DULOKSETIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

Untuk pengobatan major depressive episodes

Peringatan: 

Digunakan dengan hati-hati pada pasien yang pernah menderita mania; gangguan serangan; pasien dengan tekanan intraokular meningkat atau pada pasien yang menderita glaukoma sudut sempit; hiponatremia.Pasien dengan kerusakan ginjal yang parah (klirens kreatinin <30 mL/menit) atau pada pasien dengan kerusakan hati yang parah.Pasien (dan perawat pasien) harus diperingati tentang perlunya pengawasan karena gawatnya keinginan bunuh diri atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Penggunaan bersama dengan antidepresan, terutama kombinasi dengan penghambat MAO reversibel selektif; sedang mengkonsumsi antikoagulan dan pasien yang mempunyai kecenderungan pendarahan. Gejala pada penghentian duloksetin, terutama jika terapi dihentikan secara tiba-tiba. Pasien lansia penderita major depressive. Hindari penggunaan lebih dari satu produk yang mengandung duloksetin secara bersamaan untuk indikasi yang berbeda. Wanita yang ingin hamil atau sedang hamil harus konsultasi dengan dokter selama terapi. Penggunaan Duloksetin tidak dianjurkan pada wanita menyusui. Pasien yang sedang mengkonsumsi duloksetin harus diberi peringatan jika akan mengoperasikan mesin-mesin yang berbahaya, termasuk mobil.

Interaksi: 

Pemberian bersama dengan obat-obat yang dimetabolisme oleh CYP1A2, inhibitor CYP1A2; kontrasepsi oral dan obat-obat steroid lainnya; obat-obat yang meghasilkan CYP1A2; tidak boleh digunakan bersamaan dengan penghambat MAO irreversibel non selektif atau dalam waktu minimal 14 hari setelah penghentian dengan penghambat MAO; tidak direkomendasikan digunakan bersamaan dengan penghambat MAO reversible selektif; antidepresan serotogenik seperti SSRI trisiklik (klomipramin atau amitriptilin, venlafaksin atau triptan, tramadol, petidin dan triptofan); obat-obat yang dimetabolisme oleh CYP2D6; inhibitor CYP2D6; obat-obat SSP termasuk alkohol; obat-obat yang terikat dengan protein plasma.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas terhadap duloksetin HCl, MAO irreversibel, pasien dengan penyakit hati, fluvoksamin, siprofloksasin (misalnya inhibitor CYP1A2 kuat), pasien dengan kerusakan ginjal yang parah (klirens kreatinin, 30 mL/menit).

Efek Samping: 

Konstipasi, diare, mulut kering, mual, muntah, nafsu makan berkurang, berat badan berkurang, lelah, pusing (kecuali vertigo), sakit kepala, mengantuk, tremor, keringat berlebih, hot flushes, pandangan kabur, anorgasmia, insomnia, libido menurun, ejakulasi tertunda, gangguan ejakulasi, dan disfungsi ereksi. Ketidaklancaran urinasi, keinginan untuk bunuh diri.

Dosis: 

Dosis awal dan cara pemberian obat: Dosis awal duloksetin adalah 60 mg sekali sehari, tidak berkenaan dengan makanan. Pada beberapa pasien mungkin berhasil pada dosis 60 mg sekali sehari hingga dosis maksimum 120 mg dua kali per hari. Dosis di atas 120 mg belum dievaluasi secara sistematis.
Pasien gangguan fungsi ginjal. Tidak dibutuhkan penyesuaian dosis untuk pasien dengan kerusakan ginjal ringan atau sedang (klirens kreatinin 30-80 mL/menit). Dikontraindikasikan untuk kerusakan ginjal parah (klirens kreatinin < 30 mL/menit).
Pasien gangguan fungsi hati. Duloksetin tidak boleh digunakan untuk penderita penyakit hati yang menyebabkan kerusakan hati.
Orang tua. Depresi merupakan kasus yang berbeda pada lansia yang membuatnya sulit mengekstrapolasi data efikasi dan keamanan dari populasi yang lebih muda. Hanya sedikit data klinis penggunaan Duloksetin pada lansia penderita major depressive disorder yang tersedia. Oleh karena itu, peringatan harus diberikan ketika memberikan terapi untuk lansia. Sebelum tersedia lebih banyak lagi data efikasi, penggunaan duloxetin untuk usia sangat lanjut (> 75 tahun) tidak direkomendasikan.
Anak-anak dan remaja. Keamanan dan efikasi duloksetin pada usia ini belum dipelajari. Oleh karena itu, pemberian duloxetin untuk anak-anak dan remaja tidak direkomendasikan.
Penghentian terapi. Ketika menghentikan pemakaian duloksetin setelah lebih dari 1 minggu terapi, umumnya direkomendasikan agar dosis berangsur-angsur dikurangi tidak kurang dari 2 minggu sebelum penghentian sebagai usaha untuk menghindari gejala resiko penghentian. Sebagai rekomendasi umum, dosis harus dikurangi setengahnya atau diberikan pada hari lain selama periode ini. Regimen dosis berikutnya yang tepat harus mengingat pada keadaan masing-masing pasien, seperti durasi terapi, dosis pada saat penghentian, dll.

List Nama Dagang

Untuk informasi nama produk terkini dapat melihat cekbpom.pom.go.id