Obat Lainnya

Asetazolamid (bagian 11.4), merupakan penghambat karbonik anhidrase, memiliki peran spesifik untuk terapi epilepsi yang disebabkan dengan menstruasi. Dapat pula digunakan dengan antiepilepsi lainnya untuk kejang tonik- klonik dan fokal (partial). Dapat pula digunakan pada, kejang atonik, tonik dan absans atipikal. Pirasetam (bagian 4.9.3) digunakan sebagai terapi tambahan pada kortikal mioklonus.

Monografi: 

PIRASETAM

Indikasi: 

terapi tambahan pada mioklonik kortikal.

Peringatan: 

hindari pemutusan obat mendadak, gangguan ginjal (hindari bila berat), lansia.

Interaksi: 

ekstrak tiroid.

Kontraindikasi: 

gangguan hati dan gangguan ginjal berat, wanita hamil dan menyusui.

Efek Samping: 

diare, somnolen, insomnia, gugup, depresi, hiperkinetik, ruam.

Dosis: 

dosis awal 7,2 g/hari, dosis terbagi 2-3 kali. Dinaikkan sesuai respon, dengan 4,8 g/hari tiap 3-4 hari sampai maksimal 20 g/hari.

ZONISAMIDE

Indikasi: 

Sebagai terapi tambahan pada pengobatan kejang parsial pada penderita epilepsi dewasa.

Peringatan: 

mengantuk, batu empedu, gangguan ginjal, gangguan hati, kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan pada epilepsi, status epilepticus, peningkatan kreatin fosfokinase (CPK) dan pankreatitis, kehamilan, menyusui.

Interaksi: 

obat-obat yang menginduksi enzim hati dapat meningkatkan metabolisme dan klirens zonisamide dan menurunkan waktu paruhnya.

Kontraindikasi: 

pasien yang hipersensitif terhadap golongan sulfonamida atau zonisamide.

Efek Samping: 

Paling umum terjadi: mengantuk, anoreksia, pusing, sakit kepala, mual, ataksia, kesulitan konsentrasi, kesulitan mengingat, penurunan mental. Efek samping ini biasanya terkait dosis. Sering: asthenia, muntah, gemetar, konvulsi, gaya berjalan abnormal, hiperesthesia, ketiadaan koordinasi, faringitis, batuk, pruritus, amblyopia, tinnitus; Tidak sering: nyeri dada, nyeri panggul, malaise, reaksi alergi, edema muka, leher kaku, palpitasi, takikardia, insufisiensi vaskular, hipotensi, hipertensi, trombophlebitis, pingsan, bradikardia, flatulen, gingivitis, hiperplasia gusi, gastritis, gastroenteritis, stomatitis ulseratif, cholelithiasis, glossitis, melena, rectal hemorrhage, tukak gastroduodenal, gusi berdarah, disfagia, leukopenia, anemia, immunodefisiensi, limfadenopati, udema perifer, peningkatan berat badan, dehidrasi, gangguan musculoskeletal (leg cramps, myalgia, myasthenia, arthralgia, arthritis), hipertonia, berkedut, mimpi abnormal, vertigo, libido menurun, neuropati, hiperkinesia, gangguan gerakan, disartria, gangguan serebrovaskular, hipotonia, neuritis perifer, parathesia, peningkatan reflek, euforia, ruam makulopapular, jerawat, alopesia, kulit kering, berkeringat, eksim, urtikaria, hirsutism, ruam vesicobulloous, konjungtivitis, parosmia, keadaan tuli, glaukoma, sering berkemih, impoten, retensi urin, poliuria, amenore. Jarang: lupus eritematosus, fibrilasi atrial, gagal jantung, emboli paru-paru, ekstrasistol ventrikular, kolangitis, hematemesis, kolesistitis, cholestatic jaundice, kolitis, duodenitits, esofagitis, fecal incontinence, borok pada mulut, trombositopenia, anemia mikrositik, petechia, hipoglikemia, hiponatremia, peningkatan dehidrogenase laktat, SGOT dan SGPT; circumoral paresthesia, diskinesia, distonia, enselopati, paralisis wajah, hipokinesia, hiperestesia, mioclonus, oculogiric crisis, apnea, hemoptisis, fotofobia, iritis, albuminuria, enuresis, sakit kandung kemih, bladder calculus, ginekomastia, mastitis, menorrhagia.

Dosis: 

Anak dan remaja < 16 tahun: penggunaannya tidak disarankan.
Dewasa > 16 tahun: Diberikan satu kali sehari satu tablet, dapat diberikan bersama makanan atau tidak. Dosis awal yang disarankan 100 mg sehari, setelah dua minggu, dosis ditingkatkan menjadi 200 mg sehari selama minimal 2 minggu. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 300 mg sehari dan 400 mg sehari dengan dosis yang stabil selama minimal 2 minggu untuk mencapai keadaan steady state.