5.1.8.2 Klindamisin

Pengunaan klindamisin sangat terbatas karena efek sampingnya yang serius. Efek toksik serius kebanyakan adalah kolitis terkait dengan antibiotik, yang dapat fatal dan paling sering terjadi pada usia setengah baya dan wanita lansia, khususnya setelah pembedahan. Walaupun efek samping ini dapat terjadi oleh sebagian besar antibiotik, namun paling sering terjadi dengan klindamisin. Oleh karena itu, bila terjadi diare, maka pengobatan harus segera dihentikan.

Klindamisin aktif terhadap kokus Gram positif, termasuk stafilokokus yang resisten terhadap penisilin, juga terhadap bakteri anaerob seperti Bacteroides fragilis. Obat ini terkonsentrasi dalam tulang dan diekskresi di urin dan empedu.

Klindamisin direkomendasikan untuk infeksi tulang dan sendi karena stapilokokus, seperti osteomielitis dan sepsis intra abdominal. Infeksi mulut. Klindamisin tidak boleh digunakan secara rutin untuk terapi infeksi mulut karena mungkin tidak lebih efektif daripada penisilin dalam mengatasi bakteri anaerob dan dapat menimbulkan resistensi silang dengan bakteri yang resisten terhadap eritromisin. Klindamisin dapat digunakan untuk mengatasi abses dentoalveolar yang tidak dapat diatasi oleh penisilin atau metronidazol.

Monografi: 

KLINDAMISIN

Indikasi: 

Infeksi serius akibat bakteri anaerob atau bakteri aerob gram positif. Infeksi serius saluran nafas (emfiema, pnemonitis anaerob, abses paru), infeksi serius jaringan lunak dan kulit, septikemia, infeksi intra-abdomen (peritonitis, abses intra-abdomen), infeksi ginekologi (endometritis, selulitis pelvis pasca operasi vagina, abses tuboovarium non-gonokokal, salpingitis, atau inflamasi pelvis ketika diberikan bersamaan dengan antibiotik untuk bakteri aerob gram negatif), servisitis karena Chlamydia trachomatis, infeksi mulut (abses periodontal, periodontitis), terapi toksoplasmik ensefalitis pada pasien dengan AIDS (kombinasi bersama pirimetamin). Klindamisin dapat menjadi pilihan untuk pasien alergi golongan penisilin.

Peringatan: 

Neonatus, anak-anak, kehamilan, menyusui, diare, kolitis, kolitis pseudomembran, meningitis, gangguan lambung, mengemudi. Gangguan fungsi ginjal dan gangguan fungsi hati, perlu pemantauan fungsi hati dan fungsi ginjal pada pengobatan jangka panjang.

Interaksi: 

Eritromisin: kemungkinan memiliki efek antagonis. Golongan penghambat neuromuskular: mengubah mekanisme kerja dari obat golongan tersebut.

Kontraindikasi: 

Hipersensitivitas.

Efek Samping: 

Umum: kolitis pseudomembran, diare, nyeri abdomen, gangguan pada tes fungsi hati, ruam makulopapular. Tidak umum: eosinofilia, dysgeusia, hipotensi, cardiorespiratory arrest, mual, muntah, urtikaria, pada pemberian injeksi: nyeri dan abses. Jarang: eritema multiforme, poliartritis, pruritus. Frekuensi tidak diketahui: agranulositosis, leukopenia, neutropenia, trombositopenia, reaksi anafilaktik, Drug reaction with eoshiphilia and systemic symptoms (DRESS), esofagitis, ulkus esofagus, ikterus, nekrolisis epidermal toksis, sindroma Steven Johnson, dermatitis eksfoliatif, dermatitis bulosa, infeksi vagina, Acute Generalised Exanthematous Pustulosis (AGEP), iritasi pada tempat penyuntikan.

Dosis: 

Oral: Infeksi serius. Dewasa, 150-300 mg tiap 6 jam. Infeksi lebih serius. 300-450 mg tiap 6 jam. Anak, 8-16 mg/kg BB/hari dibagi dalam 3-4 dosis. Sebaiknya diminum dengan segelas air.

Penyakit inflamasi pelvis. Klindamisin fosfat 900 mg secara intravena tiap 6 jam ditambah gentamisin intravena/intramuskular dengan dosis awal 2 mg/kg dilanjutkan 1,5 mg/kg tiap 8 jam pada pasien dengan fungsi ginjal normal dilanjutkan sampai 48 jam hingga pasien membaik. Selanjutnya diberikan doksisiklin oral 100 mg, 2 kali sehari untuk melengkapi durasi terapi hingga 10-14 hari. Sebagai terapi alternatif, diberikan klindamisin oral 450 mg, 4 kali sehari untuk melengkapi durasi terapi hingga 10-14 hari.

Servisitis karena Chlamydia trachomatis. 450 mg 4 kali sehari selama 10-14 hari

Terapi toksoplasmik ensefalitis pada pasien AIDS. Intravena: 600-1200 mg tiap 6 jam selama 3 minggu, dilanjutkan dengan klindamisin 300 mg tiap 6 jam atau 450 mg tiap 8 jam selama 3 minggu. Dikombinasi dengan pirimetamin: 100-200 mg dibagi dalam 2 dosis selama 1-2 hari, dilanjutkan dengan 75 mg/hari. Asam folinat 10-20 mg/hari harus diberikan pada pirimetamin dosis tinggi.

Infeksi streptokokus β-hemolitik. Terapi klindamisin selama minimal 10 hari.