamotigrin: minggu ke 1-2: 12,5 mg diberikan 25 mg tiap 2 hari, minggu ke 3-4: 25 mg sekali sehari, minggu ke 5: 50 mg sekali sehari atau 2x 25 mg dalam dosis terbagi, target stabilisasi dosis pada minggu ke 6: 100 mg sekali sehari atau 2x50 mg sehari (dosis maksimum 200 mg/hari). Sebagai terapi tambahan terhadap fenitoin, karbamazepin, fenobarbital, primidon atau obat lain yang menginduksi glukuronidasi lamotigrin: minggu ke 1-2: 50 mg sekali sehari, minggu ke 3-4: 100 mg dalam dosis terbagi (2 x 50 mg) sehari, minggu ke 5: 200 mg dalam dosis terbagi (2 x 100 mg) sehari, target stabilisasi dosis minggu ke 6: 300 mg dalam dosis terbagi (2x150 mg) sehari, dapat dinaikkan sampai 400 mg (2x200 mg) bila perlu, sebagai monoterapi atau terapi tambahan pada pasien yang juga menggunakan obat lain yang tidak menghambat atau memacu glukuronidasi lamotigrin secara signifikan: minggu ke 1-2: 25 mg sekali sehari, minggu ke 3-4: 50 mg sekali sehari atau 2 x 25 mg sehari, minggu ke 5: 100 mg sekali sehari atau 2 x 50 mg, target stabilisasi dosis minggu ke 6: 200 mg (rentang 100-400 mg) sekali sehari atau 2x sehari dalam dosis terbagi.

Tablet harus langsung ditelan secara utuh, tidak boleh dikunyah atau dihancurkan dalam mulut.