7.1.1 Prostaglandin dan Oksitosik

Prostaglandin dan oksitosik digunakan untuk merangsang atau meningkatkan kontraksi uterus atau menginduksi persalinan dan meminimalkan perdarahan dari plasenta. Kelompok ini terdiri dari oksitosin, ergometrin, dan prostaglandin. Semuanya menginduksi kontraksi uterus dengan derajat nyeri yang bervariasi tergantung pada kekuatan induksinya.

INDUKSI ABORSI. Dinoproston ekstra amniotik dan pervagina untuk aborsi terapeutik. Untuk pemberian ekstra-amniotik diperlukan sediaan berbentuk pesarium. Tetapi sekarang sudah jarang digunakan.

INDUKSI PEMACUAN PERSALINAN. Dinoproston yang diberikan sebagai tablet vagina, pesarium dan gel vagina digunakan untuk menginduksi persalinan. Larutan intravena jarang digunakan karena menimbulkan banyak efek samping. Oksitosin yang diberikan secara infus intravena perlahan efektif untuk induksi atau memacu persalinan yang biasanya diberikan bersama dengan tindakan amniotomi. Aktivitas uterus harus dipantau untuk mencegah stimulasi berlebihan pada otot rahim. Oksitosin dosis besar dapat menyebabkan retensi cairan.

Panduan

  • Dinoproston lebih disukai dari oksitosik untuk induksi persalinan pada wanita dengan membran utuh, tanpa melihat parity atau cervical favourability.
  • Dinoproston atau oksitosik memiliki efektifitas yang sama untuk induksi persalinan pada wanita dengan membran ruptur, tanpa melihat parity atau cervical favourability.
  • Oksitosik sebaiknya tidak diberikan 6 jam setelah pemberian prostaglandin vaginal.

PENCEGAHAN DAN PENGHENTIAN PERDARAHAN. Perdarahan pada abortus inkomplit dapat dikontrol dengan ergometrin dan oksitosin intramuskular dalam dosis yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Biasanya obat ini disuntikkan sebelum kuretase. Pada kehamilan muda, kombinasi keduanya lebih efektif daripada masing-masing obat sendiri.

Untuk mencegah perdarahan pasca persalinan, ergometrin 500 mcg dan oksitosin 5 unit rutin disuntikkan intramuskular pada kala III (setelah bahu keluar) atau segera setelah bayi keluar. Pada preeklamsia hanya diberikan oksitosin. Pada pasien berisiko tinggi perdarahan karena obat oksitosik atonia uterus, dianjurkan pemberian:

  • Oksitosin 5-10 unit, injeksi intravena;
  • Ergometrin 250-500 mcg, injeksi intravena;
  • Oksitosin infus 5-30 unit/500 mL setelah bahu keluar, lebih-lebih pada atonia uterus.

Karboprost sangat efektif pada perdarahan berat pasca persalinan yang tidak memberikan respon pada pemberian ergometrin dan oksitosin.

DUKTUS ARTERIOSUS

Maintenance of Patency

Alprostadil (prostaglandin E1) digunakan untuk menjaga agar duktus arteriosus tetap terbuka pada bayi baru lahir dengan kelainan jantung bawaan, sebelum dilakukan pembedahan perbaikan di rumah sakit/klinik di mana perawatan intensif dapat segera tersedia.

Penutup Duktus Arteriosus

Indometasin, digunakan untuk menutup duktus arteriosus pada bayi prematur, kemungkinan dengan menghalangi sintesis prostaglandin.

Monografi: 

DINOPROSTON

Indikasi: 

lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

riwayat asma; glaukoma; gangguan fungsi jantung, hati, atau ginjal; hipertensi; riwayat epilepsi; monitor kontraksi uterus dan keadaan janin; ruptur uterus; meningkatkan efek oksitosin (lihat lampiran 1).

Kontraindikasi: 

penyakit jantung, paru, hati, atau ginjal; plasenta previa, perdarahan vagina tiba-tiba dalam persalinan, ruptur membran, CPD berat; riwayat operasi Caesar; infeksi pelvis; gawat janin; kehamilan ganda dan multipara; riwayat persalinan sulit/traumatik.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, hipertonus uterus, emboli paru, ablasio plasenta, gawat janin, hipertensi maternal, bronkospasme, dilatasi serviks terlalu cepat, kontraksi uterus berlebihan dengan/tanpa bradikardia janin, skor Apgar rendah; henti jantung; janin mati, gangguan pada vagina.

Dosis: 

3 mg dimasukkan jauh ke dalam forniks posterior.

ERGOMETRIN MALEAT

Indikasi: 

lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

hipertensi, penyakit jantung, gangguan fungsi hati atau ginjal, kehamilan ganda, porfiria.

Interaksi: 

lihat lampiran 1.

Kontraindikasi: 

kala 1 dan 2 persalinan, penyakit vaskular, penyakit jantung berat, gangguan fungsi paru, gangguan fungsi hati atau ginjal yang berat, sepsis, hipertensi berat, eklamsia.

Efek Samping: 

mual, muntah, sakit kepala, pusing, tinitus, nyeri dada, nyeri perut, palpitasi, dispneu, bradikardia, hipertensi selintas, vasokonstriksi, stroke, infark miokard, udem paru.

Dosis: 

lihat keterangan di atas.

METILERGOMETRIN MALEAT

Indikasi: 

lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

lihat keterangan pada ergometrin maleat.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan pada ergometrin maleat.

Efek Samping: 

lihat keterangan pada ergometrin maleat.

Dosis: 

lihat keterangan pada ergometrin maleat.

OKSITOSIN

Indikasi: 

lihat keterangan pada dosis dan keterangan di atas.

Peringatan: 

monitor denyut jantung bayi dengan ketat; pada CPD ringan. Peringatan khusus; hipertensi kehamilan yang ringan-sedang; penyakit jantung; wanita di atas 35 tahun dengan riwayat seksio segmen bawah uterus; hiponatremia dan kelebihan cairan- batasi pemberian cairan; efek prostaglandin ditingkatkan pemberian bersamaan perlu monitor ketat; anestesia blok kaudal (efek hipertensif bertambah).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (oksitosin).

Kontraindikasi: 

kontraksi uterus hipertonik; obstruksi mekanik pada jalan lahir; gawat janin; setiap keadaan yang tidak memungkinkan persalinan per vagina (mis:CPD); lemah (inertia) uterus dengan resistensi oksitosin; preeklamsia berat atau terhadap sistem kardiovaskular.

Efek Samping: 

spasme uterus (dapat terjadi pada dosis rendah); hiperstimulasi uterus (dapat menyebabkan gawat janin, kerusakan jaringan lunak atau ruptur uterus); keracunan cairan dan hiponatremia (biasanya pada dosis besar dengan infus banyak); mual, muntah, aritmia; reaksi anafilaksis; ruam kulit; ablasio plasenta; emboli amnion.

Dosis: 

Induksi persalinan pada lemah uterus: infus intravena 1-4 miliunit/menit dinaikkan dalam interval tak kurang dari 20 menit sampai dicapai pola persalinan mirip persalinan normal (biasanya kurang dari 10 miliunit/menit untuk persalinan aterm); dosis maksimum 20 miliunit/menit (bila dibutuhkan dosis tinggi, gunakan larutan 10 unit/500 mL); jangan menggunakan total lebih dari 5 unit per hari (pengulangan pada hari berikutnya mulai lagi dengan 1-4 miliunit/menit). Monitor DJJ dan kuatnya kontraksi penting untuk menyesuaikan dosis dengan respons klinik. Bila ada gawat janin atau hipereaksi uterus, infus harus dihentikan.
Bedah Caesar: injeksi intravena lambat 5 unit segera setelah persalinan; Pencegahan perdarahan pasca persalinan: injeksi intravena lambat 5 unit setelah keluar plasenta; bila memang telah diberikan infus obat, percepat infus selama kala III dan beberapa jam berikutnya; dapat juga diberikan injeksi intramuskular kombinasi oksitosin dan ergometrin (lihat keterangan di atas).
Perdarahan pasca persalinan: injeksi intravena lambat 5 unit, diikuti dengan infus 5-20 unit dalam 500 mL glukosa 5% dengan kecepatan yang dianjurkan untuk atonia uterus Abortus inkomplit atau missed abortion: 5 unit injeksi intravena lambat diikuti dengan infus 20-40 miliunit/menit.
Infus berkepanjangan dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kelebihan cairan dan hiponatremia. Untuk mencegah ini, gunakan cairan elektrolit (jangan glukosa), pekatkan larutannya, kurangi asupan cairan per oral, monitor cairan dan elektrolit.

SULPROSTON

Indikasi: 

aborsi pada trimester kedua dan ketiga; induksi persalinan pada kematian janin; perdarahan atonik pasca persalinan.

Peringatan: 

lihat keterangan pada dinoproston.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan pada dinoproston.

Efek Samping: 

lihat keterangan pada dinoproston.

Dosis: 

lihat keterangan pada dinoproston.