SPARFLOKSASIN

Indikasi: 

pneumonia akut berasal dari komunitas (CAP/Community-acquired pneumonia) yang diduga disebabkan oleh bakteri pneumokokus dan non-pneumokokus; eksaserbasi dari penyakit obstruksi paru menahun (COPD); sinusitis purulen akut; infeksi yang sudah resisten terhadap penisilin atau antibiotik beta-laktam lain.

Peringatan: 

reaksi fototoksisitas; penderita dengan riwayat pemanjangan QTc, kongenital atau didapat (misal infark miokard akut); penderita dengan riwayat hipokalemia (periksa kadar kalium sebelum pengobatan dengan sparfloksasin); bradiaritmia; tendinitis dan/atau ruptur tendon (terutama mempengaruhi tendon Achilles); rasa nyeri atau inflamasi; pasien yang diduga menderita tuberkulosis (perhatikan aktivitas potensial sparfloksasin terhadap mikobakteria); negatif palsu pada biakan mikobakteria; efek terhadap sistim saraf pusat (dianjurkan untuk tidak mengendarai atau menjalankan mesin); pasien hemodialisis atau dialisis peritoneum; hindari pemaparan terhadap sinar matahari, sinar terang dan sinar ultraviolet selama masa pengobatan ditambah lima hari setelah pengobatan selesai.

Interaksi: 

penggunaan bersama amiodaron, sotalol dan bepridil menimbulkan risiko torsades de pointes karena perpanjangan interval Q-T (efek aditif elektrofisiologis); tidak dianjurkan kombinasi dengan obat yang dapat memperpanjang interval Q-T dan/atau menimbulkan torsades de pointes seperti antiaritmia (bretilium, disopiramid, prokainamid, kuinidin), dan obat-obat lain seperti astemisol, eritromisin, kuinin, klorokuin, halofantin, cisaprid, pentamid, probukol, terfenadin, vinkamin, beberapa antidepresan trisiklik, neuroleptik tertentu (seperti sulfoprid, fenotiasin) karena menimbulkan risiko torsades de pointes akibat pemanjangan interval Q-T (efek aditif elektrofisiologi); diperlukan pemantauan klinis dan elektrokardiografi secara seksama; hati-hati kombinasi bersama dengan garam magnesium, aluminium dan kalsium oksida dan hidroksida (dapat menurunkan penyerapan sparfloksasin sehingga selang waktu (lebih dari 4 jam) harus diberikan antara pemberian antasida dan sparfloksasin), garam besi dan seng (dosis oral > 30 mg per hari) harus diberikan minimal 2 jam setelah pemberian sparfloksasin; hati-hati pemberian pada kondisi hipokalemia yang disebabkan diuretik, laksatif, stimulan, amfoterisin B (intravena), kortikosteroid dan tetrakosaktid yang menyebabkan torsades de pointes, pada kondisi ini hipokalemia sebaiknya diatasi dahulu sebelum memulai pengobatan dengan sparfloksasin; hati-hati pemberian pada kondisi bradikardi yang disebabkan obat-obat seperti digoksin dan beta bloker (dapat menyebabkan torsades de pointes); penggunaan dengan Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) dan teofilin mengurangi ambang batas kejang.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap sparfloksasin atau golongan kuinolon lainnya; penggunaan bersama dengan amiodaron, sotalol dan bepridil (lihat interaksi); kehamilan dan menyusui; anak-anak hingga akhir masa pertumbuhan; penderita dengan riwayat penyakit tendon berhubungan dengan floroluinolon; penderita dengan defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase; riwayat pemanjangan interval Q-T (faktor kongenital atau non-kongenital); penggunaan bersama dengan obat anti aritmia atau obat lain yang menimbulkan aritmia.

Efek Samping: 

fototoksisitas termasuk manifestasi terbakar sinar matahari, eritema, dan lesi lepuh, (gejala fototoksik masih timbul setelah pengobatan dihentikan beberapa minggu); kemerahan, pruritus, bengkak, lepuh, gejala Steven-Johnson Syndrome, nyeri otot dan sendi, tendinitis, ruptur/ kerusakan tendon, gangguan irama jantung, termasuk torsades de pointes, aritmia, bradikardi, takikardi, takikardi ventrikel, mual, muntah, diare, nyeri perut, gastralgia, peningkatan enzim hati, ikterus, tremor, rasa mabuk, paraestesia, gangguan sensorik, sakit kepala, vertigo, halusinasi, gangguan tidur awal pengobatan, hipersensitifitas, urtikaria, angioedema, shok anafilaktik, edema quincke, trombositopenia yang sporadis, purpura trombositopenia, konjungtivis, uretritis, peningkatan transaminase sedang atau untuk sementara.

Dosis: 

Fungsi ginjal normal: dosis awal 400 mg sebagai dosis tungggal pada hari pertama, dilanjutkan 200 mg per hari dalam dosis tunggal, lama pengobatan rata-rata 10 hari untuk infeksi saluran pernafasan bagian bawah dan 4 hari untuk sinusitis, peningkatan dosis per hari tidak akan menambah manfaaat pengobatan; Gangguan fungsi ginjal: bersihan kreatinin lebih besar dari atau sama dengan 30 mL/menit, tidak diperlukan penyesuaian dosis, bersihan kreatinin lebih kecil dari 30 mL/menit, 400 mg dosis awal pada hari pertama, pada hari kedua pengobatan tidak diberikan, dilanjutkan dengan 200 mg pada hari ketiga, kemudian diberikan setiap 48 jam selama 10 hari; Tidak terdapat data untuk pasien gangguan hati berat. Obat ini dapat digunakan dengan atau tanpa makanan.

List Nama Dagang

Untuk informasi nama produk terkini dapat melihat cekbpom.pom.go.id