7.1.2 Pelemas Miometrium

Obat golongan ini menunda kelahiran prematur dan digunakan dengan tujuan mengurangi risiko terhadap bayi tapi tidak ada bukti cukup bahwa dapat mengurangi angka kematian.

Agonis beta (ritodrin) dapat menimbulkan relaksasi miometrium dan digunakan pada beberapa kasus dalam usaha mencegah persalinan prematur. Tujuannya hanya menunda persalinan selama 48 jam sehingga cukup waktu untuk memberikan terapi kortikosteroid guna pematangan janin. Obat-obat ini diindikasikan dalam pencegahan persalinan prematur tanpa komplikasi dengan usia kehamilan 24-33 minggu. Tidak boleh digunakan terlalu lama karena risiko terhadap ibu meningkat setelah 48 jam penggunaan, dan tidak ada bukti kemanfaatan pada terapi lebih lanjut.

Monografi: 

ATOSIBAN

Indikasi: 

menunda kelahiran pre-term dengan: kontraksi uterus dengan durasi paling tidak 30 detik > 4 kali per 30 menit, dilatasi serviks 1–3 cm (0-3 untuk nullipara) dan effacement ≥ 50%; umur ≥ 18 tahun, usia kehamilan 24–33 minggu, detak jantung janin normal

Peringatan: 

Pada pasien dengan rupture prematur membran, pemberian atosiban hanya apabila pertimbangan manfaat melebihi risiko.

Kontraindikasi: 

usia kehamilan dibawah 24 minggu atau lebih dari 33 minggu; pecah ketuban pada usia kehamilan >30 minggu; perkembangan intrauterus lambat dan detak jantung fetus abnormal; kematian janin intrauterus, dugaan infeksi intrauterus, plasenta previa, kondisi lain pada ibu hamil ataupun janin, dimana kondisi kehamilan cukup berbahaya jika diteruskan; hipersensitivitas pada zat aktif dan zat tambahan.

Efek Samping: 

mual; sakit kepala; gangguan sistem saraf sentral dan perifer; pusing; muntah; muka memerah; takikardi; hipotensi; reaksi pada tempat penyuntikan; hiperglikemia.

Dosis: 

Diberikan secara intravena dalam 3 tahap pemberian yang dilakukan secara berurutan: Dosis awal bolus (6,75 mg) dilanjutkan dengan infus dosis tinggi (300 µg/min) selama 3 jam, kemudian diteruskan dengan dosis yang lebih rendah (infus 100 µg/min) selama 45 jam. Maksimum durasi pengobatan 48 jam. Dosis total yang diberikan selama pengobatan tidak boleh melebihi 330 mg.

Tabel berikut menunjukkan posologi pengobatan dengan injeksi bolus yang dilanjutkan infus.

Tahap

Dosis

Kecepatan injeksi/infus

Dosis atosiban

1

Bolus intravena 0,9 mL

Lebih dari 1 menit

6,75 mg

2

Infus intravena 3 jam

24 mL/jam

18 mg/jam

3

Infus intravena selanjutnya

8 mL/jam

6 mg/jam

RITODRIN HIDROKLORIDA

Indikasi: 

persalinan prematur tanpa komplikasi; lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

dugaan penyakit jantung (konsul ke ahli jantung), hipertensi, hipertiroidisme, hipokalemia (risiko khusus untuk penggunaan diuretik penglepas kalium), diabetes mellitus (monitor ketat kadar gula darah); preeklamsia ringan-sedang, monitor tekanan darah dan frekuensi nadi; monitor ketat volume cairan. Penting: udem paru berhubungan dengan hidrasi berlebih, segera hentikan infus bila timbul tanda udem paru, lalu berikan diuretik.

Interaksi: 

beta bloker melawan efek ritodrin (mungkin digunakan untuk mengurangi kemungkinan perdarahan paskabedah Caesar); obat yang melawan efek samping simpatomimetik atau memicu aritmia; lihat lampiran 1 (Simpatomimetik dan Simpatomimetik, beta2).

Kontraindikasi: 

penyakit jantung, eklamsia, preeklamsia berat, infeksi intrauterin, janin mati, perdarahan antepartum, plasenta previa, lilitan tali pusat, tidak untuk digunakan pada kehamilan trimester kedua-ketiga.

Efek Samping: 

mual, muntah, berkeringat, tremor, flushing, palpitasi, takikardia, hipokalemia, hipotensi (pasien sebaiknya berbaring miring ke kiri selama diinfus), meningkatkan kemungkinan perdarahan, udem paru, nyeri dada atau aritmia, pemberian lama: leukopenia dan agranulositosis.

Dosis: 

dosis awal 50 mcg/menit, infus dipercepat bertahap sampai 150-350 mcg/menit, dipertahankan sampai 12-48 jam setelah kontraksi hilang; atau 10 mg tiap 3-8 jam sampai 12-48 jam setelah kontraksi hilang; dosis oral diberikan 30 menit sebelum infus dihentikan dan diulang tiap 2 jam selama 24 jam, diikuti dengan 10-20 mg tiap 4-6 jam; dosis maksimal per hari 120 mg.