9.1.6 Neutropenia

Recombinant human granulocyte colony stimulating factor (rhG-CSF) merangsang produksi neutrofil dan dapat mengurangi masa berlangsungnya neutropenia yang diinduksi oleh kemoterapi dan karenanya mengurangi kejadian sepsis yang berhubungan dengan neutropenia; belum ada bukti rhG-CSF meningkatkan angka kelangsungan hidup (survival) secara keseluruhan. Filgrastim (unglycosylated rhG-CSF) dan lenograstim (glycosylated rhG-CSF) memiliki efek yang serupa; keduanya telah digunakan dalam berbagai keadaan klinik tetapi tidak ada indikasi yang jelas untuk keduanya. Pada neutropenia kongenital, filgrastim biasanya meningkatkan angka hitung neutrofil dengan respons klinis yang memadai. Penggunaan lama dihubungkan dengan peningkatan risiko keganasan mieloid. Pegfilgrastim merupakan derivat konyugat polietilenglikol (pegylated) dari filgastrim; pegilasi meningkatkan durasi aktivitas filgastrim.

Pengobatan dengan recombinant human growth factor hanya boleh diberikan oleh dokter yang berpengalaman.

Peringatan: Recombinant human growth factor harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan pre-malignant atau keganasan myeloid. Hitung darah lengkap termasuk hitung sel putih dan platelet harus dipantau. Terapi harus dihentikan pada pasien yang menunjukkan tanda-tanda infiltrasi paru yang mengarah pada sindrom kesukaran pernafasan akut. Dilaporkan terjadinya splenic rupture setelah pemberian G-CSF; ukuran limpa harus dimonitor. rhG-CSF tidak direkomendasikan pada kehamilan dan menyusui.

Efek samping: Efek samping G-CSF adalah gangguan pencernaan (mual, muntah dan diare), anoreksia, sakit kepala, astenia, demam, nyeri muskuloskeletal, nyeri tulang, ruam, alopesia, reaksi pada tempat penyuntikan, dan lekositosis. Efek samping yang jarang adalah nyeri dada, reaksi hipersensitifitas (termasuk anafilaksis dan bronkospasmus) dan atralgia. Dilaporkan terjadinya pneumonia interstisial terutama mereka yang memiliki riwayat infiltrat paru atau pnemonia.

Monografi: 

FILGASTRIM

Indikasi: 

(hanya untuk digunakan oleh spesialis) pengurangan durasi neutropenia dan kejadian demam neutropenia akibat kemoterapi sitotoksik pada penyakit keganasan (kecuali leukemia myeloid kronis dan sindrom myelodisplasia); pengurangan durasi neutropenia (dan sequalae-nya) dalam terapi myeloablasi yang dilanjutkan dengan transplantasi sumsum tulang; mobilisasi sel progenitor darah perifer untuk dipanen dan selanjutnya digunakan dalam infus autolog; neutropenia kongenital berat, neutropenia siklik, atau neutropenia idiopatik, dan adanya riwayat infeksi berat berulang (bedakan dengan cermat dari kelainan hematologi lain, lihat literatur produk); neutropenia persisten pada infeksi HIV lanjut.

Peringatan: 

lihat keterangan diatas; prekursor myeloid berkurang; dianjurkan pemeriksaan morfologik dan sitogenik sumsum tulang pada neutropenia kongenital yang berat (kemungkinan risiko sindrom myelodisplasia atau leukemia); leukemia myeloid akut sekunder; sickle cell disease; monitor ukuran limpa (risiko terjadi rupture); penyakit tulang osteoporotik (monitor bone density bila diberikan lebih dari 6 bulan).

Interaksi: 

Dilarutkan dalam 5% dekstrosa atau larutan garam. Untuk sediaan infus secara intravena. Tidak dianjurkan digunakan secara bersamaan dengan obat lain. Sebelum memotong vial, disarankan menggunakan disinfektan pada permukaan bagian pemotongan dengan alkohol.

Kontraindikasi: 

neutropenia kongenital yang berat (sindrom Kostman) dengan sitogenetik abnormal.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga pembesaran limpa, hepatomegali, hipotensi transient, epistaksis, kelainan yang berkaitan dengan air seni (mencakup susah buang air kecil, proteinuria, dan hematuria), osteoporosis, pembusukan dari radang sendi reumatoid, utaneous vasculitis, trombositopenia, anemia, penurunan glukosa darah yang temporer, meningkatkan asam urat.

Dosis: 

Limfoma malignan, kanker paru, kanker testicular dan neutroblastoma. Untuk dewasa, dosis yang direkomendasikan adalah 50 mcg/m2, diberikan sebagai dosis tunggal sehari secara injeksi subkutan, saat absolute neutrophyl count (ANC) kurang dari 1000/mm3 (jumlah lekosit ≤ 2000/mm3) diamati setelah sitotoksid kemoterapi. Dosis pertama diberikan < 24 jam setelah sitotoksid kemoterapi.
Untuk anak, dosis yang direkomendasikan adalah 50 mcg/m2, diberikan sebagai dosis tunggal sehari secara injeksi subkutan, saat absolute neutrophyl count (ANC) kurang dari 1000/mm3 (jumlah lekosit ≤ 2000/mm3) diamati setelah sitotoksid kemoterapi. Terapi filgrastim dihentikan jika capaian ANC 5000/mm3 (jumlah lekosit ≤ 10.000/mm3) setelah kemoterapi yang diharapkan-titik terendah ANC dan pengamatan total diikuti. Saat pemberian infus intravena, dosis disesuaikan menjadi 100 mcg/m2 sehari secara infus intravena.

LENOGRASTIM (Recombinant human granulocyte-colony stimulating factor, rHG-CSF)

Indikasi: 

pengurangan rentang waktu dari neutropenia dan yang berkaitan pada pasien komplikasi (dengan non myeloid anaplasia) menerima suatu otologous atau allogous transplantasi sumsum tulang. Pengurangan range waktu dari neutropenia dan yang berkaitan pada pasien komplikasi selama kemoterapi yang diketahui berkaitan dengan timbulnya sesuatu yang signifikan pada demam neutropenia.Mobilisasi dari sel progenitor darah perifer.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; juga kondisi pre-malignant myeloid, mengurangi precursor mieloid; sickle cell disease; pantau ukuran limpa.

Interaksi: 

tidak direkomendasikan selama 24 jam sebelumnya atau setelah kemoterapi, karena kepekaan percepatan pembelahan sel mieloid ke kemoterapi yang sitotoksik.

Kontraindikasi: 

pasien dengan neoplasia myeloid lain dari leukemia mieloid akut de novo, leukemia mieloid akut de novo usia di bawah 55 tahun dan atauLeukemia mieloid akut de novo dengan sitogenetik baik.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga ruptur limpa, cutaneous vasculitis, Sweet's syndrome, nekrolisis epidermal toksik.

Dosis: 

dewasa: setelah transplantasi sumsum tulang dosis yang direkomendasikan dari 150 mcg (19,2 juta unit/m2) sehari secara injeksi intravena selama 30 menit, yang dilarutkan dengan larutan garam isotonik atau secara injeksi subkutan. Mulai setelah transplantasi sampai tercapai titik terendah terlewati dan jumlah neutrofill telah kembali ke kondisi yang stabil.

MOLGRAMOSTIM (RECOMBINANT HUMAN GRANULOCYTE MACROPHAGE-COLONY STIMULATING FACTOR, GM-CSF)

Indikasi: 

(hanya untuk digunakan oleh spesialis) pengurangan keparahan neutropenia (dan risiko infeksi) dalam kemoterapi sitotoksik; akselerasi pembentukan mieloid menyusul transplantasi sumsum tulang; neutropenia pada penderita yang diobati dengan gansiklovir pada cytomegalovirus retinitis yang berhubungan dengan AIDS.

Peringatan: 

pantau kadar albumin serum dan hitung darah lengkap termasuk diferensial leukosit, trombosit dan haemoglobin; monitor ketat penderita dengan penyakit paru-paru; riwayat predisposisi untuk penyakit autoimun; kehamilan dan laktasi; belum dianjurkan untuk penderita di bawah usia 18 tahun.

Kontraindikasi: 

keganasan myeloid.

Efek Samping: 

mual, diare, muntah, anoreksia; dispnea; astenia, lelah; rash, demam, rigors, flushing, nyeri muskoskeletal; reaksi lokal menyusul injeksi subkutan; juga dilaporkan nyeri dada non-spesifik, stomatitis, sakit kepala, keringat yang bertambah, nyeri abdominal, pruritus, udema perifer, pusing, parestesia, dan mialgia; reaksi serius dilaporkan meliputi anafilaksis, gagal jantung, sindrom kebocoran kapiler, kelainan cerebrovaskuler, kebingungan, konvulsi, hipotensi, aritmia, hipertensi intrakranial, efusi perikardial, perikarditis, efusi pleural, udema paru, sinkope.

Dosis: 

(dosis pertama di bawah supervisi medis) Kemoterapi sitotoksik, secara injeksi subkutan 60.000-110.000 UI/kg bb, dimulai 24 jam setelah dosis terakhir kemoterapi, dilanjutkan untuk 7-10 hari. Transplantasi sumsum tulang, secara infus intravena 110.000 UI/kg bb/hari, dimulai pada hari setelah transplantasi, dilanjutkan sampai hitung neutrofil absolut dalam batasan yang dikehendaki (lihat literatur produk); maksimum lama pengobatan 30 hari. Sebagai ajuvan pada pengobatan gansiklovir, secara injeksi subkutan, 60.000 UI/kg bb untuk lima hari, kemudian diatur untuk menjaga hitung neutrofil-absolut yang dikehendaki dan hitung sel darah putih.

PEGFILGRASTIM

Indikasi: 

(untuk penggunaan khusus) mengurangi lamanya neutropenia dan kejadian febrile neutropenia pada sitotoksisitas kemoterapi pada keganasan (kecuali leukemia myeloid kronis dan sindrom myelodysplastic).

Peringatan: 

lihat catatan di atas; leukemia akut dan myelosuppresive kemoterapi; sickle-cell anemia; pantau ukuran limpa (risiko kerusakan); interaksi: lampiran 1 (filgrastim).

Efek Samping: 

lihat catatan di atas; kadang-kadang terjadi trombositopenia; kerusakan limpa dan dermatosis febril neutrofilik sangat jarang terjadi.

Dosis: 

disetarakan sebagai filgrastim. Injeksi subkutan, dewasa di atas 18 tahun 6 mg (0.6 mL) untuk setiap kali kemoterapi, diberikan 24 jam setelah kemoterapi.