2.2.1 Antiaritmia

Obat-obat anti aritmia dapat diklasifikasikan secara klinik menjadi kelompok obat untuk aritmia supraventrikel (misal verapamil), kelompok obat untuk aritmia supraventrikel maupun aritmia ventrikel (misal disopiramid), dan kelompok obat untuk aritmia ventrikel (misal lidokain).

Obat-obat aritmia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan efeknya pada aktivitas listrik sel miokard:

Kelas Ia, b, c: obat-obat yang mensta- bilkan membran (misal berturut-turut kinidin, lidokain, flekainid).
Kelas II    : beta-bloker.
Kelas III  : amiodaron, dan sotalol (juga kelas II).
Kelas IV  : antagonis kalsium (misal verapamil, tapi bukan golongan dihidropiridin).
Klasifikasi terakhir ini (klasifikasi Vaughan Williams) kurang dimanfaatkan dalam praktek klinik. 

Peringatan. Efek inotropik negatif obat-obat antiaritmia cenderung saling memperkuat. Oleh karena itu perlu perhatian khusus bila obat yang digunakan dua atau lebih, terutama bila fungsi miokard terganggu. Sebagian besar atau semua obat yang efektif dalam mengatasi aritmia dapat juga membuat aritmia semakin memburuk pada beberapa kondisi tertentu; selain itu, hipokalemia meningkatkan efek aritmogenik beberapa obat.