Diabetes Insipidus

Vasopressin (hormon antidiuretik, ADH) digunakan pada pengobatan pituitary (kranial) diabetes insipidus dan juga analognya desmopresin. Untuk menghindari intoksikasi air, dosis disesuaikan agar dihasilkan efek ringan diuresis setiap 24 jam. Pada diabetes insipidus yang disebabkan trauma atau pembedahan pituitari, pengobatan mungkin hanya diberikan dalam jangka waktu tertentu. Desmopresin lebih poten dan mempunyai kerja lebih lama dari vasopressin, tetapi desmopresin tidak mempunyai efek vasokonstriksi. Diberikan oral atau intranasaluntuk pengobatan pemeliharaan, dan pemberian injeksi setelah pembedahan atau pada pasien yang tidak sadar. Desmopresin juga digunakan pada diagnosa diferensial diabetes insipidus. Diberikan 2 mcg secara intramuscular atau 20 mcg secara intranasal, pemulihan jumLah urin setelah kehilangan air memperkuat diagnosa insipidus diabetes cranial. Kegagalan respon timbul pada diabetes insipidus nefrogenik.
Diabetes nefrogenik dan diabetes insipidus pituitari parsial memperoleh manfaat dari efek antidiuretik paradoksikal tiazid (bagian 2.5.1) yaitu klortalidon 100 mg 2 kali sehari yang diturunkan menjadi dosis pemeliharaan 50 mg sehari. Klorpropamid (bagian 6.1.2.1) juga digunakan untuk diabetes insipidus pituitari parsial, dan diduga bekerja dengan meningkatkan sensitivitas tubulus ginjal terhadap vasopressin endogen. Diberikan sampai 350 mg sehari sebagai dosis dewasa dan pada anak 200 mg sehari. Harus hati-hati jangan sampai terjadi hipoglikemia. Karbamazepin (bagian 4.8.1) kadang-kadang digunakan (dalam dosis 200 mg sehari atau dua kali sehari) (tidak disarankan); mekanisme kerjanya diduga sama dengan klorpropamid. Penggunaan lain Desmopresin digunakan untuk menambah kadar faktor VIII pada hemofilia ringan sampai sedang dan pada penyakit von Willebrand’s. Selain itu juga digunakan untuk uji respon fibrinolitik. Untuk keterangan penggunaan desmopresin pada enuresis nokturnal, lihat bagian 7.4.2. Infus vasopressin digunakan untuk mengendalikan pendarahan variseal pada hipertensi portal, sebelum ditentukan pengobatan yang pasti dan dengan hasil yang bervariasi. Terlipresin, turunan vasopresin dengan penggunaan yang sama. Oksitosin, merupakan hormon pituitari posterior lain yang digunakan di bidang obstetrik/kandungan (bagian 7.1.1).

Monografi: 

DESMOPRESIN

Indikasi: 

diabetes insipidus sentral; enuresis nokturnal primer pada anak usia 5 tahun atau lebih; nokturia pada dewasa disebabkan poliuria nokturnal (produksi urin pada malam hari melebihi kapasitas kandung kemih).

Peringatan: 

Pada saat terapi enuresis nokturnal primer dan nokturia, konsumsi cairan agar dikurangi semaksimal mungkin pada 1 jam sebelum atau 8 jam sesudah pemberian obat agar tidak terjadi retensi cairan dan/atau hiponatremia (sakit kepala, mual/muntah, penambahan berat badan dan konvulsi); penggunaan pada lansia tidak dianjurkan karena potensi yang tinggi untuk terjadi hiponatremia. Peningkatan risiko hiponatremia terjadi juga pada pasien dengan hasil pemeriksaan urin-24 jam diatas 2,8-3 liter.

Interaksi: 

hati-hati penggunaan bersamaan dengan anti depresan trisiklik, SSRI, klorpromazin, karbamazepin, AINS– hindari hiponatremia– monitor kadar natrium serum. Pemberian bersamaan dengan anti depresan trisiklik, SSRI, klorpromazin, karbamazepin, AINS, loperamid (obat yang memperlambat gerakan pencernaan) dapat memperkuat efek desmopresin sehingga meningkatkan risiko akumulasi cairan yang abnormal. Dimetikon mengurangi absorpsi desmopresin; Makanan (27% lemak) yang dikonsumsi bersama atau 1,5 jam sebelum desmopresin, dapat mengurangi kecepatan dan jumlah absorpsi desmopresin sebanyak 40%.

Kontraindikasi: 

polidipsia psikogenik dan polidipsia karena kebiasaan (sehingga menyebabkan produksi urin lebih dari 40 ml/kg/24 jam; riwayat penyakit jantung atau kondisi lain yang memerlukan terapi diuretik; gangguan fungsi ginjal sedang hingga berat (bersihan kreatinin dibawah 50 ml/min); gangguan sekresi ADH; hiponatremia; hipersensitif.

Efek Samping: 

jika tidak dilakukan bersama dengan pengurangan cairan, dapat terjadi retensi cairan dan hiponatremia, dengan atau tanpa gejala awal seperti sakit kepala, mual, muntah, penurunan kadar natrium serum, penambahan berat badan, konvulsi (pada kasus yang parah). Terapi diabetes insipidus dan enuresis nokturnal primer: Umum terjadi (> 1/100): sakit kepala, nyeri abdomen, mual Terapi nokturia: Umum terjadi (> 1/100): hiponatremia, pusing, edema perifer, urinasi lebih sering, nyeri perut, mulut kering, penambahan berat badan.

Dosis: 

Oral :
Diabetes insipidus sentral, DEWASA dan ANAK-ANAK: dosis awal 0,1 mg 3 kali sehari; dosis disesuaikan tergantung respon klinik, pada rentang dosis 0,2–1,2 mg per hari. Dosis optimal, 0,1-0,2 mg 3 kali sehari. Jika terjadi retensi cairan/hiponatremia, terapi dihentikan dan dosis disesuaikan.
Enuresis nokturnal primer, dosis awal: 0,2 mg pada malam hari. Dapat ditingkatkan hingga 0,4 mg. Terapi dievaluasi setelah 3 bulan dengan cara dihentikan selam 1 minggu. Jika terjadi retensi cairan, terapi dihentikan.
Nokturia, dosis awal: 0,1 mg pada malam hari. Jika dosis tidak efektif setelah 1 minggu, dapat ditingkatkan hingga 0,2 mg dan kemudian 0,4 mg dengan selang waktu seminggu. Tidak direkomendasikan untuk digunakan pada lansia. Namun, jika tetap diperlukan, harus didahului dengan pemeriksaan kadar natrium sebelum terapi dan 3 hari setelah terapi dimulai. Jika terjadi retensi cairan dan/atau hiponatremia, terapi harus dihentikan.
Jika tidak terjadi efek yang diharapkan dalam 4 minggu, terapi dihentikan.

VASOPRESIN

Indikasi: 

diabetes insipidus kranial; perdarahan varises esofagus.

Peringatan: 

gagal jantung, asma bronkial, epilepsi, migren, kehamilan.

Kontraindikasi: 

penyakit vaskular.

Efek Samping: 

pucat, mual, cegukan, kejat perut, serangan angina, reaksi alergi.

Dosis: 

injeksi subkutan atau intramuskular 5-20 unit tiap 4 jam.