9.4.1.2 Hiperkalsemia dan Hiperkalsiuria

Hiperkalsemia yang berat membutuhkan penanganan segera sebelum diketahui penyebabnya. Dehidrasi harus dikoreksi terlebih dahulu, bila perlu dengan infus intravena natrium klorida 0,9%. Obat yang menyebabkan hiperkalsemia (seperti tiazid dan senyawa vitamin D) harus dihentikan dan asupan kalsium dalam makanan harus dibatasi. Bila terjadi hiperkalsemia berat yang menetap, mungkin diperlukan obat yang menghambat mobilisasi kalsium dari skelet. Bisfosfonat bermanfaat dan dinatrium pamidronat (lihat 6.6.2) mungkin yang paling efektif. Kortikosteroid (lihat 6.3) banyak dipakai, tetapi hanya berguna bila hiperkalsemia timbul akibat sarkoidosis atau intoksikasi vitamin D; kortikosteroid memerlukan waktu beberapa hari untuk mencapai efek obat yang diinginkan.

Kalsitonin (lihat 6.6.1) relatif nontoksik tetapi mahal dan efeknya berkurang sesudah beberapa hari meskipun pemakaian berlanjut; jarang efektif bila bisfosfonat telah gagal mengurangi serum kalsium secara memadai.

Obat kelat intravena seperti trinatrium edetat jarang digunakan; dapat menyebabkan kerusakan ginjal.; trinatrium edetat tidak lagi digunakan untuk hiperkalsemia.

Setelah hiperkalsemia berat diatasi, penyebabnya harus ditentukan. Pengobatan selanjutnya dilakukan dengan prinsip yang sama seperti terapi awal. Hindari kekurangan garam dan air, hindari juga pemberian obat yang menyebabkan hiperkalsemia; pemberian oral bisfosfonat dapat berguna.

Hiperparatiroidisme. Cinacalcet digunakan untuk terapi hiperparatiroidism sekunder pada pasien dialisis dengan end-stage renal disease dan untuk terapi hiperkalsemia pada karsinoma paratiroid. Cinacalcet mengurangi hormon paratiroid sehingga menyebabkan penurunan kadar kalsium dalam serum. Paratiroidektomi dapat dianjurkan pada pasien hiperparatiroidism.

Hiperkalsiuria. Harus diketahui penyebab hiperkalsiuria. Jika penyebabnya tidak dapat diidentifikasi (hiperkalsiuria idiopatik), maka perlu ditingkatkan asupan cairan dan pemberian bendroflumetiazid 2.5 mg per hari (dosis yang lebih tinggi biasanya tidak diperlukan). Pengurangan asupan kalsium mungkin dapat bermanfaat tetapi pembatasan asupan kalsium yang ketat tidak terbukti manfaatnya dan bahkan dapat berbahaya.