6.6 Gangguan Metabolisme Tulang

Lihat juga kalsium (bagian 9.4.1.1), fosfor (bagian 9.4.2), vitamin D (bagian 9.5.4) dan estrogen pada osteoporosis pascamenopouse (bagian 6.4.1.1).

Osteoporosis
Osteoporosis terjadi paling sering pada wanita pascamenopouse dan pada penggunaan kortikosteroid oral (glukokortikosteroid) jangka lama. Faktor risiko lain untuk terkena osteoporosis termasuk berat badan rendah, perokok, alkoholik, aktivitas fisik kurang, riwayat osteoporosis dalam keluarga dan menopause dini.

Mereka yang berisiko terkena osteoporosis sebaiknya menjaga kecukupan asupan kalsium dan vitamin D dan bila ada kekurangan sebaiknya diperbaiki dengan meningkatkan asupan kalsium atau menggunakan suplemen. Penderita lansia, terutama mereka yang tinggal di panti jompo berisiko kekurangan vitamin D dan kalsium dan dapat dibantu dengan suplementasi (bagian 9.4.1.1 dan bagian 9.5.4). Penyebab sekunder osteoporosis yang bersifat sementara, seperti hipertiroid, hiperparatiroid, osteomalasia atau hipogonadism pada pria atau wanita, sebaiknya diatasi penyakitnya terlebih dahulu sebelum pengobatan untuk osteoporosis dimulai.

Osteoporosis Pascamenopause.
Kelompok bifosfonat (asam alendronat, etidronat dinatrium dan risedronat, bagian 6.6.2) efektif untuk pencegahan osteoporosis pascamenopause. Terapi sulih hormon (HRT bagian 6.4.1.1) merupakan pilihan apabila terapi lain dikontraindikasikan, tidak dapat ditoleransi atau tidak memberi respon. Terapi sulih hormon tidak dianjurkan sebagai pengobatan lini pertama pada pencegahan osteoporosis jangka panjang pada wanita di atas usia 50 tahun. HRT memberikan manfaat paling besar untuk pencegahan osteoporosis pascamenopause jika dimulai lebih awal menopause dan dilanjutkan sampai 5 tahun, tapi pengeroposan tulang (kemungkinan dengan kecepatan dipercepat) dapat terjadi pada penghentian HRT. Kalsitonin (bagian 6.6.1) dapat dipertimbangkan untuk mereka yang mempunyai risiko tinggi terkena osteoporosis tetapi tidak cocok dengan bifosfonat. Wanita yang berasal dari Afro-Karibia tampaknya lebih peka terhadap osteoporosis dibanding wanita kulit putih dan wanita Asia. Osteoporosis pascamenopause dapat diatasi dengan bifosfonat (bagian 6.6.2). Bifosfonat (seperti alendronat, etidronat dan risedronat) menurunkan risiko fraktur tulang belakang. Alendronat dan risedronat juga menurunkan fraktur tulang non vertebra. Jika bifosfonat tidak cocok, kalsitriol (bagian 9.5.4), kalsitonin atau strontium ranelat (bagian 6.6.2) dapat dipertimbangkan. Teriparatid (bagian 6.6.1) telah digunakan untuk mengatasi osteoporosis pascamenopause.

Raloksifen (bagian 6.4.1.1) diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan fraktur tulang belakang pada wanita pascamenopause.

Pedoman penggunaan bifosfonat, modulator reseptor estrogen selektif dan hormon paratiroid untuk pencegahan sekunder kerapuhan osteoporotik pada wanita pasca menopause. Direkomendasikan bifosfonat sebagai pilihan untuk pencegahan sekunder fraktur osteoporotik pada wanita pascamenopause. Pada wanita yang tidak dapat menggunakan bifosfonat atau yang tetap mengalami kerapuhan meskipun telah diberi obat selama satu tahun dan kepadatan mineral tulang menurun di bawah nilai sebelum pengobatan, modulator reseptor estrogen selektif, raloksifen, merupakan alternatif. Hormon paratiroid teriparatid direkomen-asikan untuk wanita di atas 65 tahun yang tidak dapat menggunakan bifosfonat (atau yang gagal dengan bifosfonat untuk mencegah fraktur) dan mempunyai:

  • Kepadatan mineral tulang yang rendah;
  • atau kepadatan mineral tulang sangat rendah, mengalami lebih dari 2 fraktur dan mempunyai risiko lain pemicu fraktur (misalnya berat badan di bawah 19 kg/m2, menopause dini, keadaan tidak bergerak cukup lama, mempunyai riwayat fraktur di bawah usia 75 tahun).

Osteoporosis yang diinduksi kortikosteroid
Untuk menurunkan risiko osteoporosis, kortikosteroid oral sebaiknya diberikan dalam dosis serendah mungkin dengan lama pengobatan sependek mungkin. Risiko osteoporosis dapat terkait dengan dosis kumulatif kortikosteroid, bahkan pemberian dosis berselang masih dapat meningkatkan risiko. Kecepatan kehilangan kepadatan massa tulang paling tinggi terjadi pada 6-12 bulan pertama penggunaan kortikosteroid sehingga penting melakukan pencegahan awal terjadinya osteoporosis. Penggunaan jangka lama dosis tinggi kortikosteroid inhalasi juga berperan menyebabkan osteoporosis yang diinduksi oleh kortikosteroid (bagian 3.2) Penderita yang menggunakan (atau orang yang akan menggunakan) prednisolon setara dengan 7,5 mg atau lebih tiap hari selama 3 bulan atau lebih lama, sebaiknya dipantau dan bila perlu diberi pengobatan pencegahan; mereka yang berumur di atas 65 tahun mempunyai risiko lebih besar. Penderita yang menggunakan kortikosteroid oral yang mempunyai fraktur trauma ringan sebaiknya diberi pengobatan untuk osteoporosis. Pilihan pengobatan dan pencegahan osteoporosis yang diinduksi oleh kortikosteroid adalah sama:

  • bifosfonat seperti alendronat, etidronat atau risedronat;
  • kalsitriol;
  • hormon pengganti (HRT pada wanita bagian, 6.4.1, testosteron pada pria bagian 6.4.2).