KETAMIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

Anestesi untuk diagnostik dan prosedur pembedahan yang tidak memerlukan relaksasi otot skelet, prosedur pembedahan jangka pendek (paling sesuai), prosedur pembedahan yang lebih lama (dengan menaikkan dosis), induksi efek anestesi yang diberikan sebelum pemberian anestesi umum yang lain, melahirkan normal yang memerlukan anestesi atau pembedahan cesar, anestesi tambahan pada penggunaan anestesi lain dengan potensi lemah seperti nitrous oksida. 

Peringatan: 

Alkoholik kronik dan keracunan alkohol akut, sirosis atau gangguan fungsi hati lainnya, peningkatan tekanan serebrospinal pada pre-anestesi, peningkatan tekanan intra okular (mis: glaukoma), tanda-tanda neurotik atau penyakit psikiatri (mis: skizofrenia dan psikosis akut), porfiria intermiten akut, kejang, hipertiroidisme, menerima terapi pengganti tiroid (meningkatkan risiko hipertensi dan takikardi), infeksi pulmoner atau saluran pernapasan atas, lesi yang luas pada intrakranial, luka di kepala, hidrosepalus, hipovolemia, dehidrasi, penyakit kardiovaskuler terutama penyakit arteri koroner (mis: gagal jantung kongestif, iskemia miokardi, dan infark miokard), hipertensi ringan sampai sedang dan takiaritmia.

Interaksi: 

Memantin: meningkatkan risiko toksisitas SSP (hindari penggunaan bersamaan);

Teofilin: meningkatkan risiko konvulsi;

Barbiturat dan/atau agonis opiat: waktu pemulihan dapat menjadi lebih lama;

Benzodiazepin: memperpanjang waktu paruh ketamin sehingga waktu pemulihan menjadi lebih lama;

Tiroksin: terjadi peningkatan tekanan arteri;

Atrakurium dan Tubokurarin: memicu efek hambatan neuromuskular atrakurium dan tubokurarin, termasuk depresi pernapasan dengan apnea;

Anestesi terhalogenasi: memperpanjang waktu paruh eliminasi ketamin dan memperlambat pemulihan efek anestesi, meningkatkan risiko terjadinya bradikardi, hipotensi, atau penurunan cardiac output;

Depresan SSP (mis: etanol, fenotiazin, penenang H­1-bloker, atau relaksan otot skelet): memicu depresi SSP dan/atau peningkatan risiko terjadinya depresi pernapasan (penurunan dosis mungkin dibutuhkan);

Tiopental: antagonis terhadap efek hipnotik tiopental;

Hormon tiroid: peningkatan risiko hipertensi dan takikardi;

Obat hipertensi: meningkatkan risiko terjadinya hipotensi.

Kontraindikasi: 

Peningkatan tekanan darah yang bermakna, eklamsia atau pre-eklamsia, hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Umum: halusinasi, mimpi buruk, kebingungan, agitasi, perilaku abnormal, nistagmus, hipertonia, tonik-klonik (kejang), diplopia, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, peningkatan laju pernapasan, mual, muntah, eritema,ruam seperti campak.

Tidak Umum: anoreksia, ansietas, bradikardi, aritmia, hipotensi, depresi pernapasan, laringospasme, nyeri pada tempat penyuntikan, ruam pada tempat penyuntikan.

Jarang: reaksi anafilaksis, delirium, disforia, insomnia, flashback (bayangan kejadian traumatis), disorientasi, obstruksi saluran napas, apnea, hipersekresi saliva, sistitis, sistitis haemoragik.

Lainnya: peningkatan tekanan intra-okular.

Dosis: 

Pemberian secara intravena: Rentang dosis awal: 1 mg/kg BB - 4,5 mg/ kg BB. Rata-rata dosis yang diperlukan untuk menghasilkan efek anestesi selama lima sampai sepuluh menit adalah 2 mg/kg BB. Induksi anestesi: 1,0 - 2,0 mg/kg BB dengan kecepatan pemberian 0,5 mg/kg BB/menit, yang diberikan dalam syringe terpisah selama 1 menit.

Pemberian secara intramuskular: Dosis awal: 6,5-13 mg/kg BB. Dosis 10 mg/kg BB biasanya menghasilkan efek anestesi selama 12 sampai 25 menit pada prosedur pembedahan.

Kelainan hati. Pengurangan dosis harus dipertimbangkan pada pasien dengan sirosis atau jenis gangguan hati lainnya.