8.2.3 Antibodi Monoklonal

Basiliksimab merupakan antibodi monoklonal yang mencegah proliferasi limfosit T, digunakan untuk profilaksis penolakan akut pada transplantasi ginjal allogenik. Diberikan bersama siklosporin dan imunosupresan kortikosteroid, penggunaannya sebaiknya dibatasi oleh para ahli.

Rituksimab merupakan antibodi monoklonal yang menyebabkan lisis limfosit B, digunakan untuk pengobatan limfoma folikular lanjut yang telah resisten terhadap kemoterapi dan untuk difusi limfoma non-Hodgkin sel B besar dikombinasi dengan kemoterapi lain. Rituksimab dikombinasi dengan kemoterapi lain digunakan untuk pengobatan limfoma folikuler lanjutan yang belum mendapat pengobatan. Fasilitas lengkap untuk resusitasi sebaiknya disiapkan dan seperti sitotoksik lainnya pengobatan sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis onkologi.

Rituksimab sebaiknya digunakan dengan hati- hati pada pasien yang menerima kemoterapi yang bersifat kardiotoksik atau yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular karena pada orang dewasa telah dilaporkan eksaserbasi angina, aritmia dan gagal jantung. Hipotensi sementara sering terjadi selama infus dan pemberian obat antihipertensi sebaiknya dihentikan selama 12 jam sebelum infus. Efek samping yang berhubungan dengan pemberian infus (termasuk sindroma pelepasan sitokin) sering dilaporkan dengan rituksimab dan terutama terjadi selama infus pertama; termasuk juga demam dan menggigil, mual dan muntah, reaksi alergi (seperti kemerahan pada kulit, pruritus, angiodema, bronkospasmus dan dispnea), flushing dan nyeri tumor. Pasien sebaiknya diberikan analgesik dan antihistamin sebelum pemberian tiap dosis rituksimab untuk mengurangi efek-efek tersebut. Premedikasi dengan kortiko-steroid juga sebaiknya dipertimbangkan. Infus dapat dihentikan sementara dan efek akibat infus dapat diobati. Kejadian infiltrasi paru dan tanda-tanda sindroma lisis tumor sebaiknya diamati jika terjadi efek akibat pemberian infus.

Akibat fatal sindroma pelepasan sitokin yang parah (yang ditandai dengan terjadinya dispnea yang parah) dan berhubungan dengan tanda-tanda sindroma lisis tumor telah terjadi 1-2 jam setelah pemberian infus rituksimab. Pasien dengan beban tumor yang tinggi, pasien dengan insufisiensi atau infiltrasi pulmonari berisiko tinggi dan sebaiknya dimonitor dengan ketat (dan dipertimbangkan pemberian infus dengan kecepatan yang lebih rendah).

Monografi: 

ALEMTUZUMAB

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan di atas-untuk detil lebih lanjut (termasuk pengawasan) lihat keterangan pada produk

Kontraindikasi: 

kehamilan (Lampiran 4) dan menyusui (Lampiran 5); untuk detil lebih lanjut lihat keterangan pada produk

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas-untuk detil lebih lanjut (termasuk pengawasan dan penanganan efek samping) lihat keterangan pada produk

Dosis: 

lihat keterangan pada produk

BASILIKSIMAB

Indikasi: 

lihat keterangan di atas, profilaksis reaksi penolakan organ pada transplantasi ginjal de novo dan digunakan secara bersama dengan siklosporin.

Interaksi: 

lihat lampiran 1

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap basiliximab, kehamilan (lampiran 4); menyusui

Efek Samping: 

jarang, reaksi hipersensitif berat; dilaporkan sindrom pelepasan sitokin; untuk efek samping lain lihat di bawah siklosporin dan prednisolone (bagian 6.3.2)

Dosis: 

Injeksi intravena atau infus intravena; 20 mg selama 2 jam sebelum pembedahan (transplantasi), dan 20mg diberikan 4 hari setelah transplantasi. Dosis kedua harus ditunda pemberiannya jika terjadi komplikasi setelah pembedahan seperti terjadi graft loss.

RANIBIZUMAB

Indikasi: 

pengobatan neovaskular degenerasi makular yang terkait usia (AMD – age-related macular degeneration).

Peringatan: 

Pemberian per injeksi intravitra telah diketahui berkaitan dengan endoftalmitis, inflamasi intraokular, rhegmatogenous retinal detachment, tanggalnya retina, dan iatrogenic traumatic cataract. Meningkatkan tekanan intraocular, sehingga pemberian harus selalu dipantau.Belum ada studi pada wanita hamil, pemberian pada wanita hamil hanya apabila benar-benar diperlukan. Penggunaan pada wanita usia produktif harus dilindungi dengan kontrasepsi.Dapat menyebabkan gangguan visus, dapat mengurangi ketrampilan mengemudi atau menjalankan mesin.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, pasien dengan infeksi periokular atau ocular, pasien dengan inflamasi ocular aktif.

Efek Samping: 

sakit kepala, pening, Pada mata dapat menyebabkan pendarahan konjungtiva, nyeri, vitreus floaters, pendarahan retina, vitreus detachment, inflamasi intraocular, iritasi mata, katarak, rasa seperti kelilipan, gangguan visus, blefaritis, fibrosis sub retinal, ocular hiperemi, pandangan kabur, mata kering, vitritis. Pada saluran napas dapat menyebabkan naso-faringitis, infeksi saluran napas atas, flu. Pada saluran cerna menyebabkan nausea, konstipasi. Juga dapat timbul atralgia, nyeri punggung, arthritis, anemia. Sangat sering terjadi hipertensi atau kenaikan tekanan darah.

Dosis: 

Hanya oleh oftalmologis yang berpengalaman dan berkompeten, 0,5 mg (0,05 mL) injeksi intravitral, Pengobatan dimulai dengan satu injeksi perbulan selama 3 bulan, kemudian dievaluasi. Bila pasien masih kehilangan >5 huruf pada visual aquity (ETDRS atau ekivalen 1 baris Snellen), pengobatan dapat dilanjutkan. Interval dosis tak boleh kurang dari 1 bulan.

RITUKSIMAB

Indikasi: 

B-cell non-Hodgkin? lymphomas kambuhan atau kemoresisten. Diffuse large B-cell non-Hodgkin? lymphomas (DLCL) positif CD20 pada kombinasi dengan kemoterapi CHOP (siklofosfamid, doksorubisin, vinkristin dan prednisolon)

Peringatan: 

Lihat keterangan di atas- keterangan lebih rinci (termasuk monitoring) lihat literatur produk; kehamilan (lampiran 4)

Kontraindikasi: 

Menyusui; Hipersensitif terhadap rituksimab atau komponen lain dalam obat atau murine protein

Efek Samping: 

Lihat keterangan di atas; reaksi efek samping yang berhubungan dengan pemberian infus termasuk sindroma pelepasan sitokin terjadi pada sebagian besar pasien, dan terutama terlihat selama pemberian infus pertama, biasanya selama satu sampai dua jam pertama. Efek samping tersebut terdiri dari demam, menggigil, dan kekakuan. Gejala lain termasuk flushing, angiodema, mual, urtikaria/kemerahan, kelelahan, sakit kepala, pruritus, dispnea, iritasi tenggorok, rinitis, muntah, dan nyeri tumor. Efek samping tersebut disertai dengan hipotensi dan bronkospasmus pada kira-kira 10% kasus; angina pektoris, gagal jantung kongestif; tanda dan gejala sindroma lisis tumor mengarah pada kegagalan multi organ, kegagalan pernafasan, dan gagal ginjal.Efek samping hematologi: trombositopenia dan neutropenia berat, dan anemia berat.Efek samping lain: bronkokonstriksi, anafilaksis

Dosis: 

non-Hodgkin? lymphoma low-grade atau folikular 375 mg/m2 luas permukaan tubuh, diberikan dengan cara infus intravena seminggu satu kali, 4 kali dalam waktu 22 hariDiffuse large B-cell non-Hodgkin? lymphoma 375 mg/m2 luas permukaan tubuh, diberikan pada hari ke-1 pada tiap siklus kemoterapi setelah pemberian intravena komponen kortikosteroid dari CHOP. Obat lain pada komponen kemoterapi CHOP harus diberikan setelah pemberian rituksimab.Kecepatan pemberian infus pertama yang direkomendasikan adalah 50 mg/jam; pada pemberian berikutnya dapat ditambah 50 mg/jam tiap 30 menit sampai maksimal 400 mg/jam. Pemberian infus selanjutnya dapat dimulai pada kecepatan 100 mg/jam dan dapat ditambah 100 mg/jam setiap 30 menit hingga maksimum 400 mg/jam