EPTIFIBATID

Indikasi: 

sebagai pengobatan pada pasien dengan sindrom koroner akut termasuk pada pasien yang akan atau sedang menjalani intervensi koroner perkutan (PCI, Percutaneous Coronary Intervention); termasuk yang sedang menjalani intrakoroner stenting.

Peringatan: 

risiko pendarahan, pengunaan bersamaan dengan obat yang dapat meningkatkan risiko pendarahan- hentikan segera jika terjadi pendarahan yang tidak terkontrol; periksa waktu dasar prothrombin, waktu aktivasi tromboplastin parsial, platelet count, hemoglobin, hematokrit, dan serum kreatinin; pantau hemoglobin, hemotokrit, dan platelet pada jangka waktu 6 jam setelah memulai pengobatan setelah itu setidaknya sehari sekali; hentikan penggunaan jika diperlukan pengobatan trombolitik, intra aortic balloon pump, atau operasi jantung segera; gagal ginjal (lampiran 3); kehamilan (lampiran 4); menyusui (lampiran 5).

Interaksi: 

Karena eptifibatid menghambat agregasi platelet, penggunaan harus hati-hati dengan obat lain yang mempengaruhi hemostatis, termasuk antikougulan oral, larutan dekstran, adenosin, sulfinpirazon, prostasiklin, antiinflamasi nonsteroid atau dipiridamol, tiklodipin dan klopidogrel.

Kontraindikasi: 

pendarahan abnormal dalam 30 hari, operasi besar atau trauma parah dalam 6 minggu, stroke dalam 30 hari terakhir atau riwayat hemoragik stroke, penyakit inttoakular (aneurism, malformasi arteriveha atau neoplasma) hipertensi berat, diathesis hemoragik, peningkatan waktu protrombin atau INR, trombositopenia, gangguan fungsi hati signifikan, pasien pada perawatan dialisis ginjal, hipersensitif terhadap komponen obat; menyusui; penggunaan bersama atau rencana penggunaan bersamaan dengan penghambat glikoprotein IIb / IIIa parenteral.

Efek Samping: 

manifestasi pendarahan; sangat jarang anafilaksis dan ruam.

Dosis: 

Sindrom koroner akut: Pasien dengan serum kreatinin < 2,0 mg/dl, dosis yang dianjurkan intravena bolus 180 mcg/kg bb segera. Setelah diagonis dilanjutkan infus terus menerus 2,0 mcg/kg bb/menit sampai 72 jam. Pasien dengan berat diatas 121 kg maksimum 15 mg/jam.

Pasien dengan serum kreatinin antara 2.0 dan 4.0 mg/dl, dosis yang dianjurkan intravena bolus 180 mcg/kg bb/menit. Pasien dengan serum kreatinin antara terus menerus 1,0 mcg/kg bb/menit. Pasien dengan serum kreatinin antara 2,0 dan 4,0 mg/dl. Dan berat diatas 121 kg harus mendapat maksimum bolus 22,6 mg dilanjutkan dengan infus kecepatan maksimum 7,5 mg/jam PCI.

Pasien dengan serum kreatinin < 2,0 mg/dL, dosis yang dianjurkan intravena bolus 180 mcg segera setelah PCI dimulai dilanjutkan dengan infus terus menerus 2,0 mcg/kg bb/menit dan kedua 180 mcg/kg bb bolus 10 menit setelah bolus pertama. Infus diteruskan sampai 18-24 jam, minimum pemberian 12 jam. Pasien dengan berat diatas 121 kg mendapatkan maksimum 22,6 mg per bolus diikuti oleh infus kecepatan maksimum 15 mg per jam. Pasien dengan serum kreatinin antara 2,0 dan 4,0 mg/dL pada awal PCI dosis 180 mcg/kg bb diberikan sebelum prosedur awal segera dilanjutkan dengan infus 1,0 mcg/kg bb/menit secara terus menerus dan kedua 180 mcg/kg bb bolus diberikan 10 menit setelah pemberian pertama. Pasien dengan serum kreatinin antara 2,0 dan 4,0 mg/dL dan berat diatas 121 kg mendapat maksimum 22,6 mg per bolus dilanjutkan dengan infus kecepatan maksimum 7,5 mg/jam.

Pasien yang menjalani pembedahan bypass arteri koroner, infus eptifibatid harus dihentikan sebelum pembedahan.

List Nama Dagang

Untuk informasi nama produk terkini dapat melihat cekbpom.pom.go.id