5.2.2 Anti Leprosi

WHO telah membuat rekomendasi untuk mengatasi problem resistensi dapson dan mencegah berkembangnya resistensi dari obat leprostatik lainnya. Obat yang dianjurkan untuk pengobatan lepra adalah dapson, rifampisin dan klofazimin. Obat lain yang cukup aktif terhadap Mycobacterium leprae antara lain ofloksasin, minosiklin dan klaritromisin. Tapi tidak satupun yang menyamai aktivitas rifampisin. Sekarang ini, obat-obat tersebut merupakan leprostatik alternatif.

Untuk lepra multibasiler (lepromatous, borderline-lepromatous dan borderline lepra) digunakan regimen tiga obat, sedangkan untuk lepra pausibasiler (borderline tuberkuloid, tuberkuloid dan indeterminate) digunakan regimen dua obat.

Lepra multibasiler (regimen tiga obat). Rifampisin: 600 mg sekali sebulan, dihadapan petugas (450 mg jika berat badan kurang dari 35 kg).

Dapson: 100 mg/hari, diminum sendiri (50 mg/hari atau 1-2 mg/kg bb/hari, jika berat badan kurang dari 35 kg).

Klofazimin: 300 mg sekali sebulan, di hadapan petugas dan 50 mg/hari, (atau 100 mg tiap 2 hari), diminum sendiri.

Lepra multibasiler harus diobati minimal 2 tahun dan diteruskan sampai BTA negatif. Pengobatan harus diteruskan meskipun timbul reaksi tipe I (reversal) maupun tipe II (eritiema nodosum leprosum). Pada reaksi tipe I, nyeri saraf dan rasa lemah dapat merupakan pertanda akan terjadinya kerusakan saraf yang permanen. Pengobatan dengan prednisolon (dosis awal 40-60 mg/hari) harus segera diberikan. Reaksi tipe II yang ringan dapat diatasi dengan asetosal atau klorokuin. Reaksi tipe II yang berat memerlukan kortikosteroid. Untuk membantu mengurangi gejala dosis klofazimin ditingkatkan menjadi 3 kali 100 mg/hari selama bulan pertama dan kemudian diturunkan. Umumnya diperlukan waktu 4-6 minggu untuk mencapai efek optimal.

Lepra pausibasiler (regimen 2 obat) Rifampisin: 600 mg sekali sebulan, di hadapan petugas (450 mg, jika berat badan kurang dari 35 kg).

Dapson: 100 mg/hari, diminum sendiri (50 mg/hari atau 1-2 mg/kg bb/hari jika berat badan kurang dari 35 kg).

Lepra pausibasiler harus diobati selama 6 bulan. Jika pengobatan terputus maka pengobatan harus tetap dilanjutkan dengan menambahkan dosis sesuai dengan waktu pengobatan yang terputus.

Monografi: 

DAPSON

Indikasi: 

lepra, dermatitis herpetiformis.

Peringatan: 

penyakit jantung dan paru; anemia (atasi anemia sebelum pengobatan); defisiensi G6PD; kehamilan dan menyusui; hindari pada porfiria.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (dapson).

Efek Samping: 

(tergantung dosis, jarang terjadi pada dosis lazim), hemolisis, metamoglobinemia, neuropati, dermatitis alergika (kadang-kadang nekrolisis epidermal toksik dan sindrom Stevens-Johnson), anoreksia, nausea, muntah, sakit kepala, insomnia, anemia, hepatitis, agranulositosis; sindrom dapson (ruam dengan demam dan eusinofilia) segera hentikan obat (dapat berlanjut menjadi dermatitis eksfoliatif, hepatitis, hipoalbuminemia, psikosis dan kematian).

Dosis: 

lepra, 1-2 mg/kg bb/hari, lihat keterangan di atas.

KLOFAZIMIN

Indikasi: 

lepra.

Peringatan: 

gangguan ginjal, hati; kehamilan dan menyusui, dapat mempengaruhi warna lensa kontak, hindari bila terjadi diare dan sakit perut.

Efek Samping: 

mual, muntah (rawat inap bila persisten); sakit perut; sakit kepala, kelelahan; warna coklat kehitaman pada lesi dan kulit yang terpapar sinar matahari; perubahan warna rambut yang reversibel; kulit kering; kemerahan pada muka, warna kemerahan pada urin, feses dan cairan tubuh lainnya; ruam, pruritus, fotosensitivitas, erupsi akne, anoreksia, enteropati eusinofilik, obstruksi usus, kekeringan pada mata, penglihatan kabur, pigmentasi kornea subepitel dan makula, hiperglikemi, berat badan turun, limfadenopati infark limpa.

Dosis: 

lepra: lihat keterangan di atas. Reaksi lepromatosa, dosis ditingkatkan menjadi 300 mg/hari, maksimal 3 bulan.