5.1.6 Kuinolon

Asam nalidiksat dan norfloksasin efektif untuk infeksi saluran kemih tanpa komplikasi.

Siprofloksasin aktif terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Siprofloksasin terutama aktif terhadap kuman Gram negatif termasuk salmonella, shigella, kampilobakter, neisseria, dan pseudomonas. Siprofloksasin hanya memiliki aktivitas yang sedang terhadap bakteri Gram positif seperti Streptococcus pneumoniae dan Enterococcus faecalis karena itu tidak boleh digunakan untuk pneumonia pneumokokus. Siprofloksasin aktif terhadap klamidia dan beberapa mikobakteria. Sebagian besar kuman anaerob tidak sensitif terhadap siprofloksasin. Penggunaan siprofloksasin termasuk untuk infeksi saluran napas (tapi bukan pneumonia pneumokokus), saluran kemih, sistem pencernaan (termasuk demam tifoid) dan gonore serta septikemia oleh organisme yang sensitif.

Pada anak, siprofloksasin digunakan untuk infeksi pseudomonas pada fibrosis sistik (pada anak di atas usia 5 tahun) dan juga untuk mengatasi dan mencegah antrax inhalation. Jika manfaat pemberian melebihi risiko yang dapat ditimbulkan, siprofloksasin dapat digunakan untuk mengatasi infeksi saluran nafas, saluran kemih dan sistem saluran cerna (termasuk demam tifoid). Selain itu juga digunakan untuk mengobati septikemia yang disebabkan organisme yang multi resisten (biasanya infeksi yang diperoleh di rumah sakit) dan gonore (walaupun resistensi meningkat). Siprofloksasin juga digunakan untuk mencegah penyakit meningokokus. Untuk anak, tetes mata ofloksasin digunakan untuk infeksi mata. Data mengenai pengunaaan kuinolon lain pada anak masih terbatas.

Ofloksasin digunakan untuk infeksi saluran kemih, saluran napas bagian bawah, gonore, uretritis dan servisitis non gonokokus. Levofloksasin aktif terhadap organisme Gram positif dan Gram negatif. Memiliki aktivitas yang lebih besar terhadap pneumokokus dibandingkan siprofloksasin. Levofloksasin diindikasikan untuk community acquired pneumonia tapi sebagai terapi lini kedua. Di Indonesia, ketiga obat ini tidak disetujui untuk pengobatan infeksi kulit dan jaringan lunak karena banyak ditemukan stafilokokus yang resisten. Penggunaan obat ini sebaiknya dihindarkan pada MRSA.

Moksifloksasin sebaiknya digunakan untuk mengobati eksaserbasi akut dari bronkitis kronis hanya bila terapi konvensional tidak berhasil atau dikontraindikasikan dan sebagai terapi lini kedua dari community acquired pneumonia. Moksifloksasin aktif terhadap organisme Gram positif dan Gram negatif Moksifloksasin memiliki aktivitas yang lebih besar dibandingkan siprofloksasin terhadap organisme Gram positif termasuk pneumokokus. Moksifloksasin tidak aktif terhadap Pseudomonas aeruginosa atau meticillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Antrax inhalation atau gastrointestinal antrax pada pasien dewasa atau anak di atas 12 tahun sebaiknya diberi pengobatan awal siprofloksasin atau doksisiklin dalam kombinasi dengan satu atau dua antibiotik lain (seperti amoksisiklin, benzilpenisilin, kloramfenikol, klaritromisin, klindamisin, imipenem dengan silastatin dan vankomisin). Jika kondisi membaik dan kepekaan bakteri B. antrax dipastikan, pengobatan diganti ke antibiotik tunggal dan antibakteri profilaksis sebaiknya dilanjutkan selama 60 hari.

Siprofloksasin atau doksisiklin dapat diberikan sebagai post exposure prophylaxis setelah terjadi antraks. Jika kontak terhadap antrax sudah dipastikan, antibakteri profilaksis sebaiknya dilanjutkan selama 60 hari. Antibakteri profilaksis dapat diganti amoksisilin setelah 10-14 hari jika strain Bacillus anthracis sensitif terhadap amoksisilin. Vaksinasi antraks dapat memperpendek pemberian antibakteri profilaksis.

PERHATIAN: Kuinolon sebaiknya digunakan secara hati-hati pada pasien dengan riwayat epilepsi atau kondisi yang dapat menyebabkan kejang, defisiensi G6PD, miastenia gravis (risiko eksaserbasi), pasien gangguan ginjal (Lampiran 3), pada wanita hamil (lampiran 2) dan ibu menyusui (lampiran 4), anak-anak dan remaja (hasil penelitian pada hewan menunjukkan adanya artropati pada sendi penunjang berat badan). Sebaiknya dihindari paparan terhadap sinar matahari yang berlebihan (hentikan bila terjadi fotosensitivitas). Kuinolon juga dapat menimbulkan kejang pada pasien dengan atau tanpa riwayat kejang. Penggunaan AINS pada saat yang bersamaan dapat memicu terjadinya kejang.

Interaksi lain (lihat Lampiran 1, kuinolon).

Penggunaan pada anak. Kuinolon dapat menyebabkan artropati pada sendi penahan berat badan pada hewan, karena itu tidak boleh digunakan pada anak dan remaja. Namun, kebermaknaan efek ini pada manusia masih belum diketahui dengan pasti. Pada beberapa kondisi, penggunaan kuinolon pada anak dapat dilakukan. Asam nalidiksat digunakan untuk infeksi saluran kemih pada anak di atas usia 3 bulan. Siprofloksasin diindikasikan untuk infeksi pseudomonas pada fibrosis sistik untuk anak di atas usia 5 tahun dan untuk profilaksis antraks.

Penggunaan Fluorokuinolon dapat meningkat-kan risiko tendonitis dan tendon rupture pada semua rentang usia. Kerusakan tendon ini dapat terjadi dalam 48 jam setelah dimulai terapi. Karena itu perlu diperhatikan hal-hal berikut:

  • Kuinolon dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat gangguan tendon yang disebabkan oleh penggunaan kuinolon.
  • Kemungkinan terjadinya tendonitis lebih besar pada lansia yang berusia lebih dari 60 th, pasien pasca transplantasi ginal, jantung atau paru.
  • Risiko terjadinya kerusakan tendon meningkat jika digunakan bersama dengan kortiko-steroid
  • Jika diduga terjadi tendonitis, penggunaan kuinolon sebaiknya segera dihentikan.

EFEK SAMPING: Efek samping kuinolon meliputi mual, muntah, dispepsia, nyeri lambung, diare (jarang, kolitis terkait antibiotik), sakit kepala, pusing, gangguan tidur, ruam (sindroma Stevens-Johnson dan nekrolisis epidermal toksik), dan pruritus. Efek samping yang jarang terjadi antara lain anoreksia, peningkatan kadar urea dan kreatinin dalam darah, mengantuk, restlessness, astenia, depresi, bingung, halusinasi, kejang, tremor, paraestesia, hipoastesia, fotosensitivitas, reaksi hiper-sensitivitas termasuk demam, urtikaria, angioedema, artralgia, mialgia dan anafilaksis serta gangguan darah (mencakup eosinofilia, leukopenia, trombositopenia, selain itu dapat juga terjadi gangguan penglihatan, pengecapan, pendengaran dan penciuman. Juga dilaporkan terjadinya inflamasi tendon dan kerusakan tendon (terutama pada lansia dan penggunaan bersama kortikosteroid). Efek samping lain yang juga dilaporkan anemia hemolitik, gagal ginjal, nefritis interstisial dan disfungsi hati (termasuk hepatitis dan cholestatic jaundice). Obat sebaiknya dihentikan bila terjadi reaksi hipersensitivitas (termasuk ruam berat), reaksi neurologis atau reaksi psikiatrik.

Monografi: 

ASAM NALIDIKSAT

Indikasi: 

infeksi saluran kemih.

Peringatan: 

Hindari pada porfiria dan riwayat kejang; hindari paparan berlebihan terhadap sinar matahari. Dapat mempengaruhi hasil uji reduksi urin, hitung jenis sel darah, uji fungsi hati dan ginjal bila pengobatan lebih dari 2 minggu. Hindari penggunaan pada defisiensi G6PD, peningkatan tekanan intrakranial, riwayat konvulsi, paralisis nervus kranialis, kolestasis, asidosis metabolik.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (kuinolon).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas.

Dosis: 

1 gram tiap 6 jam selama 7 hari. Untuk infeksi kronis: 500 mg tiap 6 jam. ANAK di atas 3 bulan, maksimum 50 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi. Untuk jangka panjang, 30 mg/kg bb/hari.

FLEROKSASIN

Indikasi: 

infeksi saluran pernafasan bagian bawah, infeksi saluran kemih (disertai komplikasi atau tanpa komplikasi), gonore (infeksi gonokok, tanpa komplikasi), infeksi salmonela yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau paratyphi, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi tulang dan sendi.

Peringatan: 

dianjurkan memonitor secara berkala bakteriologi untuk menjaga kemungkinan timbulnya resistensi bakteri bilamana respon klinik tidak memuaskan; dapat menyebabkan stimulasi susunan saraf pusat pada pasien yang diketahui atau diduga mempunyai kelainan neurologi; lansia dengan penurunan fungsi ginjal dan berat badan rendah; turunkan dosis pada gangguan fungsi ginjal, sirosis hati dengan asites dan lansia; fotosensitif; hati-hati apabila menjalankan mesin atau mengendarai kendaraan bermotor karena menyebabkan pusing.

Interaksi: 

pemberian bersama dengan antasid yang mengandung aluminium hidroksida dan/atau magnesium hidroksida menurunkan absorpsi sebanyak 20-25%.

Kontraindikasi: 

pasien yang hipersensitif terhadap kuinolon termasuk asam nalidiksat; anak-anak dan remaja berusia di bawah 18 tahun, kehamilan dan menyusui.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, insomnia, sakit kepala, pusing, lelah, pruritus, plebitis; mulut kering, rasa tidak enak pada mulut, anoreksia, konstipasi, sakit perut, infeksi vagina, hipotensi, artralgia, fotosensitif, erupsi, berkeringat, mimpi buruk, perasaan terbakar, pruritus, merah pada tempat penyuntikan, jumlah eosinofil tinggi, jumlah sel-sel darah merah meningkat, leukosit rendah, jumlah bilirubin tinggi, SGPT tinggi, SGOT tinggi, alkalin fosfatase tinggi, BUN tinggi, urea tinggi, glukosa bebas tinggi, dan protein dalam urin tinggi.

Dosis: 

oral atau infus intravena selama 1 jam, 400 mg sekali sehari; lama pengobatan umumnya 7- 14 hari, tetapi pada infeksi yang lebih serius atau infeksi kronis kulit dan jaringan lunak dan infeksi tulang dan sendi dibutuhkan pengobatan yang lebih lama (hingga 12 minggu); Infeksi gonokok tanpa komplikasi, infeksi saluran kemih tanpa komplikasi (sistitis pada ibu-ibu muda) dosis tunggal, oral, 400 mg.Infeksi saluran kemih, oral, 200 mg selama 7-10 hari.Infeksi saluran pernafasan bagian bawah, infus intravena, 400 mg sekali sehari, oral, 400 mg sekali sehari. Infeksi saluran kemih (disertai komplikasi atau tanpa komplikasi), oral, 200 mg sekali sehari.Gonore (infeksi gonokok tanpa komplikasi), oral, 400 mg sekali sehari.Infeksi salmonella yang disebabkan Salmonella typhi atau paratyphi, infus intravena, 400 mg sekali sehari, oral, 400 mg sekali sehari. Infeksi kulit dan jaringan lunak, infus intravena, 400 mg sekali sehari; oral, 400 mg sekali sehari. Infeksi tulang dan sendi, infus intravena, 400 mg sekali sehari, oral, 400 mg sekali sehari. Penyesuaian dosis tidak diperlukan pada infeksi-infeksi yang diobati dengan dosis ganda 200 mg atau dosis tunggal 400 mg, tetapi penyesuaian dosis diperlukan untuk golongan pasien tertentu, pengobatan dimulai dengan dosis tunggal 400 mg, kemudian dilanjutkan dengan dosis tetap 200 mg sekali sehari selama pengobatan; golongan pasien ini adalah pasien dengan bersihan kreatinin < 40 mL per menit atau yang menjalani hemodialisa dan chronic ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), pasien dengan berat badan < 50 Kg, pasien wanita berumur 65 tahun atau lebih dan pasien berusia 75 tahun atau lebih dimana ekskresi ginjalnya menurun; pasien dengan kasus sirosis hati yang disertai asites; pasien dengan kegagalan fungsi hati.

LEVOFLOKSASIN

Indikasi: 

infeksi sinusitis maksilaris akut, eksaserbasi bakterial akut pada bronkitis kronik, pneumonia komunitas (community-acquired pneumonia), uncomplicated skin dan skin structure infections, infeksi saluran kemih kompleks (complicated urinary tract infection), dan pielonefritis akut karena mikroorganisme yang sensitif.

Peringatan: 

kejang, psikosis toksik, peningkatan tekanan intrakranial, stimulasi sistem saraf pusat, hipersensitifitas, reaksi anafilaksis, kolitis pseudomembran, kolitis terkait dengan antibiotik, ruptur tendon, hidrasi yang adekuat harus dipertahankan, insufisiensi ginjal, reaksi fototoksisitas sedang hingga berat, diketahui atau dicurigai gangguan sistem saraf pusat, gangguan glukosa darah, diabetes.

Interaksi: 

berpotensi membentuk kelat bersama ion logam (Al, Cu, Zn, Mg, Ca), antasida mengandung aluminium atau magnesium dan obat mengandung besi menurunkan absorpsi levofloksasin, penggunaan bersama AINS dengan kuinolon dapat meningkatkan risiko stimulasi SSP dan serangan kejang, gangguan glukosa darah, termasuk hiperglikemia dan hipoglikemia jika diberikan bersama obat antidiabetik, levofloksasin dapat menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis, sehingga dapat memberikan hasil negatif palsu pada diagnosis bakteri tuberkulosis.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap levofloksasin dan antimikroba golongan kuinolon, epilepsi, riwayat gangguan tendon terkait pemberian florokuinolon, anak atau remaja, kehamilan, menyusui.

Efek Samping: 

diare, mual, vaginitis, flatulens, pruritis, ruam, nyeri abdomen, genital moniliasis, pusing, dispepsia, insomnia, gangguan pengecapan, muntah, anoreksia, ansietas, konstipasi, edema, lelah, sakit kepala, palpitasi, parestesia, sindrom Stevens-Johnson, vasodilatasi tendon rupture.

Dosis: 

oral dan parenteral, 250 mg –750 mg sekali sehari selama 7-14 hari, tergantung pada jenis dan keparahan penyakit serta sensisitifitas patogen yang dianggap penyebab penyakit, sinusitis akut, 500 mg per hari selama 10-14 hari, eksaserbasi dari bronkitis kronik, 250-500 mg per hari selama 7-14 hari, pneumonia yang didapat dari lingkungan, 500 mg sekali atau dua kali sehari selama 7-14 hari, infeksi saluran kemih, 250 mg selama 7-10 hari (selama 3 hari untuk infeksi tanpa komplikasi), prostatitis kronik, 500 mg sekali selama 28 hari. Infeksi kulit dan jaringan lunak, 250 mg sehari atau 500 mg sekali atau dua kali sehari selama 7-14 hari, intravena (500 mg selama paling tidak 60 menit), pneumonia yang didapat dari lingkungan, 500 mg sekali atau dua kali sehari, infeksi saluran kemih dengan komplikasi, 250 mg sehari, dapat ditingkatkan pada infeksi parah, infeksi kulit dan jaringan lunak, 500 mg dua kali sehari.

Pasien dengan gangguan fungsi ginjal: bersihan kreatinin >50 mL/menit, tidak ada penyesuaian dosis, bersihan kreatinin 20-50 mL/menit, dosis awal 250 mg, selanjutnya 125 mg setiap 24 jam, atau dosis awal 500 mg, selanjutnya 250 mg setiap 24 jam, bersihan kreatinin 10-19 mL/menit atau <10 mL/menit (termasuk hemodialisis dan CAPD), dosis awal 250 mg, selanjutnya 125 mg setiap 24 jam, atau dosis awal 500 mg selanjutnya 125 mg setiap 24 jam.

MOKSIFLOKSASIN

Indikasi: 

eksaserbasi akut bronkitis kronik; pneumonia dari lingkungan (community-acquired pneumonia); sinusitis bakterial akut yang didiagnosis dengan baik, infeksi kulit complicated atau infeksi struktur kulit yang memerlukan terapi inisial parenteral dan dilanjutkan dengan oral.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; aritmia dengan kondisi pre-disposisi aritmia, termasuk iskemia otot jantung; hati-hati pada pengendara kendaraan bermotor, karena dapat menurunkan kewaspadaan.

Interaksi: 

lihat lampiran 1 (kuinolon).

Kontraindikasi: 

lihat keterangan di atas; gangguan fungsi hati berat; memiliki riwayat perpanjangan interval QT, bradikardia, memiliki riwayat aritmia simtomatik, gagal jantung dengan penurunan fraksi ejeksi ventrikular kiri, gangguan elektrolit, pemberian bersama dengan obat yang diketahui dapat memperpanjang interval QT.

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga mulut kering, stomatitis, glossitis, flatulens, konstipasi, aritmia, palpitasi, udem perifer, angina, perubahan tekanan darah, dyspnoea, ansietas, dan berkeringat; jarang: hipotensi, hi- perlipidemia, agitasi, mimpi yang tidak normal, inkordinasi, hiperglikemia dan kulit kering.

Dosis: 

400 mg sekali sehari selama 10 hari untuk pneumonia yang didapat dari lingkungan, 5-10 hari untuk eksaserbasi (akut) dari bronkitis kronik, 7 hari untuk sinusitis. Tidak diperlukan penyesuaian dosis pada manula, pasien dengan berat badan rendah atau pasien rawat jalan dengan gangguan fungsi ginjal ringan sampai sedang (bersihan kreatinin di atas 30 mL/menit/1,73 m2).

NORFLOKSASIN

Indikasi: 

lihat pada dosis.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas. Peringatan pada defisiensi G6PD. Hindari pada anak yang dalam pertumbuhan dan belum pubertas. Hati-hati pada pengendara karena dapat mengurangi kewaspadaan.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (kuinolon).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas. Dapat menimbulkan anoreksia, depresi, ansietas, tinitus, nekrolisis epidermal tosik, dermatitis eksfoliatif, eritema multiforme (sindrom Stevens-Johnson)

Dosis: 

infeksi saluran kemih, 400 mg dua kali sehari selama 7-10 hari (3 hari untuk kasus tanpa komplikasi). Infeksi saluran kemih kronis dan berulang, 400 mg dua kali sehari sampai 12 minggu. dapat dikurangi menjadi 400 mg sekali sehari jika respon baik pada 4 minggu pertama.

OFLOKSASIN

Indikasi: 

infeksi yang disebabkan strain yang rentan terhadap ofloksasin seperti Staphylococcus sp., Streptococcuspneumoniae, Micrococcus sp., Corynebacterium sp., Branhamella catarrhalis, Pseudomonas sp., Pseudomonas aeruginosa, Haemophilus sp., (Haemophilus influenza, Haemophilus aegyptius) Moraxella sp (Morax-Axenfeld diplo bacillus) Serratia sp. Klebsiella sp., Proteus sp., Acinobacter sp., dan bakteri anaerob (Propionibacterium acne): blepharitis, dacryocystitis, konjungtivitis, tarsadenitis, keratitis dan corneal ulcer.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; gangguan fungsi hati; pasien dengan riwayat kelainan psikiatrik; hindari penggunaan jangka panjang. Sedimentasi pada ulcer dapat terjadi pada pengobatan untuk corneal ulcer dengan kuinolon topikal. Bila tidak hati-hati dapat merusak (dijaringan kornea). Hati-hati pada pengendara kendaraan bermotor, karena dapat menurunkan kewaspadaan.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (kuinolon).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas. Takikardia, hipotensi transient, reaksi vaskulitis, ansietas, sempoyongan (unsteady gait), neuropati, gejala ekstrapiramidal, reaksi psikosis (hentikan pengobatan- lihat keterangan di atas); sangat jarang terjadi: perubahan gula darah dan reaksi vaskulitis, terdapat kasus pneumonitis. Pada pemberian intravena dapat terjadi hipotensi dan reaksi lokal (tromboflebitis).

Dosis: 

oral: infeksi saluran kemih, 200-400 mg/hari, sebaiknya pagi hari. Pada infeksi saluran kemih atas dapat dinaikkan sampai dua kali 400 mg/hari. Infeksi saluran kemih bawah, 400 mg/hari, bila perlu dapat dinaikkan menjadi dua kali 400 mg/hari. Infeksi jaringan lunak, 400 mg dua kali sehari.

Gonore tanpa komplikasi, 400 mg dosis tunggal.

Infeksi Klamidia genital tanpa komplikasi, uretritis non-gonokokus, 400 mg per hari dosis tunggal atau dosis terbagi selama 7 hari.

Penyakit radang pelvik 400mg dosis tunggal. Infus intravena: (200 mg/30 menit). Infeksi saluran kemih dengan komplikasi, 200 mg/ hari. Infeksi saluran kemih bawah, 200 mg dua kali sehari.

Septikemia, 200 mg dua kali sehari.

Infeksi kulit dan jaringan lunak, 400 mg dua kali sehari. Pada infeksi berat atau dengan komplikasi, dosis dapat ditingkatkan menjadi 400 mg dua kali sehari.

SIPROFLOKSASIN

Indikasi: 

infeksi bakteri gram positif dan gram negatif. Profilaksis pada bedah saluran cerna bagian atas. Lihat juga keterangan di atas.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas. Hindari alkalinisasi urin berlebihan dan pastikan minum yang cukup (risiko kristaluria); hati-hati pada pengendara kendaraan bermotor, karena dapat menurunkan kewaspadaan, efeknya meningkat dengan adanya alkohol. Interaksi: lihat Lampiran 1 (kuinolon).

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas, juga flatulen, disfagia, pankreatitis, takikardia, hipotensi, udem, kemerahan, berkeringat, gangguan dalam bergerak, tinnitus, vaskulitis, tenosinovitis, eritema, nodosum, hemorrhagic bullae, petechiae dan hiperglikemia; nyeri dan flebitis pada tempat penyuntikan.

Dosis: 

oral: infeksi saluran napas, 250-750 mg dua kali sehari.

Infeksi saluran kemih, 250-500 mg dua kali sehari (untuk akut tanpa komplikasi, 250 mg dua kali sehari selam 3 hari). Gonore 500 mg dosis tunggal.

Infeksi Pseudomonal saluran pernafasan bawah pada cystic fibrosis 750 mg dua kali sehari; ANAK 5-17 tahun (lihat Peringatan di atas), sampai 20 mg/kg bb dua kali sehari (maksimal 1,5 g sehari).

Infeksi lain, 500-750 mg dua kali sehari. Profilaksis bedah, 750 mg 60-90 menit sebelum operasi.

Injeksi intravena: (selama 30-60 menit), 200-400 mg dua kali sehari.

Infeksi Pseudomonal saluran pernafasan bawah pada cystic fibrosis 400 mg dua kali sehari. ANAK 5-17 tahun (lihat Peringatan di atas), sampai 10 mg/kg bb tiga kali sehari (maksimal 1,2 g sehari).

Infeksi saluran kemih, 100 mg dua kali sehari. Gonore, 100 mg dosis tunggal.

ANAK: tidak dianjurkan (lihat Peringatan di atas). Tapi bila pertimbangan manfaat risiko menguntungkan, oral: 10-30mg/kg bb/hari dibagi dua dosis; intravena: 8-16 mg/kg bb/hari dibagi dua dosis.

Antraks (pengobatan dan profilaksis setelah terpapar, lihat keterangan diatas), oral, 500 mg sehari dua kali; ANAK 30 mg/kg bb/hari dibagi dua dosis (maksimal 1 g per hari) Injekasi intravena, 400 mg sehari dua kali; ANAK 20 mg/kg bb/hari dibagi 2 dosis (Maksimal 800 mg per hari).

SPARFLOKSASIN

Indikasi: 

pneumonia akut berasal dari komunitas (CAP/Community-acquired pneumonia) yang diduga disebabkan oleh bakteri pneumokokus dan non-pneumokokus; eksaserbasi dari penyakit obstruksi paru menahun (COPD); sinusitis purulen akut; infeksi yang sudah resisten terhadap penisilin atau antibiotik beta-laktam lain.

Peringatan: 

reaksi fototoksisitas; penderita dengan riwayat pemanjangan QTc, kongenital atau didapat (misal infark miokard akut); penderita dengan riwayat hipokalemia (periksa kadar kalium sebelum pengobatan dengan sparfloksasin); bradiaritmia; tendinitis dan/atau ruptur tendon (terutama mempengaruhi tendon Achilles); rasa nyeri atau inflamasi; pasien yang diduga menderita tuberkulosis (perhatikan aktivitas potensial sparfloksasin terhadap mikobakteria); negatif palsu pada biakan mikobakteria; efek terhadap sistim saraf pusat (dianjurkan untuk tidak mengendarai atau menjalankan mesin); pasien hemodialisis atau dialisis peritoneum; hindari pemaparan terhadap sinar matahari, sinar terang dan sinar ultraviolet selama masa pengobatan ditambah lima hari setelah pengobatan selesai.

Interaksi: 

penggunaan bersama amiodaron, sotalol dan bepridil menimbulkan risiko torsades de pointes karena perpanjangan interval Q-T (efek aditif elektrofisiologis); tidak dianjurkan kombinasi dengan obat yang dapat memperpanjang interval Q-T dan/atau menimbulkan torsades de pointes seperti antiaritmia (bretilium, disopiramid, prokainamid, kuinidin), dan obat-obat lain seperti astemisol, eritromisin, kuinin, klorokuin, halofantin, cisaprid, pentamid, probukol, terfenadin, vinkamin, beberapa antidepresan trisiklik, neuroleptik tertentu (seperti sulfoprid, fenotiasin) karena menimbulkan risiko torsades de pointes akibat pemanjangan interval Q-T (efek aditif elektrofisiologi); diperlukan pemantauan klinis dan elektrokardiografi secara seksama; hati-hati kombinasi bersama dengan garam magnesium, aluminium dan kalsium oksida dan hidroksida (dapat menurunkan penyerapan sparfloksasin sehingga selang waktu (lebih dari 4 jam) harus diberikan antara pemberian antasida dan sparfloksasin), garam besi dan seng (dosis oral > 30 mg per hari) harus diberikan minimal 2 jam setelah pemberian sparfloksasin; hati-hati pemberian pada kondisi hipokalemia yang disebabkan diuretik, laksatif, stimulan, amfoterisin B (intravena), kortikosteroid dan tetrakosaktid yang menyebabkan torsades de pointes, pada kondisi ini hipokalemia sebaiknya diatasi dahulu sebelum memulai pengobatan dengan sparfloksasin; hati-hati pemberian pada kondisi bradikardi yang disebabkan obat-obat seperti digoksin dan beta bloker (dapat menyebabkan torsades de pointes); penggunaan dengan Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) dan teofilin mengurangi ambang batas kejang.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap sparfloksasin atau golongan kuinolon lainnya; penggunaan bersama dengan amiodaron, sotalol dan bepridil (lihat interaksi); kehamilan dan menyusui; anak-anak hingga akhir masa pertumbuhan; penderita dengan riwayat penyakit tendon berhubungan dengan floroluinolon; penderita dengan defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase; riwayat pemanjangan interval Q-T (faktor kongenital atau non-kongenital); penggunaan bersama dengan obat anti aritmia atau obat lain yang menimbulkan aritmia.

Efek Samping: 

fototoksisitas termasuk manifestasi terbakar sinar matahari, eritema, dan lesi lepuh, (gejala fototoksik masih timbul setelah pengobatan dihentikan beberapa minggu); kemerahan, pruritus, bengkak, lepuh, gejala Steven-Johnson Syndrome, nyeri otot dan sendi, tendinitis, ruptur/ kerusakan tendon, gangguan irama jantung, termasuk torsades de pointes, aritmia, bradikardi, takikardi, takikardi ventrikel, mual, muntah, diare, nyeri perut, gastralgia, peningkatan enzim hati, ikterus, tremor, rasa mabuk, paraestesia, gangguan sensorik, sakit kepala, vertigo, halusinasi, gangguan tidur awal pengobatan, hipersensitifitas, urtikaria, angioedema, shok anafilaktik, edema quincke, trombositopenia yang sporadis, purpura trombositopenia, konjungtivis, uretritis, peningkatan transaminase sedang atau untuk sementara.

Dosis: 

Fungsi ginjal normal: dosis awal 400 mg sebagai dosis tungggal pada hari pertama, dilanjutkan 200 mg per hari dalam dosis tunggal, lama pengobatan rata-rata 10 hari untuk infeksi saluran pernafasan bagian bawah dan 4 hari untuk sinusitis, peningkatan dosis per hari tidak akan menambah manfaaat pengobatan; Gangguan fungsi ginjal: bersihan kreatinin lebih besar dari atau sama dengan 30 mL/menit, tidak diperlukan penyesuaian dosis, bersihan kreatinin lebih kecil dari 30 mL/menit, 400 mg dosis awal pada hari pertama, pada hari kedua pengobatan tidak diberikan, dilanjutkan dengan 200 mg pada hari ketiga, kemudian diberikan setiap 48 jam selama 10 hari; Tidak terdapat data untuk pasien gangguan hati berat. Obat ini dapat digunakan dengan atau tanpa makanan.