6.4.2 Hormon Laki-laki dan Antagonis

Androgen menyebabkan maskulinisasi, androgen dapat digunakan sebagai terapi sulih untuk laki-laki yang dikastrasi dari mereka yang hipogonadisme yang disebabkan kelainan pituitari atau kelainan testis. Pada pria normal, androgen menghambat sekresi gonadotropin pituitari dan menekan spermatogenesis. Androgen juga bekerja sebagai anabolik steroid (bagian 6.4.3) Androgen tidak bermanfaat dalam mengatasi impotensi dan gangguan spermatogenesis kecuali bila yang merupakan penyebab hipogonadisme. Oleh karena itu, androgen tidak boleh diberikan sebelum dipastikan adanya hipogonadisme. Pengobatan sebaiknya di bawah pengawasan dokter ahli.

Bila diberikan pada pasien hipopituarisme akan menyebabkan perkembangan seksual menjadi normal dan mengatasi impotensi tetapi kesuburan tidak diperbaiki. Untuk memperbaiki kesuburan, pengobatan diberikan bersama gonadotropin atau gonadotropin releasing hormon (bagian 6.5.2) yang akan menstimulasi spermatogenesis dan produksi androgen.

Gonadotropin korionik juga digunakan pada pria dengan pubertas tertunda untuk merangsang produksi testosteron endogen, tetapi manfaatnya kecil dibanding testosteron. Penggunaan androgen atau gonadotropin korionik pada anak laki-laki dengan pubertas tertunda sebaiknya dilakukan dengan hati- hati karena penyatuan epiphyses dipercepat sehingga tinggi badan menjadi lebih pendek. Sediaan intramuskular depot ester testosteron lebih disukai untuk terapi sulih. Dapat juga digunakan testosteron enantat, propionat atau andekanoat atau alternatif sediaan yang mengandung campuran ester testosteron dengan masa kerja yang panjang. Untuk menginduksi pubertas, injeksi testosteron dapat diberikan setiap bulan dan dosis ditingkatkan setiap 6-12 bulan tergantung respons. Injeksi testosteron ester tunggal mungkin perlu diberikan lebih sering. Testosteron enantat tidak disetujui digunakan pada anak. Efek terapi sulih yang memadai dapat diperoleh dengan 1 mL campuran ester testosteron 250 diberikan melalui injeksi intramuskular sekali sebulan, namun kadang diperlukan interval dosis lebih sering. Implan testosteron dapat digunakan untuk hipogonadisme dan diganti tiap 4-5 bulan. Wanita menopouse juga kadang-kadang diberi implan testosteron (dosis 50-100 mg tiap 4-8 bulan) sebagai tambahan pada terapi sulih hormon.

Testosteron undekonoat oral digunakan untuk induksi pubertas. Pendekatan alternatif yang memberikan efek peningkatan pertumbuhan daripada kematangan seksual, menggunakan oksandrolon oral.

Patch topikal gel testosteron juga ada tetapi pengalaman penggunaan pada anak di bawah 15 tahun masih terbatas. Testosteron topikal dioleskan pada penis untuk mengatasi mikrofalus. Sediaan gel yang mengandung alkohol dapat menyebabkan iritasi.

Monografi: 

FLUOKSIMESTERON

Indikasi: 

lihat keterangan di atas; kanker payudara lanjut.

Peringatan: 

gangguan fungsi jantung, ginjal, atau hati; lansia, PJK, hipertensi; epilepsi, migren, metastase skeletal.

Kontraindikasi: 

kanker payudara pada pria, hiperkalsemia, kehamilan, menyusui, nefrosis.

Efek Samping: 

mual, hirsutisme, retensi cairan, akne, ikterus, gangguan haid, virilisasi, ginekomastia.

Dosis: 

5-10 mg/hari.

MESTEROLON

Indikasi: 

lihat keterangan dosis.

Peringatan: 

lihat keterangan testosteron dan ester.

Kontraindikasi: 

lihat keterangan testosteron dan ester.

Efek Samping: 

lihat keterangan testosteron dan ester tetapi spermatogenesis tidak terganggu.

Dosis: 

Defisiensi androgen dan infertilitas pada pria yang dihubungan dengan hipogonadism, 25 mg 3-4 kali/hari selama beberapa bulan, dikurangi 50-75 mg/hari dalam dosis terbagi untuk pemeliharaan, penggunaan pada anak tidak dianjurkan.

TESTOSTERON UNDEKANOAT

Indikasi: 

lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

Gunakan dengan hati-hati pada anak laki-laki pra-puber untuk menghindari penutupan epipise premature atau perkembangan seksual prekoks, pematangan tulang skelet harus selalu dipantau. Hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi jantung, ginjal, atau hati; lansia, penyakit jantung koroner (PJK), hipertensi; epilepsi, migren, metastasis skeletal.

Kontraindikasi: 

kanker payudara pada pria, hiperkalsemia, kehamilan, menyusui, nefrosis.

Efek Samping: 

kanker prostat, sakit kepala, depresi, perdarahan saluran cerna, mual, ikterus obstruktif, perubahan libido, cemas, parestesia, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, hiperkalsemia, pertumbuhan tulang meningkat, efek androgenik seperti hirsutisme, seboroe, akne, perkembangan seksual dini.

Dosis: 

120-160 mg selama 2-3 minggu.