6.1 Diabetes

Diabetes Mellitus (DM) timbul karena defisiensi sintesis dan sekresi insulin atau resisten terhadap kerja insulin. Diagnosis DM ditegakkan dengan mengukur kadar glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan (kadang-kadang dengan uji toleransi glukosa). Berdasarkan klasifikasinya diabetes dibedakan atas diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 1, yang bergantung pada insulin (IDDM), timbul karena defisiensi insulin akibat pengrusakan autoimun sel beta pankreas. Penderita diabetes melitus tipe 1 membutuhkan pemberian insulin.

Diabetes tipe 2, yang tidak bergantung pada insulin (NIDDM), timbul karena penurunan sekresi insulin atau resistensi periferal terhadap kerja insulin. Walaupun ada penderita yang dapat mengatur kadar gula hanya dengan diet, tapi banyak juga yang membutuhkan obat antidiabetik oral atau insulin (atau keduanya) untuk mengendalikan kadar gula darah. Untuk penderita dengan berat badan berlebih, diabetes tipe 2 dapat dicegah dengan menurunkan berat badan dan meningkatkan aktifitas fisik.

Pengobatan semua tipe diabetes ditujukan untuk mengurangi gejala dan risiko komplikasi jangka panjang (lihat di bawah), oleh karena itu diabetes perlu dikendalikan secara ketat.

Diabetes merupakan faktor risiko penyebab penyakit kardiovaskular (bagian 2.10). Faktor risiko lain penyebab penyakit kardiovaskular misalnya merokok (bagian 4.10), hipertensi (bagian 2.3), obesitas (bagian 4.5) dan hiperlipidemia (bagian 2.10) sebaiknya tetap diperhatikan.

 

Pencegahan komplikasi diabetes. Pengawasan optimal kadar gula darah baik pada diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2 selamanya adalah tujuan pengobatan diabetes, karena akan mengurangi risiko komplikasi mikrovaskular termasuk retinopati, berkembangnya proteinuria pada nefropati dan mengurangi neuropati perifer. Tetapi, perburukan sementara dapat terjadi pada retinopati diabetes pada saat glukosa darah mencapai nilai normal.

Kadar glycated atau glycosylated haemoglobin (HbA1) atau fraksi spesifik (HbA1c) merupakan indikator yang baik terhadap keberhasilan jangka panjang kontrol kadar gula darah. Kadar HbA1c ideal antara 6,5% dan 7,5% tetapi kondisi ini tidak selalu dapat dicapai. Pada penggunaan insulin risiko meningkat untuk terjadi hipoglikemi berat. Menjaga tekanan darah pada penderita hipertensi dengan diabetes tipe 2 menurunkan mortalitas dan kerusakan penglihatan (karena mengurangi risiko makulopati dan fotokoagulasi retina). (lihat juga bagian 2.3).