5.1.1.3 Penisilin Spektrum Luas

Ampisilin aktif terhadap organisme Gram positif dan Gram negatif tertentu, tapi diinaktivasi oleh penisilinase, termasuk yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus dan basilus Gram negatif yang umum seperti Escherichia coli. Hampir semua stafilokokus, 50% strain Escherichia coli dan 15% strain Hemophilus influenzae, resisten terhadap ampisilin.

Oleh karena itu, kemungkinan resistensi sebaiknya dipertimbangkan sebelum menggunakan ampisilin sebagai terapi infeksi tanpa penetapan diagnosa. Di rumah sakit, obat ini tidak boleh digunakan tanpa adanya hasil uji sensitivitas.

Ampisilin diekskresi dengan baik dalam empedu dan urin. Obat ini terutama diindikasikan untuk pengobatan eksaserbasi bronkitis kronis, dan infeksi telinga bagian tengah, keduanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia dan Hemophilus influenzae.

Ampisilin dapat diberikan per oral, tapi yang diabsorpsi kurang dari separuhnya dan absorpsi dapat lebih menurun bila ada makanan dalam lambung.

Ruam makulopapular umum terjadi pada penggunaan ampisilin (dan amoksisilin), tapi biasanya tidak terkait dengan alergi penisilin. Hal ini umumnya terjadi pada pasien yang mengalami glandular fever; karena itu penisilin spektrum luas tidak boleh digunakan untuk terapi tanpa penetapan diagnosis pada nyeri tenggorok. Ruam juga sering terjadi pada pasien leukemia limfositik akut atau kronis atau pada infeksi sitomegalovirus. Amoksisilin merupakan turunan ampisilin dan memiliki spektrum antibakteri yang sama. Obat ini diabsorpsi lebih baik daripada ampisilin bila diberikan per oral dan menghasilkan kadar yang lebih tinggi dalam plasma dan jaringan. Tidak seperti ampisilin, absorpsinya tidak terganggu dengan adanya makanan dalam lambung. Amoksisilin digunakan untuk profilaksis endokarditis.

Co amoksiklav terdiri dari amoksisilin dan asam klavulanat (penghambat beta-laktamase) yang tersedia dalam bentuk kombinasi tetap. Asam klavulanat sendiri hampir tidak memiliki efek antibakteri. Tapi dengan menginaktifkan penisilinase, kombinasi ini aktif terhadap bakteri penghasil penisilinase yang resisten terhadap amoksisilin. Termasuk strain Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Hemophilus influenzae, serta juga Bacteroides dan Klebsiella spp. Co- amoksiklav hanya diberikan (dicadangkan) pada infeksi yang diduga diketahui atau diketahui disebabkan oleh strain yang menghasilkan beta-laktamase yang resisten terhadap amoksisilin.

Lyme disease. Lyme disease sebaiknya ditangani oleh dokter yang berpengalaman dalam penatalaksanaan penyakit ini. Doksisiklin merupakan antibakteri pilihan untuk Lyme disease stadium awal. Pemberian intravena sefotaksim, seftriakson atau benzilpenisilin direkomendasikan untuk Lyme disease terkait dengan abnormalitas neurologik atau kardiak sedang sampai berat. Lama terapi biasanya 2-4 minggu; Lyme arthritis memerlukan terapi antibakteri oral yang lebih lama.

Infeksi pada mulut. Amoksisilin atau ampisilin sama efektifnya dengan fenoksimetilpenisilin tetapi absorpsinya lebih baik, namun obat ini dapat menyebabkan berkembangnya organisme yang resisten. Seperti halnya fenoksimetilpenisilin, amoksisilin dan ampisilin tidak efektif terhadap bakteri yang menghasilkan beta-laktamase. Amoksisilin juga berguna untuk regimen terapi oral jangka pendek. Amoksisilin juga digunakan untuk profilaksis endokarditis.

Monografi: 

AMOKSISILIN

Indikasi: 

lihat ampisilin; juga untuk profilaksis endokarditis; terapi tambahan pada listerial meningitis (lihat Tabel 5.1), eradikasi Helicobacter pylori (lihat 1.3).

Peringatan: 

lihat ampisilin; mempertahankan hidrasi yang tepat pada pemberian dosis tinggi (terutama selama terapi parenteral). 

Kontraindikasi: 

lihat ampisilin.

Efek Samping: 

lihat ampisilin.

Dosis: 

oral: 250 mg tiap 8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat; ANAK hingga 10 tahun: 125 - 250 mg tiap 8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat. Otitis media, 1 g setiap 8 jam. Anak 40 mg/kg bb sehari dalam 3 dosis terbagi (maksimum 3 g sehari). Pneumonia, 0,5 – 1 g setiap 8 jam. Antrax (terapi dan profilaksis setelah paparan), 500 mg setiap 8 jam; ANAK berat badan kurang dari 20 kg, 80 mg/kg bb sehari dalam 3 dosis terbagi, berat badan lebih dari 20 kg, dosis dewasa. Terapi oral jangka pendek: Abses gigi: 3 g, diulangi setelah 8 jam; Infeksi saluran kemih: 3 g, diulangi setelah 10-12 jam; Injeksi intramuskular: 500 mg tiap 8 jam; ANAK, 50-100 mg/kg bb sehari dalam dosis terbagi; Injeksi intravena atau infus: 500 mg tiap 8 jam, dapat dinaikkan sampai 1 g tiap 6 jam pada infeksi berat; ANAK: 50-100 mg/hari dalam dosis terbagi. Listerial meningitis (dalam kombinasi dengan antibiotik lain), infus intravena, 2 g setiap 4 jam untuk 10 -14 jam. Endokarditis (dalam kombinasi dengan antibiotik lain jika diperlukan), infus intravena, 2 g setiap 6 jam, ditingkatkan hingga 2 g setiap 4 jam, seperti dalam endokarditis enterokokus atau jika amoksisilin digunakan tunggal.

AMPISILIN

Indikasi: 

 infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, infeksi pada mulut (lihat keterangan di atas), bronkitis, uncomplicated community- acquired pneumonia, infeksi Haemophillus influenza, salmonellosis invasif; listerial meningitis.

Peringatan: 

riwayat alergi, gangguan ginjal (lampiran 2), ruam eritematous umumnya pada glandular fever, infeksi sitomegalovirus, dan leukemia limfositik akut atau kronik (lihat keterangan di atas). Pemakaian dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi terutama pada saluran pencernaan. Jangan diberikan pada bayi baru lahir dan ibu yang hipersensitif terhadap penisilin. Pada penderita payah ginjal, takaran harus dikurangi. Keamanan pemakaian pada wanita hamil belum diketahui dengan pasti. Hati-hati kemungkinan terjadi syok anafilaktik.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (penisilin).

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap penisilin.

Efek Samping: 

mual, muntah, diare; ruam (hentikan penggunaan), jarang terjadi kolitis karena antibiotik; lihat juga Benzilpenisilin (5.1.1.1).

Dosis: 

oral: 0,25-1 gram tiap 6 jam, diberikan 30 menit sebelum makan. ANAK di bawah 10 tahun, ½ dosis dewasa. Infeksi saluran kemih, 500 mg tiap 8 jam; ANAK di bawah 10 tahun, setengah dosis dewasa. Injeksi intramuskular atau injeksi intravena atau infus, 500 mg setiap 4-6 jam; ANAK di bawah 10 tahun, ½ dosis dewasa; Endokarditis (dalam kombinasi dengan antibiotik lain jika diperlukan), infus intravena, 2 g setiap 6 jam, ditingkatkan hingga 2 g setiap 4 jam, dalam endokarditis enterokokus atau jika ampisilin digunakan tunggal; Listerial meningitis (dalam kombinasi dengan antibiotik lain), infus intravena, 2 g setiap 4 jam selama 10–14 hari; NEONATAL 50 mg/kg bb setiap 6 jam; BAYI 1-3 bulan, 50-100 mg/kg bb setiap 6 jam; ANAK 3 bulan – 12 tahun, 100 mg/kg bb setiap 6 jam (maksimal 12 g sehari).

BAKAMPISILIN

Indikasi: 

lihat ampisilin.

Peringatan: 

lihat ampisilin.

Kontraindikasi: 

lihat ampisilin.

Efek Samping: 

lihat ampisilin.

Dosis: 

400 mg, 2-3 kali sehari.

Pada infeksi berat dapat diberikan dua kali lebih tinggi. ANAK lebih dari 5 tahun: 200 mg, tiga kali sehari. Gonore tanpa komplikasi: 1,6 g dosis tunggal, ditambah 1 g probenesid.

CO AMOKSIKLAV (AMOKSISILIN-ASAM KLAVULANAT)

Indikasi: 

lihat ampisilin.

Peringatan: 

lihat Ampisilin dan catatan di atas; juga peringatan pada gangguan hati (pengawasan fungsi hati), kehamilan, mempertahankan hidrasi yang tepat pada penggunaan dosis tinggi (terutama selama terapi parenteral)

Cholestatic jaundice dapat terjadi selama atau segera setelah penggunaan co amoksiklav. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa risiko toksisitas hati akut dari co amoksiklav, enam kali lebih besar daripada amoksisilin. Cholestatic jaundice lebih sering terjadi pada pasien usia di atas 65 tahun dan pada laki- laik; reaksi ini hanya jarang terjadi pada anak- anak. Jaundice biasanya dapat hilang dengan sendirinya dan jarang sekali fatal. Lama terapi sebaiknya tepat sesuai dengan indikasi dan tidak boleh melebihi dari 14 hari.

Kontraindikasi: 

hipersensitifitas pada penisilin, riwayat jaundice karena co amoksiklav atau jaundice karena penisilin atau disfungsi hati.

Efek Samping: 

lihat ampisilin; hepatitis, kolestatik jaundice (lihat di atas); sindrom Steven-Johnson, nekrolisis epidermal toksik, dermatitis exfoliatif, vaskulitis; memperpanjang waktu perdarahan, pusing, sakit kepala, konvulsi (terutama pada dosis tinggi atau pada gangguan ginjal); pewarnaan permukaan gigi dengan penggunaan suspensi, flebitis pada tempat injeksi.

Hati-hati pada pasien gangguan fungsi hati, hepatitis, ikterus kolestatik, termasuk kehamilan.

Dosis: 

Oral, dinyatakan sebagai amoksisilin, 250 mg setiap 8 jam, dosis digandakan pada infeksi berat; ANAK di bawah 6 tahun 125 mg; 6-12 tahun, 250 mg atau untuk terapi jangka pendek dengan dosis dua kali sehari. Infeksi dental berat (tapi umumnya bukan pilihan pertama, lihat catatan di atas), dinyatakan sebagai amoksisilin, 250 mg setiap 8 jam selama 5 hari.

Injeksi intravena selama 3-4 menit atau infus intravena, dinyatakan sebagai amoksisilin, 1 g setiap 8 jam, ditingkatkan hingga 1 g setiap 6 jam pada infeksi yang lebih berat; BAYI hingga 3 bulan 25 mg/kg bb setiap 8 jam (setiap 12 jam pada saat perinatal atau bayi prematur); ANAK 3 bulan – 12 tahun, 25 mg/kg bb setiap 8 jam ditingkatkan hingga 25 mg/kg bb setiap 6 jam pada infeksi yang lebih berat.

Profilaksis bedah, dinyatakan sebagai amoksisilin, 1 g saat induksi; untuk bedah dengan risiko tinggi (seperti operasi kolorektal) sampai dengan 2-3 dosis berikutnya 1 g dapat diberikan setiap 8 jam.

Keterangan: 

Campuran dari amoksisilin (dalam bentuk trihidrat atau garam natrium) dan asam klavulanat (sebagai kalium klavulanat).

PIVAMPISILIN

Indikasi: 

lihat ampisilin.

Peringatan: 

lihat ampisilin.

Kontraindikasi: 

lihat ampisilin.

Efek Samping: 

lihat ampisilin; uji fungsi hati dan uji fungsi ginjal diperlukan pada penggunaan jangka panjang; hindari pada porfiria dan dalam defisiensi karnitin.

Dosis: 

500 mg setiap 12 jam, gandakan pada infeksi berat; ANAK usia 3 bulan-1 tahun 40-60 mg/kg bb/hari dalam 2 -3 dosis terbagi; 1-5 tahun 350-525 mg/hari; 6-10 tahun 525-700 mg/hari; dosis bisa digandakan pada infeksi berat.

SULTAMISILIN

Indikasi: 

infeksi mikroorganisme yang  mudah menyebar seperti infeksi saluran napas bagian atas (termasuk sinusitis, otitis media dan tonsilitis); infeksi saluran napas bagian bawah (termasuk pneumonia karena bakteri dan bronkitis); infeksi saluran kemih dan pyelonephritis; infeksi kulit dan jaringan lunak; infeksi gonococcal.

Peringatan: 

superinfeksi, diare terkait Clostridium difficile,  pantau fungsi ginjal, hati dan darah pada pemberian dalam jangka waktu lama, menyusui, neonatus.

Interaksi: 

alopurinol meningkatkan kejadian kemerahan pada kulit; antikoagulan, sultamisilin meningkatkan agregasi platelet dan pemeriksaan koagulasi; bakteriostatik (kloramfenikol, eritromisin, sulfonamida dan tetrasiklin) dapat mengganggu efek bakterisida dari sultamisilin; kontrasepsi estrogen, sultamisilin dapat menurunkan efektivitas kontrasepsi oral; metotreksat, sultamisilin menurunkan bersihan metotreksat dan dapat meningkatkan toksisitas metotreksat; probenesid menurunkan sekresi renal tubular dari ampisilin dan sulbaktam.

Kontraindikasi: 

hipersensitivitas terhadap penisilin.

Efek Samping: 

alergi, syok anafilaksis, reaksi anafilaktoid, pusing, diare, dispnea, kemerahan, gatal, black hairy tongue, glositis, stomatitis, anemia, anemia hemolitik, trombositopenia, trombositopenia purpura, eosinofilia, leukopeni, neutropenia, agranulositosis, abnormalitas agregasi platelet.

Dosis: 

dewasa 375 mg – 750 mg sehari 2 kali selama 5-14 hari, tapi lama pemberian dapat ditambah jika dibutuhkan; anak (BB <30 kg) 25 – 50 mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi; anak dengan BB 30 kg atau lebih mengikuti dosis dewasa.
Untuk gonore tanpa komplikasi, 2,25 g  sebagai dosis tunggal selama 10 hari. Disarankan untuk diberikan bersama dengan  probenesid 1g untuk mempertahankan kadar plasma sulbaktam dan ampisilin.

Catatan: 

sultamisilin merupakan pro-drug dari ampisilin dan sulbaktam.