8.1.2 Antibiotika Sitotoksik

Obat dalam kelompok ini digunakan secara luas. Efek kelompok obat ini mirip dengan efek radioterapi sehingga tidak boleh digunakan bersamaan karena dapat meningkatkan toksisitas secara signifikan. Daunorubisin, doksorubisin, epirubisin dan idarubisin merupakan antibiotika antrasiklin. Mitoksantron (mitozantron) adalah derifat antrasiklin.

Doksorubisin adalah yang paling banyak dipakai; digunakan untuk leukemia akut, limfoma, dan beberapa jenis tumor solid. Obat ini diberikan dalam infus yang cepat dengan interval 21 hari. Dapat menyebabkan nekrosis kulit pada tempat penyuntikan. Efek toksik yang umum adalah mual, muntah, mielosupresi, kebotakan dan mukositis. Obat ini diekskresi melalui empedu; bila kadar bilirubin meningkat, berarti dosis harus dikurangi. Beberapa efek samping yang jarang antara lain takikardia supraventrikel. Kardiomiopati berhubungan dengan kumulasi obat dalam darah, sehingga biasanya total kumulatif dosis dibatasi sampai 450 mg/m2 luas permukaan tubuh, sebab di atas dosis ini biasanya dapat terjadi gagal jantung fatal. Bagi pasien dengan penyakit jantung, hipertensi, lansia dan yang telah mendapat iradiasi miokard, obat sebaiknya diberikan dengan hati-hati.

Monitor jantung dilakukan untuk menentukan dosis yang aman. Beberapa bukti menunjukkan bahwa pemberian dosis mingguan yang lebih rendah dapat mengurangi efek kardiotoksik. Doksorubisin diberikan pada instilasi kandung kemih untuk pengobatan karsinoma sel transisi, tumor kandung kemih papiler dan karsinoma in-situ.

Formulasi liposom doksorubisin untuk penggunaan intravena juga tersedia. Formulasi ini dapat mengurangi kardiotoksisitas dan tejadinya nekrosis lokal, tapi reaksi infus yang berat kadang dapat terjadi. Hand-foot syndrome (rasa sakit, erupsi kulit makular merah) dapat terjadi pada pemberian liposom doksorubisin dan mungkin dapat dicegah dengan pengurangan dosis. Hal ini dapat terjadi setelah 2-3 siklus pengobatan dan dapat dicegah dengan mendinginkan tangan dan kaki dan menghindari kaus kaki, sarung tangan yang ketat selama 4-7 hari setelah pengobatan.

Antibiotika antrasiklin, pada kondisi normal, tidak boleh digunakan pada anak dengan disfungsi ventrikel kiri. Epirubisin dan mitoksantron diperkirakan kurang toksik sehingga sesuai untuk anak yang telah menerima dosis kumulasi yang tinggi dari antrasiklin lain.

Epirubisin juga mirip dengan doksorubisin dan efektivitasnya terhadap kanker payudara juga setara. Agar tidak timbul efek kardiotoksik, dosis maksimum kumulatifnya adalah 0,9-1 g/m2. Seperti juga doksorubisin, obat ini diberikan intravena dan intrakavitas (misalnya instilasi kandung kemih).

Idarubisin sifatnya mirip doksorubisin. Umumnya digunakan untuk keganasan pada darah. Dapat diberikan melalui oral dan intravena.

Daunorubisin sifatnya mirip doksorubisin. Sebaiknya diberikan secara intravena dan diindikasikan untuk lekemia akut. Mitoksantron secara struktur kimiawi mirip dengan doksorubisin dan sama efektifnya untuk kanker payudara. Mitoksantron juga digunakan untuk pengobatan limfoma non- Hodgkin dan leukemia non-limfositik pada dewasa. Diberikan intravena dan cukup dapat diterima kecuali efek samping mielosupresi dan kardiotoksik. Karena itu pemeriksaan jantung diperlukan pada dosis kumulatif 160 mg/m2.

Bleomisin diberikan secara intravena atau intramuskular untuk pengobatan kanker sel metastase dan pada beberapa regimen, limfomanon-Hodgkin. Obat ini dapat menimbulkan sedikit supresi sumsum tulang, toksisitas dermatologi umum terjadi dan peningkatan pigmentasi di lipatan kulit dan plak sklerotik sub kutan bisa terjadi. Mukositis juga hal yang biasa terjadi dan berhubungan dengan fenomena Raynaud. Manifestasi reaksi hipersensitivitas dengan demam dan menggigil biasa terjadi beberapa jam setelah penggunaan dan dapat dicegah dengan pemberian kortikosteroid secara bersamaan, misalnya hidrokortison secara intavena. Masalah utama dalam penggunaan bleomisin adalah fibrosis paru progresif yang bersifat bergantung dosis; biasanya timbul pada dosis lebih dari 300.000 unit (300 mg) dan pada lansia. Bila ada krepitasi dan gambaran radiologi yang mencurigakan, terapi harus dihentikan. Pasien yang mendapat pengobatan ekstensif dengan bleomisin (misalnya dosis kumulatif lebih dari 100.000 unit) juga berisiko tinggi untuk mengalami gagal napas dalam anestesi umum yang disertai oksigen kadar tinggi. Spesialis anestesi perlu diperingatkan mengenai hal ini.

Daktinomisin digunakan untuk pengobatan kanker pada anak-anak dan diberikan secara intravena. Efek samping yang ditimbulkan sama dengan doksorubisin kecuali toksisitas jantung yang tidak berat.

Mitomisin diberikan intravena untuk mengobati kanker payudara dan kanker saluran cerna bagian atas; diberikan juga secara intrakavitas pada tumor kandung kemih superfisial. Toksisitas sumsum tulang lebih lambat dan biasanya diberikan dengan interval 6 minggu. Penggunaan jangka lama dapat menyebabkan kerusakan sumsum tulang menetap. Obat ini juga dapat menyebabkan fibrosis paru dan kerusakan ginjal.

Monografi: 

BLEOMISIN

Indikasi: 

kanker kulit termasuk kanker penis, skrotum dan vulva; kanker pada kepala dan leher; kanker maxilla, lidah, bibir, faring, rongga mulut; kanker esofagal, kanker serviks, limfoma ganas: retikulosarkoma, limfosarkoma, penyakit Hodgkin?; efusi pleura

Peringatan: 

lihat 8.1 dan keterangan di atas; gangguan hati (Lampiran 2); gangguan ginjal (Lampiran 3); hati-hati dalam penanganan?mengiritasi jaringan

Kontraindikasi: 

Kehamilan (Lampiran 4); menyusui

Efek Samping: 

lihat 8.1 dan keterangan di atas

Dosis: 

Injeksi intramuskular atau subkutanLarutkan 15?0 mg (potensi) bleomisin dalam 5 mL larutan yang sesuai seperti larutan garam fisiologi dll. Lalu suntikkan secara intramuskular atau subkutan.Pada kanker kulit kepala dan leher, kadar bleomisin yang disuntikkan tidak lebih dari 1 mg (potensi)/ mL disekeliling daerah target.Injeksi intra arteriLarutkan 5?5 mg (potensi) bleomisin dalam larutan untuk injeksi seperti larutan garam fisiologi, larutan glukosa dll. Lalu suntikkan secara intraarteri dalam satu suntikan atau dengan infus.Injeksi intravenaLarutkan 15?0 mg (potensi) bleomisin dalam 5?0 mL larutan yang sesuai untuk intravena seperti larutan garam fisiologis, larutan glukosa dll. Lalu suntikkan secara intravena dengan perlahan. Pada pireksia, kurangi dosis menjadi 5 mg (potensi) atau kurang, dan suntikkan lebih sering misalnya 2 kali sehari. Frekwensi penyuntikan, umumnya 1 kali sehari sampai 1 kali seminggu, tergantung kondisi pasien. Umumnya 2 kali seminggu. Dosis total Bleomisin umumnya 300?00 mg

DAUNORUBISIN

Indikasi: 

leukemia akut

Peringatan: 

lihat bagian 8.1 dan keterangan di atas; gangguan fungsi hati (Lampiran 2); gangguan fungsi ginjal (Lampiran 3) hati-hati dalam penanganan- mengiritasi jaringan.

Interaksi: 

lihat lampiran 1

Kontraindikasi: 

kehamilan (Lampiran 4); menyusui

Efek Samping: 

lihat bagian 8.1 dan keterangan di atas

DOKSORUBISIN

Indikasi: 

lihat keterangan di atas dan bagian 7.4.4

Peringatan: 

lihat bagian 8.1 dan keterangan di atas; gangguan fungsi hati (Lampiran 2); hati-hati dalam penanganan- mengiritasi jaringan

Interaksi: 

lihat Lampiran 1

Kontraindikasi: 

kehamilan (Lampiran 4); menyusui

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; dosis dikurangi pada gangguan fungsi hati; pasien lansia; pasien berpenyakit jantung; mengiritasi kulit dan jaringan

Dosis: 

60-75 mg/m2 intravena dosis tunggal

EPIRUBISIN

Indikasi: 

lihat keterangan pada doksorubisin

Peringatan: 

lihat keterangan pada doksorubisin

Efek Samping: 

lihat keterangan pada doksorubisin

IDARUBISIN

Indikasi: 

kanker payudara, leukemia akut; lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan di atas

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas

MITOKSANTRON

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan pada 8.1 dan keterangan di atas

Efek Samping: 

lihat keterangan pada 8.1 dan keterangan di atas