RITODRIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

persalinan prematur tanpa komplikasi; lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

dugaan penyakit jantung (konsul ke ahli jantung), hipertensi, hipertiroidisme, hipokalemia (risiko khusus untuk penggunaan diuretik penglepas kalium), diabetes mellitus (monitor ketat kadar gula darah); preeklamsia ringan-sedang, monitor tekanan darah dan frekuensi nadi; monitor ketat volume cairan. Penting: udem paru berhubungan dengan hidrasi berlebih, segera hentikan infus bila timbul tanda udem paru, lalu berikan diuretik.

Interaksi: 

beta bloker melawan efek ritodrin (mungkin digunakan untuk mengurangi kemungkinan perdarahan paskabedah Caesar); obat yang melawan efek samping simpatomimetik atau memicu aritmia; lihat lampiran 1 (Simpatomimetik dan Simpatomimetik, beta2).

Kontraindikasi: 

penyakit jantung, eklamsia, preeklamsia berat, infeksi intrauterin, janin mati, perdarahan antepartum, plasenta previa, lilitan tali pusat, tidak untuk digunakan pada kehamilan trimester kedua-ketiga.

Efek Samping: 

mual, muntah, berkeringat, tremor, flushing, palpitasi, takikardia, hipokalemia, hipotensi (pasien sebaiknya berbaring miring ke kiri selama diinfus), meningkatkan kemungkinan perdarahan, udem paru, nyeri dada atau aritmia, pemberian lama: leukopenia dan agranulositosis.

Dosis: 

dosis awal 50 mcg/menit, infus dipercepat bertahap sampai 150-350 mcg/menit, dipertahankan sampai 12-48 jam setelah kontraksi hilang; atau 10 mg tiap 3-8 jam sampai 12-48 jam setelah kontraksi hilang; dosis oral diberikan 30 menit sebelum infus dihentikan dan diulang tiap 2 jam selama 24 jam, diikuti dengan 10-20 mg tiap 4-6 jam; dosis maksimal per hari 120 mg.