HIDROKSIKLOROKUIN FOSFAT

Indikasi: 

Lupus eritematosus sistemik.

Peringatan: 

Retinopati, kelainan pigmen, gangguan penglihatan, penyakit akibat kekeruhan kornea, hipoglikemia, riwayat penyakit kardiovaskular, penyakit hati, penyakit ginjal, obat-obatan yang mempengaruhi fungsi hati dan jantung, kelainan gastrointestinal, kelainan syaraf, kelainan darah, alergi kinin, defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase, porfiria kutanea tarda, intoleransi galaktosa, defisiensi Lapp lactase/malabsorpsi galaktosa, pemeriksaan fungsi otot skelet dan refleks tendon sebelum terapi, risiko karsinogenik, mengemudi, mengoperasikan mesin.

Interaksi: 

Penggunaan bersama digoksin meningkatkan level serum digoksin; penggunaan bersama insulin atau obat antidiabetes memicu hipoglikemia dan dibutuhkan penyesuaian dosis antidiabetes; pemberian bersama obat aritmia jantung memperpanjang interval QT dan meningkatkan risiko aritmia ventrikel, pemberian bersama Metflokuin meningkatkan risiko konvulsi; pemberian bersama antimalaria lain meningkatkan risiko kejang; menurunkan aktivitas obat antiepilepsi; pemberian bersama metotreksat meningkatkan efek samping; meningkatkan level siklosporin; mengurangi bioavailabilitas praziquantel; antasida dan kaolin menurunkan absorpsi klorokuin; simetidin menghambat metabolisme klorokuin sehingga konsentrasi dalam darah meningkat; menurunkan bioavailabilitas ampisilin.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, pasien makulopata mata, kehamilan, anak usia < 6 tahun.

Efek Samping: 

Gangguan mata: retinopati; gangguan jarak pandang; gangguan penglihatan; penurunan adaptasi pada gelap; warna penglihatan abnormal; penglihatan kabur; perubahan kornea seperti edema dan penglihatan tidak jelas; makulopati dan degenerasi macular yang bersifat ireversibel. Gangguan jantung: kardiomiopati; toksisitas kronis pada gangguan konduksi dan hipertrofi biventricular; perpanjangan interval QT; aritmia ventrikel dan torsade de pointes. Gangguan sistem imun: urtikaria; angioedema; bronkospasme. Gangguan kulit dan subkutan: ruam; pruritus; kelainan pigmentasi kulit dan selaput lendir; pemutihan rambut; alopesia; letusan bulosa termasuk eritema multiformis, sindrom Stevens-Johnon, nekrolisis epidermal toksik, ruam dengan esinofilia dan gejala sistemik (sindrom DRESS), fotosensitivitas, dermatitis eksfoliatif, pustulosis eksantematosa akut (AGEP). Gangguan saluran cerna: nyeri perut; mual; diare; muntah. Gangguan sistem saraf: sakit kepala; pusing; kejang-kejang; kelainan ekstrapiramidal seperti distonia, diskinesia, tremor. Gangguan kejiwaan: kelabilan; gelisah; psikosis; mimpi buruk; iritabilitas; bunuh diri. Gangguan telinga dan labirin: vertigo, tinnitus, gangguan pendengaran. Gangguan jaringan ikat dan muskuloskeletal: gangguan sensorimotor; miopati otot rangka atau neuromiopati; depresi refleks tendon. Kelainan sistem darah dan limfatik: depresi sumsum tulang; anemia; anemia aplastik agranulositosis; leukopenia; trombositopenia; hemolisis pada pasien defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase. Gangguan metabolisme dan gizi: anoreksia; hipoglikemia; perburukan porfiria; penurunan selera makan; penurunan berat badan. Gangguan hepatobiliari: hasil abnormal pada uji fungsi hati; gagal hati fulminan.

Dosis: 

Dewasa dan lansia: tidak lebih dari 6,5 mg/kg/hari berdasarkan berat badan ideal, antara 200 mg atau 400 mg/hari, tidak direkomendasikan pemberian lebih dari 400 mg; pasien yang menerima 400 mg/hari, dosis awal diberikan dalam dosis terbagi yang dapat diturunkan menjadi 200 mg jika tidak ada perbaikan, atau ditingkatkan menjadi 400 mg/hari jika respon berkurang. Anak-anak: tidak lebih dari 6,5 mg/kg/hari berdasarkan berat badan ideal, BB ideal >31 kg dapat menggunakan dosis 200 mg. Obat harus diminum bersama dengan makanan atau segelas susu.