7.2.1. Infeksi Vagina dan Vulva

Infeksi Jamur

Kandidiasis vulva dapat diatasi dengan sediaan topikal, tetapi kandida vaginitis memerlukan antifungal (antijamur) topikal yang ditempatkan jauh ke dalam vagina (termasuk pada saat menstruasi). Infeksi jamur di vulvovagina sering berulang bila pengobatan tidak memadai (jangka waktunya), lebih-lebih bila terdapat faktor predisposisi. Selain itu, infeksi berulang sering berasal dari berbagai sumber misalnya kulit, kuku, jari tangan, saluran kemih, saluran cerna, dan pasangan seks. Faktor predisposisi antara lain penggunaan antibiotik atau kontrasepsi, kehamilan, diabetes melitus. Khusus untuk mengatasi fenomena pingpong, pasangan seks sebaiknya diobati bersamaan. Pemberian antijamur topikal di vulvovagina jarang menimbulkan efek samping sistemik, efek samping lokal yang mungkin terjadi berupa iritasi dan reaksi hipersensitif. Nistatin efektif untuk kandidiasis; bentuk krim efektif untuk infeksi di vulva atau di luarnya. Golongan imidazol sama efektifnya, tetapi masa pengobatannya lebih singkat antara 3-14 hari. Kepatuhan dapat lebih baik dengan sediaan untuk dosis tunggal. Tablet vagina dapat dikombinasi dengan krim untuk vulvitis atau infeksi luar lainnya. Sedangkan terapi oral untuk infeksi vagina dengan flukonazol atau itrakonazol juga efektif. Ketokonazol oral dapat menimbulkan hepatotoksisitas fatal.

KANDIDIASIS VULVOVAGINAL KAMBUHAN

Kambuhnya kandidiasis vulvovaginal biasanya dipengaruhi faktor seperti terapi antibakteri, kehamilan, diabetes mellitus dan penggunaan kontrasepsi oral. Sumber infeksi dapat juga menimbulkan kontaminasi baru dan sebaiknya diberi obat, termasuk pada kulit di jari tangan, kuku, umbilicus dan saluran gastrointestinal serta kandung kemih.

Pasangan seks dapat merupakan sumber infeksi, jika terjadi gejala sebaiknya diterapi dengan sediaan krim pada waktu yang sama. Pengobatan kandida dapat dilanjutkan sampai 6 bulan pada kandidiasis vulvovaginal kambuhan.

Infeksi trikomonas pada vagina biasanya berhubungan dengan infeksi saluran kemih, sehingga pengobatan topikal harus disertai dengan pengobatan sistemik dengan metronidazol atau tinidazol. Infeksi kuman Gram negatif sering terjadi setelah tindakan bedah dan trauma ginekologis. Metronidazol efektif untuk beberapa kuman Gram negatif, khususnya Bacteroides sp. Oleh karena itu dianjurkan diberikan dalam pencegahan pra bedah.

Infeksi virus, misalnya herpes simpleks yang sering menyebabkan tukak genital memerlukan antivirus sistemik, misalnya asiklovir. Informasi obat yang lengkap untuk antiinfeksi ini dapat dilihat pada bab 5. Pada bagian ini hanya dikemukan sediaannya.

Monografi: 

BUTOKONAZOL NITRAT

Indikasi: 

pengobatan lokal kandidiasis vulvovaginal.

Peringatan: 

tidak direkomendasikan penggunakan kondom atau kontrasepsi diafragma vagina selama 72 jam pengobatan dengan butokonazol nitrat; infeksi jamur vagina kambuhan; kehamilan (kategori C).

Efek Samping: 

rasa terbakar, gatal, sakit dan rasa bengkak pada vulvar/vagina, nyeri atau kram pada bagian pelvik atau abdomen, atau kombinasi dari dua atau lebih gejala di atas.

Dosis: 

kira-kira 100 mg butokonazol nitrat diberikan intravaginal.

DEQUALINIUM KLORIDA

Indikasi: 

infeksi bakteri dan jamur pada vagina (vaginosis bakterial; kandidiasis).

Peringatan: 

kehamilan (trimester pertama); menyusui.

Kontraindikasi: 

hipersensitif; ulserasi epitel dan portio vagina; anak perempuan yang belum mencapai kematangan seksual.

Efek Samping: 

jarang terjadi: pruritus, rasa terbakar atau kemerahan.

Dosis: 

1 tablet vagina sehari selama enam hari. Diberikan pada malam hari sebelum tidur. Posisi tubuh setelah pemberian sebaiknya berbaring dengan paha sedikit ditekuk.

EKONAZOL

Indikasi: 

kandidiasis.

Dosis: 

1 tablet vagina (150 mg) malam hari, 3 malam berturut-turut.

FLUKONAZOL

Indikasi: 

kandidiasis.

Dosis: 

kandidiasis vagina: 150 mg dosis tunggal (untuk kandidiasis sistemik lihat 5.3).

KLOTRIMAZOL

Indikasi: 

kandidiasis dan trikomoniasis.

Dosis: 

2 tablet vagina 100 mg 3 malam berturut-turut.

METRONIDAZOL

Indikasi: 

Uretritis dan vaginitis karena Trichomonas vaginalis, amoebiasis intestinal dan hepar, pencegahan infeksi anaerob pasca operasi, giardiasis karena Giardia lambliasis.

Peringatan: 

Reaksi seperti disulfiram, kram perut, mual, muntah, sakit kepala dan muka memerah bila diberikan bersama konsumsi alkohol; gangguan fungsi hati dan hepatic encephalopathy; kehamilan, menyusui (hindari penggunaan dosis besar). Pengobatan > 10 hari dianjurkan melakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Hentikan pengobatan bila muncul ataksia, vertigo, halusinasi, atau konfusi mental. Keamanan pada anak belum diketahui pasti, kecuali untuk amoebiasis; pasien penyakit susunan saraf pusat dan perifer, karena risiko agravasi neurologis. Disarankan tidak mengendarai dan mengoperasikan mesin karena menimbulkan kantuk, pusing, kebingungan, halusinasi, konvulsi atau gangguan penglihatan sementara.

Interaksi: 

lampiran 1 (metronidazol).

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, kehamilan trimester pertama.

Efek Samping: 

Jarang: anafilaksis. Sangat jarang: agranulositosis, neutropenia, trombositopenia, pansitopenia, gangguan psikotik termasuk kebingungan dan halusinasi, ensefalopati (contoh: kebingungan, demam, sakit kepala, halusinasi, paralisis, sensitif terhadap cahaya, gangguan penglihatan dan gerakan, leher kaku), subacute cerebellar syndrome (contoh: ataksia, disatria, gangguan fungsi berjalan, nystagmus, dan tremor) yang memerlukan penghentian obat, mengantuk, pusing, konvulsi, sakit kepala, gangguan penglihatan seperti diplopi dan miopi yang pada kebanyakan kasus bersifat sementara, ruam kulit, erupsi pustular, pruritis, muka memerah, mialgia, dan artralgia. Tidak diketahui frekuensinya: leukopenia, angioudema, urtikaria, demam, anoreksia, penurunan mood, neuropati sensor perifer, meningitis aseptik, neuropati optik atau neuritis, gangguan pengecapan, mukositis oral, lidah berselaput, mual, muntah, gangguan saluran cerna seperti nyeri epigastrum, diare, abnormalitas uji fungsi hati, hepatitis kolestatik, ikterus dan pankreatitis yang reversibel pada penghentian obat, eritema multiforme, urin berwarna gelap (akibat metabolit metronidazol).

Dosis: 

Oral: Amubiasis intestinal invasif, 800 mg tiap 8 jam selama 5 hari. Anak 1-3 tahun, 200 mg tiap 8 jam; 3-7 tahun, 200 mg tiap 6 jam; 7-10 tahun, 200-400 mg tiap 8 jam. Amubiasis ekstra intestinal (termasuk abses hepar) dan pembawa kista amuba asimtomatik, 400-800 mg tiap 8 jam selama 5-10 hari. Anak 1-3 tahun, 100-200 mg tiap 8 jam; 3-7 tahun, 100-200 mg tiap 6 jam; 7-10 tahun, 200-400 mg tiap 8 jam. Trikomoniasis urogenital, 200 mg tiap 8 jam selama 7 hari atau 400-500 mg tiap 12 jam selama 7 hari; atau 800 mg pagi hari dan 1,2 g malam hari selama 2 hari; atau 2 gram dosis tunggal. Anak 1-3 tahun, 50 mg tiap 8 jam selama 7 hari; 3-7 tahun, 100 mg tiap 12 jam; 7-10 tahun, 100 mg tiap 8 jam. Giardiasis, 2 gram/hari selama 3 hari atau 500 mg dua kali sehari selama 1-10 hari. ANAK 1-3 tahun, 500 mg/hari selama 3 hari; 3-7 tahun, 600-800 mg/hari; 7-10 tahun, 1 gram/hari. Infeksi gigi akut, 200 mg tiap 8 jam selama 3-7 hari.

Infeksi anaerob: (biasanya selama 7 hari).

Oral: dosis awal 800 mg, kemudian 400 mg tiap 8 jam atau 500 mg tiap 8 jam.

Rektal: 1 gram tiap 8 jam selama 3 hari, kemudian 1 gram tiap 12 jam. 

Infus intravena: 500 mg tiap 8 jam dengan kecepatan 5 ml/menit.

Anak, untuk semua cara pemberian, 7,5 mg/kg bb tiap 8 jam.

Profilaksis infeksi anaerob terutama setelah operasi:

Oral: 400 mg tiap 8 jam dimulai 24 jam sebelum operasi, dilanjutkan sesudah operasi secara intravena atau rektal sampai pemberian oral dapat dilakukan lagi. Anak, 7,5 mg/kg bb tiap 8 jam.

Rektal: 1 gram tiap 8 jam.  Anak, 125-250 mg tiap 8 jam.

Intravena: 500 mg beberapa saat sebelum operasi, kemudian tiap 8 jam sampai pemberian oral bisa dilakukan.

MIKONAZOL

Indikasi: 

kandidiasis.

Dosis: 

1 kali sehari selama 7 hari

NIMORAZOL

Indikasi: 

trikomoniasis.

Dosis: 

1 tablet 6 malam berturut-turut.

NISTATIN

Indikasi: 

kandidiasis vagina.

Dosis: 

1 tablet 3 malam berturut-turut.

Keterangan: 

Sediaan: lihat 5.3.

ORNIDAZOL

Indikasi: 

kandidiasis dan trikomoniasis; amubiasis.

Dosis: 

dosis tunggal 3 tablet pada sore hari atau 2 kali 1 ? tablet pagi dan sore setelah makan; Amubiasis: 4 tablet sehari selama 3-5 hari.

SEKNIDAZOL

Indikasi: 

trikomoniasis.

Dosis: 

dosis tunggal 2 g; pasangan seks diobati sekaligus.

TIOKONAZOL

Indikasi: 

infeksi jamur.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Kontraindikasi: 

kehamilan.

Efek Samping: 

lihat keterangan diatas; iritasi lokal, biasanya selama minggu pertama pengobatan, hentikan bila reaksi sensitivitas timbul.

Penggunaan: 

Sediaan salep dipakai dengan menggunakan aplikator pada malam hari sebagai dosis tunggal. Dapat diulang satu minggu kemudian, jika diperlukan.