EVEROLIMUS

Monografi: 

EVEROLIMUS

Indikasi: 

Karsinoma sel ginjal tingkat lanjut setelah gagal terapi dengan sunitinib atau sorafenib, tumor neuroendokrin progresif dengan pancreatic origin (PNET) tingkat lanjut pada pasien yang unresectable, terlokalisasi atau metastatik, sklerosis tuberus (TSC) dengan subependymal giant cell astrocytoma (SEGA) yang memerlukan terapi tetapi tidak dapat dioperasi, TSC dengan angiomyolipoma ginjal yang tidak membutuhkan operasi dengan segera, wanita pasca menopause dengan reseptor hormon kanker payudara, profilaksis penolakan organ pada pasien dewasa dengan risiko imunologi rendah hingga sedang setelah transplantasi ginjal, jantung, dan hati. Transplantasi ginjal dan jantung dikombinasi dengan siklosporin dan kortikosteroid. Transplantasi hati dikombinasi dengan takrolimus dan kortikosteroid.

Peringatan: 

Anak, pantau pada hiperlipidemia, penyesuaian dosis untuk lansia, gangguan fungsi ginjal atau hati, tidak boleh menyusui pada masa terapi, pantau kadar glukosa dalam darah, diagnosis terhadap pneumonitis non-infeksi jika terdapat gejala dan tanda-tanda gangguan pernapasan yang tidak spesifik (hipoksia, efusi pleural, batuk, atau sesak napas). Gejala yang muncul ringan: pengobatan dapat dilanjutkan, gejala yang muncul sedang: dapat dipertimbangkan untuk menghentikan pengobatan sementara, gejala yang muncul berat: hentikan pengobatan. Selama penghentian pengobatan, kortikosteroid dan siklosporin mungkin diperlukan hingga gejala klinis membaik. Everolimus mempunyai efek menekan sistem imun dan dapat menyebabkan pasien terinfeksi terutama infeksi terhadap bakteri patogen oportunistik. Ulkus mulut, stomatitis, dan mukositis mulut dapat terjadi. Hindari sediaan kumur yang mengandung alkohol atau peroksida. Gunakan kontrasepsi saat mengkonsumsi obat ini sampai 8 minggu setelahnya karena berdampak pada fertilitas pria dan wanita. Minimalkan paparan sinar matahari, sinar UV, dan gunakan tabir surya yang tepat.

Interaksi: 

Penghambat kuat CYP3A4 atau penghambat P-glikoprotein (P-gp) (namun tidak terbatas pada ketokonazol, itrakonazol, ritonavir, klaritromisin, dan telitromisin): hindari. Penghambat CYP3A4 atau penghambat P-gp sedang (namun tidak terbatas pada eritromisin, verapamil, siklosporin, flukonazol, diltiazem, amprenavir, foramprenavir, atau aprepitan): dipantau efek yang tidak diinginkan dan kurangi dosis jika diperlukan. Penginduksi kuat CYP3A4 atau P-gp [kortikosteroid (deksametason, prednison, dan prednisolon), antikonvulsan (karbamazepin, fenobarbital, dan fenitoin), dan agen anti HIV (efaviren dan nevirapin)]: pantau respons klinis dan pertimbangkan peningkatan dosis everolimus. Vaksin hidup [vaksin influenza intranasal, cacar, gondong, rubela (MMR, measles, mumps, rubella), polio oral, BCG, yellow fever, varisela, dan vaksin tifus TY21a]: hindari. Makanan yang dapat mempengaruhi aktivitas sitokrom P450 dan P-gp (grapefruit, belimbing, dan jeruk Sevilla): hindari. Penghambat ACE: meningkatkan risiko angiodema.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Sangat umum: demam, batuk, sesak napas, mengi, infeksi, hiperkolesterolemia, lesi pada mulut, rasa penat, nafsu makan berkurang, mual, ikterus, nyeri abdomen, tinja berwarna pucat, urin berwarna gelap, hiperglikemia, trombositopenia, gangguan mengecap rasa, sakit kepala, perdarahan, muntah, diare, ruam, gatal, rasa lemah atau lelah, kulit pucat, pembengkakan, penurunan berat badan, leukopenia, efusi perikardium, hiperlipidemia, hipertensi, efusi paru, hernia insisi. Umum: hipofosfatemia, pusing, kulit kering, jerawat, rasa haus, insomnia, mulut kering, dispepsia, kesulitan menelan, nyeri sendi, nyeri pada mulut, hiperkalemia, kerusakan kuku, hasil pemeriksaan darah pada hati dan ginjal abnormal, sakit tenggorokan, hidung berair, bentol, flatulen, konstipasi, proteinuria, gangguan menstruasi, mudah marah, anemia, koagulopati, Thrombotic Thrombocytopenic Purpura (TTP)/Haemolytic Uraemic Syndrome (HUS), lymphocele, tromboemboli vena, graft thrombosis, pankreatitis, stomatitis/ulkus mulut, nyeri orofaring, angioneurotic edema, disfungsi ereksi, abnormalitas enzim hati. Tidak umum: hemolisis, hipogonadisme pada pria (penurunan testosteron, peningkatan FSH dan LH), penyakit paru interstisial, hepatitis, mialgia, nekrosis tubulus ginjal, pielonefritis. Jarang: batuk berdarah, berkemih lebih sering di siang hari, penyembuhan luka tidak normal, batuk berdahak, agresi, leukositoklastik vaskulitis, Pulmonary Alveolar Proteinosis (PAP).

Dosis: 

Oral, sekali sehari pada waktu yang sama, diberikan secara konsisten bersama atau tidak bersama makanan. Harus ditelan utuh, tidak boleh dikunyah atau digerus. Bila pasien tidak dapat menelan maka tablet dapat dilarutkan dalam 30 mL air, diaduk dan segera diminum. Dosis awal ditetapkan berdasarkan pengalaman dokter dalam terapi pengobatan berdasarkan indikasi pasien.

Karsinoma sel ginjal tingkat lanjut dan PNET, kanker payudara, TSC dengan angiomyolipoma ginjal: 10 mg sekali sehari. Dapat diturunkan menjadi 5 mg sekali sehari atau selang sehari, jika terjadi efek samping berat yang tidak dapat ditoleransi, atau diberikan bersamaan dengan penghambat CYP3A4 sedang atau penghambat P-gp. Dapat ditingkatkan secara bertahap dengan penambahan 5 mg, dan seterusnya hingga 20 mg jika diberikan bersamaan dengan penginduksi CYP3A4 kuat, namun hindari penggunaan bersamaan. Dosis harus dititrasi untuk mencapai kadar dalam darah 3 – 15 ng/mL. Dosis ditingkatkan sebesar 2,5 mg setiap 2 minggu jika konsentrasi dibawah 3 ng/mL.

TSC kompleks dengan SEGA: dosis individual didasarkan pada luas permukaan tubuh (dalam m2) menggunakan rumus Dubois, dimana berat (W) dalam kilogram dan tinggi (H) dalam centimeter.

Luas Permukaan Tubuh = (W0,425 x H0,725) x 0,007184

Dosis awal 4,5 mg/m2. Beda kekuatan obat, dapat dikombinasi untuk memperoleh dosis yang diinginkan. Jika konsentrasi obat dalam darah <5 ng/mL, dosis harian dapat ditingkatkan 2,5 mg tiap 2 minggu, selama dapat ditoleransi oleh pasien. Dosis harian dapat diturunkan 2,5 mg tiap 2 minggu untuk memperoleh nilai target konsentrasi obat dalam darah 5-10 ng/mL. Jika pengurangan dosis dibutuhkan pada pasien dengan dosis harian 2,5 mg, dosis alternatif dapat digunakan.

Profilaksis penolakan organ: Transplantasi jantung dan ginjal: dosis awal 0,75 mg setiap 12 jam, diberikan segera setelah tindakan transplantasi. Transplantasi hati: 1 mg setiap 12 jam dengan dosis awal diberikan sekitar 4 minggu setelah transplantasi. Dilakukan penyesuaian dosis selama 4-5 hari berdasarkan kadar darah, toleransi, respons individual, perubahan pada co-medication, dan kondisi klinik.