Simpatomimetik

Penghambat karbonik anhidrase dan obat sistemik

Inhibitor karbonik anhidrase, asetazolamid dan dorzolamid mengurangi intraokular melalui penurunan produksi aqueous humour. Penggunaan sistemik juga menimbulkan efek diuresis lemah.

Asetazolamid diberikan secara oral atau injeksi intravena ( injeksi intramuskular menyebabkan nyeri karena larutan bersifat basa). Obat digunakan sebagai terapi tambahan pada pengobatan untuk mengurangi tekanan intraokular. Asetazolamid adalah golongan sulfonamid, sehingga kelainan darah, ruam, dan efek samping dari penggunaan obat golongan sulfonamid dapat muncul. Tidak direkomendasikan untuk penggunaan dalam jangka panjang; gangguan elektrolit dan asidosis metabolik yang terjadi dapat diatasi dengan pemberian kalium bikarbonat ( seperti tablet effervescent kalium).

Dorzolamid, merupakan inhibitor karbonik anhidrase topikal, digunakan untuk pasien yang tidak memberikan respon terhadap beta-bloker atau pada mereka yang dikontraindikasikan memakai beta-bloker. Digunakan secara tunggal atau sebagai obat tambahan dari beta-bloker topikal. Efek samping serupa sulfonamid sistemik dapat timbul dan mungkin memerlukan penghentian obat bila efek yang timbul parah.

Diuretik osmotik, manitol hipertonik intravena, atau gliserol per oral, berguna sebagai penurun tekanan okuler sementara.

Monografi: 

ASETAZOLAMID

Indikasi: 

penurunan tekanan intraokuler dalam glaukoma sudut lebar, glaukoma sekunder, dan perioperatif pada glaukoma sudut sempit; diuresis (lihat bagian 2.5.6).

Peringatan: 

obstruksi pulmoner (risiko asidosis); lansia; kehamilan (lihat Lampiran 4); tidak dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang tetapi bila diberikan juga diperlukan pemantauan hitung jenis darah dan kadar elektrolit plasma; hindari ekstravasasi pada tempat injeksi (risiko nekrosis).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (asetazolamid).

Kontraindikasi: 

hipokalemia, hiponatremia, hyperchloraemic acidosis; gangguan fungsi hati hati berat; gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3); hipersensitifitas terhadap sulfonamid.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, gangguan indra pengecap; kehilangan nafsu makan, paraestesia, flushing, sakit kepala, pusing, kelelahan, perasaan menjadi sensitif, depresi; haus, poliuria; penurunan libido; asidosis metabolik dan gangguan keseimbangan elektrolit pada pengobatan jangka panjang; kadang-kadang mengantuk, kebingungan, gangguan pendengaran, urtikaria, melena, glikosuria, hematuria, gangguan fungsi hati, gangguan pada darah diantaranya agranulositosis dan trombositopenia, ruam diantaranya sindrom Steven Johnson dan nekrolisis epidermal toksik; jarang fotosensitifitas, kerusakan hati, flaccid paralysis, kejang; dilaporkan juga miopati yang tidak menetap.

Dosis: 

oral atau injeksi intravena 0,25-1 g/ hari dalam dosis terbagi.
Cara injeksi intramuskular seperti pada injeksi intravena tetapi lebih baik dihindari karena pH alkalis.

BRINZOLAMID

Indikasi: 

terapi tambahan pada peningkatan tekanan intra okular pada pasien hipertensi okular atau glaukoma sudut lebar.

Peringatan: 

gangguan fungsi hati; kehamilan (lihat Lampiran 4).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (Brinzolamid).

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi ginjal (creatinine clerance kurang dari 30mL/menit), asidosis hiperkloremik; menyusui; hipersensitif terhadap komponen obat.

Efek Samping: 

iritasi lokal, gangguan rasa, mual, dispepsia, mulut kering, nyeri dada, mimisan, haemoptysis, dyspnoea, rinitis, faringitis, bronkitis, paraestesia, depresi, pusing, sakit kepala, dermatitis, alopesia, erosi kornea.

Dosis: 

gunakan tiga kali sehari masing-masing satu tetes. Brinzolamid dapat digunakan bersamaan dengan sediaan mata lain untuk menurunkan tekanan intra okular, jika digunakan bersamaan dengan sediaan mata lain harus diberikan dengan rentang waktu minimal 10 menit.

BRINZOLAMID + TIMOLOL

Indikasi: 

menurunkan tekanan intraokular pada pasien hipertensi okular atau glaukoma sudut terbuka dimana monoterapi dengan komponen lain kurang memberikan respon pada penurunan tekanan intraokular.

Peringatan: 

gangguan fungsi ginjal, efek sistemik, reaksi anafilaktik, pseudoeksfoliative glaucoma atau pigmentary glaucoma, kehamilan, tidak direkomendasikan untuk anak di bawah umur 18 tahun, hati-hati pada penderita diabetes.

Interaksi: 

hati-hati pemberian penghambat CYP3A4 (ketokonazol, itrakonazol, klotrimazol, ritonavir dan troleandomisin) karena akan menghambat metabolisme brinzolamid. Pemberian bersama tetes mata mengandung timolol dengan penghambat kanal kalsium oral, guanetidin, betabloker, antiaritmia, glikosida digitalis atau parasimpatomi metik berpotensi memberikan efek adisi yang menimbulkan hipotensi atau bradikardi.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, riwayat asma bronkial atau penyakit paru obstruktif kronik berat, bradikardi sinus, hambatan atrioventrikuler derajat dua atau tiga, gagal jantung, syok kardiogenik, rinitis alergi berat dan hiperreaktifitas bronkial, hipersensitif terhadap beta bloker lain, asidosis hiperkloremik, gangguan fungsi ginjal berat, hipersensitif terhadap sulfonamid.

Efek Samping: 

umum: penglihatan buram, iritasi mata, nyeri mata, sensasi abnormal di mata, rasa tidak enak pada lidah; tidak umum: inflamasi permukaan mata dengan kerusakan pada lapisan permukaan, inflamasi bagian dalam mata, mata merah, mata gatal, kelopak mata gatal, memerah, bengkak atau keropeng, mata tidak berfungsi, mata alergi, mata kering, mata lelah, penyakit paru kronis, penurunan tekanan darah, iritasi saluran nafas, batuk, gangguan tidur, inflamasi kulit, kemerahan atau gatal, hidung berair, gangguan rambut; efek lain yang mungkin terjadi: kerusakan pada saraf optik, peningkatan tekanan dalam mata, endapan di permukaan mata, gangguan kornea, penurunan sensitivitas mata, inflamasi atau infeksi pada konjungtiva, penglihatan abnormal, berbayang, atau mengalami penuruanan, peningkatan pigmentasi pada mata, pertumbuhan dipermukaan mata, peningkatan produksi air mata, mata bengkak, sensitivitas pada cahaya, penurunan pertumbuhan atau jumlah bulu mata, kelopak mata terkulai, inflamasi pada kelenjar mata, perubahan pada denyut jantung dan irama jantung, nyeri dada, penurunan fungsi jantung, jantung berhenti berdetak, peningkatan tekanan darah, penurunan aliran darah ke otak, stroke, pembengkakan pada kondisi ekstrim, nafas pendek atau kesulitan bernafas, gejala kedinginan, sesak nafas, infeksi hidung, bersin, hidung mampet, hidung kering, hidung berdarah, asma, depresi, kesulitan mengingat/gangguan pada memori, sakit kepala, gelisah, iritabilitas/mudah tersinggung, kelelahan, gemetar, perasaan abnormal, pingsan, pusing, drowsine , mual, muntah, diare, gas lambung, nyeri saluran cerna, inflamasi saluran napas, sensasi abnormal atau rasa kering di mulut, penurunan sensitivitas rasa, tidak mampu mencerna, nilai fungsi hati abnormal, peningkatan kadar klorin darah, penurunan jumlah sel darah merah, peningkatan gejala alergi, kuping berdenging, sensasi berputar, pingsan, gatal, memerah, penurunan atau abnormalitas sensasi kulit, rambut rontok, nyeri punggung, nyeri sendi, nyeri otot, ketegangan otot, nyeri luar biasa, kelemahan otot, nyeri ginjal, sering berkemih, penurunan gairah seks, kesulitasn seks pada pria, kadar gula rendah.

Penggunaan: 

satu tetes pada mata yang sakit, dua kali sehari, pagi dan malam atau sesuai arahan dokter. Jika menggunakan lebih dari satu obat tetes mata, beri jarak waktu pemberian masing-masing obat 5 menit. Jika mengganti obat antiglaukoma optalmik lainnya dengan kombinasi ini, obat lain harus dihentikan dan kombinasi ini mulai diberikan pada hari berikutnya.