SIKLOSPORIN

Indikasi: 

Lihat keterangan di atas dan lihat pada dosis; dermatitis atopik dan psoriasis (lihat bab 13.5.3); artritis rematoid (bab 10.1.3)

Peringatan: 

Pantau fungsi ginjal, penurunan dosis pada pasien transplantasi dapat dilakukan dengan meningkatnya kadar kreatinin serum dan urea (tidak ada reaksi penolakan pada cangkok ginjal) atau dihentikan pada pasien non transplantasi; pantau fungsi hati (penyesuaian dosis berdasarkan pada bilirubin dan enzim hati mungkin diperlukan); pantau tekanan darah?entikan jika peningkatan tekanan darah tidak dapat dikontrol dengan antihipertensi; hiperurisemia; pantau kadar natrium serum terutama pada disfungsi ginjal (risiko hiperkalemia); pantau kadar magnesium serum; lakukan pengukuran kadar lemak darah sebelum pengobatan dan sesudah pengobatan; kehamilan (lampiran 2) dan menyusui (lampiran 4), porfiria, penggunaan bersama takrolimus spesifik dikontraindikasikan dan di luar penggunaannya oleh dokter spesialis, pada pasien yang melakukan transplantasi sebaiknya hindari imunosupresan lain kecuali kortikosteroid (meningkatkan risiko infeksi dan limpoma).Peringatan tambahan pada sindroma nefrotik, dikontraindikasikan pada hipertensi yang tidak terkontrol, infeksi tidak terkontrol, dan keganasan. Turunkan dosis sebanyak 25?0% jika serum kreatinin >30% dari batas maksimum pada lebih dari sekali pengukuran; pada gangguan fungsi ginjal, dosis awal 2,5 mg/kg bb per hari; pada penggunaan jangka panjang, lakukan biopsi ginjal setiap tahunnya.Peringatan tambahan: dermatitis atopik dan psoriasis (13.5.3); artritis rematoid (10.1.3)

Interaksi: 

lihat lampiran 1

Efek Samping: 

Dosis tergantung pada peningkatan kadar serum kreatinin dan urea selama beberapa minggu pertama (lihat pada peringatan), meskipun sangat jarang, pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi perubahan struktur ginjal; juga terjadi hipertrikosis, sakit kepala, tremor, hipertensi (terutama pada pasien transplantasi jantung), disfungsi hati, lelah, hipertropi gingival, gangguan saluran cerna, rasa seperti terbakar pada tangan dan kaki (biasanya selama minggu pertama); kadang terjadi ruam kulit (kemungkinan alergi), anemia ringan, hiperkalemia, hiperurisemia, gout, hipomagnesemia, hiperkolesterolemia, hiperglikemia, peningkatan berat badan, udem, pankreatitis, neuropati, bingung, paraestesia, kejang, hipertension intrakranial jinak (dihentikan), dismenorea atau amenorea, mialgia, kelemahan otot, kram, miopati, ginekomastia, (pada pasien yang menerima spironolakton secara bersamaan), kolitis dan kebutaan kortikal juga dilaporkan; trombositopenia (terkadang dengan sindrom uremi hemolitik); kejadian kelainan malignansi dan lipoproliveratif yang mirip dengan terapi imunosupresif yang lain.

Dosis: 

transplantasi organ, digunakan sendiri, dewasa dan anak?nak lebih dari 3 bulan, 3? mg/kg bb per hari melalui infusi intravena selama 2? jam dari sehari sebelum transplantasi hingga 2 minggu setelah operasi (atau 12,5?5 mg/kg bb per hari melalui oral). Kemudian 12,5 mg/kg bb per hari melalui oral selama 3? bulan kemudian hentikan (dapat digunakan hingga 1 tahun setelah transplantasi).Sindroma nefrotik, melalui oral 5 mg/kg bb per hari dalam 2 dosis terbagi; anak?nak 6 mg/kg bb per hari dalam 2 dosis terbagi; pengobatan untuk perawatan, dosis diturunkan hingga ke dosis efektif terkecil, disesuaikan menurut pengukuran proteinuria dan serum kreatinin; hentikan pengobatan setelah 3 bulan jika tidak ada peningkatan dalam glomerulonefritis atau glomerulonekrosis (setelah 6 bulan dalam membran glomerulonefritis).