METRONIDAZOL

Indikasi: 

Uretritis dan vaginitis karena Trichomonas vaginalis, amoebiasis intestinal dan hepar, pencegahan infeksi anaerob pasca operasi, giardiasis karena Giardia lambliasis.

Peringatan: 

Reaksi seperti disulfiram, kram perut, mual, muntah, sakit kepala dan muka memerah bila diberikan bersama konsumsi alkohol; gangguan fungsi hati dan hepatic encephalopathy; kehamilan, menyusui (hindari penggunaan dosis besar). Pengobatan > 10 hari dianjurkan melakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Hentikan pengobatan bila muncul ataksia, vertigo, halusinasi, atau konfusi mental. Keamanan pada anak belum diketahui pasti, kecuali untuk amoebiasis; pasien penyakit susunan saraf pusat dan perifer, karena risiko agravasi neurologis. Disarankan tidak mengendarai dan mengoperasikan mesin karena menimbulkan kantuk, pusing, kebingungan, halusinasi, konvulsi atau gangguan penglihatan sementara.

Interaksi: 

lampiran 1 (metronidazol).

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, kehamilan trimester pertama.

Efek Samping: 

Jarang: anafilaksis. Sangat jarang: agranulositosis, neutropenia, trombositopenia, pansitopenia, gangguan psikotik termasuk kebingungan dan halusinasi, ensefalopati (contoh: kebingungan, demam, sakit kepala, halusinasi, paralisis, sensitif terhadap cahaya, gangguan penglihatan dan gerakan, leher kaku), subacute cerebellar syndrome (contoh: ataksia, disatria, gangguan fungsi berjalan, nystagmus, dan tremor) yang memerlukan penghentian obat, mengantuk, pusing, konvulsi, sakit kepala, gangguan penglihatan seperti diplopi dan miopi yang pada kebanyakan kasus bersifat sementara, ruam kulit, erupsi pustular, pruritis, muka memerah, mialgia, dan artralgia. Tidak diketahui frekuensinya: leukopenia, angioudema, urtikaria, demam, anoreksia, penurunan mood, neuropati sensor perifer, meningitis aseptik, neuropati optik atau neuritis, gangguan pengecapan, mukositis oral, lidah berselaput, mual, muntah, gangguan saluran cerna seperti nyeri epigastrum, diare, abnormalitas uji fungsi hati, hepatitis kolestatik, ikterus dan pankreatitis yang reversibel pada penghentian obat, eritema multiforme, urin berwarna gelap (akibat metabolit metronidazol).

Dosis: 

Oral: Amubiasis intestinal invasif, 800 mg tiap 8 jam selama 5 hari. Anak 1-3 tahun, 200 mg tiap 8 jam; 3-7 tahun, 200 mg tiap 6 jam; 7-10 tahun, 200-400 mg tiap 8 jam. Amubiasis ekstra intestinal (termasuk abses hepar) dan pembawa kista amuba asimtomatik, 400-800 mg tiap 8 jam selama 5-10 hari. Anak 1-3 tahun, 100-200 mg tiap 8 jam; 3-7 tahun, 100-200 mg tiap 6 jam; 7-10 tahun, 200-400 mg tiap 8 jam. Trikomoniasis urogenital, 200 mg tiap 8 jam selama 7 hari atau 400-500 mg tiap 12 jam selama 7 hari; atau 800 mg pagi hari dan 1,2 g malam hari selama 2 hari; atau 2 gram dosis tunggal. Anak 1-3 tahun, 50 mg tiap 8 jam selama 7 hari; 3-7 tahun, 100 mg tiap 12 jam; 7-10 tahun, 100 mg tiap 8 jam. Giardiasis, 2 gram/hari selama 3 hari atau 500 mg dua kali sehari selama 1-10 hari. ANAK 1-3 tahun, 500 mg/hari selama 3 hari; 3-7 tahun, 600-800 mg/hari; 7-10 tahun, 1 gram/hari. Infeksi gigi akut, 200 mg tiap 8 jam selama 3-7 hari.

Infeksi anaerob: (biasanya selama 7 hari).

Oral: dosis awal 800 mg, kemudian 400 mg tiap 8 jam atau 500 mg tiap 8 jam.

Rektal: 1 gram tiap 8 jam selama 3 hari, kemudian 1 gram tiap 12 jam. 

Infus intravena: 500 mg tiap 8 jam dengan kecepatan 5 ml/menit.

Anak, untuk semua cara pemberian, 7,5 mg/kg bb tiap 8 jam.

Profilaksis infeksi anaerob terutama setelah operasi:

Oral: 400 mg tiap 8 jam dimulai 24 jam sebelum operasi, dilanjutkan sesudah operasi secara intravena atau rektal sampai pemberian oral dapat dilakukan lagi. Anak, 7,5 mg/kg bb tiap 8 jam.

Rektal: 1 gram tiap 8 jam.  Anak, 125-250 mg tiap 8 jam.

Intravena: 500 mg beberapa saat sebelum operasi, kemudian tiap 8 jam sampai pemberian oral bisa dilakukan.

List Nama Dagang

Untuk informasi nama produk terkini dapat melihat cekbpom.pom.go.id