5.3 Anti Jamur

Terapi infeksi jamur
Terapi infeksi jamur sistemik dan infeksi jamur yang menyebar sebaiknya di bawah supervisi dokter spesialis.

Aspergilosis. Aspergilosis umumnya menyerang saluran nafas, namun pada pasien immunocompromised berat, bentuk invasifnya dapat mengenai sinus, jantung, otak dan kulit. Vorikonazol merupakan obat pilihan; amfoterisin (formulasi liposomal lebih disukai bila terjadi gangguan ginjal) dan itrakonazol merupakan alternatif pada pasien yang gagal diterapi dengan amfoterisin.

Kandidiasis. Umumnya infeksi kandida pada permukaan kulit dapat diatasi dengan terapi lokal, sedangkan untuk infeksi yang meluas atau yang sulit memerlukan terapi antijamur sistemik. Infeksi jamur pada vagina dapat diatasi dengan terapi antijamur lokal atau dengan flukonazol oral. Untuk organisme yang resisten, dapat diberikan itrakonazol oral. Infeksi jamur pada orofaringeal umumnya memberikan respon terhadap terapi lokal. Flukonazol oral diberikan untuk infeksi yang tidak memberikan respon. Flukonazol efektif dan dapat diabsorbsi dengan baik. Itrakonazol dapat digunakan untuk infeksi yang resisten terhadap flukonazol. Untuk infeksi jamur yang dalam dan menyebar, dapat digunakan infus amfoterisin intravena tunggal. Vorikonazol terutama digunakan untuk infeksi oleh Candida spp yang resisten terhadap flukonazol (termasuk C. krusei).

Kriptokokosis. Infeksi ini jarang terjadi, namun infeksi pada pasien immunecompromised, terutama pasien AIDS, dapat mengancam jiwa. Meningitis kriptokokus merupakan penyebab yang paling umum pada infeksi meningitis karena jamur. Terapi pilihan untuk meningitis kriptokokus adalah infus amfoterisin intravena selama 2 minggu, dilanjutkan dengan flukonazol oral selama 8 minggu sampai hasil kultur negatif.

Histoplasmosis. Infeksi ini jarang terjadi pada daerah dengan suhu panas. Pada pasien infeksi HIV, infeksi ini dapat mengancam jiwa. Itrakonazol dapat digunakan untuk terapi infeksi indolent non-meningeal pada pasien imunokompeten termasuk histoplasmosis paru kronis. Ketokonazol merupakan terapi alternatif pada pasien imunokompeten. Infus amfoterisin intravena lebih disukai pada pasien dengan infeksi berat atau nyata. Setelah terapi berhasil, itrakonazol dapat diberikan untuk mencegah terjadinya kekambuhan.

Infeksi kulit dan kuku. Infeksi jamur ringan dan lokal pada kulit (termasuk Tinea corporis, Tinea cruris, dan Tinea pedis) dapat diatasi dengan terapi topikal (13.10.2). Terapi sistemik (itrakonazol atau terbinafin) digunakan jika terapi topikal tidak dapat mengatasi infeksi jamurnya, infeksi terjadi di banyak area, atau infeksi sulit diobati, seperti infeksi pada kuku (onchomycosis) atau kulit kepala/ketombe (tinea capitis). Griseofulvin digunakan untuk Tinea capitis pada dewasa dan anak. Griseofulvin efektif terhadap infeksi yang disebabkan oleh Trichophyton tonsurans dan Microsporum spp. Obat ini telah digunakan secara luas untuk mengatasi tinea di berbagai bagian tubuh. Namun, sekarang ini sudah banyak digantikan oleh antijamur yang lebih baru. Anti jamur triazol (terutama itrakonazol) atau imidazol oral dan terbinafin lebih sering digunakan karena memiliki spektrum kerja yang lebih luas dan memerlukan lama terapi yang lebih singkat. Tinea capitis diobati secara sistemik, tetapi untuk mengurangi penularan dapat ditambahkan anti jamur topikal. Pityriasis versicolor dapat diatasi dengan itrakonazol oral jika terapi topikal tidak efektif. Flukonazol oral merupakan alternatif. Terbinafin oral tidak efektif untuk mengatasi Pityriasis versicolor. Terbinafin dan itrakonazol sudah menggantikan griseofulvin untuk terapi sistemik pada onychomycosis terutama pada kuku ibu jari. Terbinafin merupakan obat pilihan utama, sedangkan itrakonazol diberikan sebagai terapi intermittent pulse.

Pasien immunocompromised memiliki risiko yang tinggi untuk terinfeksi jamur, oleh sebab itu diperlukan profilaksis antijamur. Imidazol oral atau antijamur triazol merupakan obat pilihan untuk profilaksis. Flukonazol lebih mudah diabsorpsi daripada itrakonazol dan ketokonazol serta lebih aman dibanding ketokonazol untuk terapi jangka panjang. Infus amfoterisin intravena digunakan untuk terapi empiris pada infeksi jamur serius. Flukonazol digunakan untuk mengatasi infeksi Candida albicans.

Obat yang digunakan untuk infeksi jamur
GOLONGAN POLIEN. Termasuk dalam golongan ini adalah amfoterisin dan nistatin. Keduanya tidak diabsorpsi secara oral. Obat ini digunakan untuk infeksi oral, orofaringeal dan perioral yang diberikan secara topikal di mulut.

Infus amfoterisin intravena digunakan untuk infeksi jamur sistemik dan aktif terhadap sebagian besar jamur dan ragi. Obat ini terikat kuat pada protein plasma dan penetrasinya ke dalam jaringan dan cairan tubuh buruk. Amfoterisin bersifat toksik dan efek samping sering terjadi. Sediaan amfoterisin dalam lipid bersifat kurang toksik dan direkomendasikan bila sediaan konvensional dikontraindikasikan karena toksisitasnya, terutama nefrotoksisitas atau jika respon terhadap amfoterisin konvensional tidak memuaskan.

Nistatin terutama digunakan untuk infeksi Candida albicans di kulit dan membran mukosa, termasuk untuk kandidiasis pada usus dan esofageal.

GOLONGAN IMIDAZOL. Termasuk dalam golongan imidazol, klotrimazol, ketokonazol, ekonazol, sulkonazol dan tiokonazol. Obat-obat ini digunakan untuk terapi lokal kandidiasis vagina dan untuk infeksi dermatofit.

Ketokonazol pada pemberian oral diabsorpsi jauh lebih baik dibandingkan dengan golongan imidazol lainnya. Namun obat ini telah dilaporkan berkaitan dengan kejadian hepatotoksisitas yang fatal. Untuk pemberian per oral, risiko dan manfaat ketokonazol sebaiknya dipertimbangkan secara hati-hati terutama yang berkaitan dengan hepatotoksisitas. Oleh karena itu diperlukan pengamatan klinik dan laboratorium. Pemberian per oral tidak untuk infeksi superfisial.

Mikonazol dapat digunakan secara topikal untuk infeksi pada rongga mulut. Obat ini juga efektif untuk infeksi usus. Absorpsi sistemik dapat terjadi pada penggunaan gel mikonazol oral sehingga dapat menimbulkan interaksi obat yang bermakna.

GOLONGAN TRIAZOL. Termasuk golongan ini adalah flukonazol dan itrakonazol.

Flukonazol diabsorpsi sangat baik setelah pemberian oral. Penetrasi obat ini pada cairan serebro spinal cukup baik sehingga dapat digunakan untuk mengatasi meningitis fungal.

Itrakonazol aktif terhadap semua bentuk infeksi dermatofit. Kapsul itrakonazol memerlukan kondisi asam dalam lambung untuk mendapatkan absorpsi yang optimal. Itrakonazol dapat menyebabkan kerusakan hati dan sebaiknya dihindari atau digunakan secara hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, termasuk pasien anak. Flukonazol lebih jarang menyebabkan hepatotoksisitas. Vorikonazol merupakan antijamur dengan spektrum luas dan diindikasikan untuk infeksi yang mengancam jiwa.

ANTI JAMUR LAIN
Griseofulvin efektif dalam mengatasi infeksi dermatofit yang meluas dan sulit diobati, namun penggunaannya telah banyak digantikan oleh antijamur yang lebih baru, terutama pada infeksi kuku. Obat ini merupakan pilihan utama pada infeksi trichophyton pada anak. Lama terapi tergantung pada tempat infeksi dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan. Terbinafin merupakan obat pilihan untuk infeksi jamur pada kuku dan juga untuk mengatasi kurap.

Monografi: 

AMFOTERISIN (AMFOTERISIN B)

Indikasi: 

lihat dalam dosis; penanganan mikosis sistemik berat dan atau deep mycosis.

Peringatan: 

bila diberikan secara parenteral sering menimbulkan efek samping (perlu pengawasan ketat dan uji dosis yang diperlukan); pemeriksaan fungsi hati dan ginjal, hitung jenis sel darah, dan pemeriksaan elektrolit plasma (hindari penggunaan obat lain yang bersifat hepatotoksik seperti kortikosteroid, kecuali untuk mengendalikan radang); antineoplastik; pergantian tempat suntikan yang terlalu sering (iritasi), infus yang cepat (risiko aritmia). Hati-hati pada wanita hamil dan ibu menyusui. Reaksi anafilaksis kadang-kadang terjadi pada penggunaan amfoterisin intravena. Dianjurkan untuk memberikan dosis percobaan sebelum infus amfoterisin dan pasien diamati selama kira-kira 30 menit. Antipiretik dan kortikosteroid sebagai profilaksis hanya diberikan pada pasien dengan riwayat reaksi obat sebelumnya, sedangkan amfoterisin harus diberikan.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (amfoterisin).

Efek Samping: 

bila diberikan secara parenteral: Anoreksia, nausea, muntah, diare, sakit perut; demam, sakit kepala, sakit otot dan sendi; anemia; gangguan fungsi ginjal (termasuk hipokalemia dan hipomagnesemia) dan toksisitas ginjal; toksisitas kardiovaskuler (termasuk aritmia); gangguan darah dan neurologis (kehilangan pendengaran, diplopia, kejang, neuropati perifer); gangguan fungsi hati (hentikan obat); ruam; reaksi anafilaksis.

Dosis: 

oral: untuk kandidiasis intestinal, 100-200 mg tiap 6 jam. Bayi dan Anak-anak, 100 mg 4 kali sehari. Injeksi intravena: infeksi jamur sistemik, dosis percobaan 1 mg selama 20-30 menit dilanjutkan dengan 250 mcg/kg bb/hari, pelan-pelan dinaikkan sampai 1 mg/kg bb/hari; maksimum 1,5 mg/kg bb/hari atau selang sehari.

Catatan: 

Biasanya diperlukan terapi jangka panjang. Jika terputus lebih dari 7 hari, ulangi lagi dengan dosis 250 mcg/kg bb/hari dan dinaikkan pelan-pelan. Mikosis sistemik berat dan atau deep mycosis: terapi dapat dimulai dengan dosis harian 1,0 mg/kg bb berat badan. Dosis dapat ditingkatkan jika dibutuhkan menjadi dosis yang direkomendasikan yaitu 3,0 - 4,0 mg/kg bb. Dosis sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.

ANIDULAFUNGIN

Indikasi: 

kandidemia pada pasien dewasa non-neutropenia.

Peringatan: 

monitor fungsi hati, tidak direkomendasikan pada anak di bawah usia 18 tahun, kehamilan, menyusui.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas.

Efek Samping: 

trombositopenia, koagulapati, hiperkalemia, hipokalemia, hipomagnesemia, kejang, sakit kepala, kemerahan, diare, peningkatan gama-glutamiltransferase, peningkatan alkalin fosfatase dalam darah, peningkatan alanin aminotransferase, ruam, pruritus.

Dosis: 

infus intravena, dosis awal 200 mg sebagai dosis tunggal, diikuti 100 mg/hari. Terapi dilanjutkan selama minimal 14 hari sesudah hasil positif terakhir pada kultur.

FLUKONAZOL

Indikasi: 

lihat dalam dosis.

Peringatan: 

gangguan ginjal, kehamilan (dosis tinggi menyebabkan teratogenik pada hewan) dan menyusui, peningkatan enzim hati. Aritmia, hindarkan pemakaian bersama astemizol atau terfenadin atau cisaprid.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (antijamur, imidazol, triazol).

Efek Samping: 

nausea, sakit perut, diare, kembung; gangguan enzim hati; kadang-kadang ruam (hentikan obat atau awasi secara ketat); angioudem, anafilaksis, lesi bulosa, nekrolisis epidermal toksik, sindrom Stevens-Johnson; pada pasien AIDS pernah dilaporkan reaksi kulit yang hebat.

Dosis: 

oral, vaginitis dan balanitis kandida, 150 mg dosis tunggal. Kandidiasis mukosa (kecuali genitalia) 50 mg/hari (100 mg/hari untuk infeksi yang sulit sembuh) diberikan selama 7-14 hari, untuk kandidiasis orofarings (maksimal 14 hari, kecuali pasien immunocompromised); 14 hari untuk kandidiasis oral atropikans; 14-30 hari untuk infeksi mukosa lainnya (mis. esofagitis, kandiduria, infeksi bronkopulmoner noninvasif).ANAK, oral atau infus intravena, 3-6 mg/kg bb pada hari pertama, kemudian 3 mg/kg bb per hari (tiap 72 jam pada neonatus usia sampai 2 minggu, tiap 48 jam pada neonatus usia 2-4 minggu). Tinea pedis, korporis, kruris, versikolor dan kandidiasis dermal, per oral, 50mg/hari selama 2-4 minggu (sampai 6 minggu pada tinea pedis); lama pengobatan maksimum 6 minggu. Infeksi kandida invasif (termasuk kandidemia dan kandidiasis diseminata) dan infeksi kriptokokus (termasuk meningitis), oral atau infus intravena, dosis awal 400 mg kemudian 200 mg/hari, bila perlu ditingkatkan menjadi 400 mg/hari. Pengobatan diteruskan sesuai dengan respons (untuk meningitis kriptokokus, minimal 6-8 minggu).ANAK, 6-12 mg/kg bb/hari (tiap 72 jam pada neonatus usia sampai 2 minggu, tiap 48 jam untuk neonatus usia 2-4 minggu). Pencegahan kambuhnya meningitis kriptokokus pada pasien AIDS, 100-200 mg/hari (setelah melengkapi terapi primer). Profilaksis infeksi jamur pada pasien immunocompromised, setelah kemoterapi atau radioterapi, 50-400 mg/hari disesuaikan dengan risiko; 400 mg/hari jika ada risiko tinggi infeksi sistemik, misalnya setelah transplantasi sumsum tulang. Terapi dimulai sebelum terjadinya netropenia dan dilanjutkan smpai 7 hari setelah jumlah netrofil yang diinginkan tercapai. ANAK, tergantung dari lama dan beratnya neutropenia, 3-12 mg/kg bb/hari (tiap 72 jam untuk neonatus usia sampai 2 minggu, tiap 48 jam untuk neonatus usia 2-4 minggu).

GRISEOFULVIN

Indikasi: 

Infeksi jamur pada kulit, rambut, dan kuku bila terapi topikal gagal.

Peringatan: 

Tidak untuk profilaksis, kerusakan sel sperma, dianjurkan tidak merencanakan kehamilan selama terapi 6 bulan setelahnya, mengemudi dan mengoperasikan mesin.

Interaksi: 

Antikoagulan koumarin: menurunkan renspon antikoagulan kumarin. Obat penginduksi enzim hati (barbiturat): menurunkan efektivitas griseofulvin. Kontrasepsi oral: meningkatkan risiko pendarahan uterus, amenore, dan kegagalan kontrasepsi. Alkohol: meningkatkan efek alkohol.

Kontraindikasi: 

Porfiria, kegagalan hepatoselular atau lupus eritematosus, kehamilan.

Efek Samping: 

Reaksi urtikaria, ruam kulit, sakit kepala, tidak nyaman pada lambung, pusing, kelelahan, granulositopenia, leukopenia, fotosensitivitas pada pasien, SLE, eritema multiform, nekrolisis epidermal toksis, neuropati peripheral, kebingungan dengan gangguan koordinasi, kandidiasis oral, kolestasis, peningkatan enzim hati, hepatitis.

Dosis: 

Dewasa dan lansia, 500 mg satu kali sehari dosis tunggal atau terbagi. Anak-anak, dosis harian 10 mg/kg BB satu kali sehari dosis tunggal atau terbagi.

ITRAKONAZOL

Indikasi: 

kandidiasis orofarings dan vulvo vaginal; ptyriasis versicolor, infeksi dermatofita lainnya; onychomycosis; histo-plasmosis; terapi alternatif bila antijamur lain tidak cocok atau tidak efektif pada infeksi sistemik (aspergilosis, kriptokokosis, kandidiasis termasuk meningitis), terapi pemeliharaan pada pasien AIDS, profilaksis infeksi jamur pada neutropenia bila terapi standar tidak cocok.

Peringatan: 

hindari pemakaian pada riwayat gangguan fungsi hati. Pemeriksaan fungsi hati harus dilakukan bila pengobatan lebih dari 1 bulan atau bila timbul mual, anoreksia, muntah, lelah, sakit perut atau urin berwarna gelap (hentikan obat bila hasil tes abnormal); gangguan fungsi ginjal (bioavailabilitas dapat berkurang); absorpsi berkurang pada penderia AIDS dan neutreopenia (periksa kadar dalam darah dan bila perlu dosis dapat dinaikkan); hentikan obat bila terjadi neuropati perifer; kehamilan (lihat Lampiran 4) dan ibu menyusui.

Interaksi: 

Lampiran 1 (anti jamur, imidazol, triazol). Aritmia: hindarkan penggunaan bersamaan dengan astemizol, terfenadin dan cisaprid.

Efek Samping: 

mual, sakit perut, dispepsia, konstipasi, sakit kepala, pusing, kenaikan enzim hati, gangguan haid, reaksi alergi (pruritus, ruam, urtikaria, angioudem), hepatitis dan ikterus kolestatik (terutama bila pengobatan melebihi satu bulan); neuropati perifer (hentikan obat), pernah dilaporkan sindrom Stevens-Johnson; hipokalemia pada penggunaan jangka panjang, udem dan rambut rontok.

Dosis: 

kandidiasis orofarings, 100 mg/hari (200 mg pada pasien AIDS atau neutropenia) selama 15 hari.

Vulvovaginitis kandida, 200 mg 2 kali sehari selama 1 hari.

Ptyriasis versicolor, 200 mg/hari selama 7 hari.

Tinea korporis dan tinea kruris, 100 mg/hari selama 15 hari, atau 200 mg/hari selama 7 hari.

Tinea manus dan pedis, 100 mg/hari selama 30 hari.

Onikomikosis, 200 mg/hari selama 3 bulan, atau bertahap 200 mg 2 kali sehari selama 7 hari diulangi setelah interval 21 hari; dua tahap untuk kuku jari tangan, tiga tahap untuk kuku jari kaki.

Histoplasmosis, 200 mg, 1-2 kali sehari. Alternatif pada infeksi sistemik, 200 mg sekali sehari (kandidiasis 100-200 mg/hari), untuk infeksi invasif atau diseminata dan meningtis kriptokokus sampai 200 mg dua kali sehari. Terapi pemeliharaan pada pasien AIDS dan profilaksis pada neutropenia, 200 mg sekali sehari; dosis digandakan bila kadar dalam darah rendah.

ANAK dan LANSIA, tidak dianjurkan.

KASPOFUNGIN ASETAT

Indikasi: 

kandidiasis invasif (diantaranya kandidemia, pada pasien neutropenik dan non-neutropenik); kandidiasis esofageal; kandidiasis orofaringeal; aspergilosis invasif (pada pasien yang sukar disembuhkan atau intoleran terhadap terapi lain).

Peringatan: 

kehamilan; menyusui; pasien berusia di bawah 18 tahun.

Interaksi: 

kaspofungin asetat menurunkan kadar takrolimus dalam darah, maka pada pasien yang menerima kedua obat tersebut, perlu dilakukan monitoring kadar takrolimus dalam darah, dan dilakukan penyesuaian dosis takrolimus; siklosporin meningkatkan AUC kaspofungin asetat, diperkirakan hal ini terjadi karena penurunan pengambilan kaspofungin asetat oleh hati; terjadi peningkatan sementara ALT dan AST hati apabila kaspofungin asetat dan siklosporin diberikan bersamaan; pemberian kaspofungin asetat bersama dengan penginduksi klirens obat seperti efavirenz, nevirapin, rifampisin, deksametason, fenitoin, atau karbamazepin, sebaiknya dipertimbangkan penggunaan kaspofungin asetat 70 mg sehari; penggunaan bersama dengan siklosporin; peningkatan sementara alanine transaminase (ALT) dan aspartate transaminase (AST) ≤ 3 kali lipat dari Upper Limit of Normal (ULN) pada beberapa subjek sehat yang menerima 3 mg/kg bb, dosis siklosporin dengan kaspofungin asetat yang akan normal kembali dengan penghentian pemberian obat; terjadi peningkatan ± 35% pada Area Under the Curve (AUC) kaspofungin asetat ketika diberikan bersama dengan siklosporin, kadar siklosporin dalam darah tidak berubah.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap kaspofungin asetat.

Efek Samping: 

demam, sakit kepala, nyeri perut, nyeri, kedinginan, mual, muntah, diare, peningkatan jumlah enzim hati (AST, ALT, alkalin fosfatase, direct bilirubin dan bilirubin total), peningkatan kreatinin serum, anemia (penurunan hemoglobin dan hematokrit), plebitis/tromboplebitis, komplikasi pada tempat pemberian infus, ruam kulit, pruritus, bengkak pada wajah, sensasi hangat, bronkospasme, anafilaktik, disfungsi hati, udem perifer, dan hiperkalsemia.

Dosis: 

Invasive candidiasis, infus intravena lambat (± 1 jam), dosis muatan (loading dose) tunggal 70 mg diberikan pada hari pertama, selanjutnya diikuti dengan dosis 50 mg sehari. Lama pengobatan harus disesuaikan dengan respons klinis dan mikrobiologi pasien. Umumnya, terapi anti jamur harus dilanjutkan paling tidak 14 hari setelah hasil pemeriksaan kultur terakhir yang positif.

Esophageal dan oropharyngeal candidiasis, infus intravena lambat (± 1 jam), 50 mg sehari.

Invasive Aspergillosis, infus intravena lambat (± 1 jam), dosis tunggal 70 mg diberikan pada hari pertama, selanjutnya diikuti dengan dosis 50 mg sehari. Lama pengobatan sebaiknya disesuaikan dengan keparahan dari penyakit lain yang menyertai, pemulihan dari kondisi imunosupresi dan respon klinis pasien. Pemberian bersama dengan penginduksi metabolik efavirenz, nevirapin, rifampin, deksametason, fenitoin, atau karbamazepin, harus dipertimbangkan penggunaan dosis kaspofungin asetat 70 mg sehari.

Pasien dengan gangguan fungsi hati ringan dan lansia, tidak memerlukan penyesuaian dosis. Esophageal dan/atau oropharyngeal candidiasis dengan gangguan fungsi hati sedang, direkomendasikan pemberian kaspo-fungin asetat 35 mg sehari.

Invasive candidiasis atau invasive aspergillosis dengan gangguan fungsi hati sedang, setelah dosis awal 70 mg, direkomendasikan pemberian kaspofungin asetat 35 mg sehari.

KETOKONAZOL

Indikasi: 

mukosa sistemik, kandidiasis mukokutan resisten yang kronis, mukosa saluran cerna resisten serius, kandidiasis vaginal resisten yang kronis, infeksi dermatofita pada kulit atau kuku tangan (tidak pada kuku kaki); profilaksis mikosa pada pasien imunosupresan; kandidiasis mukokutan kronis yang tidak responsif terhadap nistatin dan obat-obat lain; infeksi mikosis sistemik (kandidiasis, paraksidioidomikasis, cocci dioidomycosis, hiptoplasmosis).

Peringatan: 

lakukan uji fungsi hati secara klinis dan secara biokimia untuk pengobatan yang berlangsung lebih dari 14 hari lakukan uji fungsi hati sebelum memulainya, 14 hari setelah mulai, kemudian selang sebulan sekali. Hindari pada porfiria Aritmia. Hindari pemberian bersama dengan astemizol atau terfenadina. Juga hindari pemberian bersama cisaprid.

Interaksi: 

Lampiran 1 (antifungi, imidazol dan triazol).

Kontraindikasi: 

gangguan hati; kehamilan (teratogenesitas pada hewan, pada kemasan cantumkan peringatan kehamilan) dan menyusui; pemberian bersamaan dengan terfenadin atau astemizol.

Efek Samping: 

mual, muntah, nyeri perut; sakit kepala; ruam, urtikaria, pruritus; jarang trombositopenia, parestesia, fotofobia, pusing, alopesia, ginaekomastia dan oligospermia; kerusakan hati fatal Peringatan: risiko terbentuknya hepatitis lebih besar jika diberikan lebih dari 14 hari.

Dosis: 

DEWASA 200 mg/hari bersama makanan, biasanya untuk 14 hari; jika setelah 14 hari respons tidak memadai, lanjutkan hingga setidaknya 1 minggu setelah gejala hilang dan kultur menjadi negatif; maksimum 400 mg/hari. ANAK, 3 mg/kg bb/hari dosis tunggal atau dalam dosis terbagi. Kandidiasis vaginal resisten yang kronis, 400 mg/hari bersama makanan selama 5 hari.

MIKAFUNGIN NATRIUM

Indikasi: 

kandidemia, kandidiasis diseminasi akut, peritonitis kandida dan abses; kandidiasis esofagus; pencegahan infeksi kandida pada pasien yang mengalami transplantasi sel punca hematopoietik.

Peringatan: 

Pantau fungsi ginjal, gangguan fungsi ginjal, kehamilan, menyusui, hepatotoksisitas.

Interaksi: 

Sirolimus, nifedipin atau trakonazol perlu dikurangi dosisnya karena mikafungin meningkatkan toksisitas obat tersebut.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas.

Efek Samping: 

mual, flebitis, muntah, peningkatan enzim aspartat aminotransferase, peningkatan alkali fosfat darah, netropenia, anemia, leukopenia, hipokalemia, hipomagnesimia, hipokalsemia, sakit kepala, diare, nyeri abdominal, penambahan amino-transferase alanin; peningkatan bilirubin darah, uji fungsi hati abnormal, kemerahan episodik pada wajah/leher, hiperbilirubinemia, ruam, pireksia, kekakuan, gagal ginjal (lebih sering pada anak-anak).

Dosis: 

Infus intravena, Pengobatan pasien dengan kandidemia, diseminasi kandidiasis akut, peritonitis kandida dan abses: DEWASA (bobot badan lebih dari 40 kg) 100 mg per hari, maksimal 200 mg per hari; bobot badan kurang dan sama dengan 40 kg: 2 mg per kg per hari, maksimal 4 mg per kg per hari. ANAK-ANAK (kurang dari 16 tahun) (bobot badan lebih dari 40 kg) 100 mg per hari, maksimal 200 mg per hari; (bobot badan kurang dan sama dengan 40 kg) 2 mg per kg per hari, maksimal 4 mg per kg per hari. Lama pengobatan minimal 14 hari.

Pengobatan pasien dengan kandidiasis esofagus: DEWASA (bobot badan lebih dari 40 kg) 150 mg per hari; (bobot badan kurang dan sama dengan 40 kg: 3 mg per kg per hari. Lama pengobatan minimal 1 minggu. Profilaksis infeksi kandida pada pasien yang mengalami transplantasi sel punca hematopoetik DEWASA (bobot badan lebih dari 40 kg) 50 mg per hari; bobot badan kurang dan sama dengan 40 kg: 1 mg per kg per hari. ANAK-ANAK (kurang dari 16 tahun) (bobot badan lebih dari 40 kg) 50 mg per hari; (bobot badan kurang dan sama dengan 40 kg) 1 mg per kg per hari. Lama pengobatan minimal 1 minggu setelah pemulihan netrofil.

NISTATIN

Indikasi: 

kandidiasis.

Efek Samping: 

mual, muntal, diare pada dosis tinggi, iritasi oral dan sensitisasi, ruam (termasuk urtikaria) dan dilaporkan terjadi sindroma Stevens-Johnson (jarang).

Dosis: 

oral, kandidiasis usus 500.000 UI setiap 6 jam, berikan dosis ganda pada kasus infeksi berat; ANAK 100.000 UI 4 kali/hari. Profilaksis, 1 juta unit/ hari. Neonatal, 100.000 UI/hari sebagai dosis tunggal. Untuk penggunaan sebagai obat kumur dalam kasus kandidiasis mulut, lihat bagian 12.3.2.

POSAKONAZOL

Indikasi: 

infeksi jamur Aspergillosis invasif setelah gagal terapi atau intoleran dengan amfoterisin B atau itrakonazol; Fusariosis setelah gagal terapi atau intoleran dengan amfoterisin B; Chromoblatomycosis dan mycetoma pada pasien setelah gagal terapi atau intoleran dengan itrakonazol; Coccidiomycosis setelah gagal terapi atau intoleran dengan amfoterisin B, itrakonazol atau flukonazol; Kandisiasis orofaringeal pada pasien yang mengidap penyakit berat atau immunocompromised dimana respon terhadap terapi topikal diperkirakan tidak berhasil.

Peringatan: 

hipersensitif; gangguan fungsí hati berat; monitor gangguan elektrolit karena menyebabkan QT prolongation; kehamilan; menyusui; tidak dapat diekskresi oleh hemodialisis; khasiat dan keamanan penggunaan pada anak dan remaja dibawah usia 13 tahun belum diketahui pasti.

Interaksi: 

Tidak boleh digunakan bersamaan dengan terfenadin, astemizol, cisaprid, pimozid, halofantrin dan quinidin (Substrat CYP3A4) karena dapat meningkatkan konsentrasi plasma sehingga dapat menyebabkan perpanjangan QT dan torsades de pointes (jarang); Tidak boleh digunakan bersamaan dengan simvastatin, lovastatin dan atorvastatin karena dapat meningkatkan inhibitor reduktase HMG-CoA dalam darah yang menyebabkan Rhabdomyolisis; Tidak boleh digunakan bersamaan dengan alkaloid ergot (ergotamin dan dihidroergotamin) karena akan meningkatkan konsentrasi plasma alkaloid ergot sehingga menyebabkan ergotism; Inhibitor enzim pada jalur metabolisme via UDP glucuronidation (verapamil, siklosporin, kuinidin, klaritromisin, eritromisin) dapat meningkatkan kadar plasma posakonazol, sedangkan penginduksi enzim ((rifampisin, rifabutin, antikonvulsan tertentu) dapat menurunkan kadar plasma posakonazol; alkaloid vinka (vinkristin dan vinblastin) meningkatkan kadar posakonazol, se1 hingga dapat menyebabkan neurotoksisitas; posakonazol dapat meningkatkan Cmax dan AUC takrolimus secara signifikan sehingga perlu dilakukan monitor kadar takrolimus, kurangi dosis takrolimus atau hentikan penggunaan posakonazol; Tidak boleh digunakan bersamaan dengan sirolimus atau jika harus dilakukan, dosis sirolimus dikurangi secara signifikan; Posakonazol meningkatkan konsentrasi plasma HIV protease Inhibitors, midazolam, antagonis kalsium, digoksin.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas; penggunaan bersamaan dengan terfenadin, astemizol, cisaprid, pimozid, halofantrin dan quinidin (Substrat CYP3A4), simvastatin, lovastatin dan atorvastatin (inhibitor reduktase HMG-CoA), alkaloid ergot (ergotamin dan dihidroergotamin).

Efek Samping: 

umum terjadi: neutropenia, ketidakseimbangan elektrolit, anoreksia, paraestesia, pusing, mengantuk, sakit kepala, muntal, mual, nyeri abdomen, diare dispepsia, mulut kering, flatulens, peningkatan hasil uji fungsi hati (AST, ALT, bilirubin, alkalin fosfatase, GGT), ruam, pireksia (demam), astenia, lelah.

Tidak umum terjadi: trombositopenia, leukopenia, anemia, eosinofilia, limfadenopati, reaksi alergi, hiperglikemia, konvulsi, neuropati, hipoanestesi, tremor, Perpanjangan QTc/QT, ECG abnormal, palpitasi, hipertensi, hipotensi, penglihatan kabur, pancreatitis, kerusakan hati, hepatitis, jaundice, hepatomegali, sariawan, alopesia, nyeri punggung, gagal ginjal akut, gagal ginjal, peningkatan kreatinin darah, edema, letih, rasa nyeri, kaku, lemas; mempengaruhi kadar obat lain: jarang terjadi: sindrom hemolitik uremik, purpura trombositopenik trombotik, pansitopenia, koagulasi, haemorrhage NOS, Sindrom Steven Johnson, reaksi hipersensitif, insufisiensi adrenal, penurunan kadar gonadotropin, asidosis tubular ginjal, psikosis, depresi, sincope, encefalopati, neuropati periferal, diplopia, skotoma, torsadaes de pointes, mati mendadak, takikardi ventrikular, cardio-respiratory arrest, gagal jantung, infark miokard, cerebrovascular accident, embolisme paru, deep venous thrombosis NOS, hipertensi paru, pneumonia interstitial, pneumonitis, perdarahan saluran cerna, ileus, gagal hati, kolestatik hepatitis, kolestasis, hepatosplenomegali, pengerasan hati, asteriksis, ruam vesikular, nefriitis interstisial, nyeri payudara, edema lidah, edema muka.

Dosis: 

Dewasa dan anak usia 13 tahun atau lebih: infeksi jamur Aspergillosis invasif: 400 mg, dua kali sehari atau jika tidak dapat mentoleransi, 200 mg, empat kali sehari. Lama pengobatan tergantung tingkat keparahan penyakit, kekebalan tubuh dan respon klinis.

Coccidiodomycosis: 400 mg, dua kali sehari atau jika tidak dapat mentoleransi, 200 mg, lima kali sehari;

Kandisiasis orofaringeal: Loading dose, 200 mg sekali sehari pada hari pertama kemudian 100 mg sehari sekali selama 13 hari

Oropharyngeal yang susah disembuhkan atau candida oesophageal: 400 mg sehari, dua kali sehari. Lamanya pengobatan tergantung pada tingkat keparahan pasien, dan respon klinik.

Profilaksis infeksi jamur invasif: 200 mg, tiga kali sehari. Lamanya pengobatan tergantung pada penyembuhan dari kondisi neutropenia atau imunosupresi.

Posakonazol sebaiknya diberikan dengan makanan atau dengan 240 ml suplemen nutrisi. Oral suspensi harus dikocok sebelum digunakan.

TERBINAFIN

Indikasi: 

infeksi dermatofita pada kuku; infeksi kurap (termasuk tinea pedis, tinea kruris dan tinea korporis), dimana terapi oral diperlukan (disebabkan tempat, keparahan, atau luas).

Peringatan: 

gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3); kehamilan (lihat Lampiran 4), menyusui (lihat Lampiran 5); psoriasis (beresiko bertambah buruk); penyakit gangguan kekebalan tubuh (resiko efek serupa Lupus erithematosus).

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (terbinafin).

Efek Samping: 

ketidaknyamanan pada perut, anoreksia, mual, diare; sakit kepala; ruam kulit dan urtikaria kadang dengan artralgia atau mialgia; gangguan pengecapan (kadang-kadang); hentikan pengobatan jika terjadi toksisitas liver (jarang) (termasuk jaundice, kolestasis, dan hepatitis), angiodema, pusing, rasa badan tidak enak, paraesthesia, hipoasthesia, fotosensitivitas, reaksi kulit serius termasuk sindrom Steven-Johnson dan nekrolisis epidermal toksik (hentikan pengobatan jika terjadi ruam kulit yang progresif); gangguan psikiatri (jarang), kelainan darah (termasuk leukopenia dan trombositopenia), efek menyerupai lupus eritematosus, dan psoriasis yang memburuk.

Dosis: 

250 mg per hari biasanya selama 2-6 minggu untuk tinea pedis, 2-4 minggu untuk tinea kruris, 4 minggu pada tinea korporis, 6 minggu - sampai 3 bulan untuk infeksi kuku (kadang-kadang lebih lama pada infeksi toenail); ANAK (tidak dianjurkan) biasanya selama 2 minggu, tinea kapitis, pada anak berusia di atas 1 tahun, berat badan 10-20 kg, 62,5 mg sekali sehari; berat badan 20-40 kg, 125 mg sekali sehari; berat badan lebih dari 40 kg, 250 mg sekali sehari.

VORIKONAZOL

Indikasi: 

aspergillosis invasif (sebagian besar disebabkan oleh Aspergillus fumigatus), kandidemia pada pasien non-neutropenik, infeksi serius Candida (termasuk C. Krusei), kandidiasis esofagal, infeksi serius yang disebabkan oleh Scedosporium apiospermum (bentuk aseksual dari Pseudallescheria boydii) dan Fusarium spp., termasuk Fusarium solani, pada pasien yang intoleran atau refrakter terhadap pengobatan lain.

Peringatan: 

monitor fungsi hati sebelum pengobatan dan selama pengobatan; penyakit hematologi yang berbahaya (meningkatkan risiko reaksi hepatik); gangguan fungsi hati; monitor fungsi ginjal; gangguan fungsi ginjal (lihat Lampiran 3); kehamilan (memastikan kontrasepsi efektif selama pengobatan- lihat Lampiran 2); gangguan elektrolit, kardiomiopati, bradikardi, aritmia simptomatik, riwayat perpanjangan interval QT,penggunaan bersama obat lain yang memperpanjang interval QT; hindari paparan sinar matahari.Untuk penggunaan invus intravena, dapat timbul reaksi anafilaksis seperti flushing, demam, berkeringat, takikardi, sesak dada, dispnea, faintness (lemah/pingsan), mual, gatal, ruam kulit. Perlu peringatan pula agar menghindari mengendarai kendaraan bermotor pada malam hari atau melakukan kegiatan yang potensial menimbulakn bahaya karena vorikonazol menyebabkan perubahan pandangan seperti pandangan kabur, dan atau fotophobia.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (anti jamur, triazol).

Kontraindikasi: 

menyusui (lihat Lampiran 4), pasien yang hipersensitif terhadap vorikonazol dan golongan azol lainnya.

Efek Samping: 

Gangguan gastrointestinal (termasuk mual, muntah, nyeri abdomen, diare), ikterus; udem, hipotensi, nyeri dada; sindrom sulit pernafasan, sinusitis; sakit kepala, pusing, asthenia, gelisah, depresi, bingung, agitasi, halusinasi, paraestesia, tremor; gejala menyerupai influenza; hipoglikemia; hematuria; kelainan darah (termasuk anemia, trombositopenia, leucopenia, pansitopenia), gagal ginjal akut, hipokalemia; gangguan visual termasuk persepsi yang berubah, pandangan kabur dengan fotofobia; ruam kulit, pruritus, fotosensitivitas, alopesia, cheilitis; reaksi pada tempat injeksi; gangguan pengecapan, kolesistitis, pankreatitis, hepatitis, konstipasi, aritmia (termasuk perpanjangan interval QT), sinkop, peningkatan serum kolesterol, reaksi hipersensitivitas (termasuk flushing), ataksia, nistagmus, hipoasthesia, ketidakcukupan adrenokortikal, artritis, blepharitis, neuritis optik, skleritis, glositis, gingivitis, psoriasis, sindrom Steven-Johnson; kolitis pseudomembran (jarang), gangguan tidur, tinnitus, gangguan pendengaran, efek ekstrapiramidal, hipertonia, hipotiroidisme, hipertiroidisme, lupus eritromatosus discoid, nekrolisis epidermal toksik, perdarahan retina, dan atropi optik.

Dosis: 

DEWASA: terapi harus dimulai dengan regimen dosis muatan (loading dose) vorikonazol intravena untuk mencapai kadar plasma pada hari pertama yang mendekati steady state. Perpindahan dari intravena ke oral dapat dilakukan bila diindikasikan secara klinis. Dosis muatan adalah vorikonazol intravena 6 mg/kg bb setiap 12 jam untuk 2 dosis, dilanjutkan dengan 4 mg/kg bb setiap 12 jam. Jika pasien dapat mentolerir pengobatan peroral, dapat digunakan vorikonazol oral. Pasien dengan berat badan >40 kg harus menerima dosis pemeliharaan vorikonazol sebesar 200 mg setiap 12 jam. Pasien dewasa dengan berat badan < 40 kg harus menerima dosis pemeliharaan 100 mg setiap 12 jam.

Bila pasien tidak memberikan respon yang adekuat, dosis pemeliharaan oral dapat dinaikkan dari 200 mg setiap 12 jam sampai 300 mg setiap 12 jam. Untuk pasien dengan berat < 40 kg, dosis pemeliharaan oral dapat dinaikkan dari 100 mg setiap 12 jam menjadi 150 mg setiap 12 jam. Bila pasien tidak dapat mentolerir pengobatan, dosis pemeliharaan intra venus diturunkan menjadi 3 mg/kg bb setiap 12 jam dan dosis pemeliharaan oral dengan penurunan 50 mg sampai dosis minimum 200 mg setiap 12 jam (atau 100 mg setiap 12 jam untuk pasien dengan berat < 40 kg).

Lansia: tidak diperlukan penyesuaian dosis. Gangguan fungsi hati: Pada pasien dengan gangguan fungsi hati ringan hingga sedang, dosis muatan sama dengan pada pasien normal, namun dosis pemeliharaan diturunkan menjadi setengah dosis normal. Pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat, penggunaan vorikonazol hanya diberikan apabila kemanfaatan lebih tinggi dibandingkan dengan risiko.

Gangguan fungsi ginjal: tidak diperlukan penyesuaian dosis, namun pada gangguan ginjal sedang hingga berat, harus dilakukan pemantauan ketat terhadap serum kreatinin dan vorikonazol hanya diberikan apabila kemanfaatan lebih tinggi dibandingkan dengan risiko. Apabila terjadi peningkatan serum kreatinin, terapi diganti menjadi terapi vorikonazol oral.