DAKARBAZIN dan TEMOZOLOMID

Dakarbazin digunakan untuk melanoma dan sebagai terapi kombinasi untuk sarkoma jaringan lunak. Juga sebagai salah satu komponen dari terapi kombinasi penyakit Hodgkin (doksorubisin, bleomisin, vinblastin, dan dakarbazin). Efek samping utamanya adalah mielosupresi serta mual dan muntah berat.

Temozolomid secara struktur mirip dengan dakarbazin. Diberikan secara oral dan diindikasikan untuk terapi glioblastoma multiforme (dalam kombinasi dengan radioterapi) dan sebagai terapi lini kedua kanker glioma.

Monografi: 

DAKARBAZIN

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan pada 8.1; gangguan fungsi hati (Lampiran 2); gangguan fungsi ginjal (Lampiran 3); hati-hati dalam penanganan

Kontraindikasi: 

kehamilan (Lampiran 4)

Efek Samping: 

lihat keterangan pada 8.1 dan keterangan di atas; juga hati-hati dalam penanganan karena mengiritasi kulit dan jaringan

TEMOZOLAMID

Indikasi: 

terapi ajuvan radioterapi pada glioblastoma multiform yang baru didiagnosis , glioma ganas, seperti glioblastoma multiform atau anaplastic astrocytoma yang menunjukkan kekambuhan atau perburukan setelah terapi standar, melanoma ganas dengan metastatik lanjutan.

Peringatan: 

lihat bagian 8.1; gangguan fungsi hati berat dan gangguan fungsi ginjal, pasien yang mendapatkan terapi steroid.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (temozolomid).

Kontraindikasi: 

kehamilan (Lampiran 4); menyusui, hipersensitif terhadap temozolomid atau dakarbazin, mielosupresi parah.

Efek Samping: 

lihat bagian 8.1;

Tomozolomid bersama dengan obat radioterapi: sangat umum: anoreksia, sakit kepala, konstipasi, mual, muntah, alopesia/rambut rontok, kemerahan, lelah; umum: oral kandisiasis herpes simpleks, infeksi, faringitis, infeksi luka, leukopenia, limfopenia, neutropenia, trombositopenia, hiperglikemia, penurunan berat badan, ansietas, labil secara emosi, insomnia, pusing, afasia, gangguan keseimbangan, gangguan konsentrasi, bingung, penurunan kesadaran, kejang, gangguan ingatan, neuropati, parestesia, mengantuk, gangguan berbicara, tremor, penglihatan kabur, gangguan pendengaran, edema, edema kaki, perdarahan, batuk, dispnea, nyeri perut, diare, dispepsia, disfagia, stomatitis, dermatitis, kulit kering, eritema, pruritus, artralgia, lemas otot, sering berkemih, inkontinensia urin, demam, nyeri, reaksi alergi, cedera radiasi, bengkak pada wajah, penyimpangan indera perasa, peningkatan SGPT; tidak umum: anemia, febrilasi neutropenia, cushingoid, hipokalemia, peningkatan alkalin fosfatase, peningkatan berat badan, agitasi, apati, perubahan perilaku, depresi, halusinasi, ataksia, gangguan kognitif, disfasia, gangguan ekstrapiramidal, gait abnormal, hemiparesis, hiperestesia, hipoestesia,gangguan saraf,neuropati perifer, status epileptikus, nyeri mata, hemianopia, gangguan penglihatan, penurunan ketajaman penglihatan, cacat penglihatan, sakit telinga, hiperakusis, tinnitus, otitis media, palpitasi, hipertensi, perdarahan otak, pneumonia, infeksi pernapasan atas, kongesti nasal, reaksi fotosensitif, abnormal pigmentasi, pengelupasan kulit, nyeri punggung, nyeri muskuloskeletal, mialgia, miopati, impotensi, muka memerah, astenia, perburukan kondisi, kaku, perubahan warna pada lidah, parosmia, rasa haus, pengingkatan Gamma GT, peningkatan enzim-enzim di hati, peningkatan SGOT.

Terapi pendukung: sangat umum: anoreksia, sakit kepala, kejang, konstipasi, mual, muntah, alopesia, kemerahan, lelah; umum: kandisiasis oral, infeksi, anemia, febrilasi neutropenia, leukopenia, trombositopenia, penurunan berat badan, ansietas, depresi, labil secara emosi, insomnia, pusing, afasia, gangguan keseimbangan, gangguan konsentrasi, bingung, disfasia, hemiparesis, gangguan ingatan, gangguan saraf, neuropati, parestesia, mengantuk, gangguan berbicara, tremor, penglihatan kabur, diplopia, cacat penglihatan, gangguan pendengaran, tinitus, edema kaki, perdarahan, trombosis vena dalam, batuk, dispnea, diare, dispepsia, disfagia, mulut kering, stomatitis, kulit kering, pruritus, artralgia, nyeri muskuloskeletal, mialgia, lemas otot, inkontinensia urin,  demam, nyeri, reaksi alergi, cedera radiasi, penyimpangan indera pengecap, peningkatan SGPT; tidak umum: herpes simpleks, herpes zoster, gejala mirip flu, limfopenia, petechiae, cushingoid, hiperglikemia, peningkatan berat badan, halusinasi, amnesia, ataksia, gangguan koordinasi, gait abnormal, hemiplegia, hiperestesia, gangguan sensorik, nyeri mata, mata kering, penurunan ketajaman penglihatan, tuli, sakit telinga, vertigo, edema, edema perifer, embolise paru, pneumonia, sinusitis, infeksi pernapasan atas, bronkitis, pembesaran perut, inkontinensia feses, gangguan saluran pencernaan, gastroenteritis, hemoroid, eritema, abnormal pigmentasi, mudah berkeringat, nyeri punggung, miopati, disuria, amenore, nyeri payudara, menoragia, perdarahan vagina, vaginitis, astenia, perburukan kondisi, nyeri, kaku, gangguan pada gigi, bengkak pada wajah

Pasien dengan kekambuhan atau perburukan glioma atau melanoma ganas: umum:  gangguan saluran pencernaan, terutama mual dan muntah, trombositopenia, neutropenia, kelelahan, konstipasi, sakit kepala, anoreksia, diare, kemerahan, demam, mengantuk, astenia; kurang umum: nyeri abdomen, nyeri, pusing, penurunan berat badan, dispnea, dispepsia, alopesia/rambut rontok, kaku, pruritus, malaise, perubahan rasa, parestesia.

Dosis: 

Dewasa dengan glioblastoma multiform yang baru didiagnosa; pasien yang menerima radioterapi: 75 mg/m2 satu kali sehari secara oral selama 42 hari, kemudian temozolomid sebagai terapi ajuvan selama 6 siklus. Dosis temozolomid dapat diteruskan lebih dari 42 hari sampai 49 hari jika syarat hitung neutrofil absolut (absolute neutrophil count = ANC) >1,5 x 109/L, jumlah trombosit ≥100 x 109/L, dan kriteria toksisitas umum toksisitas non-hematologi (Common Toxicity Criteria (CTC) Non-hematological Toxicity) ≤ Grade 1 (kecuali untuk alopesia, mual, dan muntah) terpenuhi. Dosis temozolomid harus diputus atau dihentikan pada saat penggunaan bersama radioterapi berdasarkan:

Pemutusan pemakaian temozolamid jika : hitung neutrofil absolut ( ≥0,5 dan <1,5 x 109/L), jumlah trombosit (≥10 dan <100 x 109/L), kriteria toksisitas umum toksisitas non-hematologi (grade 2)

Penghentian pemakaian temozolamid : hitung neutrofil absolut (<0,5 x 109/L), jumlah trombosit (<10 x 109/L), kriteria toksisitas umum toksisitas non-hematologi (grade 3 atau 4).

Terapi ajuvan : 4 minggu setelah menyelesaikan terapi temozolomid bersama dengan radioterapi, temozolomid diberikan sebanyak 6 siklus. Dosis pada siklus 1 yaitu 150 mg/m2  satu kali sehari selama 5 hari dilanjutkan tanpa terapi selama 23 hari. Pada permulaan siklus 2, dosis dapat ditingkatkan menjadi 200 mg/m2 jika kriteria toksisitas umum toksisitas non-hematologi pada siklus 1 ≤ Grade 2 (kecuali untuk alopesia, mual, dan muntah), hitung neutrofil absolut (absolute neutrophil count = ANC) ≥1,5 x 109/L, jumlah trombosit ≥100 x 109/L. Jika tidak terjadi toksisitas maka dosis tetap 200 mg/m2/hari pada siklus ke 2-6. Jika terjadi toksisitas maka dosis diturunkan menjadi 150 mg/m2/hari, jika masih teradi toksisitas maka diturunkan lagi menjadi 100 mg/m2/hari.

Pengurangan atau Penghentian Dosis selama Terapi  Ajuvan pada kondisi:

Pengurangan Temozolomid dengan 1 tahapan Dosis jika: hitung neutrofil absolut(<1,0 x 109/L), jumlah trombosit (<50 x 109/L), kriteria toksisitas umum toksisitas non-hematologi (grade 3)

Penghentian Temozolomid jika memerlukan pengurangan dosis hingga <100 mg/m2 atau jika toksisitas non-hematologi grade 3 tetap terjadi setelah pengurangan dosis, kriteria toksisitas umum toksisitas non-hematologi (grade 4)

Dewasa dengan kekambuhan atau perburukan glioma atau melanoma ganas: Pada pasien yang belum menerima kemoterapi: 200 mg/m2 sekali sehari secara oral selama 5 hari per siklus 28 hari. Pada pasien yang pernah menerima kemoterapi: dosis awal 150 mg/m2 sekali sehari, ditingkatkan pada siklus kedua menjadi 200 mg/m2 sekali sehari  dengan  hitung  neutrofil  absolut (absolute neutrophil count = ANC) > 1,5 x 109/L dan jumlah trombosit ≥100 x 109/L pada hari pertama siklus berikutnya. Anak-anak: Pada pasien anak usia 3 tahun atau lebih, dosis 200 mg/m2 secara oral sekali sehari selama 5 hari per siklus 28 hari. Anak-anak yang telah diobati dengan kemoterapi harus menerima dosis awal 150 mg/m2 sekali sehari selama 5 hari, ditingkatkan menjadi 200 mg/m2 sekali sehari pada siklus berikutnya jika tidak ada toksisitas hematologi.

Temozolomid harus dimakan pada keadaan puasa, minimal satu jam sebelum makan. Terapi antiemetik dapat diberikan setelah pemberian temozolomid.