7.3.2.1 Kontrasepsi Oral Progesteron (KOP)

Walaupun angka kegagalannya lebih tinggi daripada Kontrasepsi Oral Kombinasi (KOK), kontrasepsi oral progesteron (KOP) merupakan alternatif kontrasepsi hormonal bagi wanita yang tidak dapat menerima estrogen, termasuk pasien dengan riwayat trombosis vena. KOP ini cocok untuk wanita lansia, perokok berat, penderita hipertensi, kelainan katup jantung, diabetes melitus, atau migrain. Dengan KOP ini ketidakteraturan pola haid lebih sering terjadi pada awal penggunaannya tapi akan teratasi setelah penggunaan jangka panjang.

Interaksi
Efektivitas KOP tidak dipengaruhi oleh antibakteri yang tidak menginduksi enzim hati. Tetapi efektivitas KOP dikurangi oleh obat penginduksi enzim, sehingga dianjurkan menggunakan metode kontrasepsi alternatif atau tambahan selama penggunaan obat atau 4 minggu setelah penghentian obat.

Pembedahan
Semua KOP (termasuk bentuk injeksi) dapat digunakan sebagai alternatif dari KOK sebelum pelaksanaan pembedahan besar, pembedahan pada kaki atau pembedahan yang mempengaruhi immobilisasi jangka panjang lengan bawah.

Mulai pemberian 1 tablet perhari, dimulai hari pertama siklus dan diminum pada waktu yang sama setiap hari (jika terlupa minum lebih dari 3 jam, daya lindung obat hilang). Tidak perlu tambahan kontrasepsi saat memulai minum obat. Berubah dari KOK, mulai segera setelah menyelesaikan paket KOK tanpa melakukan interval bebas (jika menggunakan tablet ED, abaikan tablet inaktif). Setelah melahirkan, mulai setelah 3 minggu melahirkan (meningkatkan breakthrough bleeding jika diberikan lebih awal), tidak mempengaruhi menyusui.

Lupa Minum Pil
Bila 1 pil terlupa, segera makan saat disadari, dan lanjutkan jadwal yang biasa. Bila terlambat 3 jam makan pil, maka daya lindung pil hilang. Lanjutkan makan pil, tetapi jangan lakukan sanggama selama 7 hari berikutnya atau gunakan kondom.

Diare dan muntah
Muntah dalam waktu 2 jam setelah pemberian kontrasepsi oral atau terjadi diare yang sangat berat dapat mengganggu absorpsi. Diperlukan kontrasepsi tambahan selama muntah/diare dan 2 hari setelah sembuh.

Monografi: 

KONTRASEPSI ORAL PROGESTIN

Indikasi: 

kontrasepsi.

Peringatan: 

penyakit jantung; riwayat kehamilan ektopik; kista ovarium; sindrom malabsorpsi; hepatitis aktif; ikterus kolestatik; riwayat ikterus saat hamil.

Interaksi: 

obat penginduksi enzim menurunkan kadar hormon; lihat keterangan di atas dan Lampiran 1 (progestogen).

Kontraindikasi: 

kehamilan, risiko tinggi untuk penyakit arterial; tumor hati; porfiria; karsinoma payudara atau genital; perdarahan vagina yang belum didiagnosis; setelah pengangkatan mola hidatidosa.

Efek Samping: 

kekacauan pola haid; mual, muntah, sakit kepala; nyeri payudara, depresi, perubahan berat badan, kelainan kulit.

Dosis: 

1 tablet setiap hari pada jam yang sama; mulai pada hari pertama daur haid; bila terlambat 3 jam makan pil, maka harus dianggap telah "kelupaan pil", lihat keterangan di atas. Catatan: penggantian sediaan dari KOK langsung dilakukan setelah pil aktif yang terakhir.

DESOGESTREL

Indikasi: 

kontrasepsi oral.

Peringatan: 

risiko kanker payudara; kanker hati; riwayat gangguan thromboemboli; diabetes; pernah mengalami kehamilan ektopik; riwayat kloasma gravidarum.

Interaksi: 

dengan hidantoin barbiturat, pirimidon, karbamazepin, rifampisin; okskarbamazepin, rifabutin, rosiglitazon, felbamat dan griseofulvin atau obat yang menginduksi enzim hepatik disarankan untuk sementara menggunakan metode pelindung lain selain menggunakan desogestrel, misalnya selama waktu penggunaan bersama obat dan selama kurang lebih 7 hari setelah obat dihentikan. Pada wanita yag menggunakan rifampisin, metode pelindung tambahan sebaiknya digunakan selama waktu pemberian rifampisin dan selama 28 hari setelah penggunaannya dihentikan. Dengan medical charcoal, efikasi mungkin berkurang.

Kontraindikasi: 

diketahui atau diduga hamil; gangguan tromboembolik vena yang aktif; adanya atau riwayat penyakit hati yang berat dengan nilai fungsi hati tidak bisa kembali normal; tumor yang tergantung progesteron; perdarahan vagina yang tidak terdiagnosa; hipersensitivitas.

Efek Samping: 

sakit kepala; peningkatan berat badan; sakit pada payudara; mual; perdarahan ireguler; amenore; jerawat; perubahan suasana hati; penurunan libido.

Dosis: 

Tablet diminum dengan air secukupnya setiap hari dan pada waktu yang kurang lebih sama sesuai dengan petunjuk arah pada kemasan. 1 tablet diminum setiap hari selama 28 hari secara berturutan. Kemasan berikutnya harus dimulai segera setelah kemasan lama habis.

DESOGESTREL + ETINIL ESTRADIOL

Indikasi: 

Kontrasepsi oral.

Peringatan: 

Gangguan peredaran darah (risiko tromboemboli vena dan arteri), risiko kanker serviks, risiko kanker payudara, tumor hati, hipertrigliseridemia atau riwayat pada keluarga: risiko pankreatitis, penyakit Crohn dan kolitis ulserasi, diabetes melitus, riwayat kehamilan ektopik, riwayat kloasma gravidarum.

Interaksi: 

Obat yang menginduksi enzim mikrosomal (hidantoin, barbiturat, pirimidon, karbamazepin, rifampisin, okskarbamazepin, topiramat, ritonavir, rifabutin, rosiglitazon, felbamat dan griseofulvin) meningkatkan bersihan hormon kelamin. Antibiotik (ampisilin dan tetrasiklin): kegagalan kontrasepsi, (kecuali rifampisin dan griseofulvin) disarankan menggunakan metode pelindung sampai 7 hari setelah obat dihentikan. Jika penggunaan metode pelindung pada akhir tablet aktif dalam paket KOK, paket KOK berikutnya harus dimulai tanpa interval plasebo tablet biasa. Siklosporin: meningkatkan konsentrasi siklosporin pada plasma dan jaringan. Lamotrigin: menurunkan konsentrasi lamotrigin pada plasma dan jaringan.

Kontraindikasi: 

Diketahui atau diduga hamil, gangguan tromboembolik vena yang aktif, riwayat trombosis arterial (infark miokard, gangguan pembuluh darah otak) atau kondisi prodormal (stroke ringan, angina pektoris), diketahui kecenderungan trombosis vena atau arteri seperti resistensi Protein C teraktivasi (APC), defisiensi antitrombin III, defisiensi protein C, defisiensi protein S, hiperhomosisteinemia, dan antibodi antifosfolipid, tumor yang tergantung progesteron, perdarahan vagina yang tidak terdiagnosa, riwayat migrain dengan gejala saraf fokal, diabetes melitus yang berhubungan dengan vaskular, operasi besar dengan imobilisasi berkepanjangan, riwayat pankreatitis  yang terkait dengan hipertrigliseridemia berat, riwayat penyakit hati berat dengan nilai fungsi hati tidak bisa kembali normal, riwayat tumor hati, keganasan (organ genital atau payudara) yang dipengaruhi oleh steroid kelamin, hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Umum: perubahan suasana hati, sakit kepala, mual, sakit pada perut, nyeri pada payudara. Tidak umum: retensi cairan, penurunan libido, migrain, muntah, diare, ruam, urtikaria, pembesaran payudara. Jarang: hipersensitivitas, peningkatan libido, intoleransi kontak lensa, tromboembolik arterial dan vena, eritema nodusum, eritema multiform, keluar cairan dari vagina, keluar cairan dari payudara, penurunan berat badan.

Dosis: 

1 tablet sehari, pada waktu yang sama dengan sedikit air. Dimulai dengan tablet yang besar (aktif) selama 21 hari berturut-turut diikuti dengan tablet kecil selama 7 hari. 

LEVONORGESTREL

Indikasi: 

kontrasepsi darurat yang dapat digunakan untuk mencegah kehamilan sebelum 72 jam setelah intercourse. Sebagai kontrasepsi darurat, diindikasikan untuk sexual intercourse yang tidak terlindungi termasuk: bila tidak menggunakan kontrasepsi, bila metode kontrasepsi gagal, dalam kasus pemerkosaan.

Peringatan: 

digunakan dengan ekstra hati-hati pada kasus asma, gagal jantung, hipertensi, migrain, epilepsi, gangguan ginjal, diabetes mellitus, hiperlipidemia, depresi, thrombophlebitis, penyakit tromboembolik atau stroke, merokok dan gangguan fungsi hati. Pemeriksaan medis segera diperlukan apabila efek samping terjadi selama obat digunakan. Nyeri dada yang tajam, batuk berdarah atau nafas pendek dengan tiba-tiba, nyeri pada betis, kehilangan penglihatan seluruhnya dengan tiba-tiba, breast lump, nyeri perut berat, atau kuning pada kulit atau bola mata. Tidak untuk pemakaian rutin.

Interaksi: 

pemberian bersamaan dengan ampisilin, rifampisin, kloramfenikol, neomisin, sulfonamida, tetrasiklin, barbiturat dan fenilbutazon, fenitoin, griseofulvin, karbamazepin dan pirimidon dapat menurunkan efek kontrasepsi.

Kontraindikasi: 

selain pada kehamilan, tidak ada kontraindikasi medis absolut untuk penggunaan levonorgestrel. Dalam kasus pendarahan vagina tanpa diketahui sebabnya, penyakit hepar dan empedu, mempunyai riwayat gestational jaundice, kanker payudara, kanker ovarium atau kanker uterus, thrombophlebitis atau kelainan thromboembolik, penyakit serebro vaskular atau arteri koroner, neoplasma, pendarahan genital abnormal yang tidak didiagnosa, diketahui atau diperkirakan hamil, levonorgestrel diberikan setelah pertimbangan yang hati-hati terhadap rasio kemanfaatan/risiko.

Efek Samping: 

mual; muntah; pendarahan uterus yang tidak teratur; breast tenderness, sakit kepala; pusing dan fatigue.

Dosis: 

dua tablet levonorgestrel (1,5 mg) sekaligus secepat mungkin, sebaiknya dalam 12 jam namun tidak boleh lebih dari 72 jam setelah intercourse. Levonorgestrel dapat diberikan selama siklus menstruasi. Jika terjadi muntah dalam 3 jam setelah pemberian, dosis diulang kembali.