6.2.2 Antitiroid

Obat antitiroid digunakan pada pengobatan hipertiroidisme, yaitu untuk persiapan pengangkatan tiroid (thyroidectomy) atau untuk pengobatan jangka panjang. Karbimazol umum digunakan, propiltiourasil digunakan pada pasien yang sensitif terhadap karbimazol. Mekanisme kerja kedua obat tersebut terutama dengan mempengaruhi sintesis hormon-hormon tiroid.

Peringatan tentang neutropenia dan agranulositosis

Dokter harus ingat akan kemungkinan dan mengenali tanda-tanda terjadinya depresi sumsum tulang yang ditimbulkan oleh karbimazol dan obat harus segera dihentikan.

  1. Pasien sebaiknya melapor bila terjadi gejala-gejala radang terutama radang tenggorokan.
  2. Jumlah sel darah putih sebaiknya diperiksa jika ada tanda-tanda infeksi.
  3. Karbimazol sebaiknya segera dihentikan jika secara klinik atau hasil laboratorium menunjukkan adanya neutropenia.

Karbimazol diberikan pada dosis 15-40 mg/hari, kadang-kadang diperlukan dosis lebih besar. Dosis ini dilanjutkan sampai pasien mencapai keadaan eutiroid, biasanya setelah 4-8 minggu, kemudian secara berangsur-angsur dosis dikurangi menjadi dosis pemeliharaan 5-15 mg. Terapi diberikan selama 12-18 bulan.

Pada anak-anak dosis awal yang diberikan adalah 250 mcg/kgbb, 3 kali sehari, disesuaikan dengan respon. Pengobatan untuk anak-anak sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis.

Pemakaian karbimazol kadang dapat mengakibatkan rash dan pruritus, yang dapat diobati dengan pemberian antihistamin tanpa menghentikan terapi, sebagai alternatif dapat diganti dengan pemakaian propiltiourasil. Pasien diberitahu untuk segera melaporkan sakit tenggorokan karena meskipun jarang hal tersebut dapat terjadi akibat agranulositosis (lihat box peringatan).

Dosis propiltiourasil untuk dewasa adalah 200-400 mg/hari, dosis ini dipertahankan sampai pasien mencapai keadaan eutiroid, lalu dosis diturunkan secara berangsur-angsur sampai mencapai dosis pemeliharaan 50-150 mg/hari. Obat-obat antitiroid hanya perlu diberikan sekali sehari karena efeknya yang panjang pada kelenjar tiroid. Pengobatan yang berlebihan dapat cepat menyebabkan hipotiroidisme, keadaan ini sebaiknya dihindari terutama selama kehamilan karena dapat menyebabkan goitre pada janin. Kombinasi karbimazol 40-60 mg/hari dengan levotiroksin 50-150 µg/hari digunakan pada blocking replacement regimen, yang diberikan selama 18 bulan. Blocking replacement regimen tidak boleh diberikan selama kehamilan.

Iodium (Iodine) dapat digunakan bersama dengan antitiroid, diberikan 10-14 hari sebelum pengangkatan sebagian tiroid (partial thyroidectomi), tetapi tidak cukup bukti manfaat. Iodium sebaiknya tidak digunakan untuk pengobatan jangka panjang karena efek antitiroidnya cenderung menurun.

Larutan natrium iodida radioaktif makin banyak digunakan untuk pengobatan tirotoksikosis pada semua usia terutama bila ada masalah dengan terapi obat, ada masalah kepatuhan, atau pada pasien dengan penyakit jantung dan pasien yang kambuh setelah tiroidektomi.

Propanolol bermanfaat untuk mengurangi gejala tirotoksikosis dengan cepat, dapat diberikan bersama obat-obat antitiroid atau sebagai tambahan pada terapi dengan iodium radioaktif.

Beta bloker juga bermanfaat untuk pengobatan tirotoksikosis neonatus dan untuk aritmia supraventrikular yang disebabkan oleh hipertiroidisme. Propanolol juga pernah digunakan bersama iodium pada persiapan operasi pasien tirotoksikosis ringan, tetapi lebih baik menggunakan karbimazol untuk membuat pasien mencapai keadaan eutiroid. Beta bloker tidak mengganggu hasil pemeriksaan laboratorium fungsi tiroid. Nadalol juga pernah digunakan sebagai pengganti propanolol.

Thyrotoxic crisis (tiroid storm) memerlukan penanganan gawat darurat dengan pemberian intravena cairan propanolol (5mg) dan hidrokortison 100 mg setiap 6 jam, sebagai natrium suksinat), dan juga larutan iodium per oral dan karbimazol atau propiltiourasil yang mungkin pemberiannya perlu melalui nasogastric tube.

Kehamilan dan menyusui. Terapi dengan iodium-radioaktif dikontraindikasikan selama kehamilan. Propiltiourasil dan karbimazol dapat diberikan tetapi tidak boleh memberikan blocking0-replacement regiment. Propiltiourasil dan karbimazol dapat melewati sawar plasenta dan pada dosis tinggi dapat menyebabkan goiter pada janin dan hipotiroidisme. Dengan demikian dipakai dosis terkecil yang dapat digunakan untuk mengontrol hipertiroid (pada Grave’s disease kebutuhan obat cenderung menurun selama kehamilan). Meskipun jarang karbimazol jarang dikaitkan dengan kejadian aplasia cutis pada neonatus. Karbimazol dan propiltiourasil masuk dalam ASI tetapi hal ini tidak menghalangi pemberian ASI selama tumbuh kembang bayi dimonitor secara ketat dan digunakan dosis obat paling rendah yang efektif.

Hipertiroidisme pada neonatal diatasi dengan karbimazol atau propiltiourasil, biasanya selama 8-12 minggu. Pada keadaan dengan gejala yang parah, mungkin diperlukan Iodium untuk memblokade tiroid dan propanolol diperlukan untuk mengatasi gejala perifer.

Monografi: 

IODIDA DAN IODIN

Indikasi: 

tirotosikosis (sebelum operasi).

Peringatan: 

kehamilan, anak, tidak untuk pengobatan jangka panjang.

Kontraindikasi: 

reaksi-reaksi hipersensitif seperti coryza-like symptoms, sakit kepala, lakrimasi, konjungtivitis, nyeri pada kelenjar ludah, laringitis, bronkhitis, ruam kulit, insomnia, impoten, gondok pada bayi yang ibunya menggunakan iodida.

PROPILTIOURASIL

Indikasi: 

hipertiroidism.

Peringatan: 

Seperti pada karbimazol, gangguan hati (Lampiran 2), gangguan ginjal (Lampiran 3).

Efek Samping: 

seperti pada karbimazol, leukopenia, cutaneous vasculitis, trombositopenia, anemia aplastik, hipoprotrombinemia, hepatitis, enselopati, nekrosis hati, nefritis, gejala seperti lupus eritematosus.

Dosis: 

lihat catatan di atas.

KARBIMAZOL

Indikasi: 

hipertiroidism.

Peringatan: 

gangguan hati, kehamilan, menyusui (lihat catatan di atas).

Efek Samping: 

muntah, gangguan pencernaan ringan, sakit kepala, ruam kulit dan pruritus, nyeri sendi, miopati, alopesia, supresi sumsum tulang (pansitopenia dan agranulositosis), jaundice.

Dosis: 

(lihat pada catatan di atas) Konseling. Informasikan kepada pasien agar segera memberitahu dokter jika terjadi sakit tenggorokan, sariawan, demam, memar, berkembangnya penyakit non spesifik, malaise.

TIAMAZOL

Indikasi: 

pengobatan hipertiroidism, terutama pada pembengkakan tiroid yang sedikit atau besar (goiter) pada pasien usia muda. Persiapan untuk operasi segala macam hipertiroidisme. Persiapan pasien hipertiroidisme pada rencana pengobatan radioiodine untuk mencegah terjadinya resiko krisis tirorotoksik setelah terapi.

Peringatan: 

Pasien harus memberitahu dokter jika terjadi gejala agranulositosis, seperti demam. Pasien dengan kelaianan fungsi sumsum tulang harus dimonitor. Hati-hati adanya reaksi hepatik yang dapat terjadi seperti disfungsi hati (anoreksia, pruritis). Hati-hati pemakaian pada wanita hamil. Perlu dimonitor nilai TSH (Thyroid Stimulating Hormone) pasien. Hati-hati karena diduga obat ini dapat menyebabkan karsinogenesis, mutagenesis, dan kelainan fungsi kesuburan.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas; menyusui.

Efek Samping: 

reaksi alergi kulit (gatal, kemerahan, ruam), mual, muntah, nyeri epigastrik, artralgia, parestesia, kehilangan indera pengecap, rambut rontok, mialgia, sakit kepala, pruritis, mengantuk, neuritis, edema, vertigo, pigmentasi kulit, jaundice, sialadenopathy dan limfadenopati. Jarang terjadi demam, nyeri, arthritis, dan gangguan pada indera pengecap. Perubahan jumLah darah, granulositopenia, trombositopenia, anemia aplastik, hipoprotombinemia dan nepritis, agranulositosis, peradangan mukosa oral dan faring, pembentukan furunkules. Efek ini dapat terjadi seminggu hingga sebulan setelah pengobatan, tapi dapat hilang dengan sendirinya. Limpadenitis, pembengkakan akut kelenjar lidah, penurunan angka platelet darah dan konstituen darah lainnya, peradangan pembuluh darah dan saraf, gangguan sensitivitas, terjadi induksi lupus eritematosus (penyakit auto imun), dan sindrom autoimun insulin.

Dosis: 

Pengobatan hipertiroidism: Bloking produksi hormon tiroid dicapai dengan dosis obat 25-40 mg. Terapi utama (untuk mencapai aktivitas metabolisme normal kelenjar tiroid): Dosis maksimum 20-40 mg tergantung pada keparahan penyakit. Untuk kasus ringan, 10 mg 2 kali sehari. Untuk aksus berat, 20 mg 2 kali sehari. Setelah fungsi tiroid normal (biasanya antara 3-8 minggu) maka pada pengobatan jangka panjang dosis obat dikurangi menjadi 5-20 mg perhari; pada terapi tunggal dengan obat ini, dosis tergantung pada aktivitas metabolisme yang harus diperiksa secara individual pada tiap pasien. Perhatikan nilai TSH. Dosis pada kasus ini 2,5 dan 10 mg per hari. Dosis pada anak-anak: dosis tergantung pada parahnya penyakit 0,3-0,5 mg/kg bb per hari. Dosis pemeliharaan, 0,2-0,3 mg/kg bb perhari, dibutuhkan pengobatan tambahan dengan hormon tiroid. Dosis wanita hamil: 2,5-10 mg perhari, pengobatan tanpa penambahan hormon tiroid. Dosis pasien dengan kerusakan hati: dosis diberikan serendah mungkin agar efek terapi tetap tercapai.