5.5.8 Antipneumonia Pneumokistis

Pneumonia yang disebabkan oleh Pneumocystis jiroveci (Pneumocystis carinii) terjadi pada pasien immunocompromised. Hal ini merupakan penyebab pneumonia yang umum terjadi pada pasien AIDS. Pneumonia pneumokistis sebaiknya ditangani oleh dokter yang berpengalaman. Penilaian analisa gas darah digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit.

Kotrimoksazol dosis tinggi merupakan pilihan terapi untuk pneumonia pneumokistis ringan sampai sedang. Untuk kasus yang berat, kotrimoksazol dosis tinggi yang diberikan secara oral atau infus intravena merupakan pilihan terapi.

Terapi pendukung. Pada kasus pneumonia pneumokistis karena adanya infeksi HIV, prednisolon 50-80 mg diberikan per oral selama 5 hari (sebagai alternatif, dapat diberikan hidrokortison injeksi) Kemudian dosis diturunkan hingga terapi selesai selama 21 hari. Sebaiknya, kortikosteroid dimulai bersamaan dengan terapi antipneumokistis dan tidak boleh dimulai lebih dari 24-72 jam setelahnya. Terapi kortikosteroid sebaiknya dihentikan sebelum terapi antipneumokistis selesai.

Profilaksis. Profilaksis terhadap pneumonia pneumokistis sebaiknya diberikan kepada semua pasien yang mempunyai riwayat infeksi dan juga pada pasien immunocompromised yang berat. Profilaksis sebaiknya dilakukan hingga imunitasnya membaik. Profilaksis jangan dihentikan bila pasien mengalami kandidiasis oral, kehilangan berat badan atau menerima terapi sitotoksik atau terapi imunosupresan jangka panjang. Kotrimoksazol oral merupakan obat pilihan untuk profilaksis pneumonia pneumokistis, yang diberikan dengan dosis 960 mg perhari atau 960 mg selang sehari (3 kali seminggu); dosis dapat dikurangi menjadi kotrimoksasol 480 mg per hari agar dapat lebih ditoleransi. Sebagai alternatif, dapson (bagian 5.2.2) 100 mg per hari dapat digunakan pada pasien yang tidak dapat mentoleransi kotrimoksasol.