5.5.2 Antiamuba

Metronidazol merupakan antimikroba dengan aktivitas yang sangat baik terhadap bakteri anaerob dan protozoa. Indikasinya meliputi trichomonal vaginitis, bakterial vaginosis (infeksi Gardnerella vaginalis) dan infeksi Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia. Obat ini juga digunakan untuk pembedahan dan sepsis ginekologi dengan aktivitas utama terhadap bakteri anaerob kolon, terutama Bacteroides fragilis. Metronidazol juga efektif terhadap kolitis akibat antibiotik (pseudomembran kolitis). Bila rute oral tidak memungkinkan, metronidazol melalui rute rektal merupakan alternatif dari rute intravena dan merupakan cara pemberian obat yang cukup efektif. Metronidazol intravena digunakan untuk terapi kasus tetanus. Diazepam dan immunoglobulin tetanus juga digunakan.

Metronidazol topikal mengurangi bau yang dihasilkan oleh bakteri anaerob pada kasus tumor jamur; juga digunakan dalam penatalaksanaan rosacea.

Tinidazol mempunyai efektivitas yang sama dengan metronidazol, tapi dengan lama kerja lebih panjang.

Metronidazol merupakan obat pilihan untuk disentri amuba invasif akut, karena obat ini efektif terhadap bentuk vegetatif Entamoeba histolytica. Diberikan dalam dosis dewasa sebesar 800 mg tiga kali sehari selama 5 hari. Metronidazol dan tinidazol juga efektif terhadap amuba yang sudah bermigrasi ke hati. Pengobatan dengan metronidazol (tinidazol) biasanya diikuti dengan pemberian diloksanid furoat selama 10 hari. Metronidazol efektif untuk abses amuba pada hati pada dosis 400 mg 3 kali sehari selama 5-10 hari. Tinidazol merupakan alternatif untuk metronidazol. Bila perlu pengobatan dapat diulangi setelah 2 minggu. Bila dikhawatirkan akan terjadi ruptur abses atau bila setelah 72 jam pengobatan belum terlihat perbaikan, maka dianjurkan untuk melakukan aspirasi abses. Aspirasi membantu penetrasi metronidazol dan dapat mempercepat penyembuhan. Kadang-kadang aspirasi perlu diulangi.

Bila metronidazol dan tinidazol tidak efektif, dapat digunakan dihidroemetin. Tapi efek samping obat ini cukup besar. Diloksanid furoat tidak efektif untuk amubiasis hati, tapi pengobatan selama 10 hari perlu diberikan setelah metronidazol/tinidazol untuk me-musnahkan amuba yang ada dalam usus.

Infeksi Rongga Mulut. Metronidazol meru-pakan alternatif dari penisilin untuk terapi infeksi rongga mulut bila pasien alergi terhadap penisilin atau infeksi disebabkan oleh bakteri anaerob yang menghasilkan beta-laktamase. Obat ini merupakan obat pilihan pertama pada terapi acute necrotizing ulcerative gingivitis (Vincent’s infection) dan perikoronitis. Alternatif yang sesuai untuk pola penyakit tersebut adalah amoksisilin dan eritromisin. Untuk penggunaan ini, metronidazol diberikan dalam dosis 200 mg, 3 kali sehari selama 3 hari. Namun, terapi dapat dilakukan lebih lama pada kasus perikoronitis. Tinidazol digunakan untuk terapi acute ulcerative gingivitis.

Monografi: 

METRONIDAZOL

Indikasi: 

Uretritis dan vaginitis karena Trichomonas vaginalis, amoebiasis intestinal dan hepar, pencegahan infeksi anaerob pasca operasi, giardiasis karena Giardia lambliasis.

Peringatan: 

Reaksi seperti disulfiram, kram perut, mual, muntah, sakit kepala dan muka memerah bila diberikan bersama konsumsi alkohol; gangguan fungsi hati dan hepatic encephalopathy; kehamilan, menyusui (hindari penggunaan dosis besar). Pengobatan > 10 hari dianjurkan melakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Hentikan pengobatan bila muncul ataksia, vertigo, halusinasi, atau konfusi mental. Keamanan pada anak belum diketahui pasti, kecuali untuk amoebiasis; pasien penyakit susunan saraf pusat dan perifer, karena risiko agravasi neurologis. Disarankan tidak mengendarai dan mengoperasikan mesin karena menimbulkan kantuk, pusing, kebingungan, halusinasi, konvulsi atau gangguan penglihatan sementara.

Interaksi: 

lampiran 1 (metronidazol).

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas, kehamilan trimester pertama.

Efek Samping: 

Jarang: anafilaksis. Sangat jarang: agranulositosis, neutropenia, trombositopenia, pansitopenia, gangguan psikotik termasuk kebingungan dan halusinasi, ensefalopati (contoh: kebingungan, demam, sakit kepala, halusinasi, paralisis, sensitif terhadap cahaya, gangguan penglihatan dan gerakan, leher kaku), subacute cerebellar syndrome (contoh: ataksia, disatria, gangguan fungsi berjalan, nystagmus, dan tremor) yang memerlukan penghentian obat, mengantuk, pusing, konvulsi, sakit kepala, gangguan penglihatan seperti diplopi dan miopi yang pada kebanyakan kasus bersifat sementara, ruam kulit, erupsi pustular, pruritis, muka memerah, mialgia, dan artralgia. Tidak diketahui frekuensinya: leukopenia, angioudema, urtikaria, demam, anoreksia, penurunan mood, neuropati sensor perifer, meningitis aseptik, neuropati optik atau neuritis, gangguan pengecapan, mukositis oral, lidah berselaput, mual, muntah, gangguan saluran cerna seperti nyeri epigastrum, diare, abnormalitas uji fungsi hati, hepatitis kolestatik, ikterus dan pankreatitis yang reversibel pada penghentian obat, eritema multiforme, urin berwarna gelap (akibat metabolit metronidazol).

Dosis: 

Oral: Amubiasis intestinal invasif, 800 mg tiap 8 jam selama 5 hari. Anak 1-3 tahun, 200 mg tiap 8 jam; 3-7 tahun, 200 mg tiap 6 jam; 7-10 tahun, 200-400 mg tiap 8 jam. Amubiasis ekstra intestinal (termasuk abses hepar) dan pembawa kista amuba asimtomatik, 400-800 mg tiap 8 jam selama 5-10 hari. Anak 1-3 tahun, 100-200 mg tiap 8 jam; 3-7 tahun, 100-200 mg tiap 6 jam; 7-10 tahun, 200-400 mg tiap 8 jam. Trikomoniasis urogenital, 200 mg tiap 8 jam selama 7 hari atau 400-500 mg tiap 12 jam selama 7 hari; atau 800 mg pagi hari dan 1,2 g malam hari selama 2 hari; atau 2 gram dosis tunggal. Anak 1-3 tahun, 50 mg tiap 8 jam selama 7 hari; 3-7 tahun, 100 mg tiap 12 jam; 7-10 tahun, 100 mg tiap 8 jam. Giardiasis, 2 gram/hari selama 3 hari atau 500 mg dua kali sehari selama 1-10 hari. ANAK 1-3 tahun, 500 mg/hari selama 3 hari; 3-7 tahun, 600-800 mg/hari; 7-10 tahun, 1 gram/hari. Infeksi gigi akut, 200 mg tiap 8 jam selama 3-7 hari.

Infeksi anaerob: (biasanya selama 7 hari).

Oral: dosis awal 800 mg, kemudian 400 mg tiap 8 jam atau 500 mg tiap 8 jam.

Rektal: 1 gram tiap 8 jam selama 3 hari, kemudian 1 gram tiap 12 jam. 

Infus intravena: 500 mg tiap 8 jam dengan kecepatan 5 ml/menit.

Anak, untuk semua cara pemberian, 7,5 mg/kg bb tiap 8 jam.

Profilaksis infeksi anaerob terutama setelah operasi:

Oral: 400 mg tiap 8 jam dimulai 24 jam sebelum operasi, dilanjutkan sesudah operasi secara intravena atau rektal sampai pemberian oral dapat dilakukan lagi. Anak, 7,5 mg/kg bb tiap 8 jam.

Rektal: 1 gram tiap 8 jam.  Anak, 125-250 mg tiap 8 jam.

Intravena: 500 mg beberapa saat sebelum operasi, kemudian tiap 8 jam sampai pemberian oral bisa dilakukan.

TINIDAZOL

Indikasi: 

lihat dosis; infeksi anaerobik.

Peringatan: 

(lihat metronidazol); kehamilan (hindari penggunaan pada trimester pertama).

Interaksi: 

lihat metronidazol.

Efek Samping: 

(lihat metronidazol).

Dosis: 

amubiasis intestinal, 2 g/hari selama 2-3 hari. ANAK 50-60 mg/kg bb/hari selama 3 hari. Amubiasis hepar, 1,5-2 g/hari selama 3-5 hari. ANAK 50-60 mg/kg bb/hari selama 5 hari.Trikomoniasis dan giardiasis urogenital, 2 g dosis tunggal (bila perlu, ulangi sekali lagi). ANAK, dosis tunggal 50-75 mg/kg bb.