5.1.8.1 Kloramfenikol

Kloramfenikol merupakan antibiotik spektrum luas, namun dapat menyebabkan efek samping hematologik yang berat jika diberikan secara sistemik. Oleh karena itu, obat ini sebaiknya dicadangkan untuk penanganan infeksi yang mengancam jiwa, terutama akibat Hemophilus influenzae dan demam tifoid. Kloramfenikol juga digunakan pada fibrosis sistik untuk mengatasi infeksi pernafasan karena Burkholderia cepacia yang resisten terhadap antibiotik lain. Sindrom Grey baby dapat terjadi setelah pemberian dosis tinggi pada neonatus dengan metabolisme hati yang belum matang. Untuk menghindarkan hal ini dianjurkan untuk melakukan monitoring kadar plasma. Kloramfenikol juga tersedia dalam bentuk tetes mata (lihat 11.1) dan tetes telinga (12.1.1).

Monografi: 

KLORAMFENIKOL

Indikasi: 

lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

hindari pemberian berulang dan jangka panjang. Turunkan dosis pada gangguan fungsi hati dan ginjal. Lakukan hitung jenis sel darah sebelum dan secara berkala selama pengobatan. Pada neonatus dapat menimbulkan grey baby syndrome. (Periksa kadar dalam plasma).

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (kloramfenikol).

Kontraindikasi: 

wanita hamil, menyusui dan pasien porfiria.

Efek Samping: 

kelainan darah yang reversibel dan ireversibel seperti anemia aplastik (dapat berlanjut menjadi leukemia), neuritis perifer, neuritis optik, eritema multiforme, mual, muntah, diare, stomatitis, glositis, hemoglobinuria nokturnal.

Dosis: 

oral, injeksi intravena atau infus: 50 mg/kg bb/hari dibagi dalam 4 dosis (pada infeksi berat seperti septikemia dan meningitis, dosis dapat digandakan dan segera diturunkan bila terdapat perbaikan klinis).

ANAK: epiglotitis hemofilus, meningitis purulenta, 50-100 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi. BAYI di bawah 2 minggu, 25 mg/kg bb/hari (dibagi dalam 4 dosis). 2 minggu-1 tahun, 50 mg/kg bb/hari (dibagi 4 dosis).

TIAMFENIKOL

Indikasi: 

infeksi yang disebabkan oleh Salmonella sp., Hemophilus influenzae (terutama infeksi meningeal), Rickettsia, lyphogranuloma-psittacosis, dan bakteri Gram negatif penyebab bakterimiameningitis; tidak digunakan untuk hepatobilier dan gonore.

Peringatan: 

hanya digunakan untuk infeksi yang sudah jelas penyebabnya; pemakaian dalam waktu lama perlu dilakukan pemeriksaan hematologik secara berkala; sesuaikan dosis pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, hentikan penggunaan apabila timbul retikulositopenia, leukopenia, trombositopenia atau anemia; lama pemakaian sebaiknya tidak melebihi batas waktu yang ditentukan; kehamilan dan menyusui (dapat menembus plasenta dan diekskresikan melalui ASI); hati-hati pada bayi baru lahir (2 minggu pertama) dan bayi prematur (untuk menghindari timbulnya sindrom Grey); penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan timbulnya mikroorganisme yang tidak sensitif termasuk fungi dan bakteri.

Interaksi: 

penggunaan bersama kloramfenikol dapat mengakibatkan resistensi silang; hati-hati bila digunakan bersama dengan obat-obat yang juga dimetabolisme oleh enzim-enzim mikrosom hati, seperti dikumarol, fenitoin, tolbutamid, dan fenobarbital.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap tiamfenikol; gangguan fungsi hati dan ginjal yang berat; tindakan pencegahan infeksi bakteri dan pengobatan infeksi trivial, infeksi tenggorokan dan influenza.

Efek Samping: 

diskrasia darah (anemia aplastik, anemia hipoplastik, trombositopenia dan granulositopenia), gangguan saluran pencernaan (mual, muntah, glositis, stomatitis dan diare), reaksi hipersensitif (demam, ruam angioedema, dan urtikaria), sakit kepala, depresi mental, neuritis optik dan sindrom grey.

Dosis: 

Dewasa, anak-anak, dan bayi berusia di atas 2 minggu, 50 mg/kg bb sehari dalam dosis terbagi 3-4 kali sehari.Bayi prematur, 25 mg/kg bb sehari dalam dosis terbagi 4 kali sehari. Bayi berusia di bawah 2 minggu, 25 mg/kg bb sehari dalam dosis terbagi 4 kali sehari.