6.1.2.3 Antidiabetik Lain

Akarbosa, merupakan penghambat alpha-glukosidase intestinal, yang memperlambat absorbsi karbohidrat dan sukrosa. Akarbosa mempunyai efek kecil tapi bermakna dalam menurunkan glukosa darah dan dapat digunakan tunggal atau sebagai penunjang terapi jika metformin atau sulfonilurea tidak memadai. Hiperglikemia postprandial pada diabetes tipe 1 (tergantung insulin) dapat dikurangi dengan akarbosa, tetapi sekarang jarang digunakan. Terjadinya flatulensi menghalangi penggunaan akarbosa walaupun efek samping ini cenderung menurun dengan waktu. Nateglinid dan repaglinid menstimulasi pelepasan insulin. Kedua obat ini mempunyai mula kerja cepat dan kerja singkat, dan diminum dekat sebelum tiap kali makan. Repaglinid diberikan sebagai monoterapi pada pasien yang tidak kelebihan berat badan atau pada pasien yang kontraindikasi atau tidak tahan dengan metformin, atau dapat diberikan kombinasi dengan metformin. Nateglinid hanya disetujui digunakan bersama metformin.

Tiazolidindion dan pioglitazon, menurunkan resistensi insulin perifer, menyebabkan penurunan kadar glukosa darah. Obat ini juga digunakan tunggal atau kombinasi dengan metformin atau dengan sulfonilurea (jika metformin tidak sesuai), kombinasi tiazolindindion dan metformin lebih baik dari kombinasi tiazolidindion dan sulfonilurea terutama pada pasien dengan berat badan berlebih. Respon yang tidak memadai terhadap kombinasi metformin dan sulfonilurea menunjukkan kegagalan pelepasan insulin, pemberian pioglitazon tidak begitu penting pada keadaan ini dan pengobatan dengan insulin tidak boleh ditunda. Kontrol glukosa darah dapat memburuk sementara jika tiazolindindion diberikan sebagai pengganti obat antidiabetik oral yang sebelumnya digunakan dalam bentuk kombinasi dengan antidiabetik lain. Keuntungan penggunaan jangka panjang tiazolidindion belum diketahui.

Pedoman pemberian pioglitazon untuk diabetes mellitus tipe 2
Tiazolindindion (pioglitazon) sebagai pengobatan lini ke-2 dengan metformin atau sulfonilurea tidak dianjurkan (lihat juga keterangan di atas) kecuali untuk:
  • Pasien yang tidak dapat mentoleransi metformin dan sulfonilurea pada terapi kombinasi, atau pasien yang kontraindikasi dengan metformin atau sulfonilurea. Dalam hal ini tiazolidindion sebaiknya menggantikan obat yang dikontraindikasikan tersebut dalam bentuk kombinasi.
Monografi: 

AKARBOSA

Indikasi: 

diabetes mellitus yang tidak dapat diatur hanya dengan diet atau diet dengan obat antidiabetik oral.

Peringatan: 

pemantauan fungsi hati; dapat meningkatkan efek hipoglikemia insulin dan sulfonilurea (episode hipoglikemia dapat diobati dengan glukosa oral tapi tidak dengan sukrosa).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (akarbosa).

Kontraindikasi: 

wanita hamil (Lampiran 4), wanita menyusui (Lampiran 5), anak, inflammatory bowel disease (seperti ulserativa kolitis, Crohn's disease), obstruksi usus halus sebagian (atau predisposisi), gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal (Lampiran 3), hernia, riwayat bedah perut.

Efek Samping: 

flatulensi, tinja lunak, diare (mungkin perlu pengurangan dosis atau penghentian), perut kembung dan nyeri, mual (jarang), reaksi pada kulit dan fungsi hati yang tidak normal. Ada laporan ileus, udema, ikterus, dan hepatitis.

Dosis: 

dosis perlu disesuaikan oleh dokter secara individu karena efikasi dan tolerabilitas bervariasi. Dosis rekomendasi adalah: awal 3x1 tablet 50mg/hari, dilanjutkan dengan 3x1/2 tablet 100 mg/hari. Dilanjutkan dengan 3x2 tablet 50 mg atau 3x1-2 tablet 100 mg. Peningkatan dosis dapat dilakukan setelah 4-8 minggu, bila pasien menunjukkan respon tidak adekuat. Tak perlu penyesuaian dosis pada usia lanjut (>65 tahun).Tidak dianjurkan untuk anak dan remaja di bawah 18 tahun. Konseling: Tablet dikunyah bersama satu suapan pertama makanan atau ditelan utuh dengan sedikit air segera sebelum makan. Untuk mengantisipasi kemungkinan efek hipoglikemia, pasien yang mendapat insulin atau suatu sulfonilurea atau akarbosa harus selalu membawa glukosa (bukan sukrosa karena akarbosa mempengaruhi absorpsi sukrosa).

Keterangan: 

Akarbosa bekerja menghambat alpha-glukosidase sehingga memperlambat dan menghambat penyerapan karbohidrat.

DAPAGLIFLOZIN

Indikasi: 

Terapi kombinasi pada diabetes melitus tipe 2 yang tidak teratasi dengan diet dan olahraga.

Peringatan: 

Diabetes melitus tipe 1 atau terapi diabetik ketoasidosis, kerusakan hati, gagal ginjal sedang hingga berat (CrCl <60 mL/min atau eGFR <60 mL/min/1,73 m2), pasien dengan risiko deplesi volume, hipotensi dan/atau ketidakseimbangan elektrolit: dapagliflozin meningkatkan diuresis yang berkaitan dengan penurunan tekanan darah. Terapi pielonefritis atau urosepsis: penghentian penggunaan sementara, lansia ≥75 tahun, meningkatkan hematokrit dan menghasilkan positif pada tes glukosa urin, kehamilan dan menyusui, anak <18 tahun.

Interaksi: 

Diuretik (tiazid dan loop diuretic/furosemid): meningkatkan efek diuretik, risiko dehidrasi dan hipotensi. Sulfonilurea: hipoglikemia. Rifampisin: menurunkan kadar dapagliflozin dalam darah. Asam mefenamat: meningkatkan kadar dapagliflozin dalam darah. Simvastatin: meningkatkan kadar simvastatin dalam darah. 

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Sangat umum: hipoglikemia. Umum: vulvovaginitis, balanitis dan infeksi terkait genital, infeksi saluran kemih, pusing, nyeri punggung, disuria, poliuria, peningkatan hematokrit, penurunan klirens kreatinin ginjal, dislipidemia. Tidak umum: infeksi jamur, deplesi volume, haus, konstipasi, mulut kering, nokturia, kerusakan ginjal, pruritus vulvovaginal, pruritus genital, peningkatan kreatinin darah, peningkatan urea darah, peningkatan berat badan.

Dosis: 

Terapi kombinasi. 10 mg sekali sehari dengan metformin, tiazolidindion, dan sulfonilurea. Bila bersama sulfonilurea, dosis sulfonilurea diturunkan untuk mengurangi risiko hipoglikemia.

EKSENATID

Indikasi: 

terapi tambahan selain diet dan olahraga pada pasien diabetes mellitus tipe 2 yang tidak dapat dikendalikan dengan metformin dan/atau sulfonilurea. Digunakan dengan metformin dan/atau sulfonilurea.

Peringatan: 

penyakit gastrointestinal berat, berpotensi terjadi pankreatitis akut, dapat menyebabkan penurunan berat badan lebih dari 1,5 kg per minggu, kombinasi dengan sulfonilurea dapat menyebabkan hipoglikemi, gagal ginjal berat, lansia.

Interaksi: 

eksenatid memperlambat pengosongan lambung sehingga dapat mengurangi absorpsi obat lainnya dalam bentuk oral, konsumsi obat oral 1 jam sebelum atau 4 jam sesudah penggunaan eksenatid. Penggunaan bersama warfarin berpotensi meningkatkan INR.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, ketoasidosis diabetik, diabetes mellitus tipe 1, diabetes mellitus tipe 2 yang menerima pengobatan dengan insulin, kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

hipoglikemi, mual, muntah, diare, nafsu makan berkurang, sakit kepala, pusing, dispepsia, nyeri abdomen, refluks gastroesofageal, distensi abdomen, hiperhidrosis, gelisah, astenia, penurunan berat badan, dan imunogenisitas (pasien dapat menghasilkan antibodi anti-eksenatid).

Dosis: 

dewasa, 18 tahun ke atas, dosis awal: injeksi subkutan 5 mcg dua kali sehari selama satu bulan. Dosis dapat ditingkatkan hingga maksimal 10 mcg dua kali sehari. Dosis di atas 20 mcg tidak disarankan. Diberikan satu jam sebelum makan.
Tidak boleh diberikan setelah makan. Jika ada dosis terlewat, lanjutkan sesuai jadwal dosis selanjutnya.

LINAGLIPTIN

Indikasi: 

terapi tambahan selain diet dan olahraga pada pasien dewasa dengan diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat dikendalikan dengan metformin dan/atau sulfonilurea. Digunakan dengan metformin dan/atau sulfonilurea.

Peringatan: 

tidak dapat digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 1 atau untuk pengobatan ketoasidosis diabetik, hipoglikemi, hentikan penggunaan jika muncul gejala pankreatitis akut (nyeri abdomen parah dan persisten), tidak direkomendasikan untuk anak di bawah 18 tahun.

Interaksi: 

penggunaan bersama dengan rifampisin dapat menurunkan konsentrasi plasma linagliptin, linagliptin meningkatkan AUC plasma simvastatin sebesar 34%.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

sangat umum: hipoglikemi pada pemberian bersama dengan metformin dan sulfonilurea; tidak umum: nasofaringitis, hipersensitivitas, dan batuk pada pemberian bersama dengan metformin.

Dosis: 

5 mg satu kali sehari.

LINAGLIPTIN+METFORMIN

Indikasi: 

sebagai tambahan pada diet dan latihan untuk memperbaiki kontrol glikemi pada pasien dewasa diabetes mellitus tipe 2 yang tidak cukup terkontrol dengan metformin atau linagliptin saja, atau pasien yang telah diobati dengan kombinasi dari masing-masing sediaan tunggal linagliptin dan metformin.

Peringatan: 

anak usia dibawah 18 tahun, asidosis laktat, fungsi ginjal dimonitor terutama pada lansia karena penurunan fungsi ginjal, penggunaan bersamaan dengan media kontras teriodinasi dapat meningkatkan risiko gagal ginjal, penghentian penggunaan obat  selama dua hari sebelum dan setelah menjalani operasi dengan anestesi umum, spinal atau epidural, pankreatitis, kehamilan, menyusui, kejadianhipoglikemi tidak berbeda dengan kelompok plasebo namun dapat terjadi pada kondisi penurunan asupan makanan.

Interaksi: 

rifampisin menurunkan kadar linagliptin, kationik (seperti: simetidin) yang dieliminasi oleh sekresi tubular ginjal berpotensi memiliki interaksi dengan metformin, media kontras teriodinasi, peningkatan risiko asidosis laktat pada pengguna alkohol.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, diabetes tipe 1, ketoasidosis diabetik, pra-koma diabetik, gagal ginjal atau disfungsi ginjal sedang hingga berat (kreatinin klirens <60 mL / menit),  kondisi akut berpotensi mempengaruhi fungsi  ginjal (seperti dehidrasi, infeksi berat, syok, pemberian secara intravaskular media kontras teriodinasi), penyakit akut atau kronis yang dapat menyebabkan hipoksia jaringan (seperti: gagal jantung atau gagal napas, infark miokard, syok), insufisiensi hati, intoksikasi alkohol akut, pecandu alkohol.

Efek Samping: 

tidak umum: nasofaringitis, hipersensitivitas,  batuk, penurunan nafsu makan, diare, mual, muntah, pruritus; tidak diketahui: pankreatitis.

Dosis: 

2,5/500 mg, 2,5/ 850 mg atau 2,5/1000 mg dua kali sehari, dosis harian maksimum adalah 5/2000 mg (5 mg linagliptin dan 2000 mg metformin).

LIRAGLUTID

Indikasi: 

Terapi diabetes melitus tipe 2 yang tidak cukup terkontrol dengan diet dan olahraga.

Peringatan: 

Diabetes melitus tipe 1 atau pengobatan diabetes ketoasidosis, liraglutid bukan pengganti insulin, pankreatitis akut, penyakit tiroid (meningkatkan kalsitonin darah, gondok, neoplasma tiroid), hipoglikemia, dehidrasi, gagal jantung kelas III-IV, inflammatory bowel disease (IBD), gangguan fungsi ginjal berat termasuk pasien dengan gagal ginjal tahap akhir, anak.

Interaksi: 

Atorvastatin: menurunkan Cmax hingga 38% dan menunda Tmax dari 1 hari menjadi 3 hari. Griseofulvin: meningkatkan Cmax hingga 37%. Digoksin: mengurangi AUC digoksin hingga 16% dan menurunkan Cmax hingga 31%. Lisinopril: mengurangi AUC dari lisinopril hingga 15% dan menurunkan Cmax hingga 27% serta menunda Tmax dari 6 hari menjadi 8 hari. Kontrasepsi oral: menunda Tmax menjadi 1,5 hari.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, pemberian intravena atau intramuskular.

Efek Samping: 

Sangat umum: mual. Umum: infeksi saluran pernapasan atas, bronkitis, hipoglikemia, anoreksia, penurunan nafsu makan, sakit kepala, pusing, takikardia, muntah, nyeri perut atas, konstipasi, gastritis, perut kembung, distensi abdomen, refluks gastroesofagus, rasa tidak nyaman pada perut, sakit gigi, ruam, reaksi pada tempat penyuntikan. Tidak umum: dehidrasi, urtikaria, gatal, gangguan fungsi ginjal, gagal ginjal akut, malaise. Jarang: reaksi anafilaksis, obstruksi intestinal. Sangat jarang: pankreatitis (termasuk pankreatitis nekrotisasi).

Dosis: 

Dosis awal 0,6 mg  sekali sehari. Setelah minimal satu minggu, dosis ditingkatkan menjadi 1,2 - 1,8 mg tergantung respon. Dosis perhari lebih dari 1,8 mg tidak direkomendasikan.

Dapat ditambahkan pada terapi metformin, kombinasi metformin dan tiazolidindion tanpa merubah dosis metformin dan tiazolidindion. Dapat ditambahkan pada terapi sulfonilurea, atau kombinasi metformin dan sulfonilurea. Pengurangan dosis sulfonilurea untuk mengurangi risiko hipoglikemia.

Gangguan fungsi ginjal:  tidak diperlukan  penyesuaian dosis.

NATEGLINID

Indikasi: 

diabetes mellitus tipe 2 dikombinasikan dengan metformin (bagian 6.1.2.2) jika metformin tunggal tidak cukup.

Peringatan: 

pemberian insulin pada diabetes melitus yang disertai penyakit lain (seperti infark miokardia, koma infeksi dan trauma) dan selama pembedahan (hentikan nateglinid pada pembedahan pagi hari dan diberikan kembali setelah makan dan minum normal), lanjut usia, pasien lemah dan tidak berdaya, gangguan fungsi hati sedang (hindari jika berat- Lampiran 2).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (antidiabetik).

Kontraindikasi: 

ketoasidosis, kehamilan (Lampiran 4) dan menyusui (Lampiran 5).

Efek Samping: 

hipoglikemia, reaksi hipersensitif termasuk pruritus, kemerahan dan urtikaria.

Dosis: 

Awal, 60 mg tiga kali sehari diberikan 30 menit sebelum makan, disesuaikan dengan respon, dosis maksimal 180 mg tiga kali sehari, anak dan remaja di bawah 18 tahun tidak dianjurkan.

PIOGLITAZON

Indikasi: 

terapi tambahan pada diet dan olahraga pada diabetes melitus tipe 2 (dual kombinasi dengan sulfonilurea atau metformin, dan triple kombinasi dengan metformin dan sulfonilurea).

Peringatan: 

retensi cairan, gagal jantung, peningkatan berat badan, udem, pantau fungsi hati, hentikan jika terjadi ikterus, pantau nilai hemoglobin dan hematokrit, hipoglikemia, fraktur pada penggunaan jangka panjang, wanita hamil dan menyusui.

Interaksi: 

hipoglikemia dapat terjadi dengan pemberian bersamaan sulfonilurea, penghambat CYP2C8 (seperti gemfibrozil) dapat meningkatkan kadar pioglitazon dalam darah, dan penginduksi CYP2C8 (seperti rifampisin) dapat menurunkan kadar pioglitazon dalam darah.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, gagal jantung atau memiliki riwayat gagal jantung, kerusakan hati, ketoasidosis diabetik, kanker kandung kemih atau riwayat kanker kandung kemih, penggunaan bersama insulin.

Efek Samping: 

MONOTERAPI umum: gangguan penglihatan, ISPA, peningkatan berat badan, peningkatan kreatinin kinase (kreatinin fosfokinase), hipoastesia. Tidak umum: sinusitis, insomnia. KOMBINASI DENGAN METFORMIN: anemia, gangguan penglihatan, flatulen, peningkatan berat badan, artralgia, sakit kepala, hematuria, disfungsi ereksi. KOMBINASI DENGAN SULFONILUREA umum: flatulen, peningkatan berat badan, pusing. Tidak umum: vertigo, gangguan penglihatan, kelelahan, peningkatan laktat dehidrogenase, peningkatan nafsu makan, hipoglikemia, sakit kepala, glikosuria, proteinuria, berkeringat. KOMBINASI DENGAN METFORMIN DAN SULFONILUREA sangat umum: hipoglikemia. Umum: peningkatan berat badan, peningkatan kreatinin fosfokinase darah, artralgia.

Dosis: 

DEWASA, dosis awal 15 mg atau 30 mg satu kali sehari, dosis dapat ditingkatkan hingga 45 mg satu kali sehari.

REPAGLINID

Indikasi: 

diabetes mellitus tipe 2 (tunggal atau dikombinasikan dengan metformin jika metformin tunggal tidak tepat).

Peringatan: 

pemberian insulin selama penyakit intercurrent (seperti infark miokardia, koma infeksi dan trauma) dan selama pembedahan (abaikan nateglinide pada pembedahan pagi hari dan berikan sewaktu makan dan minum normal), pasien lemah dan tidak berdaya, gangguan fungsi ginjal.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (antidiabetes).

Kontraindikasi: 

ketoasidosis, gangguan fungsi hati berat, kehamilan (Lampiran 4), menyusui (Lampiran 5).

Efek Samping: 

nyeri perut, diare, konstipasi, mual, muntah, hipoglikemia (jarang terjadi), reaksi hipersensitifitas termasuk pruritus, kemerahan, vaskulitis, urtikaria dan gangguan penglihatan.

Dosis: 

Awal, 500 mcg, diberikan 30 menit sebelum makan (1 mg jika mendapat obat hipoglikemik oral lain) disesuaikan dengan respons pada interval 1-2 minggu, sampai 4 mg diberikan dosis tunggal, dosis maksimal 16 mg sehari, anak, remaja dibawah 18 tahun dan lanjut usia diatas 75 tahun tidak dianjurkan.

SITAGLIPTIN

Indikasi: 

sebagai monoterapi, terapi tambahan pada diet dan olahraga pada pasien NIDDM (tipe 2), dalam kombinasi dengan metformin atau agonis PPAR-gamma (misal: tiazolidindion) dimana monoterapi yang disertai dengan diet dan olahraga tidak menghasilkan kontrol glikemik yang adekuat, dalam kombinasi dengan metformin dan sulfonilurea dimana monoterapi yang disertai dengan diet dan olahraga tidak menghasilkan kontrol glikemik yang adekuat.

Peringatan: 

tidak boleh digunakan pada diabetes mellitus tipe 1 atau diabetes ketoasidosis, penggunaan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal memerlukan penyesuaian dosis.

Interaksi: 

penggunaan bersamaan dengan digoksin dapat menyebabkan peningkatan kadar digoksin dalam darah, monitor efek digoksin, pada penggunaan bersamaan dengan insulin dilaporkan hipoglikemi berat.

Kontraindikasi: 

ketoasidosis, gangguan fungsi ginjal (hindari, jika GFR kurang dari 50 mL/menti/1,73 m2), kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

infeksi saluran nafas atas, sakit kepala, nasofaringitis, telah dilaporkan reaksi hipersensitivitas termasuk anafilaksis, angioedema, ruam, urtikaria, cutaneous vasculitis, exfoliative skin termasuk sindrom Stevens-Johnson, peningkatan enzim hepatik, pankreatitis akut termasuk pankreatitis necrotizing dan hemoragik yang fatal dan tidak fatal, konstipasi, muntah, sakit kepala, perburukan fungsi ginjal termasuk gagal ginjal akut (kadang memerlukan dialisis).

Dosis: 

dewasa diatas 18 tahun, 100 mg sekali sehari, sebagai monoterapi atau kombinasi.

SITAGLIPTIN + METFORMIN

Indikasi: 

terapi tambahan untuk diet dan olah raga pada diabetes mellitus tipe 2 yang tidak teratasi dengan metformin tunggal atau sitagliptin tunggal atau pada pasien yang telah diobati dengan kombinasi dari sitagliptin tunggal dan metformin tunggal.

Peringatan: 

asidosis laktat, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, penurunan kadar serum vitamin B12, alkohol mempengaruhi efek metformin pada metabolisme laktat, proses pembedahan harus dihentikan saat menggunakan obat ini, hipoglikemia, penggunaan bahan iodinasi pada studi kontras intravaskular dapat meningkatkan fungsi ginjal secara akut dan berhubungan dengan asidosis laktat, hati-hati bila terjadi kolaps kardiovaskular, gagal jantung kongestif akut, infark miokard akut dan kondisi lain yang dikarakterisasi oleh hipoksia, kehilangan kontrol glikemik sementara dapat terjadi jika pasien mengalami stress seperti demam, trauma, infeksi atau pembedahan, reaksi hipersensitivitas serius, seperti anafilaksis, angioedema, dan kondisi kulit eksfoliatif seperti sindroma Stevens-Johnson, lanjut usia.

Interaksi: 

Obat-obat kationik (misal amilorid, digoksin, morfin, prokainamid, kuinidin, kuinin, ranitidin, triamterene, trimetoprim, atau vankomisin) yang dieliminasi oleh sekresi tubular ginjal berpotensi memiliki interaksi dengan metformin, kadar digoksin meningkat dengan pemberian bersama sitagliptin, Furosemid meningkatkan kadar plasma metformin, nifedipin meningkatkan absorpsi metformin, metformin memberikan efek minimal pada nifedipin, pemberian dengan tiazid dan diuretik lain, kortikosteroid, fenotiazin, produk tiroid, estrogen, kontrasepsi oral, fenitoin, asam nikotinat, simpatomimetik, obat penghambat saluran kalsium dan isoniazid dapat menyebabkan hiperglikemia dan hilangnya kontrol glikemik.

Kontraindikasi: 

diabetes mellitus tipe 1, diabetes ketoasidosis, penyakit ginjal atau disfungsi ginjal (kadar kreatinin serum ≥1,5 mg/dL (pria), ≥ 1,4 mg/dL (wanita) atau kreatinin klirens abnormal karena kondisi seperti kolaps kardiovaskular (syok), infark miokard akut dan septikemia, asidosis metabolik akut atau kronik, termasuk ketoasidosis diabetes, dengan atau tanpa koma, hipersensitivitas seperti anafilaksis atau angioedema, kombinasi obat ini tidak dapat diberikan pada pasien yang menjalani pemeriksaan radiologis yang melibatkan pemberian bahan radio kontras iodin secara intravascular, pasien yang minum monoterapi sitagliptin dengan dosis yang disesuaikan untuk insufisiensi ginjal tidak boleh berpindah ke kombinasi obat ini.

Efek Samping: 

nasofaringitis, hipoglikemia, mual, muntah, flatulens, rasa tidak nyaman pada lambung, indigestion, astenia, sakit kepala, terdapat laporan pasca pemasaran terjadi reaksi hipersensitivitas termasuk anafilaksis, angioedema, kemerahan, urtikaria dan kondisi exfoliative skin seperti sindroma Stevens-Johnson, infeksi saluran pernafasan atas dan peningkatan enzim hepatik.

Dosis: 

100 mg sitagliptin dan 2000 mg metformin per hari, 2 kali sehari bersama makanan, dengan peningkatan dosis bertahap untuk mengurangi efek samping gastrointestinal karena metformin, pasien yang tidak cukup terkontrol dengan monoterapi metformin: dosis awal harus setara dengan 100 mg dosis harian total sitagliptin (50 mg 2 kali sehari) dan dosis metformin yang telah diminum, pasien yang tidak cukup terkontrol dengan monoterapi sitagliptin: dosis awal 50 mg sitagliptin/500 mg metformin HCl 2 kali sehari, pasien dapat dititrasi hingga 50 mg sitagliptin/1000 mg metformin HCl 2 kali sehari, pasien yang minum monoterapi sitagliptin dengan dosis yang disesuaikan untuk insufisiensi ginjal tidak boleh berpindah ke kombinasi obat ini (lihat kontraindikasi), pasien yang berpindah dari pengobatan sitagliptin yang diberikan bersamaan dengan metformin: dosis awal obat ini sesuai dengan dosis sitagliptin dan metformin yang telah diminum.

SAKSAGLIPTIN

Indikasi: 

diabetes mellitus tipe 2 pada pasien dewasa, sebagai terapi kombinasi dengan metformin, atau sulfonilurea, atau tiazolidindion. Kombinasi dilakukan apabila penggunaan obat tunggal disertai dengan diet dan olah raga tidak cukup mengontrol glikemik.

Peringatan: 

gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hati, lansia, gangguan pada kulit, gagal jantung, pasien immunocompromised, pasien dengan galactose intolerance, Lapp lactas deficiency dan glucose-galactose malabsorp-tion. Saksagliptin tidak dapat digunakan pada pasien diabetes mellitus tipe 1 atau untuk pengobatan ketoasidosis diabetik. Khasiat dan keamanan penggunaan pada anak, remaja, kehamilan dan menyusui, serta pengaruh terhadap kesuburan belum diketahui pasti. Diperlukan penurunan dosis sulfonilurea bila digunakan bersama saksagliptin untuk mengurangi resiko hipoglikemik.

Interaksi: 

penggunaan bersama dengan penghambat CYP 3A4/5 sedang (diltiazem) dan kuat (ketokonazol) meningkatkan bioavaila-bilitas saksagliptin serta menurunkan metabolit aktifnya; penggunaan bersama dengan penginduksi CYP 3A4/5 kuat (rifampisin) menurunkan bioavailabilitas saksagliptin; penggunaan bersama dengan penginduksi CYP 3A4/5 selain rifampisin (misalnya karbama-zepin, deksametason, fenobarbital dan fenitoin). Belum tersedia data dalam penurunan kadar plasma saksagliptin, meningkatkan kadar metabolit, pantau glikemik, kombinasi dengan insulin. Penggunaan bersama dengan sulfonilurea diperlukan penyesuaian dosis.

Kontraindikasi: 

hipersensitif.

Efek Samping: 

sangat sering: hipoglikemi (pada terapi kombinasi dengan sulfonilurea); sering: ruam, infeksi saluran pernapasan atas, infeksi saluran kemih, gastroenteritis, sinusitis, sakit kepala, muntah, pusing, kelelahan, nasofaringitis (pada terapi kombinasi dengan metformin), udem perifer (pada terapi kombinasi dengan tiazolidindion).

Dosis: 

5 mg sekali sehari sebagai terapi kombinasi dengan metformin, tiazolidindion atau sulfonilurea.

SAKSAGLIPTIN+METFORMIN

Indikasi: 

sebagai terapi tambahan selain diet dan olahraga untuk mengontrol glikemik pada pasien dewasa dengan diabetes melitus tipe 2 yang tidak bisa dikontrol dengan dosis tunggal maksimal metformin yang dapat ditoleransi atau untuk pasien yang pernah diberikan kombinasi saksagliptin dan metformin dalam sediaan tunggal masing-masing.

Peringatan: 

pankreatitis, fungsi ginjal dimonitor terutama pada lansia karena penurunan fungsi ginjal, penggunaan obat dihentikan 48 jam sebelum dan setelah operasi, gangguan pada kulit, perubahan kondisi klinis pasien diabetes tipe 2 yang sebelumnya terkontrol, lansia, khasiat keamanan pada pasien immunocompromised belum diketahui pasti.

Interaksi: 

penggunaan bersama dengan penghambat CYP3A4/5 (seperti diltiazem, ketokonazol dan lain-lain) dapat meningkatkan efek saksagliptin, penggunaan bersama dengan penginduksi CYP3A4/5 (seperti karbamazepin, deksametason dan lain-lain) dapat menurunkan efek saksagliptin, hindari konsumsi alkohol dan obat mengandung alkohol, obat yang bersifat kationik (misal, simetidin) berinteraksi dengan metformin dan menyebabkan peningkatan bioavailabilitas metformin, pemberian media kontras teriodinasi secara intravaskular pada uji radiologi dapat menimbulkan gagal ginjal dan berakibat akumulasi metformin sehingga meningkatkan risiko asidosis laktat, penggunaan bersama anti hiperglikemik lainnya diperlukan penyesuaian dosis.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas, diabetes tipe 1, ketoasidosis diabetik, pre-koma diabetik, gangguan fungsi ginjal sedang hingga berat (klirens kreatinin <60 ml/min), kondisi akut yang mempengaruhi fungsi ginjal (seperti dehidrasi, infeksi berat, syok), kondisi akut atau kronis yang menyebabkan hipoksia jaringan (seperti gagal jantung, gagal napas, infark miokard, syok), gangguan fungsi hati, intoksikasi alkohol akut, pecandu alkohol, menyusui.

Efek Samping: 

umum: infeksi saluran napas atas, infeksi saluran kemih, gastroenteritis, sinusitis, nasofaringitis, sakit kepala, muntah, mual, ruam, gastritis; tidak umum: pankreatitis, reaksi hipersensitivitas, dermatitis, pruritus, urtikaria, artralgia, mialgia, disfungsi ereksi; jarang: reaksi anafilaksis termasuk syok anafilaktik, angioedema.

Dosis: 

5 mg/500 mg kombinasi saksagliptin dan metformin, satu kali sehari bersama makanan, dengan peningkatan dosis bertahap, tablet ditelan utuh tidak boleh dibelah atau dikunyah.

VILDAGLIPTIN

Indikasi: 

Tambahan terhadap diet dan latihan fisik untuk meningkatkan kontrol gula darah pada diabetes melitus tipe 2 baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi dengan metformin, sulfonilurea, atau golongan tiazolidindion bila diet, latihan fisik dan terapi tunggal tidak cukup memadai.

Peringatan: 

Bukan merupakan pengganti insulin pada pasien yang memerlukan insulin.

Kontraindikasi: 

Diabetes melitus tipe 1, ketoasidosis diabetik, hipersensitif, gangguan fungsi ginjal sedang atau berat, gangguan fungsi hati, kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

Pusing, nasofaringitis, hipertensi, tremor, sakit kepala, astenia, peningkatan berat badan, edema perifer, konstipasi, mual, diare.

Dosis: 

Monoterapi: 50 mg sekali sehari pada pagi hari, atau 100 mg per hari dalam dua dosis terbagi, 50 mg pada pagi dan malam hari.
Terapi kombinasi: dengan metformin, golongan sulfonilurea, tiazolidindion dapat diberikan jika diperlukan efek kontrol glikemik yang lebih kuat pada dosis harian vildagliptin maksimum 100 mg per hari, dengan pemberian sama dengan dosis monoterapi. Vildagliptin dapat diberikan dengan atau tanpa makanan.
Tidak dianjurkan penggunaan pada anak-anak.