LEVOFLOKSASIN

Indikasi: 

infeksi sinusitis maksilaris akut, eksaserbasi bakterial akut pada bronkitis kronik, pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia), uncomplicated skin dan skin structure infections, infeksi saluran kemih kompleks (complicated urinary tract infection), dan pielonefritis akut karena mikroorganisme yang sensitif.

Peringatan: 

kejang, psikosis toksik, peningkatan tekanan intrakranial, stimulasi sistem saraf pusat, hipersensitifitas, reaksi anafilaksis, kolitis pseudomembran, kolitis terkait dengan antibiotik, ruptur tendon, hidrasi yang adekuat harus dipertahankan, insufisiensi ginjal, reaksi fototoksisitas sedang hingga berat, diketahui atau dicurigai gangguan sistem saraf pusat, gangguan glukosa darah, diabetes.

Interaksi: 

berpotensi membentuk kelat bersama ion logam (Al, Cu, Zn, Mg, Ca), antasida mengandung aluminium atau magnesium dan obat mengandung besi menurunkan absorpsi levofloksasin, penggunaan bersama AINS dengan kuinolon dapat meningkatkan risiko stimulasi SSP dan serangan kejang, gangguan glukosa darah, termasuk hiperglikemia dan hipoglikemia jika diberikan bersama obat antidiabetik, levofloksasin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis, sehingga dapat memberikan hasil negatif palsu pada diagnosis bakteri tuberkulosis.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap levofloksasin dan antimikroba golongan kuinolon, epilepsi, riwayat gangguan tendon terkait pemberian florokuinolon, anak atau remaja, kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

diare, mual, vaginitis, flatulens, pruritis, ruam, nyeri abdomen, genital moniliasis, pusing, dispepsia, insomnia, gangguan pengecapan, muntah, anoreksia, ansietas, konstipasi, edema, lelah, sakit kepala, palpitasi, parestesia, sindrom Stevens-Johnson, vasodilatasi tendon rupture.

Dosis: 

oral dan parenteral, 250 mg –750 mg sekali sehari selama 7-14 hari, tergantung pada jenis dan keparahan penyakit serta sensisitifitas patogen yang dianggap penyebab penyakit, sinusitis akut, 500 mg per hari selama 10-14 hari, eksaserbasi dari bronkitis kronik, 250-500 mg per hari selama 7-14 hari, pneumonia yang didapat dari lingkungan, 500 mg sekali atau dua kali sehari selama 7-14 hari, infeksi saluran kemih, 250 mg selama 7-10 hari (selama 3 hari untuk infeksi tanpa komplikasi), prostatitis kronik, 500 mg sekali selama 28 hari. Infeksi kulit dan jaringan lunak, 250 mg sehari atau 500 mg sekali atau dua kali sehari selama 7-14 hari, intravena (500 mg selama paling tidak 60 menit), pneumonia yang didapat dari lingkungan, 500 mg sekali atau dua kali sehari, infeksi saluran kemih dengan komplikasi, 250 mg sehari, dapat ditingkatkan pada infeksi parah, infeksi kulit dan jaringan lunak, 500 mg dua kali sehari.

Pasien dengan gangguan fungsi ginjal: bersihan kreatinin >50 mL/menit, tidak ada penyesuaian dosis, bersihan kreatinin 20-50 mL/menit, dosis awal 250 mg, selanjutnya 125 mg setiap 24 jam, atau dosis awal 500 mg, selanjutnya 250 mg setiap 24 jam, bersihan kreatinin 10-19 mL/menit atau <10 mL/menit (termasuk hemodialisis dan CAPD), dosis awal 250 mg, selanjutnya 125 mg setiap 24 jam, atau dosis awal 500 mg selanjutnya 125 mg setiap 24 jam.