7.4.1 Retensi Urin

Retensi urin dapat terjadi akut dan kronis. Retensi akut menimbulkan nyeri dan diatasi dengan kateterisasi. Retensi kronis tidak nyeri tetapi berlangsung lama. Tidak diperlukan katerisasi kecuali terjadi deteriorisasi fungsi ginjal. Setelah penyebabnya diterapi, obat mungkin masih diperlukan untuk meningkatkan kerja otot detrusor. Penyakit yang mendasarinya misalnya hiperplasia prostat (BPH) harus ditangani baik melalui operasi atau terapi obat dengan Alfa-bloker atau menggunakan finasterid anti-androgen (bagian 6.4.2) pada retensi urin akut atau ringan.

Alfa-blokerz
Alfa-bloker selektif, alfuzosin, doksazosin, indoramin, prazosin, tamsulosin dan terazosin merelaksasi otot pada hiperplasia prostat yang jinak mengakibatkan peningkatan aliran kemih dan perbaikan gejala obstruksi.

Peringatan
Karena Alfa-bloker yang selektif menurunkan tekanan darah,pasien yang menerima pengobatan antihipertensi memerlukan pengurangan dosis dan pengawasan ahli. Diperlukan perhatian bagi lansia dan pasien dengan kegagalan hati dan kegagalan ginjal berat.

Kontraindikasi
Alfa-bloker sebaiknya dihindari pada pasien dengan riwayat hipertensi postural dan sinkop mikturisi.

Efek samping
Efek samping alfa-bloker yang selektif meliputi mengantuk, hipotensi (hipotensi postural), sinkop, astenia, depresi, sakit kepala, mulut kering, gangguan saluran cerna (termasuk mual, muntah, diare, konstipasi), edema, penglihatan kabur, rinitis, gangguan ereksi (termasuk priapisme), takikardi, palpitasi. Reaksi hipersensitif termasuk kemerahan, pruritus, dan angiodema pernah dilaporkan.

Betanekol atau karbakol, suatu golongan ester kolin, biasanya digunakan pada retensi urin paska bedah dengan menyebabkan kapasitas kandung kemih berkurang dan peristaltik ureter bertambah, tetapi kini lebih sering digunakan cara kateterisasi. Pengendara: selama minum obat ini (prazosin atau doksazosin) tidak boleh mengemudikan kendaraan bermotor atau mengoperasikan mesin.

Monografi: 

ALFUZOSIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

terapi gejala hipertrofi prostat jinak. Terapi tambahan tindakan pemasangan kateter pada retensi urin akut akibat hipertrofi prostat jinak.

Peringatan: 

Lansia: Intraoperative Floppy Iris Syndrome (IFIS) selama operasi katarak, riwayat hipotensi pada penggunaan alfa-1 bloker, riwayat serangan jantung: penghentian alfuzosin jika angina pektoris kembali memburuk, berkendara atau mengoperasikan mesin.

Interaksi: 

antihipertensi alfa bloker (prazosin, urapidil, minoksidil) meningkatkan risiko hipotensi ortostatik berat, obat-obat antihipertensi lain meningkatkan risiko hipotensi.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, hipotensi ortostatik, gagal hati, gagal ginjal berat (bersihan kreatinin < 30 mL/menit), penyumbatan pada usus.

Efek Samping: 

Umum: sensitif terhadap cahaya, pusing, pingsan, sakit kepala, mual, sakit perut, astenia. Tidak umum: pusing sesaat, mengantuk, takikardi, palpitasi, hipotensi ortostatik, sinkop, diare, mulut kering, ruam, pruritus, muka merah, udem, nyeri dada, rinitis/obstruksi nasal. Sangat jarang: angina pektoris pada pasien dengan riwayat penyakit arteri koroner, urtikaria, angioedema. Tidak diketahui: cedera hepatoseluler, hepatitis kolestatik, priapismus.

Dosis: 

Oral: 10 mg sekali sehari, diberikan segera setelah makan sore. Terapi tambahan untuk kateter pada retensi urin akut yang berkaitan dengan hipertrofi prostat jinak: 10 mg sekali sehari, diberikan setelah makan, sejak hari pertama kateterisasi. Pengobatan diberikan selama 3 sampai 4 hari, misalnya 2 sampai 3 hari saat kateter digunakan dan 1 hari setelah dilepaskan.
Tablet harus ditelan utuh, tidak boleh dihancurkan, dihisap atau diserbukkan.

DOKSAZOSIN

Indikasi: 

lihat keterangan di atas dan pada prazosin

Peringatan: 

lihat keterangan di atas dan pada prazosin

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas dan pada prazosin

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas dan pada prazosin

Dosis: 

mula-mula 1 mg/hari; kalau perlu tingkatkan dengan interval 1-2 minggu sampai maksimal 8 mg/hari; dosis pemeliharaan umumnya 2-4 mg/hari

PRAZOSIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

lihat keterangan di atas; gagal jantung (lihat 2.1); anti-hipertensi (lihat 2.3); penyakit vaskular

Peringatan: 

dosis pertama menyebabkan kolaps karena hipotensi (oleh karena itu harus istirahat di tempat tidur), lansia dosis mula-mula dikurangi pada gagal ginjal (Lampiran 3); kehamilan (Lampiran 4).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (alfa bloker)

Kontraindikasi: 

hipotensi ortostatik

Efek Samping: 

hipotensi, sedasi, pusing, kantuk, lemah, lesu, depresi, sakit kepala, mulut kering, mual, sering berkemih, takikardia, palpitasi

Dosis: 

Hiperplasia prostat mula-mula 2 kali 500 mcg sehari selama 3-7 hari, kemudian disesuaikan dengan respons penderita, dosis penunjang umumnya (dan maksimal) 2 kali 2 mg per hari. Pada lansia dimulai dengan dosis lebih rendah

TAMSULOSIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan di atas

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas, gangguan fungsi hati berat

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas

Dosis: 

400 mcg perhari sebagai dosis tunggal

TERAZOSIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

pengobatan simptomatik hiperplasia prostat jinak (efek jangka panjang terazosin HCl adalah pada pembedahan, obstruksi urin akut atau komplikasi hiperplasia prostat lain); pengobatan hipertensi (secara tunggal atau dikombinasi dengan antihipertensi lain seperti obat diuretik dan beta-bloker).

Peringatan: 

kanker prostat; gejala hipotensi ortostatik, penurunan tekanan darah, pusing, hipotensi postural, sinkop dan vertigo; hindari mengemudi dan mengoperasikan mesin berbahaya 12 jam setelah dosis awal, setelah peningkatan dosis dan setelah penghentian terapi

Interaksi: 

digunakan hati-hati dengan antihipertensi lain, khususnya antagonis kalsium, verapamil untuk mencegah kemungkinan peningkatan hipotensi yang signifikan. Saat menggunakan tablet terazosin HCl dan antihipertensi lain secara bersamaan, dosis harus dikurangi dan penentuan dosis perlu diulangi.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; peningkatan berat badan, paraesthesia, dispnea, thrombositopenia, kegugupan, penurunan libido, nyeri punggung (back pain) nyeri pada anggota gerak. Dosis awal dapat menyebabkan collapse dikarenakan efek hipotensif (karena itu harus diminum saat beristirahat di atas tempat tidur. Pasien harus diperingatkan untuk berbaring jika gejala seperti pusing, kelelahan, atau berkeringat dan untuk tetap berbaring sampai gejala tersebut mereda.

Dosis: 

Hiperplasia prostat jinak, awal: tidak boleh lebih dari 1 mg pada waktu istirahat. Pasien diawasi selama penggunaan awal untuk meminimalisir risiko respon hipotensi berat. Dosis lanjutan: dosis ditingkatkan bertahap menjadi 2 mg, 5 mg atau 10 mg satu kali sehari untuk memperoleh perbaikan gejala dan/atau tingkat aliran. Umumnya dosis yang diberikan untuk memperoleh respon klinik adalah 10 mg sekali sehari. Namun pengobatan dengan 10 mg selama minimal 4-6 minggu dapat diberikan untuk memperoleh efek yang bermanfaat. Beberapa pasien tidak memperoleh respon klinik meskipun telah dilakukan penetapan dosis. Beberapa pasien merespon dosis 20 mg perhari, namun jumlah pasien tidak cukup untuk menggambarkan kepastian dosis ini. Diperlukan data pendukung untuk penggunaan dosis yang lebih tinggi pada pasien yang tidak cukup kuat atau tidak merespon dosis 20 mg perhari. Jika terazosin HCl dihentikan selama beberapa hari, pengobatan diulangi dengan regimen dosis awal.
Hipertensi, dosis terazosin HCl dan interval dosis (12 atau 24 jam) harus disesuaikan dengan respon tekanan darah masing-masing pasien. Dosis awal: dosis awal tidak boleh lebih dari 1 mg pada waktu istirahat. Regimen dosis awal dipertimbangkan dengan ketat untuk meminimalisir efek hipotensi yang berat. Dosis lanjutan: dosis ditingkatkan perlahan untuk memperoleh respon tekanan darah yang diinginkan. Umumnya rentang dosis 1 mg hingga 5 mg digunakan satu kali sehari, meskipun beberapa pasien mungkin mendapat manfaat dari dosis yang tinggi, 20 mg sehari. Dosis di atas 20 mg tidak boleh diberikan untuk memperoleh efek tekanan darah dan dosis di atas 40 mg tidak pernah dipelajari. Tekanan darah harus dimonitor pada akhir interval dosis untuk memastikan pengawasan dilakukan pada interval dosis. Diperlukan pengukuran tekanan darah 2-3 jam setelah penggunaan untuk melihat jika respon maksimal dan minimal sama, dan untuk mengevaluasi gejala seperti pusing atau palpitasi akibat respon hipotensi yang berlebihan. Jika respon banyak berkurang pada 24 jam, peningkatan dosis atau penggunaan regimen dua kali sehari dapat diberikan. Jika penggunaan terazosin dihentikan selama beberapa hari atau lebih lama, pengobatan diulangi dengan regimen dosis awal. Pada uji klinik, kecuali untuk dosis awal, dosis diberikan pada pagi hari.