ALFUZOSIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

terapi gejala hipertrofi prostat jinak. Terapi tambahan tindakan pemasangan kateter pada retensi urin akut akibat hipertrofi prostat jinak.

Peringatan: 

Lansia: Intraoperative Floppy Iris Syndrome (IFIS) selama operasi katarak, riwayat hipotensi pada penggunaan alfa-1 bloker, riwayat serangan jantung: penghentian alfuzosin jika angina pektoris kembali memburuk, berkendara atau mengoperasikan mesin.

Interaksi: 

antihipertensi alfa bloker (prazosin, urapidil, minoksidil) meningkatkan risiko hipotensi ortostatik berat, obat-obat antihipertensi lain meningkatkan risiko hipotensi.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, hipotensi ortostatik, gagal hati, gagal ginjal berat (bersihan kreatinin < 30 mL/menit), penyumbatan pada usus.

Efek Samping: 

Umum: sensitif terhadap cahaya, pusing, pingsan, sakit kepala, mual, sakit perut, astenia. Tidak umum: pusing sesaat, mengantuk, takikardi, palpitasi, hipotensi ortostatik, sinkop, diare, mulut kering, ruam, pruritus, muka merah, udem, nyeri dada, rinitis/obstruksi nasal. Sangat jarang: angina pektoris pada pasien dengan riwayat penyakit arteri koroner, urtikaria, angioedema. Tidak diketahui: cedera hepatoseluler, hepatitis kolestatik, priapismus.

Dosis: 

Oral: 10 mg sekali sehari, diberikan segera setelah makan sore. Terapi tambahan untuk kateter pada retensi urin akut yang berkaitan dengan hipertrofi prostat jinak: 10 mg sekali sehari, diberikan setelah makan, sejak hari pertama kateterisasi. Pengobatan diberikan selama 3 sampai 4 hari, misalnya 2 sampai 3 hari saat kateter digunakan dan 1 hari setelah dilepaskan.
Tablet harus ditelan utuh, tidak boleh dihancurkan, dihisap atau diserbukkan.

List Nama Dagang

Untuk informasi nama produk terkini dapat melihat cekbpom.pom.go.id