Nutrisi Intravena

Bila tidak mungkin memberikan makanan yang memadai melalui saluran cerna, bahan makanan dapat diberikan melalui infus intravena; sebagai tambahan makanan oral atau tube feeding-supplemental parenteral nutrition, atau sebagai sumber nutrisi satu-satunya - Total Parenteral nutrition (TPN). Untuk anak, total parenteral nutrition adalah pilihan terakhir. Indikasi pemberian dengan cara ini antara lain persiapan bedah pada penderita kurang gizi, persiapan kemoterapi radioterapi; kelainan saluran cerna yang berat atau berkelanjutan; pembedahan besar, trauma, atau luka bakar; koma yang berkepanjangan atau penderita menolak makan; dan beberapa pasien dengan gagal ginjal atau hati.

Nutrisi parenteral total memerlukan larutan yang mengandung asam amino, glukosa, lemak, elektrolit, trace elements, dan vitamin.

Vitamin B12 (hidroksikobalamin) dosis tunggal diberikan secara intramuskular; penyuntikan vitamin B12 secara teratur tidak dibutuhkan kecuali nutrisi parenteral total diberikan selama beberapa bulan. Asam folat 15 mg diberikan satu atau dua kali seminggu, biasanya diberikan dalam larutan nutrisi. Vitamin lain umumnya diberikan setiap hari; dan umumnya diberikan dalam larutan nutrisi parenteral. Sebagai alternatif jika pasien masih mampu menelan sejumlah kecil, vitamin dapat diberikan secara oral.

Larutan nutrisi diinfuskan melalui kateter vena sentral yang dimasukkan dengan cara bedah aseptik penuh. Sebagai alternatif, infus melalui vena perifer dapat diberikan sebagai tambahan sebagaimana nutrisi parenteral total untuk jangka waktu sampai sebulan tergantung kondisi vena perifernya; faktor yang memperpanjang masa pakai kanula dan mencegah tromboflebitis antara lain penggunaan kanul pediatrik poliuretan lunak dan penggunaan formula nutrisi dengan osmolaritas rendah dan pH normal. Hanya cairan nutrisi yang boleh diberikan melalui saluran intravena ini.

Sebelum dimulai, penderita harus cukup mendapat oksigen dengan volume sirkulasi darah yang mendekati normal dengan memperhatikan fungsi ginjal dan status asam-basa. Sebelumnya harus dilakukan tes biokimiawi yang tepat dan defisit serius harus dikoreksi. Status nutrisi dan elektrolit harus dimonitor selama pengobatan. Untuk anak, komponen nutrisi parenteral biasanya ditingkatkan secara bertahap dalam waktu beberapa hari untuk mencegah komplikasi metabolik dan agar ada adaptasi metabolik. Pemberian biasanya berupa infus 24 jam, tetapi dapat diturunkan secara bertahap jika diperlukan nutrisi jangka panjang. Nutrisi parenteral untuk pasien yang dirawat dirumah biasanya diberikan selama 12 jam sepanjang malam.

Komplikasi TPN jangka panjang meliputi terjadinya batu empedubatu ginjal, kolestasis dan uji fungsi hati yang abnormal.

Protein diberikan sebagai campuran dari L-asam amino sintetik esensial dan non-esensial. Secara ideal semua asam amino esensial harus diberikan bersama dengan yang non-esensial sehingga memberikan cukup nitrogen dan elektrolit (lihat 11.2.2). Larutan dapat berbeda pada komposisi asam aminonya, namun sering mengandung sumber energi (biasanya glukosa) dan elektrolit. Energi tersedia dalam rasio 0,6 banding 1,1 megajoules (150-250 kcal) per gram nitrogen protein. Kebutuhan energi harus dicukupi bila asam amino akan digunakan untuk memelihara jaringan. Campuran karbohidrat dan sumber energi lemak (biasanya 30-50% sebagai lemak) memberikan pemakaian yang lebih baik dari asam amino dibanding glukosa sendiri.

Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai tetapi bila tiap harinya diberikan lebih dari 180 g, monitoring gula darah harus sering dilakukan, dan mungkin diperlukan insulin. Glukosa dengan berbagai kadar dari 10% sampai dengan 50% harus diinfuskan melalui kateter vena sentral untuk menghindarkan trombosis.

Nutrisi parenteral total, harus mengandung fosfat yang memadai untuk memungkinkan fosforilasi glukosa; sekitar 20-30 mmol fosfat dibutuhkan setiap hari untuk orang dewasa. Neonatus, terutama prematur dan anak-anak juga membutuhkan fosfat dan kalsium untuk menjamin mineralisasi tulang yang mencukupi.

Fruktosa dan sorbitol telah digunakan untuk mencegah timbulnya hyperosmolar hyper-glycaemic non-ketotic acidosis tetapi problem metabolik lain dapat timbul, seperti terjadi dengan xilitol dan etanol yang sekarang jarang digunakan.

Keuntungan dari emulsi lemak adalah mengandung energi yang tinggi terhadap rasio volume cairan, memiliki pH netral dan isoosmolaritas dengan plasma, dan menghasilkan asam lemak esensial. Mungkin diperlukan adaptasi beberapa hari untuk mencapai penggunaan maksimal. Reaksi yang mungkin timbul adalah occasional febrile episodes (biasanya hanya terjadi dengan emulsi 20%) dan reaksi anafilaktik yang jarang. Pengukuran biokimiawi seperti gas darah dan kalsium dapat terganggu bila sampel darah diambil sebelum lemak dibersihkan. Pemeriksaan harian (kolesterol dan trigliserida) diperlukan untuk memastikan lemak sudah bersih dari plasma pada kondisi di mana kemungkinan metabolisme lemak terganggu. Emulsi yang mengandung 20% atau 30% lemak lebih efisien untuk neonatus. Zat aditif hanya boleh dicampur dengan emulsi lemak bila kompatibilitas diketahui.

Pemberian.

Karena kompleksnya ketentuan pemberian nutrisi parenteral, perlu diperhatikan penjelasan lengkap tentang cara pemberian, pada informasi produk dan informasi khusus lainnya.

SEDIAAN SUPLEMENTASI

Kompatibilitas dengan larutan infus harus diketahui sebelum penambahan sediaan suplementasi.

 

 

Monografi: 

N (2)-L-ALANYL-GLUTAMIN (NATRIUM LEVOGLUTAMID)

Indikasi: 

sebagai bagian dari regimen nutrisi parenteral merupakan suplemen asam amino atau asam amino yang terkandung regimen infus pada pasien dengan kondisi membutuhkan tambahan glutamin.

Peringatan: 

enzim-enzim alkalin fosfatase, SGPT, SGOT, dan keseimbangan asam-basa harus dimonitor bila tersatukan dengan larutan pembawa. Selanjutnya obat-obat tidak boleh ditambahkan dalam campuran. Sediaan tak boleh disimpan setelah ada penambahan komponen lain.

Kontraindikasi: 

pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal yang parah (kreatinin < 25 mL/menit) atau penurunan fungsi hati yang parah, metabolik asidosis berat.

Dosis: 

injeksi iv. Dosis tergantung pada keparahan kondisi katabolik atau kebutuhan terhadap asam amino. Dosis maksimum sehari 2g asam amino/kg bb tidak bolah berlebih dalam nutrisi parenteral. Suplai dari alanin dan glutamine dikaji dengan perhitungan; Proporsi dari asam amino tak boleh lebih dari 20% dari total.Dosis harian:1,5-2,0 mL/ kg bb (ekuivalen dengan 3,0-4,0 g N(2)-L-Alanyl-glutamin/ kg bb).Sebanding dengan 100-140 mL larutan untuk pasien dengan berat badan 70 kg. Dosis maksimum harian:2,0mL larutan/kg bb. Kecepatan infus tergantung pada larutan pembawa dan tak dapat lebih dari 0,1 g asam amino/kg bb per jam.Untuk pemberian secara langsung, dapat dicampur dengan larutan asan amino yang dapat tercampurkan atau regimen infus yang mengandung asam amino utama. 1 bagian volume sediaan dicampur dengan 5 bagian larutan pembawa. Pemberian tidak lebih dari 3 minggu.

ASAM AMINO, KARBOHIDRAT, EMULSI LEMAK DAN ELEKTROLIT

Indikasi: 

untuk melengkapi kebutuhan air, elektrolit, asam amino, lemak dan kalori pada pasien yang memerlukan nutrisi vena sentral karena nutrisi oral atau enteral tidak mencukupi atau tidak memungkinkan.

Peringatan: 

bakteremia (dapat memperburuk kondisi sepsis), gagal jantung (peningkatan volume darah dapat meningkatkan kerja jantung), gagal ginjal yang tidak terkait hiperkalemia, gagal ginjal akibat penyakit ginjal, penurunan air seni akibat uropati obstruktif, dehidrasi, diabetes insipidus, diabetes melitus, luka bakar parah, asidosis parah (dapat terjadi akibat defisiensi vitamin B1, perlu diberikan vitamin B1 dalam jumlah cukup atau lebih dari 3 mg per hari), gangguan pankreas (pankreatitis, sirosis pankreas, tumor), gangguan koagulasi darah, disfungsi hepar, penghentian secara tiba-tiba dapat menyebabkan hipoglikemia, sehingga konsentrasi karbohidrat harus diturunkan secara bertahap, jika diberikan dalam jangka waktu yang lama, perlu dilakukan uji laboratorium seperti uji fungsi hati, kadar lemak darah, uji hematologi, dan uji koagulasi darah secara berkala dalam masa terapi.

Interaksi: 

kalsium dapat meningkatkan efek glikosida jantung seperti digitalis, hentikan pemberian jika timbul gejala seperti aritmia, vitamin K yang berasal dari bahan aktif memiliki efek antagonis terhadap warfarin.

Kontraindikasi: 

kelainan metabolisme elektrolit (hiperkalemia, hiperfosfatemia, hipermagnesemia, hiperkalsemia, hipernatremia, hiperkloremia), koma hepatik atau berisiko tinggi terkena koma hepatik, disfungsi ginjal berat, kelainan metabolisme asam amino, koagulasi darah serius, trombosis, diabetes melitus dengan ketosis, hiperlipidemia.

Efek Samping: 

signifikan secara klinis: asidosis, hiperglikemia, embolisme vena, reaksi anafilaktik, syok anafilaktik: frekeunsi umum hingga tidak umum: demam, nilai uji fungsi hati abnormal (peningkatan AST/GOT, ALT/GPT, Al-P atau gamma-GTP); frekuensi tidak diketahui: kecenderungan perdarahan, ruam, pruritus, glukosuria, diuresis osmotik, mulut kering, disfungsi hati, hipotensi, takikardia, takipnea, dispnea, mual/muntah, diare, menggigil, kulit memerah pada wajah, wajah membengkak, sensasi bau aneh, dada sesak.

Dosis: 

infus 1800 ml melalui vena sentral selama 24 jam. Dosis disesuaikan dengan kondisi, berat badan dan usia pasien.