8.2 Obat yang Mempengaruhi Respon Imun

Terapi imunosupresan Imunosupresan digunakan untuk menekan penolakan transplantasi organ atau untuk pengobatan berbagai jenis inflamasi kronik dan penyakit autoimun. Pasien transplantasi organ solid umumnya menggunakan kortikosteroid yang dikombinasi dengan penghambat calcineurin (siklosporin dan takrolimus), atau dengan obat antiproliferatif (azatioprin atau mikofenolat mofetil) atau dengan keduanya. Diperlukan penanganan oleh dokter spesialis dan imunomodulator dapat digunakan untuk terapi awal atau untuk mengatasi penolakan dari tubuh. GANGGUAN RESPON IMUN. Modifikasi reaksi jaringan yang disebabkan oleh kortikosteroid dan imunosupresan dapat mengakibatkan peningkatan kecepatan penyebaran infeksi. Kortikosteroid dapat menekan gejala klinik dari infeksi dan mengakibatkan penyakit seperti septisemia atau tuberkulosis berlanjut menjadi parah tanpa disadari.

Infeksi yang terjadi pada anak immune-compromised dapat menjadi berat dan menunjukan gejala yang tidak khas. Diperlukan protokol khusus untuk penanganan infeksi. Anak sebaiknya mendapat vaksinasi yang tepat dan sesuai waktunya, sebelum memulai terapi imunosupresan. KEHAMILAN. Pasien transplantasi yang mendapat imunosupresan dengan azatioprin, pengobatannya tetap dapat dilanjutkan saat hamil. Tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa azatioprin bersifat teratogenik. Tapi pernah dilaporkan kasus kelahiran prematur dan kelahiran berat badan rendah pada penggunaan azatioprin, dalam kombinasi dengan kortikosteroid. Aborsi spontan pernah dilaporkan pada maternal exposure. Pengalaman penggunaan siklosporin pada kehamilan jarang ditemukan tapi hal ini tidak berarti bahwa siklosporin lebih berbahaya dari azatioprin. Perlu pengawasan dokter spesialis jika menggunakan obat ini selama kehamilan. Penggunaan takrolimus dan mikofenolat dikontraindikasikan pada kehamilan