9.5.2 Vitamin B

Defisiensi vitamin B, selain defisiensi vitamin (11.1.2) jarang terjadi dan biasanya diobati dengan sediaan berisi tiamin (B1), riboflavin (B2) dan nikotinamid. Vitamin lain atau zat yang secara tradisional digolongkan sebagai kelompok vitamin B kompleks seperti asam amino-benzoat, biotin, kolin, inositol, dan asam pantotenat atau pantotenol dapat disertakan dalam sediaan vitamin B tapi tidak ada bukti manfaatnya.

Defisiensi yang berat pada keadaan ensefalopati Wernicke dan psikosis Korsakoff, yang terlihat pada alkoholisme kronis, pengobatan awal terbaik adalah dengan pemberian parenteral vitamin B yang dilanjutkan dengan pemberian oral jangka panjang; namun ada laporan kejadian anafilaksis setelah pemberian sediaan parenteral ini.

Seperti vitamin lain dalam kelompok vitamin B, defisiensi piridoksin (vitamin B6) jarang terjadi, tetapi dapat timbul selama terapi isoniazid dan ditandai oleh neuritis perifer. Dosis tinggi piridoksin diberikan pada beberapa kelainan metabolisme, seperti hiperoksaluria, dan juga digunakan pada anemia sideroblastik (11.1.3). Terdapat bukti piridoksin dengan dosis tidak melebihi 100 mg per hari dapat bermanfaat pada sindrom pra haid. Penggunaannya pada kelainan lain telah dilakukan, tetapi belum banyak bukti ilmiah yang ditemukan. Pemberian dosis yang berlebihan dapat menginduksi efek toksik.

Beberapa kelainan mitokondria pada anak ada yang memberikan respon terhadap pemberian vitamin B, tetapi memerlukan penanganan oleh dokter spesialis. Tiamin digunakan pada penyakit maple syrup urine, mitochondrial respiratory chain defects dan bersama dengan riboflavin digunakan pada asidosis laktat kongenital. Riboflavin juga digunakan pada keadaan asidemia glutarat dan defisiensi oksidase sitokrom; biotin digunakan pada kelainan karboksilase.

Asam nikotinat menghalangi sintesis kolesterol dan trigliserida (lihat 2.7.4). Asam folat dan vitamin B12 digunakan pada pengobatan anemia megaloblastik (lihat 11.1.2). Asam folinat (tersedia sebagai kalsium folinat) digunakan dalam terapi sitotoksik. (lihat 10.2.1).

Monografi: 

NIKOTINAMID

Indikasi: 

lihat catatan di atas, akne vulgaris, lihat 13.6.

PIRIDOKSIN HIDROKLORIDA (VITAMIN B6)

Indikasi: 

lihat Dosis.

Interaksi: 

Lampiran 1 (vitamin).

Dosis: 

keadaan defisiensi, 20-50 mg hingga 3 kali sehari. Neuropati isoniazid, profilaksis 10 mg tiap hari; terapeutik, 50 mg tiga kali tiap hari. Anemia idiopatik sideroblastik, 100-400 mg tiap hari dalam dosis terbagi. Sindrom prahaid, 50-100 mg tiap hari (tetapi lihat catatan di atas)

TIAMIN (VITAMIN B1)

Indikasi: 

lihat catatan di atas.

Peringatan: 

syok anafilaktik dapat timbul setelah Injeksi (lihat petunjuk di bawah).

Dosis: 

defisiensi kronik ringan, 10-25 mg tiap hari; defisiensi berat 200-300 mg tiap hari. Koma atau delirium oleh alkohol, opioid, atau oleh barbiturat, kolaps sesudah pembiusan, secara Injeksieksi intravena atau infus I/V High potency Injeksi, 2-3 pasang setiap 8 jam. Psikosis menyusul pembiusan atau terapi elektrokonvulsif, toksisitas dari infeksi akut, dengan cara injeksi intravena atau infus I/V High potency atau Injeksi intramuskuler yang dalam pada otot gluteal I/M High potency; 1 pasang dua kali sehari hingga 7 hari.
Haemodialisis, dengan infus intravena I/V High potency (dalam infus natrium klorida 0,9% intravena) 1 pasang tiap 2 minggu. I/M High potency Injection, hanya untuk pengunaan intramuskuler, asam askorbat 500 mg, nikotinamid 160 mg, piridoksin hidroklorida 50 mg, riboflavin 4 mg, tiamin hidroklorida 250 mg /7 mL. Ampul 3.5 mL 2 buah.
I/V High potency Injection, hanya untuk penggunaan intravena, asam askorbat 500 mg, glukosa anhidrat 1 g, nikotinamid 160 mg, piridoksin hidroklorida 50 mg, riboflavin 4 mg, tiamin hidroklorida 250 mg/10 mL. Petunjuk. Karena efek samping alergi yang serius secara potensial dapat timbul ketika, atau segera setelah pemberian Injeksieksi, maka dianjurkan: Penggunaannya dibatasi hanya untuk penderita yang benar memerlukan pengobatan parental.
Injeksieksi intravena harus dilakukan perlahan (dalam 10 menit).
Fasilitas untuk mengatasi syok anafilaksis harus tersedia sewaktu pemberian. Vitamin parenteral B dan C untuk koreksi cepat kehilangan yang berat atau malabsorpsi (misalnya dalam alkoholisme, setelah infeksi akut, pascabedah, atau dalam keadaan psikiatrik) pemeliharaan vitamin B dan C dalam hemodialisis intermiten kronis.