7.4.4 Antiseptik Saluran Kemih

Antiseptik saluran kemih merupakan kelompok antimikroba yang bioavailabilitas sistemiknya rendah tetapi terkonsentrasi di tubuli ginjal sehingga setelah berdifusi ke parenkim, efektif mengobati infeksi saluran kemih. Pada infeksi berat yang disertai demam, menggigil, dan hipertensi, tetap diperlukan antimikroba sistemik. Untuk infeksi yang demikian pemilihan obat harus didasarkan pada hasil biakan kuman. Sebelum ada hasil biakan, dapat digunakan antibiotika sistemik antara lain gentamisin, sulfonamid, kotrimoksazol, ampisilin, sefalosporin, atau fluorokuinolon.

Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada wanita. Bila terjadi pada pria, terutama yang berulang, biasanya didasari oleh kelainan anatomis saluran kemih. Oleh karena itu, semua penderita infeksi saluran kemih berulang harus diperiksa dengan teliti untuk menemukan adanya obstruksi. Infeksi berulang juga sering terjadi pada manula akibat adanya prostatitis kronis yang sulit diatasi karena memerlukan antibiotik yang mampu mencapai parenkim prostat. Harus diingat bahwa pielonefritis yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen.

E. coli merupakan penyebab paling sering pada infeksi saluran kemih. Penyebab lain yang lebih jarang adalah Proteus dan Klebsiella spp. Infeksi Pseudomonas aeruginosa hampir selalu berhubungan dengan adanya kelainan anatomis saluran kemih. Sementara itu, infeksi S. epidermidis dan E. faecalis biasanya terjadi setelah kateterisasi lama.

Infeksi saluran kemih bagian bawah tanpa komplikasi biasanya memberikan respons terhadap ampisilin, asam nalidiksat, nitrofurantoin, atau trimetoprim yang diberikan 5-7 hari. Alternatif untuk infeksi oleh kuman yang resisten terhadap penisilin adalah koamoksiklav, sefalosporin oral, fluorokuinolon (lihat 7.1). Infeksi pada wanita hamil mungkin tidak menimbulkan gejala, tetapi harus segera diobati agar tidak berkembang menjadi pielonefritis akut. Penisilin dan sefalosporin aman untuk wanita hamil (lihat Lampiran 2), sedangkan trimetoprim, sulfonamid, kuinolon, dan tetrasiklin harus dihindari.

Monografi: 

FOSFOMISIN

Indikasi: 

Infeksi akut saluran kemih bagian bawah yang tidak terkomplikasi, profilaksis infeksi saluran kemih pada prosedur transurethral.

Peringatan: 

Anak dibawah 12 tahun, tidak boleh digunakan lebih dari dosis tunggal untuk pengobatan sistitis akut, kehamilan dan menyusui.

Interaksi: 

Metoklopramid: penurunan kadar metoklopramid.

Kontraindikasi: 

Gagal fungsi ginjal (klirens kreatinin <80 mL/menit), hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Sangat umum : diare, sakit kepala. Umum: vaginitis, mual, rinitis, nyeri pungung, dismenorea, faringitis, pusing, nyeri abdomen, dispepsia, astenia, ruam. Jarang: gangguan abdominal stools, anoreksia, konstipasi, mulut kering, disuria, gangguan telinga, demam, flatulens, flu, hematuria, infeksi, insomnia, limfadenopati, gangguan menstruasi, migren, mialgia, ketegangan, parestesia, pruritus, peningkatan SGPT, gangguan kulit, somnolen, dan muntah.

Dosis: 

Oral: infeksi akut saluran kemih bagian bawah yang tidak terkomplikasi. Wanita ≥ 18 tahun, 3 g sebagai dosis tunggal. Profilaksis infeksi saluran kemih prosedur transurethral. dua kali dosis, dosis pertama diberikan 3 jam sebelum prosedur dan dosis kedua 24 jam setelah dosis pertama.

Fosfomisin diberikan pada saat perut kosong (2-3 jam setelah makan), sebelum tidur, setelah kandung kemih kosong. Obat harus dilarutkan ke dalam segelas air (50-750 mL) diberikan segera setelah dilarutkan.

METENAMIN HIPURAT (HEKSAMIN)

Indikasi: 

pencegahan dan pengobatan infeksi kronis saluran kemih. Zat ini bersifat antiseptik akibat aktivitas formaldehidnya

Peringatan: 

kehamilan (lihat Lampiran 2), pemberian bersama sulfonamid atau zat pembasa urin membentuk kristaluria

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (heksamin)

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi ginjal, dehidrasi, asidosis metabolik

Efek Samping: 

gejala saluran cerna, iritasi kandung kemih, ruam kulit

Dosis: 

1 gram tiap 12 jam; ANAK 6-12 tahun: 500 mg tiap 12 jam

NITROFURANTOIN

Indikasi: 

lihat keterangan di atas

Peringatan: 

anemia, diabetes melitus; ketidakseimbangan elektrolit; defisiensi folat dan vitamin B; penyakit paru; gangguan fungsi hati; pengobatan lama harus diikuti dengan pemantauan fungsi hati dan paru; rentan terhadap neuritis perifer; positif palsu pada uji glukosa urin; urin berwarna kuning/coklat

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (nitofurantoin)

Kontraindikasi: 

gangguan fungsi ginjal; anak di bawah 3 bulan, defisiensi G6PD (lihat 9.1.5) termasuk wanita hamil (lampiran 4) dan menyusui (lihat Lampiran 5), porfiria

Efek Samping: 

anoreksia, mual, muntah, diare; reaksi paru akut dan kronik (mungkin berhubungan dengan sindrom mirip lupus eritemosus); neuropati perifer; reaksi alergi mulai dari gatal sampai ke angioudem, ikterus kolestatik, hepatitis, dermatitis eksfoliatif, eritema multiformis, pankreatitis, artralgia, kelainan darah, hipertensi intrakranial, alopesia.

Dosis: 

pada kasus sederhana 50 mg tiap 6 jam selama 7 hari, bersama makanan; ANAK di atas 3 bulan 3 mg/kg bb/hari terbagi dalam 4 dosis; pada infeksi berat berulang 100 mg tiap 6 jam selama 7 hari (dosis dikurangi atau dihentikan jika diikuti mual berat); untuk pencegahan: 50-100 mg pada malam hari; ANAK di atas 3 bulan 1 mg/kg bb pada malam hari, lihat juga peringatan.

NORFLOKSASIN

Indikasi: 

infeksi saluran kemih; infeksi spesifik saluran cerna

Peringatan: 

lihat norfloksasin (5.1.6)

Interaksi: 

lihat norfloksasin (5.1.6)

Kontraindikasi: 

lihat norfloksasin (5.1.6)

Efek Samping: 

lihat norfloksasin (5.1.6)

Dosis: 

lihat norfloksasin (5.1.6)

TRIMETOPRIM

Indikasi: 

lihat trimetroprim (5.1.7)

Peringatan: 

lihat trimetroprim (5.1.7)

Interaksi: 

lihat trimetroprim (5.1.7)

Kontraindikasi: 

lihat trimetroprim (5.1.7)

Efek Samping: 

lihat trimetroprim (5.1.7)

Dosis: 

lihat trimetroprim (5.1.7)