5.1.2.1 Sefalosporin

Sefalosporin merupakan antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk terapi septikemia, pneumonia, meningitis, infeksi saluran empedu, peritonitis, dan infeksi saluran urin. Aktivitas farmakologi dari sefalosporin sama dengan penisilin, diekskresi sebagian besar melalui ginjal. Kemampuan sefalosporin melintas sawar otak sangat rendah kecuali pada kondisi inflamasi; sefotaksim merupakan sefalosporin yang baik untuk infeksi sistem saraf pusat (misalnya meningitis). Efek samping utama dari sefalosporin adalah hipersensitifitas dan sekitar 10% dari pasien sensitif terhadap penisilin juga akan alergi terhadap sefalosporin.

Sefradin secara umum telah diganti oleh sefalosporin yang lebih baru.

Sefuroksim merupakan sefalosporin generasi kedua yang kurang sensitif terhadap inaktivasi oleh beta-laktamase dibandingkan dengan sefalosporin generasi pertama sehingga antibiotik ini aktif terhadap bakteri tertentu yang resisten terhadap antibiotik lain dan mempunyai aktivitas yang lebih besar terhadap Haemophilus influenza dan Neisseria gonorrhoeae.

Sefotaksim, seftazidim dan seftriakson merupakan sefalosporin generasi ketiga dengan aktivitas yang lebih luas dibandingkan dengan generasi kedua, terhadap bakteri Gram negatif. Namun, antibiotik ini kurang aktif dibandingkan sefuroksim terhadap bakteri Gram positif, terutama Staphylococcus aureus. Spektrum antibakterinya yang luas ini dapat menyebabkan superinfeksi dengan bakteri atau jamur yang resisten. Seftazidim memiliki aktivitas yang baik terhadap pseudomonas. Juga aktif terhadap bakteri Gram negatif. Seftriakson memiliki waktu paruh yang lebih panjang sehingga dapat diberikan satu kali sehari. Indikasi meliputi infeksi berat seperti septikemia, pneumonia dan meningitis. Garam kalsium dari seftriakson membentuk endapan dalam kandung kemih yang walau jarang tetapi dapat menimbulkan keluhan, namun dapat hilang jika dihentikan. Pada neonatus, seftriakson dapat menggeser bilirubin dari plasma albumin, oleh karena itu penggunaannya sebaiknya dihindari pada neonatus dengan hiperbilirubinemia yang tidak terkonjugasi, hipoalbuminemia, asidosis atau kegagalan pengikatan bilirubin.

Sefalosporin oral. Sefalosporin generasi pertama yang dapat diberikan secara oral adalah sefaleksin, sefradin, dan sefadroksil, sedangkan yang dari generasi kedua adalah sefaklor dan sefprozil. Obat-obat ini bermanfaat dalam infeksi saluran kemih, yang tidak memberikan respon terhadap antibiotik lain atau yang terjadi pada waktu hamil, infeksi saluran pernafasan, otitis media, sinusitis serta infeksi kulit dan jaringan lunak.

Sefaklor aktif terhadap Hemophilus influenzae, namun antibiotik ini menyebabkan reaksi kulit yang lebih lama dari biasanya, terutama pada anak-anak. Sefadroksil memiliki masa kerja yang lama dan dapat diberikan dua kali sehari; memiliki aktivitas yang lemah terhadap Hemophilus influenzae. Sefuroksim aksetil, bentuk ester dari sefuroksim yang merupakan sefalosporin generasi kedua sefuroksim, memiliki spektrum antibakteri yang sama dengan senyawa asalnya; antibiotik ini sulit diabsorpsi.

Sefiksim memiliki lama kerja yang lebih panjang daripada sefalosporin lainnya yang dapat diberikan secara oral. Hanya diindikasikan untuk infeksi akut. Sefpodoksim proksetil lebih aktif daripada sefaloporin oral lainnya terhadap bakteri patogen pernafasan dan diindikasikan untuk infeksi saluran pernafasan atas dan bawah. Untuk terapi penyakit Lyme, lihat 5.1.1.3.

Infeksi pada rongga mulut. Sefalosporin sedikit lebih efektif dibandingkan penisilin dalam mengatasi infeksi pada gigi, kurang efektif terhadap bakteri anaerob. Infeksi karena streptokokus oral (sering disebut streptokokus viridans) yang menjadi resisten terhadap penisilin, biasanya juga resisten terhadap sefalosporin. Hal ini penting dalam kasus pasien yang mengalami demam rematik dan yang sedang mendapat terapi penisilin jangka panjang. Obat yang dipakai adalah sefaleksin dan sefradin.

Sefalosporin generasi pertama:
Terutama aktif terhadap kuman Gram positif. Golongan ini efektif terhadap sebagian besar Staphylococcus aureus dan streptokokus termasuk Streptococcus pyogenes, Streptococcus viridans dan Streptococcus pneumoniae. Bakteri gram positif yang juga sensitif adalah Streptococcus anaerob, Clostridium perfringens, Listeria monocytogenes dan Corynebacterium diphteria. Kuman yang resisten antara lain MRSA, Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus faecalis. Sefaleksin, sefradin, sefadroksil, aktif pada pemberian per oral. Obat ini diindikasikan untuk infeksi saluran kemih yang tidak memberikan respons terhadap obat lain atau yang terjadi selama hamil, infeksi saluran napas, sinusitis, infeksi kulit dan jaringan lunak.

Sefalosporin generasi kedua:
Dibandingkan dengan generasi pertama, sefalosporin generasi kedua kurang aktif terhadap bakteri gram positif, tapi lebih aktif terhadap bakteri gram negatif, misalnya Hemophilus influenzae, Pr. mirabilis, Escherichia coli dan Klebsiella. Golongan ini tidak efektif terhadap Pseudomonas aeruginosa dan enterokokus. Sefoksitin aktif tehadap kuman anaerob. Sefuroksim dan sefamandol lebih tahan terhadap penisilinase dibandingkan dengan generasi pertama dan memiliki aktivitas yang lebih besar terhadap Hemophilus influenzae dan N. gonorrhoeae.

Sefalosporin generasi ketiga:
Golongan ini umumnya kurang aktif terhadap kokus gram positif dibandingkan dengan generasi pertama, tapi jauh lebih aktif terhadap Enterobacteriaceae, termasuk strain penghasil penisilinase. Seftazidim aktif terhadap pseudomonas dan beberapa kuman gram negatif lainnya. Seftriakson memiliki waktu paruh yang lebih panjang dibandingkan sefalosporin yang lain, sehingga cukup diberikan satu kali sehari. Obat ini diindikasikan untuk infeksi berat seperti septikemia, pneumonia dan meningitis. Garam kalsium seftriakson kadang-kadang menimbul-kan presipitasi di kandung empedu. Tapi biasanya menghilang bila obat dihentikan. Sefoksitin aktif terhadap flora usus termasuk Bacteroides fragilis, sehingga diindikasikan untuk sepsis karena peritonitis.

Farmakokinetik:
Dari sifat farmakokinetik, sefalosporin dibedakan menjadi 2 golongan. Sefaleksin, sefradin, sefaklor dan sefadroksil dapat diberikan per oral karena diabsorpsi melalui saluran cerna. Sefalosporin lainnya hanya dapat diberikan parenteral. Sefalotin dan sefapirin umumnya diberikan secara intravena karena menimbulkan iritasi pada pemberian intramuskular. Beberapa sefalosporin generasi ketiga misalnya moksalaktam, sefotaksim, seftizoksim dan seftriakson mencapai kadar yang tinggi dalam cairan serebrospinal, sehingga bermanfaat untuk pengobatan meningitis purulenta. Selain itu sefalosporin juga melewati sawar plasenta, mencapai kadar tinggi dalam cairan sinovial dan cairan perikardium. Pada pemberian sistemik, kadar sefalosporin generasi ketiga dalam cairan mata relatif tinggi, tapi tidak mencapai vitreus. Kadar dalam empedu umumnya tinggi, terutama sefoperazon. Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh ke urin, kecuali sefoperazon yang sebagian besar diekskresi melalui empedu. Oleh karena itu dosisnya sebaiknya disesuaikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.

Efek samping: Reaksi alergi merupakan efek samping yang paling sering terjadi. Reaksi anafilaksis dengan spasme bronkus dan urtikaria dapat terjadi. Reaksi silang biasanya terjadi pada pasien dengan alergi penisilin berat, sedangkan pada alergi penisilin yang ringan dan sedang, kemungkinannya kecil. Sefalosporin merupakan zat yang nefrotoksik, walaupun jauh kurang toksik dibandingkan dengan aminoglikosida dan polimiksin. Kombinasi sefalosporin dengan aminoglikosida memper-mudah terjadinya nefrotoksisitas. Depresi sumsum tulang terutama granulositopenia jarang terjadi.

Monografi: 

SEFADROKSIL

Indikasi: 

lihat pada sefaklor dan keterangan di atas.

Peringatan: 

lihat pada sefaklor.

Kontraindikasi: 

lihat pada sefaklor.

Efek Samping: 

lihat pada sefaklor.

Dosis: 

berat badan lebih dari 40 kg: 0,5-1 g dua kali sehari. Infeksi jaringan lunak, kulit, dan saluran kemih tanpa komplikasi: 1 g/hari. ANAK kurang dari 1 tahun: 25 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi. ANAK 1-6 tahun: 250 mg dua kali sehari. ANAK lebih dari 6 tahun: 500 mg dua kali sehari.

SEFAKLOR

Indikasi: 

infeksi bakteri gram positif dan gram negatif, lihat keterangan di atas.

Peringatan: 

sensitivitas terhadap antibakteri beta-laktam (hindari jika ada riwayat hipersensitivitas), gangguan ginjal (lampiran 3), kehamilan dan menyusui (tetapi boleh digunakan), positif palsu untuk glukosa urin (jika diuji untuk penurunan glukosa), positif palsu pada uji Coombs.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (sefalosporin).

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap sefalosporin.

Efek Samping: 

diare dan kolitis yang disebabkan oleh antibiotik (keduany a karena penggunaan dosis tinggi), mual dan muntah, rasa tidak enak pada saluran cerna, sakit kepala, reaksi alergi berupa ruam, pruritus, urtikaria, serum sickness-like reactions dengan ruam, demam dan artralgia, anafilaksis, sindroma Stevens-Johnson, nekrolisis epidermal toksis, gangguan fungsi hati, hepatitis transien dan kolestatik jaundice; eosinofil, gangguan darah (trombositopenia, leukopenia, agranulositosis, anemia aplastik, anemia hemolitik); nefritis interstisial reversibel, gangguan tidur, hiperaktivitas, bingung, hipertonia dan pusing, nervous.

Dosis: 

250 mg tiap 8 jam, untuk infeksi berat dosis dapat dinaikkan dua kali lipat, maksimum 4 g per hari; ANAK di atas 1 bulan: 20 mg/kg bb/hari dalam tiga dosis terbagi, untuk infeksi berat dosis dapat dinaikkan dua kali lipat, maks 1 g sehari; atau 1 bulan? tahun, 62,5 mg tiap 8 jam. ANAK berusia 1-5 tahun: 125 mg. Di atas 5 tahun: 250 mg. Untuk infeksi berat dosis dapat dinaikkan dua kali lipat.

SEFALEKSIN

Indikasi: 

lihat sefaklor.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

lihat sefaklor.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

250 mg tiap 6 jam atau 500 mg tiap 8-12 jam. Dapat dinaikkan sampai 1-1,5 g tiap 6-8 jam untuk infeksi berat.ANAK: 25 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi. Dapat dinaikkan dua kali lipat untuk infeksi berat (maksimum 100 mg/kg bb/hari). Di bawah 1 tahun: 125 mg tiap 12 jam. 1 sampai 5 tahun, 125 mg tiap 8 jam; 6 sampai 12 tahun, 250 mg tiap 8 jam.Profilaksis infeksi saluran kemih berulang, Dewasa, 125 mg pada malam hari.

SEFAMANDOL

Indikasi: 

profilaksis pada tindakan pembedahan. Lihat juga sefaklor.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

Injeksi intramuskuler atau intravena selama 3-5 menit atau infus intravena 0,5-2 g tiap 4-8 jam. BAYI di atas 1 bulan, 50-100 mg/kg bb/hari dibagi dalam 3-6 dosis. Untuk infeksi berat, 150 mg/kg bb/hari.Profilaksis bedah, 1-2 g 30-60 menit sebelum operasi, dilanjutkan dengan 1-2 g tiap 6 jam selama 24-48 jam. (sampai 72 jam untuk implantasi protesis).

SEFAZOLIN

Indikasi: 

lihat sefaklor; profilaksis bedah.

Peringatan: 

Lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

Lihat sefaklor.

Dosis: 

Injeksi intramuskular atau injeksi intravena atau infus, 0,5 g-1 g setiap 6-12 jam; ANAK 25-50 mg/kg bb setiap hari (dalam dosis terbagi), dapat ditingkatkan sampai 100 mg/kg bb per hari pada infeksi berat.

SEFDITOREN PIVOKSIL

Indikasi: 

untuk terapi infeksi yang disebabkan oleh strain yang peka pada Community acquired pneumoniae (CAP), eksaserbasi akut pada bronkitis kronis, faringotonsilitis, sinusitis akut, infeksi kulit dan jaringan lunak yang tidak kompleks.

Peringatan: 

pasien dengan sejarah hipersensitif penisilin; pasien dengan predisposisi personal atau keluarga terhadap gejala alergi seperti asma bronkial, exanthema, atau urtikaria; gangguan fungsi ginjal berat, pasien lansia, pasien dengan asupan makanan yang kurang atau sedang diberi infus makanan dan pasien dalam kondisi kesehatan yang buruk, pasien yang kurang sehat, wanita hamil dan menyusui.

Kontraindikasi: 

pasien dengan riwayat syok anafilaksis terhadap zat aktif atau komponen lain dari obat.

Efek Samping: 

diare, mual, perasaan tidak nyaman pada perut, exanthema, peningkatan SGOT, SGPT dan eosinophilia. Selain itu efek samping yang secara klinis bermakna adalah gejala shok anafilaksis, kolitis serius, sindroma Steven Johnson dan nekrolisis epidermal toksik, pneumonia interstisial, gangguan fungsi hati, disfungsi ginjal serius, agranulositosis.

Dosis: 

infeksi pneoumoniae karena lingkungan, 400 mg dua kali sehari, selama 14 hari; eksaserbasi akut dari bronkitis kronik, 200 mg dua kali sehari, selama 10 hari; faringotonsilitis, 200 mg dua kali sehari, selama 10 hari; infeksi ringan dari kulit dan jaringan lunak, 200 mg dua kali sehari, selama 10 hari. Diberikan sesudah makan.

SEFEPIM HIDROKLORIDA

Indikasi: 

Untuk mengatasi infeksi saluran napas bawah termasuk pneumonia dan bronkhitis, infeksi saluran kemih dan komplikasinya, termasuk pyelonepritis dan infeksi yang lebih berat, infeksi kulit dan jaringan kulit. infeksi intra abdomen, termasuk infeksi saluran empedu dan peritonitis, infeksi ginekologik, septikemia, pengobatan empiris pada febrile neutropenia.

Peringatan: 

Hati-hati pemakaian pada pasien yang hipersensitif terhadap obat ini, antibiotik penisilin atau beta-laktam lainnya, dan golongan sepalosporin. Jika terjadi alergi, pemakaian obat dihentikan, gangguan fungsi ginjal. Tidak dianjurkan pemakaian pada lansia, wanita hamil dan menyusui. Jangan digunakan untuk anak-anak di bawah 13 tahun.

Kontraindikasi: 

Hipersensitif terhadap antibiotik penisilin, dan beta-laktam lainnya, golongan sepalosporin dan hipersensitif terhadap obat ini.

Efek Samping: 

Hipersensitif: kemerahan, pruritus, demam. Saluran cerna: mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri abdomen, dispepsia Kardiovaskular: takikardia, nyeri dada. Pernapasan: batuk, nyeri di tenggorokan, dispnea. SSP: sakit kepala, pusing, insomania, paretesia, ansietas, bingung. Lainnya: astenia, berkeringat, vaginitis, edema perifer, nyeri, nyeri punggung. Kadang terjadi reaksi lokal seperti flebitis dan radang pada tempat injeksi intravena.

Dosis: 

Pemakaian intravena atau intramuskular: 1 g setiap 12 jam. Pengobatan dilakukan selama 7-10 hari tergantung beratnya infeksi. Untuk pasien dengan gangguan fungsi hati tidak diperlukan penyesuaian dosis. Perlu penyesuaian dosis pada kelainan fungsi ginjal: Bersihan kreatinin lebih kecil atau sama dengan 10 mL/menit, 250 mg/hari; Bersihan kreatinin 11-30 mL/menit, 500 mg/hari; Bersihan kreatinin 30-60 mL/menit, 1 g setiap 12 jam.

SEFETAMET

Indikasi: 

infeksi telinga, hidung dan tenggorokan (otitis media, sinusitis, pharyngotonsilitis); infeksi saluran pernafasan bagian bawah (serangan akut bronkitis kronis, trakeobronkitis, pneumonia); infeksi saluran urin (infeksi saluran urin yang tidak berkomplikasi, infeksi saluran urin yang berkomplikasi (termasuk pielonefritis akut primer), uretritis gonokok akut pada pria.

Peringatan: 

diare berat, kolitis dan kolitis pseudomembran; komplikasi yang ditimbulkan oleh toksigenik Clostridium difficile dapat terjadi selama atau sesudah pengobatan; gangguan fungsi ginjal (lihat pada dosis); kehamilan; neonatus dan menyusui (khasiat dan keamanan belum diketahui dengan pasti).

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap sefalosporin dan penisilin.

Efek Samping: 

diare, mual, muntah, nyeri abdomen, rasa tidak enak pada perut, nyeri perut, flatulensi, panas dalam perut, peningkatan bilirubin, peningkatan transaminase yang bersifat sementara, perasaan gatal, urtikaria, udem lokal, kulit merah, eksantema, purpura, lemah, letih, sakit kepala, pusing, leukopenia yang bersifat sementara atau eosinofilia, peningkatan platelet yang bersifat sementara, gingivitis, proktitis, vaginitis, dan konjungtivis.

Dosis: 

dewasa dan anak berusia lebih dari 12 tahun, oral, 500 mg 2 kali sehari Anak hingga usia 12 tahun, oral, 10 mg/kg bb 2 kali sehari.Infeksi saluran urin yang berkomplikasi, dosis total per hari dapat diberikan sebagai dosis tunggal, 1 jam sebelum atau sesudah makan malam. Uretritis gonokokal pada pria dan sistitis yang tidak berkomplikasi pada wanita, dosis tunggal 1500-2000 mg diberikan 1 jam sebelum atau sesudah makan (pada kasus sistitis, lebih baik diberikan pada malam hari). Instruksi dosis khusus: dosis yang dianjurkan untuk dewasa tidak perlu dimodifikasi pada pasien lansia, dosis untuk anak (dosis standar 10 mg/kg bb), untuk berat badan < 15 kg dosis 125 mg, untuk berat badan 16-30 kg dosis 250 mg, untuk berat badan 31-40 kg dosis 375 mg, untuk berat badan > 40 kg dosis 500 mg; anak hingga usia 12 tahun: dosis tidak melebihi 500 mg 2 kali sehari. Gangguan fungsi ginjal : penyesuaian dosis diperlukan pada pasien dengan kegagalan fungsi ginjal sedang sampai berat (bersihan kreatinin kurang dari 40 mL/min), dosis yang dianjurkan untuk dewasa yaitu : bersihan kreatinin lebih besar dari 40 mL/menit, 500 mg tiap 12 jam, bersihan kreatinin 10-40 mL/menit, 125 mg, tiap 12 jam, bersihan kreatinin lebih kecil atau sama dengan 10 mL/menit, dosis permulaan 500 mg kemudian 125 mg, tiap 12 jam; untuk pasien dengan bersihan kreatinin lebih kecil dari 10 mL/menit, dianjurkan agar diberikan dosis standar normal (500 mg) sebagai dosis permulaan pada hari pertama pengobatan; pada pasien yang sering mengalami hemodialisa, dosis standar normal 500 mg, diberikan pada akhir setiap hemodialisa.Pasien dengan gangguan fungsi hati tanpa asites, diberikan dosis standar yang dianjurkan.

SEFIKSIM

Indikasi: 

Infeksi saluran kemih ringan (uncomplicated) yang disebabkan oleh Escherichia coli dan Proteus mirabilis, otitis media disebabkan oleh Haemophilus influenza (strain beta-laktamase positif dan negatif), Moraxella (Branhamella), catarrhalis (kebanyakan merupakan strain beta-laktamase positif), dan Sterptococcus pyogenes; pharingitis dan tonsilitis yang disebabkan Streptococcus pyogenes; bronkitis akut dan bronkitis kronik dari eksaserbasi akut, yang disebabkan oleh Streptococcus pneuoniae dan Hemophilus influenzae (strain beta-laktamase positif dan negatif); pengobatan demam tifoid pada anak-anak dengan multi resisten terhadap regimen standar.

Peringatan: 

lihat di bawah sefaklor.

Interaksi: 

lihat di bawah sefaklor.

Kontraindikasi: 

lihat di bawah sefaklor.

Efek Samping: 

konstipasi.

Dosis: 

Dewasa dan anak >30 kg, dosis umum yang direkomendasikan 50–100 mg, oral dua kali sehari. Dosis disesuaikan dengan umur, berat badan, kondisi pasien. Untuk infeksi parah atau infeksi yang sulit disembuhkan (intractable) dosis ditingkatkan sampai 200 mg dua kali sehari; demam tifoid pada anak, 10–15 mg/kg bb/ hari selama 2 pekan.

SEFODIZIM

Indikasi: 

lihat pada dosis.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

infeksi saluran napas bawah, pemberian injeksi intramuskuler atau intravena lambat atau infus: 1 g tiap 12 jam.

Infeksi saluran kemih atas dan bawah (termasuk pielonefritis akut dan kronis dan sistitis): 1 g tiap 12 jam atau 2 g per hari dalam dosis tunggal.

SEFOPERAZON

Indikasi: 

Infeksi saluran napas bawah dan atas, infeksi saluran urin, peritonitis, kolesistitis, kolangitis, dan infeksi intra abdomen lainnya, septikemia, infeksi kulit dan jaringan kulit, infeksi tulang dan sendi. penyakit inflamasi pelvis, endometritis, gonore, dan infeksi saluran genital lainnya.

Peringatan: 

Hati-hati pemakaian obat pada wanita menyusui; Pemakaian obat untuk wanita hamil hanya jika sangat diperlukan; Keamanan dan efektivitas obat pada anak-anak belum dibuktikan; Pemakaian obat pada bayi prematur dan bayi baru lahir harus mempertimbangkan manfaat resiko pemberian obat.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

Hipersensitivitas: kemerahan makulopapular, urtikaria, eosinofilia, dan demam. Efek pada darah: penurunan neutrofil (neutropenia), pengurangan hemoglobin dan hematokrit, eosinofilia transient, hipoprotombinemia; Hati: penurunan kadar alkali fosfatase, SGOT, dan SGPT; Saluran cerna: Altered bowel habit (loose stools dan diare), efek ini akan hilang jika terapi dihentikan; Reaksi lokal: flebitis dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan.

Dosis: 

Dewasa, 2-4 g perhari, dalam dosis terbagi, diberikan setiap 12 jam. Pada infeksi yang berat dosis ditingkatkan menjadi total 8 g perhari dalam dosis terbagi, diberikan setiap 12 jam. Atau 12 g perhari diberikan dalam dosis terbagi setiap 8 jam, dengan dosis maksimum 16 g perhari. Dosis untuk pengobatan uretritis gonokokal 500 mg secara intramuskular dalam dosis tunggal. Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal dosis 2-4 g perhari. Bayi kurang dari 8 hari dan anak-anak, 50-200 mg/kg bb perhari diberikan setiap 12 jam. Dosis dapat dinaikkan menjadi 300 mg/kg bb per hari untuk pengobatan meningitis tanpa komplikasi.

SULPERAZON (SEFOPERAZON SULBAKTAM)

Indikasi: 

Untuk mengatasi infeksi saluran napas atas dan bawah; Infeksi saluran urin atas dan bawah.Infeksi peritonitis, kolesistisis, kolangitis, dan infeksi intra abdomen lainnya; Infeksi kulit dan jaringan lunak.

Peringatan: 

Pada pasien dengan kelaianan fungsi hati dan ginjal, kadar sefoperazon dalam darah sebaiknya dimonitor dan dilakukan penyesuaian dosis. Dosis tidak boleh lebih dari 2 g/kg bb per hari. Pemakaian obat ini dapat menyebabkan defisiensi vitamin K pada beberapa pasien.

Kontraindikasi: 

Pasien yang alergi terhadap penisilin, sulbaktam, sefoperazon atau sefalosporin lainnya.

Efek Samping: 

Efek pada saluran cerna: diare, mual dan muntah; reaksi dermatologi: kemerahan, urtikaria, eosinofil dan demam; hematologi: neutropenia, penurunan hemoglobin dan hematokrit, eosinofilia trombositopenia, anemia hemolitik; lain-lain: sakit kepala, demam, nyeri di tempat injeksi, chills; kelainan uji laboratorium: pengurangan angka SGOT, SGPT, alkali fosfatase, dan kadar bilirubin; reaksi lokal: rasa nyeri dan plebitis pada tempat injeksi intramuskular; telah dilaporkan adanya reaksi alergi anafilaktik, flushing, berkeringat, sakit kepala, dan takikardi setelah lima hari pemberian sefoperazon.

Dosis: 

Pemakaian untuk dewasa: Rasio 1:1, sulperazon 2-4 g (Aktivitas sulbaktam 1-2 g; Aktivitas sefoperazon 1-2 g). Dosis dapat diberikan setiap 12 jam dalam dosis terbagi yang sama. Pada infeksi yang parah dosis per hari dapat ditingkatkan mencapai 8 g dengan rasio 1:1 (4 g aktivitas sefoperazon). Dosis dapat diberikan setiap 12 jam dalam dosis terbagi yang sama. Dosis maksimum sulbaktam yang direkomendasikan adalah 4 g. Pemakaian untuk pasien dengan kelainan fungsi ginjal: Dosis dapat disesuaikan tergantung penurunan fungsi ginjal (bersihan kreatinin kurang dari 30 mg/menit) sebagai kompensasi terjadinya penurunan bersihan sulbaktam. Pasien dengan bersihan kreatinin 15-30 mL/menit dapat menerima dosis maksimum 1 g sulbaktam diberikan setiap 12 jam (dosis maksimum perhari 2 g sulbaktam), ketika bersihan kreatinin kurang dari 15 mL/menit dapat menerima dosis 500 mg sulbaktam setiap 12 jam (dosis maksimum perhari 1 g sulbaktam). Pada infeksi yang berat, dibutuhkan penambahan sefoperazon. Pemakaiaan pada anak-anak: Rasio 1:1, sulperazon 40-80 mg/kg bb per hari (Aktivitas sulbaktam 20-40 mg/kg bb per hari; Aktivitas sefoperazon 20-40 mg/kg bb per hari). Dosis dapat diberikan setiap 6 sampai 12 jam dalam dosis terbagi yang sama. Pada infeksi yang berat dosis perhari dapat ditingkatkan mencapai 160 mg/kg bb per hari dengan rasio 1:1. Obat dapat diberikan dalam dosis terbagi 2-4 yang sama. Pemakaian pada bayi baru lahir: Pada minggu pertama kelahiran, obat diberikan setiap 12 jam. Dosis maksimum perhari sulbaktam untuk bayi adalah 80 mg/kg bb per hari.

SEFOTAKSIM

Indikasi: 

lihat juga sefaklor; Profilaksis pada pembedahan. Epiglotitis karena hemofilus, meningitis.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

pemberian injeksi intramuskuler, intravena atau infus:1 g tiap 12 jam, dapat ditingkatkan sampai 12 g per hari dalam 3-4 kali pemberian. (Dosis di atas 6 g/hari diperlukan untuk infeksi pseudomonas). NEONATUS: 50 mg/kg bb/hari dalam 2-4 kali pemberian. Pada infeksi berat, dapat ditingkatkan 150-200 mg/kg bb/hari. ANAK: 100-150 mg/kg bb/hari dalam 2-4 kali pemberian. (pada infeksi berat dapat ditingkatkan menjadi 200 mg/kg bb/hari). Gonore: 1 g dosis tunggal.

SEFOTIAM

Indikasi: 

infeksi yang disebabkan oleh kuman yang peka terhadap sefotiam yaitu Staphylococcus sp., Streptococcus sp. (tidak untuk enterokokus), Streptokokus pneumoniae, Neisseria gonorrhoeae, Branhamella catarrhalis, Eschrichia coli, Citrobacter, Klebsiella sp., Proteus mirabilis, dan Hemophilus influenzae; faringolaringitis, bronkitis akut, tonsilitis, bronkitis kronis, bronkietaksis (yang disertai dengan infeksi), infeksi sekunder yang disebabkan oleh penyakit-penyakit pada saluran pernafasan dan pneumonia, pielonefritis, sistitis, uretritis, folikulitis, aknepustoloma, furunkel, furunkulosis, karbunkel, erisipelas, selulitis, limfangitis (limfadenitis), felon, perionisia supuratif (paronichia), abses subkutan, hidradenitis, infeksi ateroma, abses perianal, mastitis, infeksi superfisial sekunder yang disebabkan oleh trauma atau luka karena operasi, blefaritis, hordeolum, dakriosistitis, tarsadenitis, ulkus korneal, otitis media, dan sinusitis.

Peringatan: 

alergi, alergi terhadap sefalosporin atau penisilin; pada pemberian sefalosporin yang lain, dapat terjadi potensial alergi terhadap beta-laktam lain karena kemungkinan terjadinya alergi silang (Cross alergy); sefotiam diberikan sebelum makan untuk mencegah gangguan lambung; kehamilan; hati-hati pada pasien atau orang tua ataupun saudara yang mempunyai riwayat alergi seperti asma bronkial, ruam kulit, dan urtikaria; pasien gangguan saluran cerna; pasien yang sedang menjalani puasa, pasien yang dalam masa perawatan dan pemberian makanan dilakukan dengan menggunakan suntikan, pasien lansia atau dalam kondisi lemah (karena dapat menimbulkan gejala-gejala kekurangan vitamin K); menyusui karena dapat dieksresi melalui ASI.

Interaksi: 

menambah kerja ginjal terjadi dengan pemberian antibiotik golongan yang sama, aminoglikosida atau diuretik kuat.

Kontraindikasi: 

hipersensitif terhadap antibiotik golongan sefalosporin; gagal ginjal dengan bersihan kreatinin &#8804; 20 mL / menit; gagal hati.

Efek Samping: 

syok (hentikan penggunaan obat bila ada rasa tidak enak di mulut, penafasan yang berbunyi, pusing, stimulasi pada pergerakan usus besar, tinitus, dan berkeringat,); hipersensitif (bila terjadi reaksi hipersensitifitas seperti ruam kulit, urtikaria, eritema, gatal-gatal, demam, inflamasi pada kelenjar limfe, sakit sendi, dll, obat harus dihentikan dan pasien diberikan perawatan medis yang tepat); eritopenia, trombositopenia, eosinofilia, granulositopenia, anemia hemolitik; peningkatan SGPT, SGOT, alkalin fosfatase, dan LDH atau Y-GPT, jaundice; kolitis yang berat, diare, panas, sakit perut, leukositosis, feses dan mukus berdarah dengan pseudomembran (bila terjadi diare dan sakit perut, obat harus segera dihentikan); mual, muntah, jantung berdebar, anoreksia, rasa tidak enak pada lambung, sembelit; stomatitis, kandidiasis; gejala mucocutaneous ocular (Steven Johnson Syndrome), nekrosis epidermal (Lylell Syndrome), peningkatan BUN, keratinin; pneumonia atau pulmonary infiltration disertai eosinofilia, demam, batuk, dyspnea, gambaran foto rontgen yang tidak normal, eosinofilia; defisiensi vitamin K (hipoprotrombinemia, perdarahan, dll), gejala defisiensi vitamin B (glositis, stomatitis, anoreksia, neuritis, dll); kelelahan; pusing, sakit kepala, paraestesia, nyeri dada, lemas, dan udem di wajah.

Dosis: 

untuk infeksi faringolaringitis, bronkitis akut, tonsilitis, pneumonia, pielonefritis, sistitis, uretritis karena gonore, folikulitis, aknepustolosa, furunkel, furunkulosis, karbunkel, erisipelas, selulitis, limfangitis (limfadenitis), felon, perionisia supuratif (paronichia), abses subkutan, hidradenitis, infeksi ateroma, abses perianal, mastitis, infeksi superfisial sekunder yang disebabkan oleh trauma atau luka karena operasi, blepharitis, hordeolum, dakriosistitis, tarsadenitis, ulkus korneal, otitis media, dan sinusitis, dosis oral, 200 mg 3 kali sehari; untuk infeksi bronkitis, bronkietaksis (yang disertai dengan infeksi), infeksi sekunder yang disebabkan oleh penyakit pada saluran pernafasan, dosis oral, 200-400 mg 3 kali sehari; dosis dapat disesuaikan dengan umur dan keadaan pasien; pada infeksi berat dosis per hari dapat ditingkatkan sampai 1200 mg dalam 3 dosis terbagi; untuk pasien yang mengalami gagal ginjal dengan bersihan kreatinin > 20 mL/ menit, tidak diperlukan penyesuaian dosis bila diberikan tidak lebih dari 400 mg per hari.

SEFPIROM

Indikasi: 

lihat sefaklor.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

pemberian injeksi intravena atau infus.Infeksi saluran kemih atas dan bawah dengan komplikasi, infeksi kulit dan jaringan lunak: 1 g tiap 12 jam, dapat naik sampai 2 g tiap 12 jam pada infeksi sangat berat. Infeksi saluran napas bawah: 1-2 g tiap 12 jam. Infeksi berat, termasuk bakteremia: 2 g tiap 12 jam. Tidak dianjurkan untuk anak di bawah 12 tahun.

SEFPODOKSIM

Indikasi: 

infeksi saluran napas tetapi penggunaan pada faringitis dan tonsilitis, hanya yang kambuhan, infeksi kronis atau resisten terhadap antibiotik lain.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

infeksi saluran napas atas; 100 mg dua kali sehari bersama makanan (200 mg dua kali sehari pada sinusitis). Infeksi saluran napas bawah (termasuk bronkitis dan pneumonia) 100-200 mg dua kali sehari bersama makanan. ANAK di bawah 15 hari tidak dianjurkan, 15 hari-16 bulan 8 mg/kg bb per hari terbagi dalam 2 dosis, 6 bulan-2 tahun 40 mg 2 kali sehari, 3-8 tahun 80 mg 2 kali sehari, di atas 9 tahun 100 mg 2 kali sehari.

SEFPROZIL

Indikasi: 

lihat pada dosis.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

lihat sefaklor.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

infeksi saluran pernapasan atas, kulit dan infeksi jaringan lunak 500 mg sekali sehari, biasanya untuk 10 hari. ANAK 6 bulan-12 tahun 20 mg/kg bb (maksimum 500 mg) sekali sehari. Eksaserbasi akut dari bronkitis kronik 500 mg setiap 12 jam, biasanya untuk 10 hari. Otitis media anak 6 bulan-12 tahun 20 mg/kg bb (maksimum 500 mg) setiap 12 jam.

SEFRADIN

Indikasi: 

profilaksis bedah. Lihat juga sefaklor.

Peringatan: 

Lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

Lihat sefaklor.

Dosis: 

oral 250-500 mg tiap 6 jam atau 0,5-1 g tiap 12 jam. ANAK, 25-50 mg/kg bb/hari dalam dosis terbagi.

Injeksi intramuskuler atau intravena: 0,5-1 g tiap 6 jam. Pada infeksi berat dapat ditingkatkan sampai 8 g/hari. ANAK, 50-100 mg/kg bb/hari dibagi dalam 4 kali pemberian.

Profilaksis bedah, 1-2 g sesaat sebelum operasi.

SEFSULODIN

Indikasi: 

hanya untuk infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa yang peka terhadap sefsulodin, terutama pada infeksi saluran kemih kronik yang kambuh pada pielonefritis, prostatitis, infeksi saluran kemih yang disertai kerusakan (adanya neoplasma, calculi pada saluran kemih atau karena tindakan bedah); infeksi saluran nafas (pneumonia, bronkitis purulen kronik dan infeksi yang berhubungan dengan mucoviscidosis); infeksi pada tulang dan jaringan (misal: osteomilitis); infeksi sekunder setelah luka atau luka bakar; septikemia; dan peritonitis; pada infeksi berat dianjurkan untuk dikombinasikan dengan anti pseodomonas lain (misal: aminoglikosida) karena akan sangat mudah terjadi resistensi.

Peringatan: 

terhadap kemungkinan timbulnya syok atau reaksi hipersensitif pada pasien, sebaiknya dilakukan pemeriksaan pendahuluan dengan tes pada kulit; harus diberikan dengan hati-hati kepada pasien yang hipersensitif terhadap antibiotik golongan sefalosporin atau penisilin, atau pasien atau orang tua pasien atau kakak adik pasien yang mudah terkena alergi (seperti bronkial asma, ruam kulit, urticaria, dsb); kehamilan; efek pada hasil pemeriksaan laboratorium; selama pengobatan dengan sefsulodin pemeriksaan terhadap hati, ginjal dan darah sebaiknya dilakukan secara periodik.

Interaksi: 

dilaporkan terjadinya perburukan keadaan ginjal pada pemakaian bersama diuretik (seperti furosemid) dengan antibiotik golongan sefalosporin, perhatikan fungsi ginjal bila sefsulodin digunakan bersama dengan diuretika.

Kontraindikasi: 

tidak boleh diberikan kepada pasien yang pernah mengalami syok akibat natrium sefsulodin.

Efek Samping: 

syok (walaupun jarang dapat terjadi syok, pengobatan harus dihentikan bilamana ada tanda-tanda tidak enak badan, rasa tidak enak dalam mulut, nafas sesak, pusing, rasa ingin buang air besar, tinnitus, berkeringat, dsb; hipersensitif), reaksi terlalu peka (seperti kulit menjadi merah, urtikaria, eritema, gatal-gatal, demam, radang kelenjar limfa, nyeri sendi, pengobatan harus dihentikan bila terjadi hipersensitif); meningkatkan BUN dan serum kreatinin; trombositopenia; eosinofilia; kenaikan sementara SGOT, SGPT, dan ALP; mual, muntah; sakit perut; dan bacterial alternation stomatitis atau kandidiasis.

Dosis: 

dewasa, secara intravena atau intramuskular, 1 sampai 4 gram sehari dalam 2-4 dosis terbagi; dosis harus disesuaikan menurut umur dan beratnya infeksi; bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal, dosis awal sama seperti pasien dengan fungsi ginjal yang normal/sehat, dosis selanjutnya harus disesuaikan menurut bersihan kreatinin yaitu: Bersihan kreatinin 50 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 90% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 95% terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 30 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 80% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 90 % terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 20 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 70% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 80 % terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 10 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 60% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 70 % terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 5 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 55% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 65% terhadap dosis permulaan; Bersihan kreatinin 2,5 mL/menit, interval pemberian 8 jam, dosis yang dianjurkan 45% terhadap dosis permulaan, interval pemberian 12 jam, dosis yang dianjurkan 60 % terhadap dosis permulaan; Fungsi ginjal yang parah dengan bersihan kreatinin 0 mL / min, 75 % dari dosis yang dianjurkan selama 24 jam.

SEFTAZIDIM

Indikasi: 

lihat sefaklor.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

pemberian injeksi intramuskuler dalam, intravena atau infus.1 g tiap 8 jam, 2 g tiap 12 jam, pada infeksi berat: 2 gram tiap 8-12 jam. Pemberian lebih dari 1 g hanya secara intravena.Lansia: dosis maksimum 3 g/hari. BAYI sampai 2 bulan: 25-60 mg/kg bb/hari dalam 2 kali pemberian. Di atas 2 bulan: 30-100 mg/kg bb/hari dibagi dalam 2-3 kali pemberian. Pada meningitis atau imunodefisiensi: maksimum 6 g/hari dibagi dalam 3 kali pemberian.Infeksi saluran kemih dan infeksi yang tidak terlalu berat: 0,5-1 g tiap 12 jam. ANAK: 150 mg/kg bb/hari (maksimum 6 g/hari) dibagi dalam tiga kali pemberian. Profilaksis pada operasi prostat: 1 g pada saat induksi anestesi, dapat diulangi pada saat pengangkatan kateter.

SEFTIBUTEN

Indikasi: 

lihat sefaklor.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

DEWASA dan ANAK di atas 10 tahun (Berat badan lebih dari 45 kg): 400 mg/hari dosis tunggal. ANAK di atas 6 bulan: suspensi oral, 9 mg/kg bb/hari dosis tunggal.

SEFTIZOKSIM

Indikasi: 

untuk pengobatan infeksi saluran pernafasan bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi intraabdominal, infeksi kulit dan jaringan, infeksi tulang dan sendi, septikemia dan meningitis.

Peringatan: 

riwayat penyakit pada saluran cerna; penggunaan jangka panjang (menyebabkan superinfeksi); kehamilan; menyusui; penggunaan pada anak-anak (peningkatan kadar eosinofil), SGOT, SGPT, dan CPK; bayi berusia di bawah 6 bulan; lansia (turunkan dosis); pasien sensitif terhadap penisilin; pantau fungsi ginjal terutama pada pasien yang menerima dosis terapi maksimum dan pemberian bersama antibiotik aminoglikosida; dapat terjadi gejala defisiensi vitamin K; positif palsu pada tes glukosa dalam urin dengan pereaksi benedict dan clinitest serta pada direct coombs test.

Interaksi: 

dapat terjadi nefrotoksisitas apabila sefalosporin diberikan bersama dengan antibiotik aminoglikosida.

Kontraindikasi: 

hipersensitif pada seftizoksim dan sefalosporin lainnya.

Efek Samping: 

ruam kulit, pruritus, selulitis, nyeri abdomen, demam, peningkatan sementara SGOT, SGPT, alkalin fosfatase dan eosinofilia, rasa terbakar pada tempat penyuntikan, plebitis (pada pemberian secara intramuskular), rasa kaku, paraestesia, peningkatan bilirubin, vaginitis, neutropenia, trombositopenia, diare, mual dan muntah.

Dosis: 

Dewasa, secara intra vena atau intra muskular, 0,5-2 gram per hari terbagi dalam 2-4 dosis. Pada infeksi yang berat atau berdasarkan umur dan keadaan dari pasien, dosis dapat ditingkatkan menjadi 4 gram per hari. Anak ≥ 6 bulan, secara intravena atau intramuskular, 40-80 mg/kg bb per hari terbagi dalam 2-4 dosis. Pada infeksi yang berat dosis dapat ditingkatkan menjadi 120 mg/kg bb per hari, dosis total tidak boleh melebihi dosis untuk orang dewasa. Dosis pada orang dewasa dengan gangguan fungsi ginjal: Gangguan fungsi ginjal ringan dengan bersihan kreatinin 79-50 mL/menit, infeksi yang tidak terlalu berat 500 mg 3 kali sehari, infeksi yang mengancam jiwa 0,75-1,5 gram 3 kali sehari; Gangguan fungsi ginjal sedang sampai berat dengan bersihan kreatinin 49-5 mL/menit, infeksi yang tidak terlalu berat 250-500 mg 2 kali sehari, infeksi yang mengancam jiwa 0,5-1 gram 2 kali sehari; Pasien dialisa dengan bersihan kreatinin 4-0 mL/menit, infeksi yang tidak terlalu berat 500 mg tiap 2 hari atau 250 mg 1 kali sehari, infeksi yang mengancam jiwa 0,5-1 gram tiap 2 hari atau 0,5 gram 1 kali hari.

SEFTRIAKSON

Indikasi: 

lihat sefaklor.

Peringatan: 

lihat sefaklor. Pada gangguan fungsi hati yang disertai gangguan fungsi ginjal dapat terjadi penggeseran bilirubin dari ikatan plasma. Seftriakson kalsium dapat menimbulkan presipitasi di ginjal atau empedu.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin. Kontraindikasi untuk bayi di bawah 6 bulan.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

pemberian secara injeksi intramuskular dalam, bolus intravena atau infus. 1 g/hari dalam dosis tunggal. Pada infeksi berat: 2-4 g/hari dosis tunggal. Dosis lebih dari 1 g diberikan pada dua tempat atau lebih. ANAK di atas 6 minggu: 20-50 mg/kg bb/ hari, dapat naik sampai 80 mg/kg bb/hari. Diberikan dalam dosis tunggal. Bila lebih dari 50 mg/kg bb, hanya diberikan secara infus intravena. Gonore tanpa komplikasi: 250 mg dosis tunggal. Profilaksis bedah: 1 g dosis tunggal. Profilaksis bedah kolorektal: 2 g.

SEFUROKSIM

Indikasi: 

profilaksis tindakan bedah, lebih aktif terhadap Hemophilus influenzae dan N. gonorrhoeae. Lihat juga sefaklor.

Peringatan: 

lihat sefaklor.

Kontraindikasi: 

Alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Efek Samping: 

lihat sefaklor.

Dosis: 

oral: Untuk sebagian besar kasus, termasuk infeksi saluran napas atas dan bawah: 250 mg dua kali sehari. Untuk kasus berat, dapat ditingkatkan dua kali lipat. Infeksi saluran kemih: 125 mg dua kali sehari. Untuk pielonefritis: 250 mg dua kali sehari. Gonore: 1 gram dosis tunggal. ANAK di atas 3 bulan: 125 mg dua kali sehari. Untuk otitis media pada anak lebih dari 2 tahun dapat diberikan 250 mg dua kali sehari.

Parenteral: injeksi intramuskuler, bolus intravena atau infus 750 mg tiap 6-8 jam. pada infeksi berat: 1,5 g tiap 6-8 jam. Pemberian lebih dari 750 mg hanya boleh secara intravena.

ANAK: 30-100 mg/kg bb/hari (rata-rata 60 mg/kg bb/hari), dibagi dalam 3-4 dosis. Gonore: 1,5 g injeksi intramuskuler, dosis tunggal, pada dua tempat suntikan. Profilaksis bedah: 1,5 g injeksi intravena, pada saat induksi. Dapat ditambahkan 750 mg intramuskuler 8-16 jam kemudian (bedah abdomen, pelvis dan ortopedi), atau 750 mg, intramuskular tiap 8 jam selama 24-48 jam berikutnya (bedah jantung, paru dan esofagus). Meningitis: 3 g, injeksi intravena, tiap 8 jam.

ANAK: 200-240 mg/kg bb/hari dibagi dalam 3-4 dosis. Dosis diturunkan menjadi 100 mg/ kg bb/hari setelah 3 hari atau setelah adanya perbaikan klinis. NEONATUS, 100 mg/kg bb/hari, kemudian diturunkan menjadi 50 mg/kg bb/hari.