8.1.1 Alkilator

Obat-obat ini merusak DNA sehingga mengganggu replikasi sel tumor. Selain menimbulkan efek samping yang umum dijumpai pada penggunaan obat sitotoksik, penggunaan alkilator jangka panjang menimbulkan masalah gametogenesis dan terutama jika dikombinasi dengan iradiasi, penggunaan jangka panjang obat ini dapat meningkatkan kejadian leukemia nonlimfositik. Pada anak kecil, alkilator dapat menyebabkan retensi cairan yang mengakibatkan udema dan hiponatremia, komplikasi ini terjadi paling parah pada dua hari pertama terapi dan atau jika diberikan secara bersamaan dengan alkaloid vinka. Siklofosfamid banyak digunakan dalam terapi leukemia limfositik kronik, limfoma, dan tumor solid. Bentuk aktifnya adalah hasil metabolisme di hati. Metabolit lain, akrolein, dapat menimbulkan sistitis hemoragika, walaupun ini jarang terjadi, tetapi merupakan komplikasi serius pada penggunaan siklofosfamid. Untuk mencegah komplikasi ini asupan cairan harus ditingkatkan selama 24-48 jam setelah penyuntikan. Bila digunakan dosis tinggi (misalnya lebih dari 2 gram intravena), atau pasien berisiko mengalami sistitis (misalnya pasien yang mendapat radiasi pelvik sebelumnya), sebagai pencegahan dapat diberikan mesna intravena, yang dilanjutkan per oral.

Ifosfamid mirip dengan siklofosfamid, diberikan intravena dan selalu bersama mesna untuk mencegah toksisitas pada saluran kemih.

Klorambusil digunakan untuk leukemia limfositik akut, penyakit Hodgkin, limfoma non-Hodgkin, dan Waldenstrom’s macro-globulinemia. Selain depresi sumsum tulang, jarang ada efek samping lainnya, tetapi pada beberapa pasien dapat terjadi ruam kulit yang menyebar dan berlanjut menjadi sindrom Stevens-Johnson atau nekrolisis epidermal toksik. Oleh karena itu bila timbul ruam kulit, segera hentikan dan gantikan dengan siklofosfamid.

Melfalan digunakan pada pengobatan mieloma multipel, adenokarsinoma ovarian lanjutan, kanker payudara lanjutan, neuroblastoma pada anak-anak dan polycythaemia vera. Melfalan juga digunakan pada bagian ekstrimitas yang mengalami perfusi arterial regional pada melanoma maligna lokal dan sarkoma jaringan lunak lokal. Pneumonitis interstisial dan fibrosis pulmoner yang mengancam jiwa juga dihubungkan dengan penggunaan melfalan.

Busulfan hampir selalu digunakan hanya untuk leukemia mieloid kronik dan diberikan per oral. Pemberian busulfan yang diberikan intravena dan diikuti dengan pemberian siklofosfamid digunakan sebelum transplantasi haemapoeitic stem-cell pada orang dewasa. Hitung darah tepi harus dilakukan karena supresi mieloid yang berlebihan dapat menyebabkan aplasia sumsum tulang yang permanen. Hiperpigmentasi kulit sering terjadi pada pemberian peroral; efek samping yang jarang adalah fibrosis paru.

Lomustin adalah nitrosourea yang larut lemak dan diberikan peroral. Terutama digunakan untuk penyakit Hodgkin dan beberapa tumor solid. Toksisitas sumsum tulang lebih lambat terjadinya sehingga obat ini dapat diberikan dengan interval 4-6 minggu. Kerusakan sumsum tulang dapat menetap pada penggunaan lama. Mual dan muntah sering terjadi dan cukup berat. Karmustin diberikan secara intravena dan memiliki aktivitas yang sama dengan lomustin, diberikan pada pasien myeloma multipel, limfoma non-Hodgkin dan tumor otak. Jumlah kerusakan ginjal dan penundaan fibrosis pulmoner dapat terjadi pada pemberian intravena.Implantasi karmustin digunakan untuk intralesional pada pasien dewasa, untuk pengobatan glioblastoma multiform sebagai tambahan pada pembedahan. Implantasi karmustin juga digunakan untuk glioma maligna grade tinggi sebagai tambahan pada pembedahan dan radioterapi.

Tiotepa biasanya digunakan secara intrakavitas untuk efusi malignan dan kanker di kandung kemih; kadang-kadang juga digunakan untuk kanker payudara tetapi secara parenteral.

Mitobronitol, biasanya digunakan untuk pengobatan leukimia mieloid kronik.

Monografi: 

BUSULFAN

Indikasi: 

leukemia mieloid kronik

Peringatan: 

lihat pada 8.1 dan keterangan di atas

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (busulfan)

Kontraindikasi: 

porfiria, kehamilan (Lampiran 4); menyusui.

Efek Samping: 

lihat pada 8.1 dan keterangan di atas

Dosis: 

induksi 60 mcg/kg bb/hari per oral sampai maks. 4 mg/hari; penunjang 0,5-2 mg/hari

FOTEMUSTIN

Indikasi: 

penyebaran melanoma ganas (termasuk yang terlokalisasi di serebral); tumor serebral primer ganas

Peringatan: 

direkomendasikan untuk tidak memberikan obat ini kepada pasien yang menjalani kemoterapi selama 4 minggu terakhir (atau 6 minggu jika pengobatan terakhir digunakan nitrosurea); pemberian fotemustin dapat dipertimbangkan jika perhitungan platelet 100000/mm3 dan perhitungan granulosit 2000/mm3; disarankan untuk memberikan interval 8 minggu antara awal pengobatan induksi dengan awal pengobatan pemeliharaan. Disarankan untuk memberikan selang 3 minggu antara dua siklus pengobatan pemeliharaan; disarankan untuk melakukan pemeriksaan fungsi hati selama dan setelah pengobatan induksi.

Interaksi: 

tidak dapat diberikan bersama fenitoin, vaksin yellow fever, vaksin hidup yang dilemahkan

Kontraindikasi: 

kehamilan dan menyusui; pemberian vaksin yellow fever, pengobatan profilaksis dengan fenitoin

Efek Samping: 

trombositopenia, leukopenia, mual dan muntah, peningkatan serum transaminase, alkali fosfatase dan bilirubin

Dosis: 

Kemoterapi tunggal pengobatan ini terdiri dari: -pengobatan induksi: pemberian 3 minggu berturut-turut (dosis per minggu), diikuti dengan 4-5 minggu waktu jeda pengobatan.-pengobatan pemeliharaan: satu kali pemberian tiap 3 minggu.Dosis lazim adalah 100 mg/m2Kemoterapi kombinasi, pemberian obat yang ketiga dari pengobatan induksi dihentikan. Dosis tetap 1mg/m2.

IFOSFAMID

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat pada 8.1 dan keterangan di atas

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (ifosfamid)

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi hati; kehamilan (Lampiran 4), menyusui

Efek Samping: 

lihat pada 8.1 dan keterangan di atas

Dosis: 

total satu kurun 250-300 mg/kg bb; skedul: 50-60 mg/kg bb/hari intravena selama 5 hari berturut-turut

KLORAMBUSIL

Indikasi: 

lihat keterangan di atas; sebagai imunosupresan lihat 8.2.1

Peringatan: 

lihat keterangan di atas, lihat keterangan pada siklofosfamid

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas, lihat keterangan pada siklofosfamid

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas, lihat keterangan pada siklofosfamid

Dosis: 

bila digunakan tunggal 100-200 mcg/kg bb/hari per oral selama 4-8 minggu

LOMUSTIN

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan di atas

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas

Dosis: 

digunakan tunggal 120-130 mg/m2 luas tubuh tiap 6-8 minggu

MELFALAN

Indikasi: 

mielomatosis, lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; dosis dikurangi pada gangguan fungsi ginjal

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (melfalan)

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas

Dosis: 

oral: 150-300 mcg/kg bb/hari selama 4-6 hari, kemudian diulang setelah 4-8 minggu

SIKLOFOSFAMID

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; dosis dikurangi pada gangguan fungsi ginjal

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (siklosfamid)

Kontraindikasi: 

porfiria, kehamilan (Lampiran 4), menyusui (Lampiran 5)

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; dosis dikurangi pada gangguan fungsi ginjal

Dosis: 

induksi 40-50 mg/kg bb; dosis penunjang, oral: 1-5 mg/kg bb/hari; intravena: 10-15 mg/kg bb tiap 7-10 hari, atau 3-5 mg/kg bb 2 x seminggu