VORIKONAZOL

Indikasi: 

aspergillosis invasif (sebagian besar disebabkan oleh Aspergillus fumigatus), kandidemia pada pasien non-neutropenik, infeksi serius Candida (termasuk C. Krusei), kandidiasis esofagal, infeksi serius yang disebabkan oleh Scedosporium apiospermum (bentuk aseksual dari Pseudallescheria boydii) dan Fusarium spp., termasuk Fusarium solani, pada pasien yang intoleran atau refrakter terhadap pengobatan lain.

Peringatan: 

monitor fungsi hati sebelum pengobatan dan selama pengobatan; penyakit hematologi yang berbahaya (meningkatkan risiko reaksi hepatik); gangguan fungsi hati; monitor fungsi ginjal; gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3); kehamilan (memastikan kontrasepsi efektif selama pengobatan- lihat Lampiran 2); gangguan elektrolit, kardiomiopati, bradikardi, aritmia simptomatik, riwayat perpanjangan interval QT,penggunaan bersama obat lain yang memperpanjang interval QT; hindari paparan sinar matahari.Untuk penggunaan invus intravena, dapat timbul reaksi anafilaksis seperti flushing, demam, berkeringat, takikardi, sesak dada, dispnea, faintness (lemah/pingsan), mual, gatal, ruam kulit. Perlu peringatan pula agar menghindari mengendarai kendaraan bermotor pada malam hari atau melakukan kegiatan yang potensial menimbulakn bahaya karena vorikonazol menyebabkan perubahan pandangan seperti pandangan kabur, dan atau fotophobia.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (anti jamur, triazol).

Kontraindikasi: 

menyusui (lihat Lampiran 4), pasien yang hipersensitif terhadap vorikonazol dan golongan azol lainnya.

Efek Samping: 

Gangguan gastrointestinal (termasuk mual, muntah, nyeri abdomen, diare), ikterus; udem, hipotensi, nyeri dada; sindrom sulit pernafasan, sinusitis; sakit kepala, pusing, asthenia, gelisah, depresi, bingung, agitasi, halusinasi, paraestesia, tremor; gejala menyerupai influenza; hipoglikemia; hematuria; kelainan darah (termasuk anemia, trombositopenia, leucopenia, pansitopenia), gagal ginjal akut, hipokalemia; gangguan visual termasuk persepsi yang berubah, pandangan kabur dengan fotofobia; ruam kulit, pruritus, fotosensitivitas, alopesia, cheilitis; reaksi pada tempat injeksi; gangguan pengecapan, kolesistitis, pankreatitis, hepatitis, konstipasi, aritmia (termasuk perpanjangan interval QT), sinkop, peningkatan serum kolesterol, reaksi hipersensitivitas (termasuk flushing), ataksia, nistagmus, hipoasthesia, ketidakcukupan adrenokortikal, artritis, blepharitis, neuritis optik, skleritis, glositis, gingivitis, psoriasis, sindrom Steven-Johnson; kolitis pseudomembran (jarang), gangguan tidur, tinnitus, gangguan pendengaran, efek ekstrapiramidal, hipertonia, hipotiroidisme, hipertiroidisme, lupus eritromatosus discoid, nekrolisis epidermal toksik, perdarahan retina, dan atropi optik.

Dosis: 

DEWASA: terapi harus dimulai dengan regimen dosis muatan (loading dose) vorikonazol intravena untuk mencapai kadar plasma pada hari pertama yang mendekati steady state. Perpindahan dari intravena ke oral dapat dilakukan bila diindikasikan secara klinis. Dosis muatan adalah vorikonazol intravena 6 mg/kg bb setiap 12 jam untuk 2 dosis, dilanjutkan dengan 4 mg/kg bb setiap 12 jam. Jika pasien dapat mentolerir pengobatan peroral, dapat digunakan vorikonazol oral. Pasien dengan berat badan >40 kg harus menerima dosis pemeliharaan vorikonazol sebesar 200 mg setiap 12 jam. Pasien dewasa dengan berat badan < 40 kg harus menerima dosis pemeliharaan 100 mg setiap 12 jam.

Bila pasien tidak memberikan respon yang adekuat, dosis pemeliharaan oral dapat dinaikkan dari 200 mg setiap 12 jam sampai 300 mg setiap 12 jam. Untuk pasien dengan berat < 40 kg, dosis pemeliharaan oral dapat dinaikkan dari 100 mg setiap 12 jam menjadi 150 mg setiap 12 jam. Bila pasien tidak dapat mentolerir pengobatan, dosis pemeliharaan intra venus diturunkan menjadi 3 mg/kg bb setiap 12 jam dan dosis pemeliharaan oral dengan penurunan 50 mg sampai dosis minimum 200 mg setiap 12 jam (atau 100 mg setiap 12 jam untuk pasien dengan berat < 40 kg).

Lansia: tidak diperlukan penyesuaian dosis. Gangguan fungsi hati: Pada pasien dengan gangguan fungsi hati ringan hingga sedang, dosis muatan sama dengan pada pasien normal, namun dosis pemeliharaan diturunkan menjadi setengah dosis normal. Pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat, penggunaan vorikonazol hanya diberikan apabila kemanfaatan lebih tinggi dibandingkan dengan risiko.

Gangguan fungsi ginjal: tidak diperlukan penyesuaian dosis, namun pada gangguan ginjal sedang hingga berat, harus dilakukan pemantauan ketat terhadap serum kreatinin dan vorikonazol hanya diberikan apabila kemanfaatan lebih tinggi dibandingkan dengan risiko. Apabila terjadi peningkatan serum kreatinin, terapi diganti menjadi terapi vorikonazol oral.

List Nama Dagang

Untuk informasi nama produk terkini dapat melihat cekbpom.pom.go.id