SEFSULODIN

Indikasi: 

hanya untuk infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa yang peka terhadap sefsulodin, terutama pada infeksi saluran kemih kronik yang kambuh pada pielonefritis, prostatitis, infeksi saluran kemih yang disertai kerusakan (adanya neoplasma, calculi pada saluran kemih atau karena tindakan bedah); infeksi saluran nafas (pneumonia, bronkitis purulen kronik dan infeksi yang berhubungan dengan mucoviscidosis); infeksi pada tulang dan jaringan (misal: osteomilitis); infeksi sekunder setelah luka atau luka bakar; septikemia; dan peritonitis; pada infeksi berat dianjurkan untuk dikombinasikan dengan anti pseodomonas lain (misal: aminoglikosida) karena akan sangat mudah terjadi resistensi.

Peringatan: 

terhadap kemungkinan timbulnya syok atau reaksi hipersensitif pada pasien, sebaiknya dilakukan pemeriksaan pendahuluan dengan tes pada kulit; harus diberikan dengan hati-hati kepada pasien yang hipersensitif terhadap antibiotik golongan sefalosporin atau penisilin, atau pasien atau orang tua pasien atau kakak adik pasien yang mudah terkena alergi (seperti bronkial asma, ruam kulit, urticaria, dsb); kehamilan; efek pada hasil pemeriksaan laboratorium; selama pengobatan dengan sefsulodin pemeriksaan terhadap hati, ginjal dan darah sebaiknya dilakukan secara periodik.

Interaksi: 

dilaporkan terjadinya perburukan keadaan ginjal pada pemakaian bersama diuretik (seperti furosemid) dengan antibiotik golongan sefalosporin, perhatikan fungsi ginjal bila sefsulodin digunakan bersama dengan diuretika.

Kontraindikasi: 

tidak boleh diberikan kepada pasien yang pernah mengalami syok akibat natrium sefsulodin.

Efek Samping: 

syok (walaupun jarang dapat terjadi syok, pengobatan harus dihentikan bilamana ada tanda-tanda tidak enak badan, rasa tidak enak dalam mulut, nafas sesak, pusing, rasa ingin buang air besar, tinnitus, berkeringat, dsb; hipersensitif), reaksi terlalu peka (seperti kulit menjadi merah, urtikaria, eritema, gatal-gatal, demam, radang kelenjar limfa, nyeri sendi, pengobatan harus dihentikan bila terjadi hipersensitif); meningkatkan BUN dan serum kreatinin; trombositopenia; eosinofilia; kenaikan sementara SGOT, SGPT, dan ALP; mual, muntah; sakit perut; dan bacterial alternation stomatitis atau kandidiasis.

Dosis: 

dewasa, secara intravena atau intramuskular, 1 sampai 4 gram sehari dalam 2-4 dosis terbagi; dosis harus disesuaikan menurut umur dan beratnya infeksi; bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal, dosis awal sama seperti pasien dengan fungsi ginjal yang normal/sehat, dosis selanjutnya harus disesuaikan menurut bersihan kreatinin yaitu: Bersihan kreatinin 50 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 90% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 95% terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 30 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 80% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 90 % terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 20 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 70% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 80 % terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 10 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 60% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 70 % terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 5 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 55% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 65% terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 2,5 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 45% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 60 % terhadap dosis permulaan; Fungsi ginjal yang parah dengan bersihan kreatinin 0 mL / min, 75 % dari dosis yang dianjurkan selama 24 jam.