SETUKSIMAB

Setuksimab digunakan dalam kombinasi dengan irinotekan untuk pengobatan kanker kolorektal metastatik dengan tumor expressing pada reseptor epidermal growth factor, yang sebelumnya telah gagal dengan pemberian kemoterapi termasuk irrinotekan.

Setuksimab diberikan secara intravena. Sebelum diberikan infus pertama, harus diberi antihistamin. Demikian juga saat pemberian infus selanjutnya. Perlengkapan resusitasi sebaiknya tersedia dan pengobatan sebaiknya dimulai oleh dokter spesialis.

Monografi: 

SETUKSIMAB

Indikasi: 

(dalam kombinasi dengan irinotekan) kanker kolorektal metastase yang mengeluarkan epidermal growth factor receptor (EGFR) setelah tidak teratasi dengan terapi sitotoksik tunggal (termasuk dengan irinotekan); (kombinasi dengan terapi radiasi) kanker sel skuamosa lanjut yang bersifat lokal pada leher dan kepala

Peringatan: 

menyebabkan reaksi hiper-sensitivitas pada pemberian infus pertama seperti obstruksi saluran nafas dengan mula kerja yang cepat (bronkospasme, stridor, hoarseness), urtikaria, hipotensi, henti jantung (cardiac arrest); menyebabkan henti jantung-paru (cardiopulmonary arrest), monitor kadar elektrolit; hentikan penggunaan jika terjadi toksisitas paru (gejala gangguan paru memburuk atau terjadi secara akut); lakukan penyesuaian dosis jika terjadi ruam kulit berbentuk jerawat (atasi dengan antibiotik oral/topikal dan tidak direkomendasikan penggunaan kortikosteroid topikal); Kehamilan; Khasiat dan keamanan pada anak belum diketahui pasti.

Kontraindikasi: 

menyusui (atau menyusui dihentikan selama terapi hingga 60 hari setelah dosis terakhir).

Efek Samping: 

efek samping terkait pemberian infus termasuk dispnea, pusing, menggigil, demam dan reaksi hipersensitivitas (dengan kemungkinan mula kerjanya tertunda) seperti ruam kulit, urtikaria, obstruksi saluran nafas, hipotensi dan syok; mual, muntah, diare, sakit kepala; reaksi kulit termasuk jerawat, pruritus, kulit kering, desquamation, hipertrikosis dan gangguan pada kuku, konjungtivitis, hipomagnesemia, hipokalsemia.

Dosis: 

JANGAN DIBERIKAN SEBAGAI INJEKSI BOLUS ATAU INJEKSI PUSH. DIBERIKAN MELALUI INFUS PUMP ATAU SYRINGE PUMP. Harus diberikan dengan menggunakan “A low protein binding 0.22 micrometer in-line filter”. HARUS DISIAPKAN DENGAN TEKNIK ASEPTIK.

Kanker pada leher dan kepala: (pramedikasi dengan antihistamin (misal: injeksi difenhidramin 50 mg)) Dosis awal (infus pertama): 400 mg/m2 diberikan selama 120 menit (kecepatan infus maksimal 5 mL/menit) satu minggu sebelum dimulainya terapi radiasi.

Dosis pemeliharaan mingguan (semua infus berikutnya): 250 mg/m2 diberikan selama 60 menit (kecepatan infus maksimal 5 mL/menit) setiap minggu selama terapi radiasi (6-7 minggu), diberikan 1 jam sebelum terapi radiasi.

Dosis untuk kondisi kambuhan atau metastase: dosis awal 400 mg/m2 diikuti dengan 250 mg/m2 setiap minggu. Terapi dihentikan jika terjadi perkembangan penyakit atau toksisitas yang tidak dapat ditoleransi.

Kanker kolorektal: (dalam kombinasi dengan irinotekan atau sebagai monoterapi), dosis awal: 400 mg/m2 diberikan melalui infus intravena selama 120 menit (kecepatan infus maksimal 5 mL/menit). Dosis pemeliharaan mingguan (semua infus berikutnya): 250 mg/m2 diberikan selama 60 menit (kecepatan infus maksimal 5 mL/menit).

Panduan penyesuaian dosis jika terjadi reaksi parah ruam kulit berbentuk jerawat:

Urutan kejadian

ruam kulit berbentuk jerawat

Pemberian obat

Hasil

Penyesuaian dosis

Kejadian pertama

pemberian infus ditunda 1-2 minggu

jika terjadi perbaikan

lanjutkan dengan dosis 250 mg/m2

jika tidak terjadi perbaikan

hentikan penggunaan obat

Kejadian kedua

pemberian infus ditunda 1-2 minggu

jika terjadi perbaikan

Kurangi dosis menjadi 200 mg/m2

jika tidak terjadi perbaikan

hentikan penggunaan obat

Kejadian ketiga

pemberian infus ditunda 1-2 minggu

jika terjadi perbaikan

Kurangi dosis menjadi 150 mg/m2

jika tidak terjadi perbaikan

hentikan penggunaan obat

Kejadian keempat

hentikan penggunaan obat