Bisfosfonat

Bisfosfonat diabsorbsi kristal hidroksiapatit dalam tulang, memperlambat kecepatan pertumbuhan maupun disolusi dan menurunkan kecepatan bone turnover/ pergantian tulang. Bisfosfonat berperan penting dalam pencegahan dan pengobatan osteoporosis yang diinduksi kortikosteroid. Asam alendronat atau natrium risedronat merupakan obat pilihan untuk keadaan ini, tetapi etidronat dinatrium dapat digunakan jika obat ini tidak cocok atau tidak dapat ditoleransi (lihat juga bagian 6.6) Bisfosfonat juga digunakan pada pengobatan penyakit Paget, hiperkalsemia karena keganasan (bagian 9.4.1.2) dan metastase tulang pada kanker payudara (bagian 8.3.4.1). Etidronat dinatrium dapat mengganggu mineralisasi tulang jika digunakan secara terus menerus atau pada dosis tinggi (seperti pada pengobatan Penyakit Paget). Osteonekrosis rahang. Osteonekrosis rahang telah dilaporkan pada penderita yang menerima bisfosfonat intravena dan jarang pada mereka yang menggunakan bisfosfonat oral. Kesehatan gigi dan mulut sebaiknya dijaga selama dan setelah pengobatan dengan bisfosfonat. Sebaiknya perawatan gigi sebaiknya dilakukan sebelum pengobatan bisfosfonat dimulai.

Monografi: 

ASAM IBANDRONAT

Indikasi: 

Osteoporosis pascamenopause pada wanita yang berisiko mengalami fraktur.

Peringatan: 

Monitor kadar serum kalsium, penggunaan harus ditunjang dengan suplemen kalsium dan vitamin D, hindari penyuntikan intra-arteri atau paravena karena dapat memicu kerusakan jaringan, pasien dengan penyakit lain atau yang sedang menggunakan obat lain yang berpotensi menimbulkan efek samping pada ginjal harus dievaluasi secara berkala selama masa pengobatan, tidak dianjurkan penggunaan pada pasien dengan serum kreatinin diatas 200 µmol/L (2,3 mg/dL) atau pasien dengan kadar klirens kreatinin dibawah 30 mL/menit, osteonekrosis rahang dapat terjadi pada pemberian bifosfonat oral, tindakan pemeriksaan gigi harus dipertimbangkan dahulu untuk pasien yang dalam masa terapi bifosfonat dengan faktor risiko (seperti kanker, kemoterapi, radioterapi, kortikosteroid, kebersihan mulut yang rendah), keamanan pada anak belum diketahui pasti.

Interaksi: 

Berpotensi rendah terjadi interaksi dengan obat lain. Lihat lampiran 1 (bifosfonat).

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, hipokalsemia.

Efek Samping: 

Umum: gastritis, diare, nyeri abdomen, dispepsia, mual, konstipasi, nyeri muskuloskeletal, artralgia, mialgia, Influenza-like illness, lelah, sakit kepala, ruam, hipokalsemia, hipofosfatemia, faringitis, reaksi esofageal, dan bila digunakan lebih lama akan menyebabkan nyeri punggung. Tidak umum: nyeri tulang, astenia, reaksi pada area injeksi, flebitis/tromboflebitis, muntah. Jarang: hipersensitivitas, angiodema, pembengkakan wajah/udem, urtikaria, anemia.

Dosis: 

Oral: 2,5 mg sekali sehari. Obat harus diminum 60 menit sebelum mengonsumsi makanan atau minuman pertama kali (selain air) atau mengonsumsi obat atau suplemen oral lainnya (termasuk kalsium). Tablet harus ditelan utuh dengan segelas penuh air putih (180 hingga 240 mL) sambil duduk atau berdiri dalam posisi tegak. Pasien tidak boleh berbaring selama 60 menit setelah meminum obat ini. Air putih adalah satu-satunya minuman yang boleh diminum dengan obat ini. Beberapa air mineral dapat mengandung kadar kalsium yang lebih tinggi sehingga tidak boleh digunakan. Obat tidak boleh dikunyah atau dihisap karena dapat menyebabkan ulserasi orofaringeal. Pengobatan osteoporosis pascamenopause, 150 mg satu kali sebulan.

Intravena: 3 mg intravena, dengan penyuntikan selama 15-30 detik, setiap tiga bulan. Jika ada dosis yang terlupa, segera berikan dengan tepat. Dilanjutkan terjadwal setiap 3 bulan dari tanggal penyuntikan terakhir kali.

ASAM ZOLEDRONAT

Indikasi: 

hiperkalsemia malignan.

Peringatan: 

kadar kreatinin, kalsium, fosfat dan magnesium dalam serum harus dimonitor setelah pengobatan dimulai. Pasien pasca pengobatan tiroid, pasien dengan risiko hipokalsemia seperti pada hipoparatiroidisme relatif. Tidak dianjurkan pada pasien dengan serum kreatinin < 400 µmol/l atau < 4.5 mg/dl. Pada beberapa pasien yang memerlukan pengulangan pemberian obat, serum kreatinin harus dievaluasi sebelum pemberian tiap dosis. Pasien dengan perburukan fungsi ginjal harus dipantau dengan baik dan perlu dipertimbangan manfaat pemberian obat dibanding kemungkinan risiko yang dapat terjadi. Jangan diberikan pada wanita hamil kecuali manfaat resiko lebih besar pada ibu dibandingkan terhadap bayi.

Interaksi: 

lihat lampiran 1

Kontraindikasi: 

pasien yang hipersensitif terhadap asam zoledronat, bifosfonat, atau zat tambahan dalam obat ini, kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

hipokalsemia, anemia, influenza like symptoms termasuk nyeri pada tulang, mialgia, artralgia, demam dan kaku, gangguan saluran cerna, sakit kepala, konjungtivitis, gagal ginjal (jarang gagal ginjal akut), gangguan saraf pengecapan, mulut kering, stomatitis, nyeri dada, hipertensi, dispnea, batuk, pusing, parastesia, gemetar, ansietas, gangguan tidur, pandangan kabur, peningkatan berat badan, pruritus, ruam berkeringat, keram otot, hematuria, proteinuria, reaksi hipersensitivitas (termasuk angioderma), asthenia, udem perifer, trombositopenia, leucopenia, hipomagnesemia, hipokalemia, reaksi di tempat penyuntikan; jarang bradikardi, bingung, hiperkalemia, hipernatremia, pansitopenia, osteoporosis rahang; sangat jarang uveitis dan episkleritis.

Dosis: 

dewasa dan lansia: dosis yang dianjurkan untuk HCM (albumin-corrected serum calcium ≥12.0 mg/dl atau 3.0 mmol/l) rekonstitusi 4 mg asam zoledronat dilarutkan dalam cairan infus (dilarutkan dalam 50 mL 0.9% NaCl atau 5% glukosa) diberikan secara infus intravena dosis tunggal selama 15 menit. Status hidrasi pasien harus dipantau terutama pada sebelum pemberian infus dan cairan infus yang diberikan disesuaikan dengan kondisi klinik pasien.
Penderita gagal ginjal tidak ada penyesuaian dosis atau waktu infus yang diperlukan pada pasien dengan gangguan ginjal ringan sampai sedang (kreatinin serum < 400µmol/l atau < 4.5 mg/dl).
Penderita insufisiensi hati tidak ada data klinik pada pengobatan pasien dengan penyakit hati yang parah, tidak ada rekomendasi khusus untuk pasien ini.

IBANDRONAT

Indikasi: 

kanker tulang metastase, menurunkan risiko komplikasi skeletal pada penyakit malignant pada tulang termasuk hiperkalsemia, nyeri, kebutuhan radioterapi untuk mengatasi nyeri akibat luka tulang (bone lesion) dan fraktur, dan menurunkan resiko fraktur.

Peringatan: 

Hipokalsemia dan gangguan metabolisme tulang dan mineral harus diobati terlebih dahulu sebelum terapi asam ibandronat dilakukan. Asupan kalsium dan vitamin D yang cukup sangat penting pada semua pasien. Pasien harus menerima asupan kalsium dan vitamin D yang cukup, jika asupan tersebut tidak terpenuhi dari makanan maka pasien harus diberi suplemen kalsium dan vitamin D.
Bifosfonat oral sering mengakibatkan disfagia, esofagitis, dan esofageal atau luka pada lambung (gastric ulcer). Oleh karena itu, pasien harus memperhatikan cara pemberian obat.
Dokter harus waspada terhadap tanda atau gejala reaksi esofageal yang mungkin terjadi selama terapi dan pasien diperintahkan untuk tidak melanjutkan terapi asam ibandronat. Bantuan medis harus segera dilakukan jika pasien mengalami gejala iritasi esofageal seperti disfagia, nyeri saat menelan, rasa sakit pada belakang sternum atau dada terbakar.
Perhatian harus diberikan saat pemberian oral Asam Ibandronat bersamaan dengan AINS karena AINS sering dikaitkan dengan iritasi gastrointestinal.
Osteonekrosis rahang pernah dilaporkan terjadi pada pasien kanker yang menerima pengobatan termasuk bifosfonat intravena. Banyak dari pasien tersebut juga menerima kemoterapi dan kortikosteroid. Osteonekrosis rahang juga dilaporkan terjadi pada pasien osteoporosis yang menerima bifosfonat oral.
Pemeriksaan gigi sebaiknya dilakukan sebelum pengobatan dengan bifosfonat pada pasien yang melakukan terapi lain dalam waktu yang bersamaan (kemoterapi, radioterapi, kortikosteroid).
Bagi pasien yang mengalami osteonekrosis rahang saat terapi bifosfonat, operasi gigi dapat memperparah kondisinya.
Uji klinik tidak menunjukkan bukti penurunan pada ginjal dengan terapi asam ibandronat jangka panjang. Namun, direkomendasikan untuk memonitor fungsi ginjal, kalsium, fosfat dan megnesium serum pada pasien yang diterapi asam ibandronat.
Hidrasi berlebihan harus dihindari pada pasien yang memiliki resiko gagal jantung.

Interaksi: 

Interaksi obat-makanan
Produk mengandung kalsium atau kation multivalen (seperti alumunium, magnesium, besi), termasuk susu dan makanan, dapat mempengaruhi absorbsi asam ibandronat. Oleh karena itu, produk tersebut harus diberikan dengan selang waktu minimal 60 menit setelah dosis oral asam ibandronat.
Bioavailabilitas berkurang sekitar 75% jika tablet asam ibandronat diberikan 2 jam setelah makan. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa tablet harus diberikan setelah puasa satu malam (setidaknya 6 jam) dan puasa harus dilanjutkan selama 60 menit setelah dosis diberikan.
Hati-hati penggunaan bersamaan bifosfonat dengan aminogliserida karena keduanya dapat menurunkan tingkat kalsium serum jika digunakan dalam jangka waktu yang lama dan kemungkinan dapat menyebabkan hipomagnesemia.

Interaksi obat-obat
Ranitidin intravena meningkatkan bioavailabilitas asam ibandronat sekita 20% (masih dalam rentang normal bioavailabilitas asam ibandronat), kemungkinan karena keasaman lambung yang berkurang. Namun, tidak diperlukan penyesuaian dosis jika asam ibandronat diberikan bersamaan dengan antagaonis H2 atau obat lain yang meningkatkan pH lambung.

Kontraindikasi: 

Hipersensitif terhadap asam ibandronat atau golongan bifosfonat lainnya; asam ibandronat tidak boleh diberikan pada anak-anak karena penelitian ilmiah yang masih terbatas; asam ibandronat tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan ibu menyusui karena belum ada data keamanan yang memadai.

Efek Samping: 

Umum terjadi (>1% dan < 10%): hipokalsemia, dispepsia, mual, nyeri abdomen, esofagitis, astenia. Tidak umum terjadi (> 0,1% dan < 1%): anemia, parestesia, disgesia (pengecapan yang tidak normal), perdarahan, ulkus duodenum, gastritis, disfagia, mulut kering, pruritus, azotemia (uremia), nyeri dada, gejala seperti influenza, mengantuk, nyeri, peningkatan hormon paratiroid dalam darah.

Dosis: 

Oral: 50 mg sekali sehari.
Tablet asam ibandronat harus diminum 60 menit sebelum makan dan minum (selain air putih), atau minum obat dan suplemen lain (termasuk kalsium).
Tablet asam ibandronat harus diberikan setelah puasa selama semalam (minimal 6 jam) dan 60 menit sebelum makan dan minum pada pagi hari atau sebelum mengkonsumsi obat atau suplemen lain (termasuk kalsium). Puasa dilanjutkan 30 menit setelah tablet diminum. Air putih dapat diminum bersama dengan pemberian tablet asam ibandronat. Pasien tidak boleh berbaring 60 menit setelah minum tablet asam ibandronat.

KLODRONAT DINATRIUM

Indikasi: 

hiperkalsemia malignant. Pengobatan osteolisis malignant. Mengurangi timbulnya metastase tulang pada kanker payudara primer.

Peringatan: 

selama pengobatan dengan klodronat jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh harus diperhatikan terutama pemberian melalui infus intravena dan pada penderita dengan hiperkalsemia atau gagal ginjal. Dosis pemberian secara intravena lebih tinggi dari yang dianjurkan dapat menyebabkan kerusakan ginjal terutama jika diberikan dosis tinggi secara infus. Kelebihan dosis: peningkatan serum kreatinin dan gagal ginjal telah dilaporkan setelah pemberian klodronat secara infus. Pengobatan kelebihan dosis harus simtomatik. Hidrasi ditingkatkan dan fungsi ginjal dan kalsium serum dimonitor.

Interaksi: 

dilaporkan kejadian gagal ginjal jika digunakan bersama dengan antiinflamasi non steroid (AINS) lebih sering diklofenak, hati-hati penggunaan bersama aminoglikosid karena dapat menyebabkan peningkatan resiko hipokalsemia, penggunaan bersama estramustin fosfat dengan klodronat dilaporkan meningkatkan kadar serum estramustin fosfat maksimal 80%, penggunaan bersama makanan atau obat yang mengandung kation divalent misalnya antasida atau preparat besi secara bermakna menurunkan bioavailabilitas klodronat.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, pemberian bersama dengan bifosfonat lain.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare dan reaksi pada kulit.

Dosis: 

efikasi dan keamanan pada anak belum diketahui. Tidak ada dosis khusus untuk lansia. Diberikan 2 kali sehari dosis terbagi, dosis yang separuh harus diminum pada hari yang sama. Klodronat dinatrium tidak boleh digerus atau dilarutkan sebelum digunakan.

Dosis sehari 1600 mg diberikan dalam dosis tunggal. Bila digunakan dosis sehari lebih tinggi, dosis melebihi 1600 mg dianjurkan diminum terpisah (sebagai dosis kedua). Dosis tunggal sehari dan dosis pertama diminum pagi sebelum makan bersama segelas air putih, pasien tidak boleh makan, minum atau menum obat lain satu jam setelah minum obat.
Jika dosis sehari 2 kali digunakan, dosis pertama diberikan seperti yang dianjurkan di atas. Dosis kedua diminum pada saat makan, lebih dari 2 jam setelah dan 1 jam sebelum makan, minum (selain air putih) atau minum obat lain.

Pengobatan hiperkalsemia malignant
Diberikan dosis awal tinggi 2400-3200 mg sehari dan tergantung respon individu, dapat dikurangi secara bertahap sampai 1600 mg sehari untuk dosis pemeliharaan normokalsemia.

Pengobatan osteolisis malignant
Dosis awal 1600 mg sehari, secara klinik jika diperlukan dosis dapat ditingkatkan tapi tidak boleh lebih dari 3200 mg sehari.

Mengurangi timbulnya metastase tulang pada kanker payudara primer,
Dosis yang dianjurkan 1600 mg sehari.
Penderita gagal ginjal : Hati-hati digunakan pada penderita gagal ginjal, dosis sehari tidak lebih dari 1600 mg jangan digunakan terus menerus.

NATRIUM ALENDRONAT

Indikasi: 

untuk pengobatan osteoporosis pada wanita pascamenopause. Osteoporosis dikonfirmasi dengan temuan masa tulang yang rendah atau dengan keberadaan atau riwayat fraktur osteoporotik.

Peringatan: 

seperti bifosfonat lainnya, alendronat dapat menyebabkan iritasi lokal pada mukosa gastrointestinal bagian atas. Kejadian sampingan pada esophagus dilaporkan terjadi pada penggunaan alendronat dan beberapa diantaranya merupakan kasus parah dan memerlukan perawat di rumah sakit, oleh karena itu dokter harus waspada terhadap reaksi esophagus ini dan apabila terjadi pengobatan harus dihentikan. Peringatan harus diberikan pada pasien dengan masalah gastrointestinal bagian atas sebelum menggunakan alendronat. Alendronat tidak dianjurkan untk diberikan pada pasien dengan klirens kreatinin < 35 mL/min (gangguan fungsi ginjal berat). Penyebab osteoporosis selain dari kekurangan estrogen, penuaan dan penggunaan glukokortikoid harus dipertimbangkan. Hipokalsemia harus diobati sebelum terapi alendronat dimulai. Gangguan metabolisme mineral seharusnya diobati dengan efektif, dikarenakan efek positif dari alendronat, khususnya pada pasien dengan penyakit Paget dan pada pasien yang kecepatan bone turnover meningkat dengan besar sebelum pengobatan dan pada pasien yang mendapatkan glukokortikoid serta pada pasien yang absorbsi kalsiumnya menurun. Alendronat seharusnya tidak diberikan pada wanita hamil dan menyusui.

Interaksi: 

pemberian bersamaan dengan suplemen kalsium, antasida, dan pengobatan oral lainnya dapat mempengaruhi absorbsi alendronat, oleh karena itu pasien harus menunggu sekurang-kurangnya setengah jam setelah minum alendronat sebelum minum obat oral lainnya. Penggunaan alendronat dengan HRT menyebabkan peningkatan masa tulang yang lebih besar dan penurunan bone turnover yang lebih besar. Studi klinis menunjukkan, penggunaan alendronat dosis lebih besar dari 10 mg per hari dengan produk yang mengandung aspirin dapat meningkatkan kejadian sampingan upper gastrointestinal, namun kejadian ini tidak terlihat pada penggunaan alendronat 35 mg atau 70 mg sekali seminggu.

Kontraindikasi: 

abnormalitas esophagus yang dapat memperlambat pengosongan esophagus seperti stricture atau achalasia; tidak mampu berdiri atau duduk untuk sekurang-kurangnya 30 menit; hipersensitivitas terhadap alendronate Na atau komponen obat lainnya.; hipokalsemia; pasien dengan peningkatan resiko aspirasi tidak diberikan alendronat dalam bentuk larutan buffer.

Efek Samping: 

kejadian gastrointestinal bagian atas (nyeri perut, dyspepsia, ulkus esophagus, disfagia dan abdominal distention); ruam dan eritema; nyeri muskuloskeletal, konstipasi, diare, dlatulensi dan sakit kepala; mual,muntah, keram otot. Efek samping yang dilaporkan pada penggunaan pasca pemasaran: reaksi hipersensitivitas (termasuk urticaria dan angioedema); mual dan muntah, esofagitis,erosi esophageal, ulkus esophagus, esophageal stricture atau perforasi, dan ulkus orofaringeal, ulkus duodenum dan gaster (jarang, beberapa kasus berat dan dengan komplikasi); rash; uveitis dan scleritis (jarang).

Dosis: 

dosis yang direkomendasikan adalah 70 mg sekali seminggu atau 10 mg sekali sehari. Obat diberikan harus diberikan sekurang-kurangnya setengah jam sebelum makan. Tidak diperlukan penentuan dosis untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal ringan hingga sedang dan untuk manula.

NATRIUM ALENDRONAT + KOLEKALSIFEROL

Indikasi: 

Pengobatan osteoporosis pasca menopause pada pasien dengan risiko kekurangan vitamin D, menurunkan risiko retak tulang panggul dan tulang belakang.

Peringatan: 

Anak, kehamilan, menyusui, permasalahan gastrointestinal bagian atas (disfagia, penyakit esofageal, gastritis, duodenitis, ulkus), riwayat mayor penyakit gastrointestinal (ulkus lambung), perdarahan aktif gastrointestinal, operasi pada gastrointestinal bagian atas selain piloroplasti, peningkatan risiko osteonekrosis rahang, riwayat kanker, kemoterapi, radioterapi, penggunaan kortikosteroid, penghambat angiogenesis, merokok, riwayat penyakit gigi, rendahnya kebersihan mulut, penyakit periodontal, tindakan invasif gigi pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, gangguan fungsi ginjal yang memiliki GFR kurang dari 35 mL/min, pasien dengan malabsorbsi.

Interaksi: 

Makanan, minuman (termasuk air mineral), suplemen kalsium, antasida, dan beberapa produk obat per-oral: mengganggu absorpsi alendronat. Antiinflamasi non steroid: meningkatkan risiko iritasi gastrointestinal. Olestra, minyak mineral, orlistat, dan sequestrants asam empedu (kolestiramin, kolestipol): mengurangi absorbsi vitamin D. Antikonvulsan, simetidin, golongan tiazid: meningkatkan katabolisme vitamin D.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, abnormalitas esofagus dan faktor lain yang menghambat pengosongan esofagus seperti penyempitan atau akalasia, ketidakmampuan untuk berdiri atau duduk tegak untuk sekurang-kurangnya 30 menit, hipokalemia.

Efek Samping: 

Sangat umum: nyeri muskuloskeletal yang terkadang berat. Umum: sakit kepala, pusing, vertigo, nyeri abdomen, dispepsia, konstipasi, diare, perut kembung, ulkus esofageal, disfagia, distensi abdomen, regurgitasi asam lambung, alopesia, pruritus, pembengkakan sendi, astenia, dan udem perifer. Tidak umum: dysgeusia, inflamasi mata (uveitis, skleritis, episkleritis), mual, muntah, gastritis, esofagitis, erosi esofageal, melena, ruam, eritema, gejala sementara seperti pada respon fase akut (mialgia, malaise dan demam) pada pengobatan awal. Jarang: reaksi hipersensitivitas (urtikaria dan angiodema), hipokalemia simptomatik, penyempitan esofageal, ulkus orofaringeal, perforasi, ulkus, dan pendarahan pada gastrointestinal bagian atas, ruam dengan fotosensitivitas, reaksi kulit yang berat (sindroma Stevens-Johnson dan nekrolisis epidermal toksik), osteonekrosis rahang, atypical subtrochanteric dan diaphyseal femoral fractures.

Dosis: 

Dosis yang direkomendasikan adalah satu tablet 70 mg + 70 mcg, sekali seminggu. Obat harus ditelan/tidak dikunyah setelah bangun pagi dengan satu gelas air putih (200 ml, bukan air mineral), sekurang-kurangnya setengah jam sebelum pertama kali makan. Pasien disarankan tidak berbaring sekurang-kurangnya 30 menit setelah meminum obat ini. 

Tidak diperlukan penyesuaian dosis untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal ringan hingga sedang dan untuk lansia.

Jika ada dosis terlupa, segera minum 1 tablet pada pagi hari berikutnya. Jangan mengonsumsi 2 tablet pada hari yang sama. Konsumsi untuk dosis berikutnya satu tablet sekali seminggu, sesuai jadwal awal yang ditentukan.

RISEDRONAT NATRIUM

Indikasi: 

osteoporosis, osteoporosis akibat glukokortikoid, penyakit tulang Paget’s disease.

Peringatan: 

abnormalitas esofageal dan faktor lain yang menunda transit atau pengosongan (misal: stricture atau achalasia lihat juga di bawah keterangan efek samping), kerusakan ginjal, kondisi hipokalsemia, disfungsi tulang dan metabolisme mineral (misal: defisiensi vitamin D dan abnormalitas paratiroid) perlu diperbaiki sebelum memulai terapi, riwayat ganguan esofageal, sebelum dimulai terapi diperlukan pemeriksaan gigi dengan tindakan pencegahan pada pasien dengan faktor risiko seperti kanker, sedang menjalani kemoterapi, radioterapi, kortikosteroid, tidak menjaga kebersihan mulut.

Interaksi: 

pemberian pada waktu yang berbeda dengan obat mengandung kation seperti kalsium, magnesium, besi, aluminium, antasida.

Kontraindikasi: 

gangguan ginjal berat (klirens kreatinin kurang dari 30 mL/min), kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

nyeri abdomen atas, diare, mual, konstipasi, dispepsia, muntah, nyeri abdomen, flatulens, gastritis, distensi abdomen, hiatus hernia, mulut kering, influenza, nasofaringitis, infeksi saluran kemih, bronkitis, gastroenteritis, infeksi saluran napas atas, sistitis, nyeri punggung, artralgia, osteoartritis, nyeri ekstremitas, spasme otot, nyeri muskuloskeletal, nyeri leher, astenia, nyeri dada, pireksia, sakit kepala, pusing, rasa ingin jatuh, hipertensi, batuk, depresi, hiperkolesterolemia.

Dosis: 

penyakit tulang Paget’s Disease, 30 mg sehari selama 2 bulan; dapat diulangi jika diperlukan, setelah sekurang-kurangnya 2 bulan. Terapi osteoporosis pascamenopause untuk mengurangi risiko fraktur vertebral dan pinggang, 5 mg per hari atau 35 mg sekali seminggu. Profilaksis osteoporosis (termasuk osteoporosis akibat kortikosteroid) pada wanita pascamenopause, 5 mg sehari. Anak. Tidak direkomendasikan.

Konseling. Tablet diminum utuh dengan segelas air pada keadaan perut kosong, paling sedikit 30 menit sebelum makanan/ minuman pertama pada hari itu atau jika tidak diminum pada pagi hari, hindari makanan/ minuman sekurang-kurangnya selama 2 jam sebelum atau sesudah risedronat (terutama hindari produk yang mengandung kalsium, seperti susu. Juga hindari suplemen yang mengandung zat besi dan mineral dan antasida). Berdiri atau duduk tegak selama
paling sedikit 30 menit dan jangan berbaring sampai setelah makan pagi. Jangan menelan tablet pada waktu akan tidur atau sebelum bangun dari posisi berbaring.