5.1.2.2 Antibiotik Beta-laktam Lain

Aztreonam. Merupakan antibiotik beta-laktam monosiklik (monobaktam) dengan spektrum antibakteri terbatas pada kuman aerob Gram negatif termasuk Pseudomonas aeruginosa, Neisseria meningitidis dan Hemophilus influenzae. Tidak boleh diberikan tunggal untuk terapi tanpa dasar diagnosa, karena obat ini tidak efektif untuk kuman Gram positif. Aztreonam juga efektif untuk Neisseria gonorrhoeae, tapi tidak untuk infeksi klamidia yang menyertainya.

Efek samping serupa dengan beta-laktam pada umumnya, meskipun aztreonam kurang menimbulkan reaksi hipersensitif pada pasien yang sensitif terhadap penisilin.

Imipenem, suatu karbapenem, memiliki aktifitas spektrum yang luas yang termasuk terhadap Gram positif anaerob dan aerob dan bakteri Gram negatif. Imipenem, sebagian mengalami inaktivasi secara enzimatik di ginjal, oleh karena itu diberikan bersama dengan silastatin, suatu penghambat enzim spesifik, yang menghambat metabolismenya di ginjal.

Efek samping serupa dengan antibiotik beta-laktam lainnya. Neurotoksisitas pernah dilaporkan pada dosis sangat tinggi dan pada pasien dengan gagal ginjal.

Meropenem, serupa dengan imipenem, tapi lebih tahan terhadap enzim di ginjal yang dapat menginaktivasi meropenem sehingga dapat diberikan tanpa silastatin. Meropenem memiliki potensi untuk menimbulkan seizure yang lebih kecil dan dapat digunakan untuk mengatasi infeksi sistem saraf pusat. Ertapenem memiliki spektrum luas terhadap organisme Gram positif, Gram negatif dan anaerob. Diindikasikan untuk mengatasi infeksi kandungan dan perut dan untuk community acquired pneumonia, namun tidak aktif terhadap patogen atypical respiratory dan aktivitasnya terbatas terhadap pneumokokus yang resisten terhadap penisilin. Juga diindikasikan unuk mengatasi infeksi kulit dan jaringan lunak pada kaki pasien diabetes melitus. Tidak seperti imipenem dan meropenem, ertapenem tidak aktif terhadap Pseudomonas atau Acinetobacter spp. Penggunaan karbapenem pada anak umumnya dibatasi pada infeksi nosokomial serius yang tidak responsif terhadap pengobatan standar.

Monografi: 

AZTREONAM

Indikasi: 

infeksi Gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa, Hemophilus influenzae dan Neisseria. meningitides.

Peringatan: 

alergi terhadap antibiotik beta-laktam, ganguan fungsi hati, pada gangguan fungsi ginjal dosis perlu disesuaikan.

Kontraindikasi: 

alergi terhadap aztreonam, wanita hamil atau menyusui.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, kram abdomen, gangguan pengecapan, ulkus mulut, ikterus dan hepatitis, gangguan darah (trombositopenia dan netropenia), urtikaria dan ruam.

Dosis: 

injeksi intramuskuler atau injeksi intravena selama 3-5 menit atau infus intravena. 1 g tiap 8 jam atau 2 g tiap 12 jam untuk infeksi berat. Dosis lebih dari 1g hanya diberikan secara intravena.

BAYI di atas 1 minggu: 30 mg/kg bb, intravena tiap 8 jam. ANAK di atas 2 tahun atau infeksi berat, 50 mg/kg bb tiap 6-8 jam, maksimum 8 g per hari.

Infeksi saluran kemih, 0,5-1 g tiap 8-12 jam. Gonore dan sistitis, 1 g dosis tunggal.

DORIPENEM

Indikasi: 

Infeksi pada dewasa: pneumonia nosokomial/termasuk pneumonia dengan ventilator; infeksi intra abdominal dengan komplikasi.

Peringatan: 

Hipersensitif terhadap antibakteri golongan beta laktam, kehamilan, menyusui, perlu penyesuaian dosis untuk pasien gagal ginjal.

Interaksi: 

Penggunaan bersama asam valproat harus disertai monitoring konsentrasi asam valproat dalam serum. Tidak dianjurkan penggunaan bersama Probenesid karena bisa terjadi penurunan klirens ginjal Doripenem.

Kontraindikasi: 

hipersensitif.

Efek Samping: 

sakit kepala, diare, mual, pruritus, infeksi vulvomikosis, kenaikan enzim hati, ruam, flebitis.

Dosis: 

Pneumonia nosokomial termasuk penumonia dengan ventilator: 500 mg tiap 8 jam diberikan dengan infus intravena selama 1 atau 4 jam.

Komplikasi infeksi intraabdominal, 500 mg tiap 8 jam diberikan dengan infus intravena selama 1 jam.

Lama pengobatan biasanya 5-14 hari tergantung pada tempat dan beratnya infeksi serta respons klinis pasien. Tidak dianjurkan untuk anak di bawah 18 tahun karena data keamanan dan efektivitas belum mencukupi. Tidak dianjurkan untuk pasien yang sedang menjalani hemodialisa.

ERTAPENEM

Indikasi: 

Terapi infeksi sedang hingga berat pada pasien dewasa yang disebabkan oleh strain mikroorganisme yang peka dan diduga atau terbukti resisten terhadap antibiotik lain, atau pasien yang tidak dapat mentolerir antibiotik lain pada infeksi intra abdominal yang kompleks, infeksi kulit dan struktur kulit yang kompleks, Community Acquired Pneumonia (CAP), infeksi saluran kemih yang kompleks termasuk pielonefritis, infeksi pelvis akut termasuk endomiometritis postpartum, infeksi pasca bedah ginekologi dan abortus septik.

Peringatan: 

Hipersensitivitas (antibiotik beta-laktam), gangguan sistem saraf pusat (lesi otak atau r iwayat kejang), gangguan fungsi ginjal, kehamilan, anak dibawah 18 tahun, lansia.

Interaksi: 

Probenesid: menghambat ekskresi ginjal ertapenem. Asam valproat atau natrium divalproex: mengurangi konsentrasi asam valproat sehingga meningkatkan risiko kejang secara tiba-tiba.

Kontraindikasi: 

Reaksi anafilaksis terhadap antibiotik beta-laktam, pemberian secara intramuskular pada pasien dengan riwayat hipersensitivitas anestesi lokal tipe amida dan syok berat atau penyumbatan jantung.

Efek Samping: 

Umum: sakit kepala, komplikasi area vena, flebitis/tromboflebitis, diare, mual, muntah, ruam, vaginitis. Tidak umum: pusing, somnolen, insomnia, kejang, bingung, ekstravasasi, hipotensi, sesak napas, kandidiasis mulut, konstipasi, regurgitasi asam, C. difficile karena diare, mulut kering, dispepsia, anoreksia, eritema, pruritus, nyeri abdomen, gangguan pengecapan, astenia/letih, kandidiasis, udem/bengkak, nyeri, nyeri dada, pruritus vagina, reaksi alergi, malaise, infeksi jamur. Frekuensi tidak diketahui: reaksi anafilaksis, perubahan status mental (agitasi, agresi, mengigau, disorientasi), penurunan tingkat kesadaran, diskinesia, gangguan cara berjalan, halusinasi, mioklonus, tremor, gigi berwarna, urtikaria, Drug Rash with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS syndrome), lemah otot, uji laboratorium: peningkatan ALT, AST alkalin fosfat dan angka platelet.

Dosis: 

Dewasa, dosis lazim 1 g sekali sehari. Diberikan melalui infus intravena atau injeksi intramuskular. Bila diberikan intravena, ertapenem harus diinfus selama > 30 menit. Penggunaan intramuskular dapat digunakan sebagai alternatif dari pemberian intravena pada kondisi dimana terapi intramuskular merupakan cara yang sesuai.

Lama terapi ertapenem biasanya 3-14 hari tapi dapat bervariasi tergantung dari jenis infeksi dan patogen penyebabnya (lihat indikasi). Jika diindikasikan secara klinis, perpindahan ke antibiotik oral dapat dilakukan jika terlihat perbaikan klinis.

Pasien dengan gangguan ginjal ringan hingga sedang (bersihan kreatinin > 30 mL/min/1,73 m2): tidak perlu penyesuaian dosis. Gangguan ginjal berat (bersihan kreatinin < 30 mL/min/1,73 m2) termasuk yang mendapatkan hemodialisis, harus mendapatkan 500 mg sehari.

Pasien hemodialisis: dosis harian 500 mg ertapenem diberikan dalam 6 jam sebelum hemodialisis, dosis tambahan 150 mg dianjurkan diberikan setelah hemodialisis, namun jika ertapenem diberikan setidaknya 6 jam sebelum hemodialisis, dosis tambahan tidak diperlukan. Gangguan fungsi hati: tidak perlu penyesuaian dosis.

IMIPENEM

Indikasi: 

infeksi gram positif dan gram negatif, aerobik dan anaerobik, profilaksis bedah. Tidak dianjurkan untuk infeksi SSP.

Peringatan: 

hipersensitif terhadap beta-laktam, gangguan fungsi ginjal, gangguan SSP (misalnya epilepsi), kehamilan.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap imipenem atau silastatin, menyusui.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare (pernah dilaporkan timbulnya kolitis), gangguan pengecapan, gangguan darah, uji Coombs positif, reaksi alergi (ruam, urtikaria, anafilaksis, nekrolisis epidermal toksik), mioklonus, konvulsi, bingung, gangguan fungsi mental, peningkatan enzim hati dan bilirubin, peningkatan ureum dan kreatinin serum, warna kemerahan di urin, reaksi lokal berupa nyeri, kemerahan, indurasi dan tromboflebitis.

Dosis: 

injeksi intramuskuler: Infeksi ringan dan sedang 500-750 mg tiap 12 jam. Uretritis dan servisitis gonokokus, 500 mg dosis tunggal.

Injeksi intravena: 1-2 gram per hari (dalam 3-4 kali pemberian). Untuk kuman yang kurang sensitif, 50 mg/kg bb/hari (maksimum 4 g/hari). ANAK di atas 3 bulan, 60 mg/kgbb (maksimum 2 g/hari) dibagi dalam 3-4 dosis.

Profilaksis bedah, 1 gram intravena, pada waktu induksi anestesi, diulangi 3 jam kemudian. Pada operasi dengan risiko infeksi tinggi (misal: kolorektal) dilanjutkan 500 mg,

8 dan 16 jam setelah induksi.

MEROPENEM

Indikasi: 

infeksi gram positif dan Gram negatif, aerobik dan anaerobik.

Peringatan: 

hipersensitivitas terhadap penisilin, sefalosporin dan antibiotik beta-laktam lainnya. Gangguan fungsi hati, fungsi ginjal, wanita hamil atau menyusui.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap meropenem.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare, nyeri perut, gangguan uji fungsi hati, trombositopenia, uji Coombs positif, eosinofilia, netropenia, sakit kepala, parestesia, reaksi lokal.

Dosis: 

injeksi intravena, 500 mg tiap 8 jam. Dapat ditingkatkan dua kali lipat pada infeksi nosokomial (pneumonia, peritonitis, septikemia dan infeksi pada pasien dengan netropenia). ANAK 3 bulan sampai 12 tahun, 10-20 mg/kg bb tiap 8 jam. Berat badan lebih dari 50 kg diberikan dosis DEWASA.Meningitis, 2 g tiap 8 jam. ANAK 40 mg/kg bb tiap 8 jam.Infeksi saluran napas bawah kronik pada fibrosis kistik, 2 g tiap 8 jam. ANAK 4-12 tahun, 25-40 mg/kg bb tiap 8 jam.